
"Ma, Papa belum pulang, ya?" Mika melempar pandangan ke luar kaca jendela dari arah ruang tamu. Langit sudah mulai gelap. Namun, masih tidak ada tanda-tanda seseorang yang dia tunggu akan pulang.
"Papa bilang, masih ada lembur di kantor. Kenapa? Tumben banget kamu cari Papa?" Pandangan Yulia beralih dari majalah di pangkuannya pada Mika, dengan kening berkerut samar.
Mika menggeleng. "Akhir-akhir ini, Papa sering banget lembur. Ada proyekan baru?" Setahu Mika, proyek yang dikerjakan Papanya sudah selesai dua bulan lalu—seminggu setelah kasus kematian Nagra terpecahkan untuk sementara.
"Katanya, sih, begitu. Kalau penting, kenapa kamu nggak coba telepon Papa aja?" Kali ini, Yulia menatap Mika lebih intens. Sedikit curiga. Tidak biasanya Mika menanyakan tentang pekerjaan Martin.
"Nggak usah, deh. Mika ke kamar dulu ya, Ma." Mika memilih untuk beranjak dari tempatnya, sebelum pertanyaan demi pertanyaan yang ia lontarkan semakin membuat Yulia curiga.
Sebenarnya, ia hanya ingin menceritakan tentang rekaman Raga yang ia dengarkan dari ponsel Kai hari ini. Namun, tidak kepada Yulia. Ia tahu, wanita itu akan kembali terpukul jika mengetahui fakta tersebut. Sudah cukup ia melihat Yulia sehancur tahun lalu.
Mika merebahkan tubuh di atas ranjang. Matanya memandang langit-langit kamar yang berkilau oleh stiker berbentuk bintang.
"Apa benar orang yang sudah meninggal akan bergabung bersama bintang-bintang? Aku kangen kamu, Kak." Mika bergumam. Setelah sempat membaik sejak tertangkapnya Beni, perasaan sakit itu datang lagi. Kali ini lebih dalam dan lebih mengganjal. Pencarian kali ini tidak akan mudah. Si pembunuh sama sekali tidak menunjukkan jejaknya, seperti tahun lalu.
Lamunan Mika berakhir ketika ponselnya bergetar di atas nakas. Ia segera meraih benda pipih itu, dan tersenyum kecil saat melihat sebaris nama yang terpampang di layar.
"Halo, Sayang."
Tawa pelan terdengar dari seberang, yang membuat Mika seketika meringis kecil. "Sejak kapan kamu manggil aku sayang?"
"Sejak..." Mika berpikir sejenak. Berusaha untuk mengingat kembali jika ia memang tidak pernah memanggil Kai dengan sebutan Sayang. "Sejak hari ini."
"Udah mulai sayang sama gue?"
"Menurut kamu? Kalau nggak, ngapain aku mau pacaran sama kamu?" Mika berdecak kesal.
__ADS_1
Kai tertawa. Kali ini lebih keras. "Besok aku selesai kelas jam tiga. Aku jemput di rumah kamu, ya. Kita ketemu Beni bareng-bareng. Sekalian ajakin Raya sama Anggita."
"Oke."
"Oke. Aku masih nyoba buat hubungi Raga. Katanya, Alana sudah bisa sedikit berkomunikasi. Semoga saja ada hasil. See you, Ka."
"See you."
Mika menghela napas panjang. Apakah dengan sembuhnya Alana, misteri ini akan segera terpecahkan? Entahlah. Mika sama sekali tidak bisa berpikir. Kepalanya terlalu penuh dengan isi rekaman Raga. Dengan dugaan-dugaan tentang pelaku pembunuhan yang sebenarnya. Dan, tentang alasan Beni yang menuruti perintah pembunuh itu.
Ia yakin, alasan itu lebih dari uang. Kemewahan yang dimiliki oleh keluarga Beni bahkan bisa digunakan untuk membeli beberapa perumahan. Lalu, untuk apa Beni mengorbankan dirinya terlibat dalam kasus itu? Alana? Benarkah hanya karena Alana? Rasanya, Mika ingin melepas kepalanya dan menggantinya dengan kepala boneka beruang yang tengah duduk manis di samping kepalanya.
Mika tahu, ia tidak akan menemukan jawaban dari semua pertanyaan itu hanya dalam waktu beberapa menit. Maka, ia memutuskan untuk menghubungi Anggita. Setidaknya, berbagi dengan gadis itu akan membuat pikirannya sedikit lega.
♥
Sakit.
Seseorang tidak akan tumbuh menjadi kuat, sebelum dijatuhkan. Ia selalu percaya dengan kalimat itu. Ia bahkan melihat sendiri, bagaimana rasa sakit menjatuhkan Mika dan membuat gadis itu semakin kuat setiap hari. Ia hanya tidak pernah berpikir, jika rasa sakit itu harus sedemikian dalam.
"Ke—kenapa?" Bibir Anggita bergetar ketika mengatakan itu. Ia sudah berusaha untuk bersikap normal, tetapi gagal. Seharusnya, ia bisa bersikap biasa saja ketika mendengar kabar itu. Ia bahkan sudah pernah memikirkan, jika kalimat itu pasti akan terlontar dari bibir Mamanya.
"Ini demi karir Mama. Mama sudah mengajukan diri sebagai calon legislatif. Mama tidak ingin media menyorot kehidupan rumah tangga Mama yang gagal. Itu akan membuat pandangan orang-orang kepada Mama menjadi jelek. Mama nggak ingin dianggap sebagai seorang calon legislatif yang gagal mempertahankan rumah tangga." Merin menjelaskan panjang lebar. Nada suaranya terdengar biasa, tetapi sorot matanya mengatakan seakan ia tidak ingin berlama-lama berada di rumah itu.
