Red Thread

Red Thread
Berita


__ADS_3

Belum pernah Mika merasa sebahagia ini sejak kematian Nagra. Sebaris pesan yang ia terima beberapa waktu lalu, rupanya memberikan efek yang luar biasa untuk hatinya. Jika biasanya senja tidak pernah terlihat memukau, maka sekarang justru tampak sangat indah.


Ia tiba di rumah ketika matahari sudah tergelincir di kaki langit barat. Pancaran cahaya jingga menyambutnya saat menginjakkan kaki di halaman. Tidak ada awan di langit. Angin berembus pelan, menerbangkan anak-anak rambutnya.


“Kamu nggak mau mampir dulu? Atau, sekalian ikut makan malam?” tanya Mika. Tangannya menyerahkan helm pada Raga.


Raga menggeleng. “Kapan-kapan aja ya. Aku masih ada urusan.”


"Hati-hati ya.”


Mika melambaikan tangan pada Raga yang sudah bersiap pulang, setelah mengantarkannya. Satu tangannya sedang membawa bungkusan berisi beberapa jenis bahan makanan. Hari ini, ia akan membuatkan makan malam untuk menyambut kepulangan papanya. Ia juga berharap, kali ini mamanya bersedia untuk bergabung. Sudah sangat lama, mereka tidak pernah lagi makan bersama.


Kakinya melangkah ringan memasuki rumah. Lantas, langsung menuju lemari es. Mika mengembuskan napas berat, ketika pandangan matanya menangkap seiris kue ulang tahun mamanya. Bi Inah pasti menyimpan potongan kue—yang masih sedikit baik itu—di dalam lemari es. Mika mengabaikan keberadaan kue itu. Tanpa berniat mengambil atau membuang kue itu. Ia hanya mengambil beberapa bahan pelengkap. Kemudian, menutup pintu lemari es itu kembali.


Masih ada waktu satu setengah jam, sebelum papanya tiba di rumah. Mika beranjak dari dapur untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Hari ini, untuk pertama kalinya ia merasa sangat bersemangat berada di rumah. Rumahnya terasa lebih hangat dari sebelumnya. Meski sebenarnya, masih tetap sepi seperti biasa.


Papa


Kamu mau papa bawakan apa?


Pesan singkat itu baru Mika baca lima menit setelah mandi dan bersiap-siap. Seulas senyum lebar tidak bisa ia sembunyikan. Kemudian, jemarinya mengetikkan balasan dengan cepat.


Mika Ars


Nggak usah. Papa cepat pulang ya.


Saat mamanya bersikeras menganggapnya sebagai pembunuh Nagra, hanya papanya yang bersikeras untuk membelanya. Lelaki itu selalu berusaha meyakinkan mama, jika Nagra meninggal karena memang sudah saatnya. Bukan karena Mika. Hanya papanya yang masih bersedia mengobrol panjang dengannya. Hanya saja, lelaki itu tidak pernah berada di rumah. Setelah kematian Nagra, papanya mengambil cukup banyak pekerjaan di luar kota. Lelaki itu hanya akan pulang satu atau dua bulan sekali. Itu pun hanya dua hari di rumah. Sebenarnya, tanpa mengambil pekerjaan di luar kota pun, keadaan ekonomi keluarganya sudah lebih dari cukup. Karena itu pula, Mika berani menyimpulkan satu hal. Papanya hanya sedang berusaha untuk melarikan diri dari rasa sakit atas kematian Nagra.


Mika sudah selesai mempersiapkan makan malam, ketika suara bel terdengar. Ia berlari kecil menuju ruang tamu. Bibirnya tersenyum lebar, saat membuka pintu dan menemukan papanya berdiri tepat di depannya. Mika menghambur ke dalam pelukan lelaki itu. Sudah sangat lama, ia tidak lagi merasakan tangan besar dan hangat itu melingkupi tubuhnya.


“Mika bantu bawain ya, Pa.” Mika mengambil tas besar dari tangan papanya, tanpa menunggu persetujuan.


“Mama kemana?” tanya Martin. Matanya memandang berkeliling ke seluruh penjuru ruangan.


“Mama belum pulang,” jawab Mika.


Martin tampak sedikit terkejut. “Belum pulang? Seharusnya, mama kamu sudah pulang dari tadi.”


Jam dinding memang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun, itu belum terlalu malam. Mamanya selalu tiba di rumah nyaris tengah malam.


Martin mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Mencari nama istrinya dari jajaran kontak telepon. Satu menit berlalu, panggilannya tidak juga mendapat tanggapan. Ia mengulang panggilan itu sebanyak tiga kali, tetapi seseorang di seberang sana tidak juga menanggapi.

