Red Thread

Red Thread
Pirau


__ADS_3

"Ketika menjalin suatu hubungan, ada saatnya akan sampai pada pertanyaan; benarkah kita mencintai orang itu? Atau, sekadar takut kehilangan dia sebagai sandaran?"



“Buang kue itu!”


Rasa sakit di hatinya terasa begitu nyata, saat kalimat itu terlontar dari bibir mamanya. Rasa sakit yang menggerogoti sudut-sudut hatinya, hingga membuatnya nyaris mati tanpa harus kehilangan nyawa. Mika hanya bisa memandang tubuh mamanya yang perlahan menghilang di balik dinding kamar. Ia menangis tanpa suara. Tanpa air mata. Hanya ada lapisan transparan di matanya yang hampa.


Kai berjalan mendekati Mika. Lantas, menyentuh pelan bahu gadis itu. Tidak ada reaksi. Mika tetap bergeming, tanpa sekalipun melepaskan pandangan dari pintu kamar yang sudah tertutup rapat. Beberapa detik kemudian, gadis itu tertawa. Sebuah tawa yang menyiratkan sebuah kehancuran.


“Ka, are you okay?” tanya Kai pelan.


Mika tidak menjawab. Gadis itu tetap tertawa. Beberapa detik kemudian, Kai melihat Mika mengusap sudut mata. Tawa itu pun berhenti. Kemudian, digantikan oleh suara isakan pelan.


“Kakak pulang aja,” kata Mika, setelah hening selama beberapa saat.


“Gue bisa temenin lo—”


“Pulang, Kak!” Mika memotong ucapan Kai, dengan tegas. Tidak ada nada suara bersahabat. Tatapan matanya pun tajam. Beberapa saat kemudian, tatapan itu beralih dari Kai menuju pintu utama. “Pintunya nggak dikunci.”


Hanya itu yang diucapkan Mika, sebelum kembali ke dapur dengan membawa kue yang masih utuh. Dua langkah kemudian, ia berbalik menghadap Kai. Bibirnya mengulas senyum tipis yang sangat terpaksa. “Maaf karena melihat hal itu. Dan, terima kasih sudah membantu.”


Kai ingin menahan langkah Mika. Ia ingin merengkuh gadis itu Ia ingin mengatakan pada gadis itu bahwa ia bisa menjadi tempat bersandar. Namun, yang bisa ia lakukan hanya melihat punggung itu semakin menjauh. Tanpa bisa berbuat apapun.


Mika sudah menghilang di balik pintu dapur. Kai hendak melangkah menuju pintu utama, tetapi segera mengurungkan niatnya. Ada sesuatu yang terasa mengganjal. Ia meraba pergelangan tangan kirinya. Terkejut, saat menyadari gelang yang selalu ia pakai tidak ada di sana. Ia bergegas kembali ke dapur. Sepertinya, benda itu tertinggal di sebelah westafel setelah ia mencuci tangan.


Langkah Kai berhenti tepat di depan pintu dapur yang terhubung dengan ruang tengah. Suara isakan Mika yang terdengar dari tempatnya berdiri, membuatnya mengurungkan diri untuk masuk. Ia memilih untuk bersandar di tembok dekat pintu. Kai memejamkan mata rapat-rapat. Tangis putus asa dari gadis itu ternyata berpengaruh pada jantungnya. Jantungnya seperti diremas dengan sangat kuat.


Kai kembali membuka mata. Pandangannya jatuh pada sebuah buku di atas meja, di depannya. Ia beranjak dari tempatnya. Berjalan menuju meja itu untuk mengambil selembar kertas. Tangannya bergerak menuliskan sesuatu. Ia meletakkan kertas itu di depan pintu dapur. Kemudian, berjalan meninggalkan rumah.



Mika mencengkeram tepi meja dapur kuat-kuat. Ia tidak tahu, cara apa lagi yang harus ia lakukan untuk meluluhkan hati mamanya. Rasanya, setiap usaha yang ia lakukan tidak pernah berarti.


