Red Thread

Red Thread
Usaha


__ADS_3

Kai terbangun saat matahari baru saja naik dari ufuk timur. Ia mendesah kecewa, begitu membuka mata. Ia belum mati. Perasaan yang mengekangnya masih sama, kosong dan hampa. Kosong yang benar-benar mengerikan dan menyesakkan. Ia berusaha untuk menutup mata kembali. Barangkali, ia bisa menemukan suatu ketenangan dalam mimpi. Namun, perasaan mengerikan itu tetap enggan pergi.


Ia meringis kecil. Rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuh saat ia memaksakan diri untuk duduk. Ia menarik paksa jarum infus yang menusuk punggung tangannya, sehingga menyebabkan darah memercik dan mengotori seprei. Tidak ada gunanya lagi untuk tetap di sini. Tidak akan membuatnya tenang, justru akan menambah beban biaya.


Dengan langkah terseret, ia berjalan menuju pintu. Mengabaikan tulang-belulangnya yang seperti hendak patah. Ia hanya harus pergi dari tempat ini. Sekarang juga. Baginya, rumah sakit sangat tidak menyenangkan. Ia tidak suka dengan aroma obat dan karbol yang teramat pekat. Itu benar-benar membuatnya mual.


Ketika menginjakkan kaki di ambang pintu kamar rawat, ia tersentak. Seseorang yang tidak pernah ia pikirkan akan berada di tempat ini, ternyata tengah duduk di kursi besi depan kamarnya. Seseorang itu tertidur, dengan kepala miring ke kiri dan bersandar pada dinding.


Kai mendengkus, lantas menghampiri cowok itu. Pandangannya jatuh pada wajah cowok dengan mulut setengah terbuka itu. “Lo ngapain ke sini? Nggak ada kerjaan banget.”


Sepertinya, cowok itu tidak sepenuhnya tidur. Ia menjawab pertanyaan Kai, di detik berikutnya. Masih dengan mata tertutup. “Karena lo bikin gue khawatir sama lo, Bego!”


Cowok itu berdiri, dan seketika menendang tulang kering Kai. “Lo bisa nggak, sekali aja biarin gue hidup tenang? Astaga! Gue nyaris gila waktu sekolah lo ngasih tahu kalau lo masuk rumah sakit.”


Kai terkekeh, seraya meringis. Rahangnya terasa sangat nyeri ketika digerakkan. Ditambah lagi, tulang keringnya yang berkedut akibat ulah cowok itu. “Lo yang ngapain ke sini, Bego? Harusnya, lo nggak perlu dateng. Bokap sama nyokab gue aja nggak peduli.”


“Justru itu!” Cowok itu menoyor kepala Kai, dengan kesal. “Lo punya siapa lagi, selain gue. Masih untung gue nggak ngebuang lo juga.”


Kai mendengkus. “Gue mau cabut. Tolong, urusin biaya administrasi gue ya. Ntar lo tinggal minta ganti ke bokap atau nyokab gue.”


“Cabut kemana lo? Lo gila, ya. Belum juga sembuh,” tegur cowok itu.


“Memangnya, kapan gue nggak gila?” Kai tertawa miris. Kemudian, mengambil langkah untuk meninggalkan cowok itu.


“Dasar nggak tahu diri! Udah tahu masih sakit, main cabut aja,” gerutu cowok itu. Namun, tidak kuasa menahan langkah Kai.



Awan mendung yang berarak di langit tidak mengurangi rasa bahagia di hati Mika. Sangat kontras dengan cuaca hari ini, perasaannya justru teramat cerah. Seakan, matahari bersinar terik untuk menyinari hidupnya yang selama ini terasa gelap. Memberikan cahaya harapan yang selama ini tertutup semak belukar gelap.


Mika menyandarkan kepala di bahu Mamanya. Bibirnya masih menyunggingkan senyum lebar. Sudah lama sekali, ia tidak merasa sehangat ini.


“Kamu kurusan, ya?” tanya Yulia. Pandangan matanya tertuju pada Mika di sampingnya.


Mika memandang Mamanya. Kemudian, terkekeh pelan. “Perasaan Mama aja. Berat badan Mika masih stabil kok.”


Yulia memicingkan mata curiga. Namun, tidak bertanya lebih jauh. Ia masih terlalu lelah. Sepertinya, terlalu lama di rumah sakit justru membuat tenaganya lebih banyak berkurang. Hanya saja, sekarang ia merasa jauh lebih baik. Perasaannya terasa lebih ringan.


