Red Thread

Red Thread
Seseorang di Apartemen Nagra


__ADS_3

“Rekamannya nggak ada. Sudah dihapus!"


Mika yang sejak tadi sibuk mengamati gambar-gambar pada layar monitor di dinding, langsung terdiam saat mendengar hal itu. Ia segera menghampiri Raga untuk mengetahui sesuatu yang telah terjadi. Napasnya tertahan selama beberapa detik ketika mengetahui jika folder penyimpanan rekaman CCTV hari itu telah kosong. Rekaman itu tidak bisa ditemukan di mana pun. Rekaman itu hilang.


"Kenapa bisa hilang?" Suara Mika terdengar bergetar. Ia menggigit bibir kuat-kuat, menahan rasa sesak dan kecewa yang menyelimuti hatinya.


"Nggak tahu. Aku juga baru tahu soal ini," kara Raga. Ia masih mencoba untuk mencari video itu di setiap folder dalam komputer.


Bahu Mika tertunduk lemas saat Raga akhirnya menyerah. Cowok itu menggeleng pelan sambil menepuk bahu Mika. Bukannya membuat tenang, hal itu justru membuat pikiran Mika semakin kusut. Ia sibuk menebak-nebak, siapa yang telah menghapus isi rekaman itu. Jika memang ada orang lain yang sengaja menghapus, maka orang itu sudah mengetahui tentang rencananya dan Raga hari ini. Namun, siapa? Bukankah ia tidak mengatakan hal itu pada siapa pun?


“Gue tanya ke bagian keamanan dulu. Kamu tunggu di sini.” Raga lantas beranjak dari tempatnya. Setengah berlari meninggalkan ruangan.


Mika beringsut ke atas kursi. Tangannya bergerak cepat, mencari rekaman yang kata Raga sudah tidak ada. Ia masih enggan percaya, meski sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Hingga satu menit kemudian, ia mendesah frustrasi. Rekaman itu memang tidak ada. Dimana pun.


“Gimana, Ga?” Mika menoleh pada Raga yang baru kembali ke ruangan dengan napas terengah-engah.


“Mereka nggak tahu. Kita disuruh lihat rekaman CCTV beberapa menit lalu di sekitar ruangan ini.”


Mika bangkit dari posisinya. Memberikan ruang kepada Raga untuk menyelidiki hilangnya rekaman itu.


Ada beberapa rekaman CCTV di layar. Raga memilih lokasi rekaman yang paling dekat dengan ruangan itu.


Mika menyipitkan mata. Ada seseorang yang berjalan menuju ruangan itu. Seorang cowok, berbadan tegap dengan jaket berwarna hitam, topi hitam, dan kacamata yang juga hitam. Gerak-gerik cowok itu mencurigakan. Sesekali, kepalanya menoleh ke kiri, kanan, dan belakang. Seakan memastikan bahwa tidak ada orang lain di tempat itu.


“Lihat, kan? Dia masuk ke ruangan ini!” Raga berseru, ketika akhirnya cowok mencurigakan itu membuka pintu ruangan. Mereka tidak tahu yang terjadi setelahnya. Sebab, cowok itu menutup kembali pintu ruangan setelah berada di dalam.


Raga mengembalikan putaran video rekaman ke beberapa detik sebelumnya. Ia menjeda video pada bagian cowok itu mengamati sekitar. Kemudian, ia memperbesar gambar yang ada.

__ADS_1


Mereka melihat lebih dekat. Mengamati setiap jengkal penampilan cowok itu. Jaket hitam, topi, dan kacamata berwarna senada. Namun setelah beberapa detik berlalu, mereka sama sekali tidak menemukan jawaban tentang siapa orang tersebut.


“Terus, sekarang gimana? Kalau rekaman itu hilang, kita nggak akan bisa tahu siapa yang datang ke apartemen Nagra hari itu.” Mika mendesah gelisah. Giginya menggigit pipi bagian dalam. Hal yang sering ia lakukan, setiap kali merasa gusar.


“Kamu tenang ya.” Raga mengusap punggung tangan Mika di sandaran kursi yang ia tempati. Berusaha untuk menenangkan gadis itu. “Aku coba tanya ke tetangga aku. Mungkin dia punya salinan rekaman itu.”


Mika memaksakan diri untuk mengangguk dan percaya. Lagipula, sekarang tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti ucapan Raga. Paling tidak, cowok itu memiliki akses yang lebih luas di tempat ini dibanding dirinya.


Mereka keluar dari ruangan dengan wajah kusut dan setengah penasaran. Mika mengikuti di belakang Raga dengan pikiran yang tidak tentu arah. Apakah selama ini Nagra memang memiliki musuh? Apakah ada seseorang yang sengaja menggagalkan rencananya? Kalau memang iya, darimana orang itu tahu tentang rencananya?


