
*“Kak Nagra, seperti apa rasanya mati?”
“Rasanya mati? Kenapa?”
“Apakah menyenangkan?”
Nagra terdiam sejenak. Sorot matanya menerawang, seolah sedang memikirkan sesuatu. “Nggak. Karena aku nggak bisa ketemu kamu.”
“Kalau aku ada di sana, apakah akan menyenangkan?”
Nagra menaikkan satu alisnya. Kemudian, tersenyum kecil. “Mungkin.”
“Kalau begitu, aku mau mati. Aku mau ikut Kak Nagra.”
Nagra tersentak mendengar pernyataan itu. Refleks, ia mundur satu langkah dari Mika. Sorot matanya tidak terbaca, membuat Mika heran dan tidak tenang. “Kenapa kamu mau mati?” tanya Nagra, kemudian.
“Aku capek. Aku mau sama Kak Nagra. Aku mau kita cerita panjang lebar kayak dulu. Aku mau kita main petak umpet lagi kayak dulu. Aku kangen sama Kak Nagra."
Nagra mengulas senyum kecil, tetapi pahit. Langkah kakinya kembali mendekat pada Mika. Nagra mengulurkan tangannya dan mendarat di bahu Mika. Menepuk pelan, lantas ia menarik tubuh gadis itu dalam dekapannya.
Mika menyandarkan kepala di dada bidang Nagra. Masih sama seperti dulu. Pelukan itu terasa sangat menenangkan dan menyenangkan. Jika ini adalah nyata, maka ia berharap detik akan berhenti di waktu ini. Jika ini hanyalah mimpi, maka ia berharap untuk tidak terbangun lagi. Semua terasa baik-baik saja dalam rangkuman lengan Nagra.
Beberapa waktu lalu, Mika pernah merasakan dekapan sehangat milik Nagra. Dalam dekapan Kai, ia menemukan itu. Dalam dekapan Kai, ia tidak lagi merasa khawatir pada segala kemungkinan buruk yang terbentang di depan mata. Namun, kini tidak lagi. Kehangatan itu lenyap. Ketenangan itu sirna. Seiring dengan rasa sakit yang timbul karena Kai telah menipunya. Cowok yang pernah membuatnya merasa kembali hidup setelah kepergian Nagra itu, ternyata membunuhnya perlahan. Menghancurkan setiap jengkal bahagia yang pernah ia rasakan, dalam sesaat. Dan akhirnya, hanya dalam dekapan Nagra, ia kembali merasa hidup.
“Kita masih bisa cerita kayak dulu, Mika. Kamu bisa cerita apa pun ke aku. Tapi, maaf. Aku nggak bisa ngasih jawaban apa pun.” Nagra berbisik di telinga Mika. Membuat jantung Mika tertikam sesuatu seperti benda tajam. Berputar-putar dalam dadanya, seperti sengaja untuk membuat luka yang lebih lebar lagi.
“Kenapa?” Suara Mika mulai bergetar. Sesekali napasnya tersekat oleh rasa sakit yang tiba-tiba menghimpit.
Nagra menghela napas. Jemarinya bergerak pelan di sela rambut Mika. “Karena, kita berada di dimensi yang berbeda, Mika. Kita nggak akan bisa sama lagi seperti dulu. Sesulit apa pun, kamu harus bisa menerima itu.”
Dingin menyusup ke dalam dada Mika. Mendorongnya pada sebuah lembah gelap dan tidak berujung yang menyesakkan. Apa maksudnya dimensi berbeda? Bukankah sekarang mereka berada di tempat yang sama.
"Siapa yang membuat kita berpisah, Kak? Siapa yang tega melakukan itu?" Pertanyaan Mika berapi-api. Ada dendam yang diam-diam ikut tersampaikan melalui nada suaranya.
Nagra tersenyum tipis menanggapi hal itu. "Kalau kamu tahu siapa dia, apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku akan membunuhnya!" Mika menjawab itu tanpa berpikir panjang, sehingga menyebabkan Nagra yang berdiri di depannya tersentak.*
"Ka, dengar aku!" Nagra menahan dagu Mika, agar pandangan gadis itu tetap tetuju padanya. Dengan suara dalam dan tenang, Nagra kembali berkata, "Aku nggak mau kamu jadi pembunuh. Aku nggak mau kamu jadi seorang pendendam. Semua yang terjadi di antara kita, itu memang sudah takdirnya. Tidak bisa menyalahkan siapa pun. Kamu tahu, Ka. Hidup dalam dendam, tidak akan membuatmu tenang. Jadi, demi aku, lupakan niat itu. Aku sudah tenang di sini. Aku janji, aku nggak akan kemana-mana. Aku akan tetap nunggu kamu di sini."