Mika mengubah posisinya untuk menyandarkan kepala di kaca mobil. Ia melihat ke arah langit. Mengamati pergerakan kumpulan awan yang sudah siap untuk menjatuhkan beban di pagi yang sibuk.


Ia tercengang. Entah mengapa, wajah Kai yang seakan membayang di antara awan-awan itu. Menghadirkan bersitan rasa nyeri yang menghancurkan separuh kebahagiaannya hari ini.


Bagaimana kabar cowok itu? Semalam, ia baru mengetahui jika Kai masuk rumah sakit. Grup angkatannya sibuk membicarakan itu, hingga nyaris pagi. Ia tidak tahu yang terjadi. Ia hanya melihat punggung Abi dan Satya yang mengangkat tubuh Kai menuju UKS, dari gambar yang dikirim salah satu siswa.

__ADS_1


Mika mengesah. Kenapa harus cowok itu yang hadir di pikirannya saat ini?



Kai mengeratkan jaketnya. Rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Menciptakan titik-titik kecil di trotoar, yang kemudian membesar.


Meski seluruh tubuhnya masih terasa nyeri, ia memaksakan diri untuk menemui seseorang. Jika bukan karena kunci motornya disita oleh cowok menyebalkan yang ia temui di rumah sakit kemarin pagi, ia tidak akan berjalan kaki dua kilometer dengan kondisi seperti ini. Naik ojek online juga bukan pilihan yang tepat. Uang sakunya akan berkurang jika harus membayar jasa transportasi itu.


Kai mempercepat langkahnya ketika hujan turun semakin deras. Pagar hitam tinggi itu sudah tertangkap penglihatannya. Tidak jauh lagi, ia akan bertemu gadis itu.


Kai menghela napas lega, saat melihat pagar besi itu terbuka sedikit. Sebuah mobil SUV putih—yang biasa digunakan untuk menjemput Mika—terparkir di halaman rumah.


Dengan tubuh yang mulai menggigil karena air hujan, Kai membuka pagar besi itu. Entah sejak kapan ia menjadi selemah ini. Untuk membuka pagar besi itu saja, ia sudah sangat kesusahan.


Ia tidak tahu, ini kebetulan yang baik atau justru sebaliknya. Tepat ketika ia berhasil masuk ke halaman melalui pagar itu, Mika turun dari mobil. Pandangan mereka beradu, selama beberapa saat. Tidak hanya dirinya yang terkejut, Mika pun sama. Gadis itu bahkan nyaris menjatuhkan payung yang dibawa.


“Mika!” panggil Kai, setelah keterkejutannya lenyap. Ia ingin berlari untuk menggapai gadis itu, tetapi persendiannya tidak ingin bekerja sama. Rasa nyeri yang seketika menyerang, membuatnya hanya bisa mematung di tempat.


“Ngapain lo ke sini?” tanya Mika. Suaranya nyaris menghilang ditelan hujan deras. Namun, raut wajahnya tidak bersahabat. Menunjukkan isyarat bahwa kedatangan Kai sangat tidak diharapkan.


“Gue mau minta maaf ke lo,” jawab Kai, yang hanya ditanggapi Mika dengan senyuman sinis.


“Gue nggak perlu permintaan maaf. Lo hanya perlu nunggu sampai polisi nyeret lo ke penjara!” Tubuh Mika menegang setelah mengatakan itu. Ia pun tidak tahu, bagaimana kalimat itu bisa keluar teramat ringan dari bibirnya. Sangat kontras dengan hatinya. Kemudian, dengan langkah berat, ia meninggalkan Kai yang masih mematung.


Seakan baru tersadar dari mimpi, Kai kembali berteriak saat Mika sudah menginjakkan kaki di teras rumah. “Gue akan nunggu lo di sini, sampai lo maafin gue. Ada yang perlu gue tunjukin ke lo!”



Rasa sakit itu tidak hanya memenuhi dada Kai, tetapi juga Mika. Gadis itu duduk di depan jendela, masih memerhatikan Kai yang berdiri di halaman rumahnya. Ia berusaha untuk tidak peduli. Meski, hati kecilnya menjerit. Memberikannya dorongan untuk berlari menghampiri cowok itu.


Selama apa pun lo di sana, gue nggak akan peduli. Mika mengabaikan raungan hati kecilnya. Ia menutup tirai jendela dengan kasar. Lalu, merebahkan tubuh ke atas ranjang. Tangannya sibuk memainkan ponsel. Dan, mencari apa pun yang bisa mengalihkan pikirannya dari Kai.