Mika mengambil sebilah pisau, dengan tangan gemetar. Tanpa berpikir panjang, ia menancapkan pisau tersebut ke tengah kue ulang tahun. Lantas menghancurkan kue itu menjadi potongan-potongan kecil. Hanya dalam beberapa detik, kue itu sudah tidak lagi berbentuk. Potongannya berhamburan di lantai dan meja dapur.


Tubuhnya jatuh meluruh, setelah itu. Menangis tanpa suara. Tangannya yang masih memegang pisau, mencengkeram benda itu semakin dalam. Berharap dapat menyalurkan segenap rasa sakit dan kemarahan pada benda tersebut. Ia baru melepaskan pisau itu, ketika merasakan sesuatu menyayat telapak tangannya.


Pandangan Mika beralih pada cairan merah yang membasahi lantai. Rasa perih dan berdenyut di tangannya, membuatnya meringis. Namun, rasa sakit itu menyenangkan. Setidaknya, rasa sakit itu mampu membuatnya sedikit melupakan sakit hatinya.


Mika tersenyum kecil. Tangannya kembali mengambil pisau itu. Dengan mata terpejam, dengan membayangkan segala hal indah yang pernah ia lakukan, ia meletakkan ujung pisau itu di kulit lengannya. Napasnya tertahan, saat ujung lancip benda itu menembus kulitnya. Memberikan sensasi perih yang berputar-putar. Aroma anyir memenuhi indera penciumannya. Tidak ada ringisan kesakitan, ia justru tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa lebih baik. Merasa ringan. Merasa seakan seluruh beban dalam hatinya berkurang perlahan-lahan.



Setelah mimpi buruk semalam berakhir, Mika kembali terbangun. Ia sudah bersiap untuk menghadapi mimpi buruk yang lebih menyakitkan. Bukankah hari baru adalah satu lagi mimpi buruk untuknya?


Kepalanya terasa berdenyut-denyut saat ia membuka mata. Sinar matahari dan cahaya dari lampu yang masih menyala di langit-langit, membuatnya sedikit kesulitan beradaptasi. Rasa perih menjalar di lengannya. Membuatnya meringis, saat memaksakan diri untuk bangkit.


Mika menjatuhkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Potongan-potongan kue, sisa tepung, kulit telur, hingga tetesan darah; semuanya terlihat memenuhi lantai dapur. Tempat itu lebih menyerupai ruangan bekas perang daripada dapur. Di antara kekacauan itu, ada satu hal yang menarik perhatian Mika. Sebuah gelang yang terbuat dari benang merah.


Keningnya berkerut. Ia merasa pernah melihat gelang seperti itu. Namun, otaknya sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama untuk mengingat.


Susah payah, ia berusaha untuk bangkit. Tanpa melihat cermin, ia sudah tahu jika keadaannya sangat menyedihkan. Matanya panas dan berat. Butter cream menempel di wajah dan rambutnya. Ditambah bekas sayatan memanjang di lengannya.


Mika berjalan menuju kamar mandi, setelah mengambil gelang itu dari sebelah westafel. Sebentar lagi, Bi Inah—asisten rumah tangga yang sudah bekerja lama untuk keluarganya—akan datang. Sehingga, ia tidak perlu membersihkan kekacauan itu.


Langkah Mika berhenti di ambang pintu dapur. Selembar kertas bertuliskan sesuatu, menarik perhatiannya. Ia mengambil surat tersebut. Bibirnya tersenyum kecil, setelah membaca barisan aksara di kertas itu.


“Gue pulang. Tapi kalau lo butuh bantuan atau teman, lo bisa cari gue.”



Sepertinya, mulai sekarang Mika harus membiasakan diri mengenakan jaket di sekolah. Bahkan, di cuaca panas seperti hari ini. Beberapa kali ia mengusap peluh di dahi. Beberapa kali pula, keinginan untuk melepaskan benda itu dari tubuhnya muncul. Namun, ia segera menghapus keinginan itu. Akan menjadi bumerang, jika ia memaksakan diri untuk melepas jaket.


“Lo sakit, Ka?” tanya Samuel, ketika mereka berpapasan di koridor.