Raga meminta Mika untuk menunggu di sofa ruang tunggu, sementara ia menghampiri seorang satpam yang berada di dekat pintu masuk. Mereka tampak berbicara serius, meski sesekali Raga tampak tertawa kecil. Nyaris lima menit berlalu, satpam itu akhirnya memberikan sebuah flash disk yang langsung diterima Raga dengan wajah semringah.


“Aku udah dapat video rekamannya.” Mika menyambut pernyataan itu dengan perasaan lega yang berlipat-lipat, hingga membuatnya nyaris melompat dari sofa. “Kita kembali ke ruangan untuk lihat isinya.”


“Satpam itu tahu, siapa cowok yang masuk ke ruangan tadi?” tanya Mika, ketika mereka berjalan menuju ruang penyimpanan rekaman CCTV.


“Kok aneh ya.” Mika menggaruk kepalanya, tampak sedang berpikir keras.


“Aneh, kenapa?” Raga menghentikan langkah dan memutar tubuh, menghadap Mika.


“Ya aneh aja. Kenapa ruangan ini bisa nggak dikunci? Bukannya itu bahaya banget, ya?”


“Mungkin mereka lupa. Petugas keamanan yang keluar masuk ruang ini nggak cuma satu kali, Ka.”


Mika memilih untuk menyetujui anggapan Raga, karena tidak ingin memperpanjang waktu lagi. Dibanding memperdebatkan tentang mengapa ruangan itu tidak dikunci, mengetahui video rekaman CCTV hari itu jauh lebih penting. Mika mempercepat langkah mengikuti Raga masuk ke ruangan.


Jantung Mika seperti hendak melompat, saat menunggu video itu diputar. Beberapa kali menelan ludah dan menggigit pipi bagian dalam, berharap proses pemuatan video itu segera berakhir.

__ADS_1


Ia menahan napas, ketika video akhirnya berputar. Video itu dimulai dengan rekaman di koridor, ketika ia datang. Kemudian, berpindah pada ruang dalam apartemen Nagra. Ruangan itu berantakan. Banyak bungkus rokok, mi instan, dan pakaian kotor yang berserakan di lantai. Persis seperti yang pernah ia lihat. Tiba-tiba saja, layar komputer gelap selama beberapa detik. Dan, baru kembali menyala ketika ia melihat Nagra di sudut kamar.


Semua hal dalam video itu masih sama seperti ketika ia tiba. Pertengkarannya dengan Nagra, saat Nagra menyeretnya keluar, bahkan ketika cowok itu mengantarnya menuju area parkir. Masih tidak ada yang mencurigakan.


Mika menajamkan mata ketika video rekaman mulai beralih. Nagra sudah kembali ke apartemennya. Keadaan koridor masih tetap sama. Sepi.


Belum ada yang mencurigakan. Video itu hanya merekam Nagra yang sedang merapikan apartemen. Hingga dua menit kemudian, sesuatu mulai terjadi.


Nagra yang baru selesai meletakkan pakaian kotor di bak cuci, melangkah ke arah pintu ruang depan. Sepertinya, ada seseorang di depan apartemen cowok itu.


Pintu itu terbuka, memperlihatkan seorang cowok berperawakan tinggi dengan topi hitam—seperti milik seseorang yang menyelinap ke ruang penyimpanan rekaman CCTV hari ini—masuk ke apartemen. Mereka tampak sangat akrab. Nagra bahkan memeluk cowok itu. Ibarat pelukan seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu.


Mereka berbincang selama beberapa menit. Kemudian, Nagra beranjak menuju dapur untuk membuat minum.


Cowok bertopi hitam itu tidak melakukan apapun. Ia hanya menunduk seraya memainkan ponsel.


Satu menit kemudian, ketika Nagra tengah sibuk membuat minuman di dapur, cowok itu baru berniat untuk melepas topi. Barangkali, ia merasa gerah atau tidak sopan mengenakan topi di dalam ruangan.


Mika menahan napas. Matanya terfokus pada setiap gerakan cowok itu.


Namun tepat sebelum cowok itu meletakkan topi ke meja dan menunjukkan wajah, seseorang membuka pintu ruangan. Suara berderit membuat Mika dan Raga tersentak, dan spontan menoleh ke arah pintu.


Seorang satpam yang tadi ditemui Raga di dekat pintu masuk, berdiri di ambang pintu. Raut wajahnya tampak panik, dengan keringat membasahi dahi.


“Maaf Mas, Mbak. Pemilik apartemen sedang berada di sini. Mas sama Mbak harus segera pergi dari ruangan ini,” katanya dengan suara yang benar-benar panik.


Raga mendengkus. Mika mendesah kecewa. Mau tidak mau, mereka harus menahan diri untuk melihat kelanjutan video itu besok. Lagipula, hari sudah mulai petang. Mika masih harus menemui Kai untuk berpamitan pada cowok itu. Ia sudah memutuskan untuk tinggal di rumah Anggita selama beberapa hari.

__ADS_1


__ADS_2