
"ALANA?" Mika tidak mampu mengatakan apa pun selain itu. Kepalanya pening, seperti atap rumah Kai baru saja runtuh menghantamnya.
"Eh, astaga! Sorry, Ka. Lupain yang tadi. Lo mau pulang, kan?" Reza menghampiri Mika. Menepuk bahu Mika, hingga membuat Mika tersentak. Ia masih bersikap santai. Seakan tidak ada apa pun yang baru saja terjadi.
"Apa hubungan kamu sama Alana?" Mika mengabaikan keberadaan Reza. Tatapan tajamnya tertuju pada Raga yang masih membisu. "Apa hubungan kamu sama Alana, Ga?!" Mika membentak. Ia mulai kesal karena Raga tidak juga membuka mulut.
Raga melangkah mundur perlahan. Tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan Mika, cowok itu memutar tubuh dan berjalan ke arah motornya. Mika berusaha mengejar Raga, dan mencekal lengan cowok itu. Namun, Raga menepisnya kasar.
"Kamu bisa pulang sendiri, kan?" Setelah mengatakan itu, Raha melajukan motornya meninggalkan halaman rumah Kai.
Mika mendesis kesal. Kecurigaan mulai menyusup ke dalam hatinya. Bergerak pelan menuju kepala, hingga menimbulkan satu pertanyaan yang tidak terjawab, apa Raga juga ada kaitannya dengan kematian Nagra?
Mika mengalihkan pandangan pada Reza. Cowok itu menaikkan alis, saat pandangan mereka bertemu.
"Apa hubungan Raga sama Alana?" tanya Mika.
Reza menggeleng pelan. Cowok itu mengempaskan tubuh ke kursi, tanpa memberikan jawaban. Membiarkan Mika tenggelam dalam pertanyaan dan rasa curiganya sendiri.
Kemudian, suara klakson mobil menyentak Mika. Mika memutar tubuh, dan menemukan mobil Anggita di belakang punggungnya. Gadis itu baru saja turun dari kursi penumpang, dan menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.
"Ka, lo nggak apa-apa?" Anggita meneliti penampilan Mika dari ujung kepala, hingga kaki. Memastikan bahwa memang tidak ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Lo kenapa balik lagi?" tanya Mika. Ia telah berusaha mengatur nada suaranya agar terdengar biasa. Namun, gagal.
Anggita menghela napas. Ada tatapan penasaran di sepasang matanya. "Kai nyuruh gue ke sini, katanya ada sesuatu yang terjadi sama lo."
"Kai?" Setahu Mika, cowok itu tadi masih di kamar. Lalu, dengan cepat, Mika melihat ke dalam rumah melalui kaca jendela di belakang punggung Reza. Benar saja. Kai ada di sana. Melihat ke arahnya melalui kaca jendela itu. Mika tidak tahu, sejak kapan cowok itu berada di sana. Apa Kai mengetahui sesuatu yang terjadi antara dirinya dan Nagra beberapa saat lalu? Mika tidak bisa melihat dengan jelas ekspresi di wajah cowok itu. Hanya dua detik setelah mata mereka bertemu, Kai memutar tubuh, dan kembali masuk ke kamar.
"Gue antar lo pulang." Anggita menarik lengan Mika menuju mobil. Gadis itu mengangguk sedikit pada Reza untuk berpamitan.
"Hati-hati ya," teriak Reza sambil mengangkat satu tangannya untuk membalas anggukan Anggita.
♥
Terlalu banyak drama yang terjadi di hidupnya belakangan ini. Mulai dari dugaan jika Kai yang membunuh Nagra, hingga Raga yang ternyata memiliki hubungan dengan Alana. Sejak pulang dari rumah Kai hari itu, Mika belum mendapat informasi apa pun tentang Raga dan Alana.
Mika menutup kasar bukunya. Sedikit pun, ia tidak bisa berkonsentrasi dengan materi pelajaran hari ini. Ia memang mendengarkan semua penjelasan dari guru, tetapi semua hanya numpang lewat di telinganya. Kepalanya terlampau penuh dengan dugaan demi dugaan.