Mika memekik pelan. Bukan karena kehadiran Samuel yang tiba-tiba. Melainkan, karena keberadaan Kai yang tidak ingin ia temui hari ini. Mika segera menguasai keadaan. Ia berpura-pura bersin, dan menutup hidung. “Eh, iya. Kena flu kayaknya.”


Samuel mengernyit curiga. Ia menyikut pinggang Kai yang sejak tadi memilih diam. “Dia kenapa?”


Kai hanya mengedikkan bahu. Matanya menangkap sesuatu di telapak tangan Mika, sebuah plester yang memanjang. Keningnya berkerut. Mencoba mengingat, apakah Mika sudah mengenakan plester itu ketika mereka bersama kemarin?


__ADS_1


Hanya ada satu permintaan Mika hari ini, ia tidak perlu bertemu Kai lagi. Cukup sudah ia mengarang alasan, ketika mereka berpapasan di koridor tadi pagi. Namun, sepertinya keinginan itu tidak akan terwujud. Cowok itu bahkan sudah duduk di kursi depan Mika, tepat setelah bel istirahat berbunyi.


Sebenarnya, Kai ingin menanyakan tentang keberadaan gelang miliknya. Hanya saja, melihat kondisi Mika yang kacau, membuatnya urung menanyakan hal itu. Akhirnya, ia memilih untuk mengamati setiap jengkal penampilan Mika. Sesekali keningnya berkerut, seperti mencurigai sesuatu.


Mika memutar bola mata, ketika mengetahui Kai tidak juga berbicara setelah beberapa menit berlalu. Ia sangat tidak nyaman dengan cara Kai memandangnya. “Kakak ada perlu apa?”


“Lo bohong, kan?” tandas Kai.


Mika terkejut mendengar pertanyaan Kai. “Bohong soal apa?”


Kai melemparkan tatapan tajam pada Mika. Seperti baru saja memergoki seorang pencuri ayam. “Lo nggak flu. Lo baik-baik saja.”


Mika tidak menemukan kata-kata untuk mengelak tebakan Kai. Ia gelagapan. Bola matanya melihat ke segala penjuru. Berharap ia akan menemukan penyangkalan di mana pun. Belum sempat ia menemukan kalimat untuk mengelak, Kai sudah kembali bersuara. “Lihat tangan lo!”


“Kenapa sih?” Mika mulai kesal. Ia menyembunyikan telapak tangannya di dalam laci meja.


“Lihat tangan lo!” Kai mengulang ucapannya. Kali ini lebih tegas dan keras.


Mika menelan ludah dengan susah payah. Ia bahkan tidak berani untuk melihat sorot mata Kai. Ia berharap Raya dan Anggita segera kembali dari kantin. Setidaknya, kehadiran mereka mampu mencegah Kai memaksanya untuk melakukan sesuatu, seperti kali ini.


Kai mendesah. Hilang sudah kesabarannya. Ia menarik lengan Mika, hingga membuat gadis itu meringis. Mika berusaha melepaskan diri. Tetapi, tenaga Kai jauh lebih besar. Ia akhirnya pasrah, ketika pandangan mata Kai menangkap plester yang menempel di telapak tangannya.


Raut wajah Kai kaku. Sorot mata cowok itu tidak terbaca. Mika hanya bisa menunduk. Hening terjadi selama beberapa saat. Hening yang sangat tidak nyaman. Hening yang menyesakkan dan menakutkan bagi Mika. Perasaan yang meledak dalam dadanya, sama seperti ketika ia bertengkar dengan Nagra dulu. Entahlah, saat ini ia seperti berhadapan dengan Nagra, bukan Kai.


“Apa yang lo lakuin setelah gue pergi semalam?” tanya Kai. Tidak terlalu jelas, karena cowok itu menggertakkan giginya. Tatapan tajam Kai beralih dari telapak tangan Mika, pada sepasang bola mata gadis itu. Tatapan mata yang membuat Mika jatuh semakin dalam pada ketakutan. Mika terpojok, tanpa bisa menghindar dari tatapan itu. “Lo sengaja ngelukain diri sendiri, kan?” tanya Kai, kemudian.


“A—aku cuma—” Ucapan Mika terputus, ketika seseorang tiba-tiba menarik tangannya dari genggaman Kai.