"Memangnya kenapa? Nggak cuma Mama. Banyak calon legislatif yang gagal dalam berumah tangga. Banyak juga dari mereka yang bisa menduduki kursi anggota dewan. Tapi, kenapa Mama..." Sebutir air mata meluruh dari sudut bibir Anggita. Dengan kasar, Anggita segera menghapus air mata itu sebelum Merin melihatnya.
Sial. Anggita mengutuk kelemahannya sendiri. Seharusnya ia bisa mengeluarkan segala kemarahannya pada wanita di depannya itu, bukan malah air mata tidak berguna.
__ADS_1
"Memang. Sudahlah, Anggita. Kamu nggak akan mengerti. Yang penting, Mama akan tetap memenuhi segala kebutuhan kamu. Kamu minta uang? Mama akan beri. Kamu minta mobil baru? Dengan senang hati, Mama akan belikan. Tapi, jangan pernah sekali pun kamu memanggil saya Mama ketika kita bertemu di tempat umum, baik itu sengaja atau tidak."
Anggita menggelengkan kepala. Ia tidak butuh itu. Ia hanya butuh keluarga. Ia butuh keluarganya yang dulu. Ia tidak tahu, apa yang telah merasuki Merin hingga menjadi seperti ini. Kesalahan apa yang telah ia lakukan, hingga wanita itu tidak lagi ingin mengakuinya sebagai anak di depan publik?
Merin memang masih muda. Wanita itu baru menginjak usia tiga puluh tujuh puluh tahun. Dengan wajah yang terawat sempurna, seperti gadis berusia dua puluhan tahun, siapa pun pasti tidak akan menyangka jika wanita itu telah melahirkan anak yang kini berusia delapan belas tahun.
"A—aku mau tinggal sama Mama." Susah payah Anggita mengatakan itu. Ia telah membuang segala egonya yang mengatakan bahwa ia tidak ingin bertemu lagi dengan Merin. Nyatanya, sekeras apa pun ia berusaha membentangkan jarak, ia tetap tidak bisa melihat punggung wanita itu menjauhinya.
"Nggak bisa, Anggita. Mama nggak akan membiarkan kamu masuk ke kehidupan Mama yang sekarang. Karir Mama sedang bagus. Kalau kamu memaksa, semuanya akan berantakan. Reputasi Mama akan hancur, dan kamu nggak akan mendapat uang saku dari Mama. Memangnya, kamu mau mendapat uang darimana selain Mama? Papa kamu? Dia sudah pergi! Dia nggak akan peduli lagi sama kamu!"
"Mama bohong! Papa masih peduli sama Anggita. Papa masih sering telepon Anggita setiap malam."
Merin tertawa mengejek. "Itu beberapa minggu yang lalu, sebelum Papa kamu akhirnya memutuskan akan menikah lagi dengan wanita simpanannya."
Anggita tersentak. Papanya memang tidak pernah lagi menghubunginya sejak dua minggu yang lalu. Ia mencoba untuk maklum. Ia pikir, Papanya terlalu sibuk dengan pekerjaan—atau mencoba untuk menenangkan diri seperti dirinya. "Simpanan?"
"Kamu pikir, siapa yang lebih dulu menghancurkan keluarga kita? Mama?" Merin tertawa keras seraya menggeleng-gelengkan kepala, seakan baru saja melihat adegan yang sangat lucu di depannya. "Papa kamu yang memulai semuanya, Anggita. Jadi, lihat, kan? Sekarang yang kamu punya cuma Mama. Kalau kamu nggak menurut, silakan kamu cari kehidupan sendiri."
Anggita seperti meleleh. Ia berharap, bumi akan menelannya saat itu juga. Ia berharap, ia bisa melebur serupa debu. Ia tidak lagi bisa merasakan kakinya. Sekujur tubuhnya dingin. Sekujur tubuhnya kaku dan bergetar.
Apa itu benar?
Papa akan menikah lagi, dan meninggalkannya?
Apa ia tidak memiliki siapa-siapa lagi sekarang?
Belum sempat Anggita menormalkan detak jantung, perasaan, dan gemetar di tubuhnya, Merin sudah beranjak dari sofa. Wanita itu berjalan angkuh menuju cermin besar di ruang tengah dan mengamati pantulan dirinya, merapikan bajunya, dan memoleskan sedikit riasan di wajahnya yang cantik.
__ADS_1
"Mama harus pergi. Kalau kamu butuh sesuatu, silakan hubungi asisten Mama. Kartu namanya sudah Mama letakkan di meja samping televisi. Mama sudah membuang nomor lama Mama," kata Merin tak acuh. Ia bahkan tidak peduli pada Anggita yang masih memucat layaknya manekin. Ia terus melenggang, meninggalkan rumah besar yang kini tak ubahnya ruang kosong yang sunyi dan mati.
Anggita tertawa pahit. Sesuatu menekan dadanya dari dalam saat punggung itu meninggalkannya semakin jauh, hingga menghilang di balik pintu kayu yang berdiri kokoh. Pintu itu seakan mengejeknya yang bahkan tidak kuat menahan beban tubuhnya sendiri. Ia terlalu rapuh, ketika menyadari tatapan hangat Mamanya tidak lagi menjadi miliknya. Ia terlempar dalam, ketika deru mesin mobil Mamanya terdengar semakin jauh, dan menyisakan keheningan. Kehancuran itu semakin terasa saat ia melihat nama Mika terpampang di layar ponselnya. "Sepertinya, semesta sedang menukar hidup kita, Ka."