__ADS_1
Tidak hanya itu. Perasaannya juga benar-benar kesal saat menceritakan kembali pertemuannya dengan Reza dan Raga kemarin sore. Bagaimana bisa ia tutup mata selama ini? Bagaimana bisa ia percaya ketika Raga bersikap seolah tidak mengenal Alana?
“Kita nggak bisa diam aja. Kita harus secepatnya cari tahu tentang hubungan Raga dan Alana,” kata Anggita, setelah Mika selesai menyampaikan ceritanya.
"Hebat banget ya Kak Raga. Bisa-bisanya dia nipu kita." Raya memukul meja di depannya dengan geram.
Mika mengusap kasar wajahnya. "Terus, kita harus gimana?"
"Lo ada rencana nggak, Git?" Raya menjatuhkan pandangan pada Anggita. Biasanya, gadis itu yang memiliki ide-ide tidak terduga.
Mata Anggita berkilat. Gadis itu melemparkan seringai. Kemudian, Anggita mendekatkan kepalanya pada Raya dan Mika. Tangannya bergerak, memberi isyarat agar temannya juga ikut mendekat. Setelah memastikan keadaan aman, dan tidak ada yang mencuri dengar, ia berbisik pelan. “Masih ingat dengan hari Kamis? Hari Kamis besok, kita ikuti Raga."
"Ngapain?" tanya Mika. Bukankah Mika sudah mengatakan jika pada hari itu Raga sedang berada di kantor papanya?
"Dan, lo percaya gitu aja? Dari awal gue udah curiga sama dia. Menurut lo, kenapa dia tiba-tiba ngajak lo buat menyelidiki kasus Nagra, tepat setelah lo bilang mau minta putus?" Mata Anggita menyipit curiga.
Mika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia yang awalnya tidak memikirkan tentang hal itu, seketika menjadi curiga setelah Anggita mengatakannya. "Memangnya kenapa?"
"Ya, karena dia memang ada hubungannya sama kasus ini, Mika Arestya." Anggita mendaratkan jitakan di dahi Mika.
“Lo yakin kita bisa nemuin sesuatu dengan ngikuti Raga?” Raya bertanya skeptis.
♥
Mobil yang dikendari pak Rudi berhenti di depan rumah Kai. Tidak seperti kemarin. Kali ini, pintu rumah itu terbuka lebar. Suara musik cukup keras terdengar dari arah ruang tamu rumah itu ketika Mika menurunkan kaca mobil. Reza sedang mencuci motor di halaman, seraya bersiul kecil.
Mika membuka pintu mobil, setelah menetralkan degup jantungnya. Meski tidak bertemu Kai, tetap saja rasa gugup tidak bisa ia hindari.
Mika tersenyum kaku saat melihat Reza terkejut atas kedatangannya. Cowok itu bahkan nyaris menyiramnya dengan air selang.
“Astaga, kirain orang gila lagi ngeliatin gue!” Reza berseru, seraya mengusap-usap dada.
Mika mendengkus, mengabaikan seruan asal Reza. Lalu, ia berjalan menuju teras rumah Kai, dan mendaratkan tubuh di kursi kayu. Matanya mengamati Reza yang juga tengah melihat ke arahnya. Cowok itu memicing curiga, seakan ia adalah pencuri yang memang patut dicurigai.
“Tenang aja. Aku nggak mau maling rumah ini. Nggak ada yang bisa dijual,” celetuk Mika. Bola matanya memutar malas.
“Sialan!” Reza berdecak. Kemudian, kembali melakukan pekerjaannya.
__ADS_1
Mika mengedarkan pandangan ke penjuru taman selagi menunggu Reza menyelesaikan pekerjaan. Meski tidak luas, halaman itu tertata rapi. Rerumputan tumbuh di tanah kosong dengan tinggi sejajar. Tidak lebih dari batas mata kaki. Tidak ada sampah, meski hanya dedaunan kering. Sepertinya, Kai selalu merapikan halaman itu.