Mika mendongak. Keterkejutannya berlipat ganda saat melihat Raga berdiri di sampingnya. Sorot mata cowok itu tertuju pada satu titik; Kai. Tajam, menakutkan, dan menghunus. Jika tatapan itu bisa berubah menjadi pedang, Kai mungkin sudah tidak lagi berada di antara mereka.


Susah payah Mika menelan ludah. Ia belum pernah melihat Raga segeram itu. Wajah cowok itu merah padam. Ia bisa melihat tubuh Raga bergetar pelan. Mengikuti aliran emosi yang sudah berkumpul di ubun-ubun.


Mika bahkan kesulitan untuk sekadar menarik napas. Ia tidak pernah berpikir akan berada di antara dua cowok yang sedang saling menatap penuh kemarahan. Kai masih bersikap tenang, meski matanya menunjukkan kemarahan yang meletup-letup. Sedangkan, Raga berusaha untuk menahan kemarahan, meski tidak sepenuhnya sanggup.


“Udah berapa aku bilang, jangan dekat-dekat sama dia! Kamu udah nggak ngehargain aku sebagai pacar kamu?” tanya Raga. Nada suaranya terdengar sangat dingin.


“Bukan gitu, Ga!” Mika berteriak. Ia nyaris frustrasi menghadapi dua cowok di depannya.


Raga menatap Mika. Membuat jantung Mika terasa seperti dihunjam puluhan anak panah.


Dada Mika terasa sesak. Bukan ia tidak ingin membela diri. Ia hanya tidak menemukan kata yang tepat untuk menyangkal tuduhan Raga.


Lapisan transparan mulai membayang. Mengaburkan pandangan Mika yang sejak tadi hanya tertuju pada Raga. Lapisan itu akhirnya meluruh, tepat setelah Raga mengatakan kalimat yang tidak pernah Mika bayangkan.


“Aku nggak tahu kalau kamu semurahan ini!” Raga mengucapkan kalimat itu dengan penuh penekanan. Setiap katanya seakan mengandung gejolak emosi yang hebat.


Mika hancur. Perasaannya luluh lantak mendengar kalimat itu. Ia ingin berteriak. Ia ingin mengatakan jika Raga tidak berhak mengatakan hal itu. Namun, sekali lagi ia hanya bisa menelan rasa sakitnya. Ia menulikan telinga. Tidak ingin lagi mendengar perseteruan antara Kai dan Raga, maupun bisik-bisik teman-temannya. Hanya ada satu kalimat Kai yang bisa Mika dengar.


“Dia nggak murahan. Tapi, lo yang nggak becus! Sebagai pacar, harusnya lo tahu apa yang dia alami.”


Mika tidak tahu yang terjadi setelah itu. Ia hanya melihat Raga yang meninggalkannya, beberapa detik setelah berseteru dengan Kai. Ia juga melihat Kai meletakkan kantung plastik berisi obat luka di dekatnya, sebelum cowok itu pergi.


Mereka berdua pergi, tanpa mengucapkan sepatah kata untuknya.



Sepanjang pelajaran hari itu, Mika sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Selain karena rasa perih yang menjalar di lengannya, perkataan Raga beberapa saat lalu juga masih memenuhi kepalanya. Beberapa kali Anggita menegurnya, setiap kali melamun. Tetapi, berkali-kali pula ia kembali tidak berkonsentrasi.


Mika mendesah lega ketika akhirnya bel pulang berbunyi. Ia segera memasukkan bukunya ke tas, lalu berlari kecil meninggalkan kelas. Ia yakin, Raga masih ada di kelas. Cowok itu memang selalu pulang paling akhir. Namun, kali ini tebakannya meleset. Kelas Raga sudah sepi ketika ia sampai di sana. Ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Barangkali cowok itu masih tidak jauh dari kelas. Tetapi, Raga sudah tidak ada di sekitar.


Mika berlari menuju area parkir, berharap Raga masih ada di sana. Namun, ia harus kembali menelan kekecewaan. Motor cowok itu sudah tidak ada di antara puluhan motor yang masih terparkir rapi.