__ADS_1


“Mungkin mama sedang sibuk,” kata Mika. Ia berusaha menutupi kekecewaan. Tadi sore, ia sudah memberi tahu mamanya tentang kepulangan papanya. Ia juga menyampaikan jika akan mengadakan acara makan malam bersama. Namun, mamanya tidak membalas pesan itu. Barangkali, tidak akan pernah membalas pesannya.


“Papa mau makan dulu? Mika udah masak tadi.” Mika berkata dengan wajah yang dibuat secerah mungkin. Martin mengangguk, sambil mengulas senyum lebar. Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku. Tidak ingin membuat Mika kecewa.


Makan malam kali ini berlangsung tidak sesuai harapan Mika. Meski papanya beberapa kali memuji masakannya, tetap saja hatinya merasa kurang. Ada kekosongan yang memenuhi salah satu sudut. Sudut yang diisi oleh mamanya dan Nagra. Sudut itu kosong, seperti kursi di kanan dan depannya.


Mereka tidak langsung beranjak setelah menghabiskan makan malam. Ada keheningan yang berlangsung selama beberapa saat. Martin sibuk dengan ponsel. Mika sibuk dengan banyak hal dalam kepalanya.


“Bagaimana hubungan kamu sama mama?” tanya Martin, memecah keheningan yang sempat terjadi di antara mereka.


Mika memaksakan diri untuk tersenyum lebar. “Mama baik ke aku. Kemarin, kita sempat ngerayain ulang tahun mama barengan.” Serupa ironi. Segala hal yang keluar dari mulut Mika hanyalah kebohongan menyakitkan. Baginya, tidak ada salahnya berpura-pura. Barangkali hal itu akan menjadi kenyataan, seperti ketika Nobita meminum ramuan kebohongan yang ditinggalkan oleh Doraemon. Ia pun berharap, jika ia memiliki ramuan itu.


“Bagus. Jadi, papa nggak perlu khawatir setiap kali meninggalkan kalian di rumah berdua.”


“Papa nggak perlu khawatir.” Mika mencoba untuk meyakinkan, walau sorot matanya berkata sebaliknya.


Martin terdiam sejenak. Pandangannya mengarah pada meja kaca di depannya. “Tentang kasus Nagra, papa sudah memikirkan satu hal—”


Belum sempat kalimat itu menemukan akhir, suara pintu dibuka terdengar dari arah ruang tamu. Yulia tampak terkejut atas kedatangan Martin. Langkah kakinya berhenti di ambang pintu, dengan kelopak mata terbuka lebar. Wanita itu mematung, selama beberapa detik. Sebelum akhirnya, memaksakan diri untuk tersenyum dan menghampiri Martin.


“Dari mana kamu?” Martin melihat jam dinding yang sudah menunjukkan nyaris pukul sebelas, kemudian beralih pada Yulia.


“Sengaja. Aku ingin tahu, apa selama ini kamu bisa menjadi ibu yang baik untuk Mika atau tidak. Ternyata—” Martin menggelengkan kepala pelan. “Aku juga pernah bekerja di kantor kamu. Tapi sepanjang aku kerja di sana, nggak ada lembur sampai lewat dari jam sembilan malam. Sebenarnya, darimana kamu?”


“Kamu nggak percaya sama aku?” Nada suara Yulia satu oktaf lebih tinggi dari sebelumnya.


Martin menoleh pada Mika, “Ambilkan mama kamu minum di dapur!”


Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Mika segera beranjak dari tempatnya. Baru tiga langkah ia meninggalkan kursi, pertengkaran mama dan papanya kembali terdengar.


Mika memejamkan mata sejenak, seraya menghela napas berat. Bukan pertemuan seperti ini yang ia inginkan. Bukan pertengkaran yang ada di mimpinya, setiap kali ia berpikir tentang keluarga bahagia. Namun, sahutan kalimat penuh penekanan dan kemarahan dari kedua orangtuanya membuatnya yakin, bahwa keluarga bahagia itu hanya ada dalam mimpinya. Pada kenyataannya, keluarganya tidak pernah menjadi sebuah keluarga.


Mika hendak membawa segelas teh hangat ke ruang tengah, tetapi teriakan mamanya menghentikan langkahnya. Teriakan itu meremukkan segenap hatinya.


“Dia itu hanya anak pembawa sial! Aku udah nyuruh kamu buat ngusir dia dari dulu. Tapi, kamu malah bersikeras untuk mempertahankan dia!”


“Aku nggak akan ngusir Mika. Dia itu anak kita!”


“Dia itu anak pembawa sial! Nagra meninggal karena dia!”


Lapisan transparan menggenang di pelupuk mata Mika. Ia menggigit bibir bawahnya. Menahan dengan sekuat hati agar genangan air mata itu tidak menetes.