Namun satu menit kemudian, ia mengubah posisi menjadi duduk. Ia mendesah. Tangannya mengacak rambut dengan frustrasi. Bayangan wajah Kai sama sekali tidak menghilang dari pikirannya.


Ia kembali berjalan ke arah jendela. Membuka gorden, dan menjatuhkan pandangan ke halaman. Kai masih berada di sana. Berlutut dengan memeluk tubuhnya sendiri.


“Sampai kapan, sih, lo mau berada di sana?” Mika setengah berteriak agar suaranya bisa terdengar oleh Kai di tengah gemericik hujan.


Kai mendongakkan kepala, seraya tersenyum tipis. Hal itu bisa membuat Mika melihat dengan jelas bekas luka dan memar di cowok itu. Dengan suara parau, Kai menjawab pertanyaan Mika, “Sampai seorang Mika Arestya mau memberikan maafnya buat gue.”


Mika berdecak. Tangannya terlipat di depan dada. Wajahnya kaku dengan sorot mata tajam tertuju pada Kai. “Lo bego atau memang sakit jiwa? Lo bisa mati kedinginan kalau di sana lebih lama lagi.”


Kai justru tertawa hambar mendengar kalimat itu. Ia bukan bodoh. Ia hanya sudah lelah untuk hidup di posisi seperti ini. Diposisikan sebagai tersangka atas keputusan berat yang telah dirancang oleh Tuhan. “Kalau mati bisa buat lo maafin gue, nggak masalah, Ka!” Kai berteriak. Mungkin, sekarang ia benar-benar terlihat seperti orang sakit jiwa.

__ADS_1


Mika membisu. Teriakan Kai terdengar seperti lolongan putus asa di telinganya. Dadanya bergemuruh melihat cowok itu. Siapa yang sebenarnya salah di sini? Ia yang tidak ingin mendengarkan penjelasan cowok itu? Atau, Kai yang sudah membunuh Nagra? Mengapa ia justru merasa bahwa dirinyalah penjahat yang sesungguhnya?


“Tolong pergi dari sana, Kay. Gue nggak mau kalau lo malah sakit nantinya.” Mika hanya bisa mengatakan itu dalam hati. Menekan kalimat itu dalam-dalam. Membiarkan egonya tetap berkuasa. Dan, membiarkan Kai tetap berada di bawah sana.


Di sisi berbeda, Kai menggigil semakin hebat. Embusan angin kencang membuat tubuhnya mati rasa. Ia bahkan tidak lagi bisa merasakan ujung jarinya. Rasa perih menjalar dari bekas luka di wajahnya, berbaur dengan perih di hati yang tidak mampu ia obati.


Di tengah kelelahan yang menyelimuti, di tengah rasa putus asa yang mendera, potongan ingatan kembali memenuhi kepalanya. Tentang seorang gadis kecil yang dulu pernah menyelamatkannya dari perasaan seperti ini.


*“Ini buat kamu.” Anak kecil itu memberikan permen lollipop padanya.


“Aku nggak suka permen,” jawab Kai. Tanpa menerima permen yang diulurkan anak kecil itu.


“Ini enak. Biar kamu nggak sedih lagi.” Anak kecil itu mulai gemas, dan semakin dekat mendorong permen itu pada Kai.   


Kai menerima, dengan ragu-ragu. Mamanya selalu melarangnya untuk memakan permen. Mamanya bilang, makanan itu akan membuat giginya rusak. Namun, ia tidak ingin lagi mendengar nasihat itu. Bukankah mamanya juga tidak pernah mendengar apa pun darinya?


“Enak, kan?” tanya anak perempuan itu, yang dibalas Kai dengan anggukan. “Katanya, permen bisa mengurangi rasa sedih. Sama seperti cokelat. Sejak ketemu kamu, aku selalu lihat kamu sedih. Jadi, mungkin permen ini bisa sedikit membuat kamu bahagia.”*


Kai tersenyum pahit. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Menekuri air hujan yang memantul, setelah jatuh ke lantai berpaving. Untuk sekarang, bisakah ia berharap hal itu akan terulang kembali? Apakah Mika akan mendatanginya, memberinya payung, atau permen untuk mengobati rasa sakit hatinya? Jika harapan itu terlalu tinggi, maka bisakah ia hanya berharap mendengar gadis itu mengatakan bahwa telah memaafkannya?