Desisan kecewa lolos dari bibir Mika. Ia melangkah meninggalkan area parkir dengan langkah gontai. Keinginannya untuk menjelaskan pada Raga perihal kejadian tadi pagi, harus ia tunda hingga esok hari. Raga pasti salah paham padanya. Cowok itu bahkan tidak membalas pesan-pesan singkat yang ia kirimkan, dan mengangkat panggilannya.


Di tengah pikiran tentang Raga, tiba-tiba saja ingatan tentang pertanyaan Kai kemarin melintas dalam kepala. Membuatnya tidak bisa untuk tidak bertanya pada diri sendiri, apakah ia memang benar-benar mencintai Raga? Apakah perasaan itu memang ada dalam hatinya, hingga ia rela mengejar Raga seperti ini? Atau, ia sekadar takut kehilangan seseorang sebagai sandaran?  Karena selama ini Raga yang menemaninya, ia seakan menjadikan cowok itu sebagai pelampiasan kesepian. 


Mika berusaha menanyakan hal itu pada dirinya sendiri. Namun hingga langkahnya tiba di gerbang sekolah, ia tidak juga menemukan jawaban. Bahkan hingga ia berada di dalam mobil jemputan yang akan membawanya pulang, ia juga masih belum meyakinkan dirinya sendiri.


Dering ponsel seolah mengembalikan kesadarannya. Dengan cepat, Mika mengambil ponsel itu dari dalam saku. Ia nyaris memekik girang, saat membaca nama seseorang di layar ponselnya. Itu pesan dari Raga. Cowok itu mengajak Mika untuk bertemu di kedai es krim yang tidak jauh dari sekolah. Tanpa berpikir panjang, Mika menyuruh Pak Rudi untuk berputar balik, dan menuju lokasi yang ditunjuk oleh Raga.


Mika berlari kecil memasuki kedai es krim, setelah menyuruh pak Rudi untuk pulang terlebih dahulu. Kedai es krim itu tidak terlalu ramai, meskipun siang ini matahari bersinar sangat terik. Hanya ada beberapa meja yang terisi. Sebagian besar pengunjungnya adalah siswa dari sekolahnya yang masih mengenakan seragam. Kedai es krim itu memang hanya berjarak dua ratus meter dari sekolahnya. Dan, sering digunakan sebagai tempat berkumpul atau sekadar menghabiskan waktu bersama pasangan. Selain harganya relatif murah untuk pelajar, tempat itu juga sejuk dan instagramable. Seluruh ruangan bangunan itu dihiasi dengan berbagai macam pernak-pernik dan pot kecil berisi bunga hidup.


Mika berjalan menghampiri Raga yang duduk di sudut ruangan. Pandangan cowok itu jatuh keluar jendela. Sama sekali tidak menyadari kehadirannya, hingga ia duduk di hadapan cowok itu. Ia memaksakan seulas senyum, ketika Raga mengalihkan pandangan ke arahnya.

__ADS_1


“Kenapa kamu ngajak aku ketemu di sini?”


Raga tidak langsung menjawab. Tatapan matanya tertuju pada telapak tangan Mika yang terkepal di atas meja. Tanpa sepatah kata, cowok itu menarik tangan Mika. Membuka kepalan tangan itu, kemudian mengamati plester memanjang yang menempel di sana.


“Tangan kamu kenapa?”


Sikap Raga benar-benar berbeda seperti beberapa jam lalu. Cowok itu sudah kembali seperti biasa, meski Mika masih sedikit was-was. Ia masih sedikit khawatir, jika tiba-tiba saja Raga akan kembali meledak. Sehingga, ia memutar keras otaknya untuk mencari jawaban yang aman.


“Kena pisau kemarin.” Raga tidak memercayai ucapan Mika begitu saja. Terlihat dari cara cowok itu mengerutkan kening.


“Kena pisau nggak akan sepanjang ini, kan?”


Mika menelan ludah. Ia lupa, jika Raga memiliki kemampuan untuk menganalisis yang cukup hebat. Cowok itu bahkan bisa melihat kebohongannya hanya dari tatapan mata. Maka dari itu, sejak menginjakkan kaki di tempat itu, Mika sebisa mungkin menghindari tatapan Raga.