Lalu, sebelum Mika sempat mengatakan sesuatu, pelan-pelan Nagra melepaskan tangannya dari dagu Mika. Sosok tinggi menjulang yang semula berdiri nyata di depan Mika, perlahan menghilang. Memudar dan membias ditelan sebuah cahaya putih menyilaukan.
Mika berlari, kalap. Ia Menyusuri setiap sudut tempat yang tidak ia kenali itu. Berteriak memanggil nama Nagra berkali-kali, dengan air mata memburamkan pandangan. Jika semula tempat ini adalah kamar apartemen Nagra, maka sekarang berubah menjadi ruang kosong berwarna putih yang teramat asing.
“Kak Nagra!” Mika masih berteriak. Tetap tidak ada sahutan. Hanya pantulan suara sendiri yang dapat ia dengar.
Mika terus berteriak memanggil nama Nagra. Ia berlari dari ujung ke ujung. Berulang kali. Hingga kakinya kebas dan kehilangan tenaga. Akhirnya, setelah sekian detik berlalu dengn sia-sia, ia meluruh di atas lantai. Menangis dan meraung. Berharap Nagra akan mendengar itu, lantas kembali memeluknya. Namun, hal itu tidak pernah terjadi. Ia tetap sendiri, hingga sebuah lingkaran besar menariknya.
Tubuhnya berputar. Lingkaran itu menakutkan dan menyesakkan. Di dalam lingkaran itu, ia bisa mendengar suara Nagra. Bergema memenuhi telinganya.
__ADS_1
“Hiduplah dengan bahagia, Mika. Ada atau nggak ada aku.”
♥
Mika membuka sepasang kelopak matanya, saat sesuatu yang keras menghantam tubuhnya. Ia terbangun, dan mendapati dirinya sudah terlentang di atas lantai kamar apartemen Nagra. Dengan peluh membasahi tubuh dan napasnya terengah-engah, ia memaksakan diri untuk berdiri. Berpindah menuju ranjang di sampingnya.
Mimpi itu menyenangkan, sekaligus menakutkan. Sudah lama ia tidak bermimpi tentang Nagra. Terakhir kali ia bermimpi tentang cowok itu adalah sebelum seseorang memasang fotonya dan Nagra di majalah dinding sekolah. Seketika ia merasa tidak tenang. Apakah mimpi itu berarti akan ada sesuatu yang terjadi? Atau, Nagra memang sengaja datang demi mencegahnya untuk melakukan hal bodoh.
Mika menelungkupkan kepala di antara kedua lutut. Jantungnya berdegup cepat. Napasnya putus-putus. Keringat masih membasahi tubuh, meski air conditioner sudah menunjukkan angka enam belas derajat celcius.
Ia baru mendongakkan kepala setelah dua menit berlalu. Napasnya sudah mulai teratur. Degup jantungnya pun tidak sehebat tadi. Meski, tidak mengurangi rasa nyeri di hatinya.
Pandangannya menyapu setiap sudut kamar Nagra. Sunyi. Tidak ia temukan Raga di tempat itu. Mika mulai bingung. Ia melompat kecil dari ranjang Nagra, dan bersiap memanggil Raga. Namun, aroma gurih tiba-tiba menggelitik indera penciumannya. Mika berjalan pelan menuju sumber aroma. Perutnya keroncongan. Ia baru ingat, jika ia belum makan apa pun sejak pulang sekolah tadi.
Ia berhenti di ambang pintu kamar. Matanya menangkap sosok Raga yang duduk di sofa dengan semangkuk mi instan. Selama beberapa detik, ia terdiam. Matanya mengamati Raga dari jarak jauh.
Seketika, ingatannya jatuh pada Raga yang mendekapnya beberapa jam sebelum mimpi itu datang. Dekapan itu terasa hampa, meski bisa membuatnya merasa tidak sendiri.
Lalu, sebuah pemikiran melintas dalam kepalanya. Mengapa ia tidak bisa mencintai cowok itu, seperti ia jatuh cinta pada Kai?Bukankah selama ini Raga yang selalu menemaninya? Bukankah selama ini cowok itu yang bersedia mendengarkan ceritanya?