Perhatian Mika beralih pada kondisi di dalam rumah. Ia mengintip melalui jendela besar di belakangnya. Sunyi. Tidak ada siapa pun di sana. Seketika, pikirannya tertuju pada Kai. Bagaimana kondisi cowok itu sekarang?
Namun, ia segera menepis pikiran itu. Mengenyahkan keinginan untuk menemui cowok itu. Ia tidak datang ke sini untuk melihat keadaan Kai. Ia hanya perlu memastikan satu hal pada Reza, kemudian pulang. Masih ada hal yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.
“Lo mau ketemu gue apa Kai?” tanya Reza. Cowok itu sudah menyelesaikan kegiatannya. Ia mengenakan kembali kausnya yang disampirkan di kursi sebelah Mika.
“Aku mau tanya beberapa hal sama kamu.” Mika mengeluarkan ponsel. Ia sudah menyusun daftar pertanyaan yang akan ia sampaikan pada Reza.
Reza mengempaskan diri ke kursi di samping Mika. Matanya menatap curiga pada Mika dan ponsel di tangan gadis itu. “Lo bukan wartawan yang lagi nyamar, kan?”
Mika mengesah, seraya memutar bola matanya. Tidak ingin terlalu banyak membuang waktu, ia segera menyampaikan pertanyaan pertama pada Reza. “Kamu kenal Raga sejak kapan?”
Alis Reza bertaut. “Raga itu pacar lo, kan? Kenapa nggak tanya dia aja?”
“Nggak ada gunanya. Dia nggak akan mau jawab. Sekarang jawab aja. Aku nggak punya banyak waktu.” Mika mendesak. Ia sadar, jika sikapnya sedikit tidak sopan. Namun, ia tidak memiliki banyak waktu. Setelah ini, ia masih harus menemui Anggita dan Raya untuk membahas hasil yang didapat.
Reza berdecak. “Iya iya. Gue sebenarnya nggak terlalu kenal sama Raga. Dia teman Kai waktu SMP. Gue sering ketemu setiap kali dia main ke rumah ini.”
Mika menahan napas setelah mendengar penjelasan itu. Terkejut. Perlahan, satu per satu ingatan tentang sikap Raga setiap kali berhadapan dengan Kai bermunculan di kepalanya. Tentang sikap Raga saat pertama kali melihat Kai, dan tentang Raga yang posesif setiap kali ia berada di dekat Kai. Lalu, kenapa mereka bersikap seperti musuh bebuyutan?
"Jadi, kamu dulu tinggal di sini?"
Reza mengangguk. "Cuma kalau hari Minggu. Kasihan gue sama si Kai, nggak ada teman dia."
"Terus, kenapa mereka kelihatan nggak akur?"
"Gue nggak tahu kalau soal itu. Kai nggak pernah cerita ke gue. Apa lagi, sejak masuk SMA, gue udah jarang main ke sini lagi."
Mika mengesah. Percuma saja menanyakan hal itu pada Reza. Lalu, ia beralih ke pertanyaan lain. “Kalau Alana?”
“Alana itu adik Raga. Astaga, lo kemana aja? Katanya kalian pacaran, tapi nggak pernah tahu kehidupan masing-masing.” Reza menatap tidak percaya pada Mika.
Tuntas sudah. Penyelidikan Mika tentang keberadaan Alana akhirnya menemukan titik terang.
Tangan kiri Mika yang dibiarkan bebas terkepal erat. Kemarahan merambat menuju ujung kepalanya. Lantas, memenuhi setiap sudut hatinya. Ia merasa benar-benar bodoh. Teramat rapi Raga menutupi semua, hingga ia tidak menemukan satu celah pun untuk membongkar hal ini.
__ADS_1
Jadi, mereka saudara kandung. Sialan! Mika mengumpat dalam hati. Napasnya memburu. Jika Raga ada di depannya, ia pasti sudah melancarkan makian untuk cowok itu. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Raga bersikap seolah tidak mengerti apa pun tentang Alana?