“Aku serius. Kemarin waktu ambil pisau, aku malah pegang bagian yang lancip. Tapi, ini udah nggak apa-apa kok. Besok juga sembuh.” Mika mengeluarkan cengiran kecil, berusaha untuk meyakinkan Raga. Meski dalam hati, ia sudah gelisah tidak karuan. Ia takut, jika Raga akan mengetahui kebenaran yang ia sembunyikan.


Beruntung ketakutannya tidak terwujud. Raga memilih untuk tidak membahas luka itu lebih lanjut. Cowok itu justru memanggil salah satu pelayan dan menyampaikan pesanan.


“Maaf. Aku tahu tadi keterlaluan.” Raga menjeda ucapannya sejenak. Pandangan matanya tertuju lurus pada Mika. “Tapi, aku benar-benar nggak suka lihat kamu sama dia. Kamu tahu, sejak awal aku sudah nggak suka sama dia.”


Mika mengangguk, kemudian tersenyum kecil. Ia merasa sedikit lega. Namun, kini bukan itu yang memenuhi kepalanya. Melainkan, perihal alasan Raga tidak menyukai Kai. “Kamu kenapa nggak suka sama dia?”


“Aku sudah bilang ke kamu, dia itu berbahaya.”


“Aku masih nggak ngerti. Memangnya apa yang berbahaya dari Kai?” Mika tidak tahu, mengapa ada sudut hatinya yang tidak terima ketika Raga mengatakan hal itu. Baginya, Kai tidak berbahaya. Cowok itu justru berhasil menghangatkan hatinya yang sempat membeku, dan mengembalikan harapannya sedikit demi sedikit. Dari cara cowok itu membuat kue, ia seperti menemukan sebuah harapan baru. Harapan bahwa mamanya akan kembali menerimanya. Harapan yang tidak ia temukan ketika bersama Raga.


“Aku nggak bisa ngasih penjelasan ke kamu. Kamu hanya perlu ingat satu hal, Kai itu berbahaya.”


Mika semakin tidak mengerti. Memangnya seberbahaya apa cowok itu, hingga Raga tidak ingin mengatakannya? Apakah Kai seorang kriminal? Pengedar narkoba? Pembunuh? Atau, seorang psikopat?


“Aku ngajak kamu ke sini, bukan untuk membahas tentang Kai,” kata Raga. Raut wajahnya terlihat sedikit tidak nyaman. “Aku ngajak kamu ke sini karena aku mau minta maaf.”


“Aku udah maafin kamu, Ga.” Ucapan Mika terhenti, ketika seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka. “Aku nggak mau bahas itu lagi.”


Raga mengangguk pelan. Pandangannya masih tertuju pada Mika, selama beberapa saat. Pandangan yang tidak Mika mengerti artinya. Pandangan itu dalam. Namun, tidak lagi mampu membuat jantungnya berdegup cepat. Hambar.


Entahlah, Mika tidak mengerti mengapa degup di jantungnya bisa berubah sedemikian cepat. Jika dulu tatapan Raga adalah satu-satunya yang ia suka, maka sekarang tatapan Kai yang menempati posisi itu. Ia tidak tahu alasannya. Namun setelah ia melihat Kai bernyanyi di depan kelasnya hari itu, pandangannya terhadap Kai berubah. Bahkan jantungnya bisa berdegup sekian kali lebih cepat ketika bersama cowok itu, dibanding ketika bersama Raga.


Isi di mangkuk es krim Mika nyaris tandas, ketika Raga mengucapkan sesuatu yang selama ini nyaris tidak pernah mereka bahas lagi. “Mama kamu gimana? Udah ada perkembangan?”


Mika tidak tahu, sudah berapa lama mereka tidak membicarakan tentang masalah itu. “Masih sama. Mama tetap dingin. Dan, belum menganggap aku ada.”


“Kalau soal Nagra, kamu nggak ada niatan untuk mencari tahu tentang kasus itu lagi?”