__ADS_1


Mika melangkah pelan menuju ruang tengah. Menulikan telinga, meski nyatanya ia gagal. Teriakan dan bentakan mamanya masih bisa ia dengar dengan jelas.


“Mika buatin teh hangat, Ma.” Mika berkata pelan. Kedua orangtuanya menoleh padanya dengan raut wajah terkejut.


Mika tidak ingin berlama-lama. Setelah meletakkan teh itu di atas meja, ia berjalan cepat menuju kamar. Menutup pintu dengan sedikit bantingan.


Tubuhnya meluruh di balik pintu kamar. Ia seakan terperosok. Terjerembab dalam ruang kosong yang sangat menyakitkan. Teriakan mamanya yang mengatakan bahwa ia anak pembawa sial, terngiang di telinganya. Menyeretnya semakin dalam menuju kehancuran.


Mika menyembunyikan wajah di antara kedua lutut. Ia menggigit bibir kuat-kuat, menahan agar isakannya tidak keluar. Ia bahkan tidak menghentikan gigitan, ketika rasa asin mengenai lidahnya diikuti dengan aroma anyir.


Rasa sakit yang menghantam dadanya, menuntun tangan Mika bergerak menuju bekas luka di lengan yang belum sepenuhnya mengering. Ia menekan bekas luka itu. Menekan dengan sekuat tenaga, hingga ia merasakan bekas luka itu kembali terbuka. Rasa perih yang berputar dan menusuk di lengannya, mampu mengurangi sedikit rasa sakit di hatinya.


Melalui sudut matanya, ia bisa melihat cairan merah merembes dari pakaian lengan panjangnya. Mika mendesis. Namun, ia tertawa kecil. Rasa sakit di lengannya terasa menyenangkan. Lebih menyenangkan dibanding mendengar pertengkaran kedua orangtuanya.



“Eh, kalian udah dengar kabar tentang Kak Nagra?” tanya Anggita.


“Udah. Semalam gue udah baca di grup. Kasihan ya Kak Nagra. Tega banget pelakunya.” Raya menyahuti.


Mika memandang dua temannya dengan tidak mengerti. Pelaku apa? Memangnya gosip apa yang tersebar tentang Nagra? “Ada apa?”


Anggita melemparkan tatapan tidak percaya. Seakan tidak mengetahui berita hangat tentang Nagra adalah suatu dosa besar. “Lo nggak tahu, Ka? Astaga! Kemana aja lo?”


“Lo baru keluar dari goa ya. Atau, jangan-jangan lo nggak kenal siapa kak Nagra?”


Mika ingin tertawa mendengar pertanyaan Raya. Bagaimana bisa ia tidak mengenal Nagra? Namun, ia hanya menggeleng pelan. Berharap itu akan membuat dua temannya bercerita.


“Serius lo nggak kenal Kak Nagra? Wakil ketua OSIS yang ganteng itu. Dia pernah jadi panitia waktu kita MOS, satu tahun lalu.” Raya mencerocos, seakan ia mengenal Nagra adalah suatu kebanggan tersendiri.


“Memangnya dia kenapa? Bukannya dia udah meninggal ya?” tanya Mika.


“Nah, itu dia!” Anggita menggebrak meja dengan sangat bersemangat, hingga membuat beberapa pasang mata tertuju pada mereka. Anggita tersenyum kikuk sebagai isyarat permintaan maaf. Kemudian, ia berkata dengan suara berbisik, “Semalam di grup angkatan ribut. Ada yang ngasih tahu, kalau ternyata Kak Nagra itu bukan meninggal karena bunuh diri. Tapi, dibunuh.”


Tubuh Mika menegang mendengar kabar itu. Napasnya sempat terhenti selama beberapa saat. Dibunuh? Apa benar Nagra dibunuh?


“Nggak nyangka aja sih. Cowok baik-baik kayak Kak Nagra punya musuh yang setega itu. Tapi, kalau dipikir-pikir memang aneh sih. Ngapain Kak Nagra bunuh diri? Hidup dia itu udah nyaris sempurna. Orangtuanya kaya, dia pintar, banyak penggemar, selalu menang setiap kali ikut olimpiade. Apalagi yang kurang dari hidup dia, sampai bikin dia mau bunuh diri?” Anggita mengungkapkan pendapatnya. Sorot matanya terlihat miris dan tidak percaya.


“Dan katanya lagi, yang bunuh Kak Nagra itu orang dekat dia.” Raya menyahuti. Membuat pikiran Mika semakin tidak tentu arah.


Apa sebenarnya yang terjadi di balik kasus kematian Nagra?

__ADS_1


__ADS_2