Bisakah hal itu terjadi?


Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah menemui jawaban. Nyatanya, Mika hanya memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Gadis itu tetap bergeming. Tidak sejengkal pun bergerak dari posisinya.


Kai tertawa miris. Barangkali, ia yang terlalu tinggi berharap. Barangkali, ia memang tidak pantas lagi untuk diselamatkan. Barangkali, ia memang sudah seharusnya dibuang.


Dulu, mama dan papa membuangnya. Mereka mengopernya seperti bola. Orangtuanya bercerai, dan mereka tinggal terpisah. Ia pikir, membuat keputusan agar ia tinggal dengan mereka secara bergantian adalah cara mereka agar ia mendapatkan kasih sayang yang adil. Tetapi, tidak begitu. Pada kenyataannya, mereka membuangnya. Orangtuanya tidak ingin ia mengganggu hidup mereka yang sudah mulai membaik. Sebab, kehadiran anak tidak diharapkan sepertinya hanya akan menghancurkan kebahagiaan yang sudah mereka rintis.


Itu benar. Orangtuanya tidak pernah saling mencintai. Mereka terpaksa menikah karena suatu kesalahan. Kesalahan yang kemudian membawanya hadir ke dunia. Satu-satunya cara untuk membuat hidup mereka kembali bahagia adalah dengan membuangnya.


“Pergi kamu! Tinggal sana sama mama kamu! Kamu cuma bikin papa susah!” Kai masih mengingat teriakan itu. Hari ketika ia diusir karena tidak sengaja memecahkan vas bunga kesayangan mama tirinya. Ia bahkan masih ingat ketika papanya mendorongnya ke jalanan saat hujan deras. Tidak peduli padanya yang meringis kesakitan karena lututnya tergores aspal.


Nyatanya sejak dulu, ia hanya ada untuk dibuang. Ia hanya ada untuk merusak kehidupan orang lain. Kehidupan orang tuanya, Nagra, dan Mika. Ia hanya seseorang yang memang pantas untuk disingkirkan. Bukankah hidupnya hanya untuk merepotkan orang lain?


Namun, kali ini saja. Ia ingin memperbaiki semua. Ia ingin merasa bahagia.


Kai menarik napas dalam-dalam, meski dadanya terasa begitu sesak. Ia kembali berteriak, lebih pelan dari sebelumnya. Dengan segenap pengharapan, ia memohon. “Ka, tolong dengerin gue. Sekali aja. Gue janji nggak akan ganggu lo lagi.”


“Gue janji nggak akan ganggu lo lagi.” Kalimat itu membuat Mika terdiam cukup lama. Otaknya memutar kalimat itu berulang-ulang. Kalimat yang seakan memberi tahunya jika Kai akan pergi, setelah ia mendengar penjelasan cowok itu. Ia tidak menyukai kalimat itu. Bukankah akan lebih baik jika Kai tidak menggunakannya, dan berhenti di kalimat “sekali saja”? Kalimat itu memancing suara di hatinya untuk mengatakan bahwa ia tidak perlu mendengar penjelasan Kai. Paling tidak, itu bisa membuat Kai tetap berada di dekatnya.


Hanya saja, Mika tidak bisa menahan sesak di dada, setiap kali mata mereka bertumbukan. Jarak yang terbentang sama sekali tidak berarti. Ia masih bisa menangkap siratan kehancuran di sepasang mata gelap Kai. Setiap kali melihat wajah cowok itu, ada gejolak hebat di hatinya. Rasa benci, marah, dan kecewa, yang bercampur dengan rindu, dan rasa takut kehilangan. Semua itu seakan membuatnya lumpuh, serta kehilangan pijakan.


Sebelum semakin jauh terjatuh, dan sebelum luka di hatinya semakin dalam, Mika memutuskan untuk menutup gorden jendela. Ia mengambil ponsel dari atas nakas. Dengan tergesa, ia mencari nama Anggita di jajaran kontak. Lantas, menekan ikon bergambar telepon.

__ADS_1


“Git, tolong ke rumah gue ya. Jangan lama-lama,” katanya, begitu suara Anggita terdengar dari seberang.


Mika memutuskan sambungan telepon, sebelum Anggita memberikan jawaban. Ia menjatuhkan tubuh di ranjang. Lantas, menutup wajah dengan bantal. Ia menangis.


__ADS_2