“Untuk apa? Kasus itu sudah ditutup. Polisi mengatakan bahwa Nagra meninggal karena bunuh diri.” Sebenarnya, Mika juga tidak percaya dengan hasil akhir itu. Ia ingin memberontak, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Mama dan Papanya percaya pada hal itu. Tidak meminta polisi untuk mengusut ulang, hingga kasus itu ditutup. Mamanya bahkan percaya, jika ia adalah seseorang yang telah menyebabkan Nagra bunuh diri. Meski tidak ada saksi mata, mamanya mengetahui jika ia adalah orang terakhir yang ditemui Nagra hari itu. Dan, anggapan tentang Nagra bunuh diri setelah mengetahui kenyataan jika Alana berselingkuh, merebak ke permukaan. Sementara, hingga kini keberadaan Alana tidak juga ditemukan. Gadis itu menghilang tanpa kabar dan tanpa jejak.


“Dan, kamu percaya dengan itu?”


Mika menggeleng. “Aku bisa apa, Ga? Mama udah nggak percaya aku. Polisi udah nggak mau mengusut kasus itu. Mereka bilang, kasus Nagra sudah tuntas. Dan, mengusut ulang hanya membuang waktu.”


Raga mengembuskan napas berat. Tangannya bergerak untuk menyentuh tangan Mika yang tidak terluka. Mengusap punggung tangan gadis itu perlahan, seakan sedang menyalurkan kekuatan.


Pembahasan mereka terhenti, ketika seseorang tiba-tiba saja memanggil Raga. Cowok bertubuh tinggi dan berisi, dengan rambut sedikit keriting yang dipotong rapi itu mendekati meja Raga dan Mika.


“Apa kabar lo? Udah lama kita nggak ketemu.” Cowok itu mengulurkan tangan, yang langsung disambut Raga dengan jabat tangan erat.


“Baik. Lo? Gue kira, lo udah lupa sama gue.”


Cowok itu tertawa pelan. Kemudian, tangannya menepuk bahu Raga beberapa kali. “Gue juga baik. Nggak mungkin gue lupa sama lo. Orang yang selalu ngasih gue contekan Kimia. Gimana sekolah baru lo? Lancar semua, kan?” Cowok itu nyengir kuda, dan Raga tertawa lebar.


“Lebih asyik di sekolah lama. Tapi, paling nggak di sekolah baru gue dapat pacar." Raga menunjuk Mika dengan ekor matanya. "Sekolah gue lancar. Tenang aja. Semua berjalan sesuai rencana."


Cowok berambut keriting itu menoleh pada Mika. “Bagus deh. Cantik juga cewek lo. Ngomong-ngomong, sekolah jadi sepi nggak ada lo."


"Alah, basi! Lo pasti seneng, nggak ada lagi yang ngomelin kalau lagi males."


Mika tidak mengerti pembahasan yang sedang terjadi. Fokusnya hanya tertuju pada Raga, kemudian beralih pada cowok berambut keriting itu, lantas kembali lagi ke Raga. Hal itu berulang hingga Raga dan cowok itu memutuskan untuk mengakhiri percakapan.


Dari percakapan itu Mika tahu, jika cowok itu bernama Beni. Dia adalah satu teman sekelas Raga, ketika masih bersekolah di tempat yang lama.


Percakapan itu hanya berlangsung kurang dari lima menit. Beni memutuskan untuk berpamitan, karena masih ada beberapa hal yang harus di lakukan. Cowok itu mengenakan kembali topi hitamnya dengan garis merah di sisi kanan dan kiri, sebelum meninggalkan ruangan.


Mika tidak melepaskan pandangan dari punggung Beni, hingga cowok itu melajukan motor hitamnya meninggalkan kedai es krim. Ia sedang mencoba menebak-nebak sifat asli Beni. Karena ketika bersama cowok itu, Raga seperti menjadi orang lain. Raga terlihat lebih ramah dan menyenangkan ketika berhadapan dengan cowok itu.

__ADS_1


Pandangan Mika beralih saat ponsel dalam sakunya bergetar. Bibirnya melengkungkan senyum lebar saat membaya sebaris pesan di layar benda pipih itu. Pesan dari seseorang yang sudah lama tidak ia lihat.


“Nanti sore, papa pulang.”


__ADS_2