Mika menghela napas. Ia telah sampai pada satu kesimpulan yang—mungkin—tidak bisa ia bantah lagi. Ia memang tidak mencintai Raga lagi. Hatinya telah memilih, dan Raga memang bukan orang yang terpilih.
“Hai, Ka!” Raga melambaikan tangan, saat mengetahui Mika berdiri tidak jauh darinya. “Sini, makan dulu.”
Mika memaksakan seulas senyum. Kemudian, menghampiri Raga. Ia mengambil satu lagi mangkuk berisi mi instan dan melahapnya.
“Tadinya, aku mau beliin nasi goreng. Tapi, di sekitar sini cuma ada yang jual mi instan. Jadi, terpaksa aku beli ini dan nyuruh penjualnya buat masakin,” kata Raga.
Raga memang lebih perhatian padanya belakangan ini. Namun, tetap saja. Perasaannya tidak bisa beralih secepat itu. Mungkin hanya perkara waktu, hingga ia bisa mencintai Raga dengan semestinya. Mungkin hanya perkara waktu, hingga ia bisa menghapus perasaan untuk Kai yang sudah terbentuk.
“Aku tadi nemuin sesuatu di laci meja Nagra,” kata Raga. Kemudian, tangannya bergerak untuk mengambil selembar kertas dari saku tasnya.
Raga menyerahkan benda itu pada Mika dengan posisi terbalik. “Kalau kamu belum siap lihat ini, aku bisa simpan lagi.”
Mika menggeleng. Kemudian, menahan gerakan tangan Raga yang hendak memasukkan kembali selembar kertas itu ke saku. Ia segera mengambil benda itu dari tangan Nagra, dan melupakan makanannya untuk sejenak.
Kertas itu adalah sebuah foto. Selembar foto yang menampakkan wajah Alana, Nagra, dan Kai.
"Kayaknya, mereka memang udah kenal dari dulu. Kamu masih ingat, kan, ada yang bilang kalau pembunuh Nagra ternyata orang yang dekat dengan cowok itu?"
Mika mengangguk untuk menanggapi pertanyaan Raga. Namun, fokusnya tetap jatuh pada foto Kai yang tersenyum lebar. Darah Mika berdesir melihat itu. Dalam kondisi apa pun, Kai tetap bisa membuat perasaannya tidak karuan. Sesaat, ia mulai meragu. Apakah orang semenyenangkan Kai memang seorang pembunuh?
Namun secepat perasaan itu datang, secepat itu pula Mika berusaha untuk menyingkirkan. Ia menguatkan diri, membatukan hati agar tidak lagi merasakan sesuatu setiap kali melihat Kai.
"Aku memang pernah mencegahmu untuk tidak menuduh Kai sembarangan. Tapi, sekarang, aku mulai curiga kalau memang benar Kai pelakunya."
Mika menoleh pada Raga seketika. "Kenapa?"
"Karena foto itu. Dalam foto itu hanya ada Kai dan Alana di dekat Nagra. Secara logika, Alana nggak mungkin membunuh Nagra. Apa lagi, katanya dia pacar Nagra. Dia pasti sayang banget sama Nagra. Nggak mungkin, kan, kalau dia yang bunuh? Dan, Kai. Kita belum pernah kenal dia sebelumnya. Dia ada dalam foto ini, dalam rekaman CCTV, dan jangan lupakan gelang merah itu. Semua bukti yang kita dapat mengarah padanya."
__ADS_1
Mika terdiam. Mencerna satu per satu kalimat yang disampaikan Raga. Ia yang semula bimbang atas tuduhannya, pelan-pelan mulai yakin karena pernyataan Raga.
“Aku mau nunjukkin satu hal lagi.” Raga mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Lalu, memutar sebuah video.
Video itu menampilkan Kai dan Nagra yang sedang terlibat dalam pertengkaran. Entah apa penyebabnya. Tiba-tiba saja, Kai mendaratkan pukulan di tubuh Nagra dan membuat Nagra terjengkang. Nagra tidak memberikan balasan, dan Kai tidak ingin berhenti. Berulang kali Kai mendaratkan pukulan. Berulang kali pula, Mika berseru untuk meminta Kai berhenti—meski tahu, itu sia-sia. Kai baru berhenti, setelah Nagra babak belur dan tergeletak di lantai.
Sialan! Pekik Mika dalam hati. Tidak terima melihat Nagra yang dipukul seperti itu. Sudah cukup. Ia tidak akan lagi tinggal diam. Sudah cukup banyak bukti yang ia temukan untuk menyeret Kai ke dalam penjara. Ia tidak peduli, meski ada sudut hatinya yang meronta dan menolak. Ia tetap harus membuat cowok itu bertanggung jawab.
"Hidup dalam dendam tidak akan membuatmu tidak tenang."
Ucapan Nagra dalam mimpinya menggema di telinganya. Dengan tangan terkepal erat penuh amarah, ia berbisik dalam hati, "Maaf, Kak Nagra. Kali ini, aku tidak dendam. Aku hanya ingin membuat orang itu mendapatkan balasan yang setimpal."
♥
Kai mendesah gusar. Sudah berkali-kali ia berusaha untuk menghubungi ponsel Mika. Namun, hanya suara operator yang menanggapi panggilannya. Gadis itu telah menghilang sejak pulang sekolah. Dan, itu membuatnya khawatir. Apa lagi, sikap aneh yang ditunjukkan Mika padanya. Ia sudah berusaha untuk menghubungi Anggita. Namun, gadis itu juga tidak mengetahui keberadaan Mika.
“Lo kemana sih, Ka? Astaga!” Kai mengacak rambutnya, mulai senewen. Tiba-tiba saja, satu pemikiran melintas dalam kepalanya. Tanpa membuang waktu, ia mencari nama Raga di jajaran kontaknya. Nada tunggu terdengar beberapa kali dari seberang sana, sebelum akhirnya suara berat seseorang menanggapi.
“Ga, Mika lagi sama lo?” tanya Kai, tanpa memberikan salam pembuka.
“Ini siapa?” Kai mendesah. Ia lupa, jika—barangkali—Raga tidak memiliki nomor ponselnya.
“Gue Kai.”
Raga terdiam selama beberapa detik. Lantas, menjawab dengan nada teramat dingin, “Jangan cari Mika lagi!"
Setelah itu, panggilan diputus secara sepihak oleh Raga. Masih banyak pertanyaan menggantung di lidah Kai, yang belum sempat untuk diutarakan.
Kai menggeram. Tangannya menggenggam ponsel dengan sangat kuat. Segala kemarahan, kekhawatiran, kekalutan, dan kegelisahannya akhirnya ia ungkapkan dengan satu kata. “Berengsek!”
Hanya setengah menit, setelah panggilan terputus. Ponsel Kai berdering. Satu pesan dari Raga.
"Berhenti cari Mika. Dia udah nggak sudi lihat muka lo!”
♥
Mika membuka matanya perlahan. Cahaya silau dari lampu di langit-langit ruang tamu, membuatnya sedikit kesulitan untuk melihat. Beberapa kali ia mengucek mata, dan beradaptasi dengan suasana sekitar.
Ia memandang berkeliling. Raga tidak ada lagi di sampingnya. Suara air dari kamar mandi menyadarkannya bahwa sekarang sudah pagi.
Ia beranjak dari sofa, dan kembali ke kamar Nagra untuk mengambil tas. Ia hendak memasukkan buku milik Nagra ke tas. Namun, tiba-tiba tangannya bergetar. Buku itu terjatuh ke lantai, sebelum ia sempat membuka tas.
Mika mendesis. Baru saja ia hendak mengambil kembali buku itu, sesuatu mencuri perhatiannya. Satu jengkal dari buku itu, ada sebuah test pack dengan dua garis merah. Kening Mika berkerut dalam. Bukankah benda itu semalam tidak ada?
Mika berusaha untuk menebak-nebak, dari mana asal benda itu. Namun suara Raga yang memanggil namanya, membuatnya tersadar. Ia segera memasukkan buku, test pack, dan kotak hitam milik Nagra ke tas.
“Ka, kita pulang dulu ya. Masih ada waktu dua jam, sebelum sekolah dimulai,” kata Raga. Cowok itu sudah rapi dengan membawa tas ransel di bahunya.
Mika mengangguk. Lantas, bergegas meninggalkan kamar Nagra. Dalam kepalanya masih berputar pertanyaan-pertanyaan seputar test pack yang ia temukan pagi ini.
__ADS_1
Kenapa Nagra menyimpan benda itu? Benda itu milik siapa?