Red Thread

Red Thread
Bendera Perang


__ADS_3

"Secinta apa pun lo sama dia. Lo bisa apa kalau suatu hari nanti dia berpaling ke gue?” –Kai.



Suara berdebam dari pintu yamg dibanting kasar membuat Mika berjengit. Ia segera beranjak dari kursi belajar, dan berlari keluar kamar. Pandangannya jatuh pada mamanya yang duduk bersandar di atas sofa, dengan kepala terkulai ke belakang.


Ia berjalan menuruni anak tangga. Aroma alkohol menyengat indera penciuman saat ia lebih dekat dengan mamanya. Untuk kesekian kalinya, ia melihat mamanya pulang dalam keadaan mabuk.


Mika menghampiri mamanya. Selama beberapa detik, ia hanya berdiri di samping wanita itu. Mengamati setiap lekuk wajah lelah mamanya. Guratan di wajah mamanya tampak semakin jelas dibanding beberapa bulan lalu. Kantung hitam tebal menggantung di bawah mata mamanya. Mika tersenyum miris. Sejak kepergian Nagra, mamanya berubah menjadi seseorang yang tidak ia kenal.


Mika berjongkok untuk merapikan kertas-kertas yang berserakan di lantai dan atas meja. Ia yakin, mamanya pasti melempar kertas-kertas itu begitu saja, sebelum mendaratkan diri di sofa.


Awalnya, tidak ada yang aneh. Kertas-kertas itu hanya berisi laporan dan proposal. Namun setelah ia merapikan separuh benda itu, tangannya menyentuh sebuah amplop cokelat. Ada nama sebuah panti asuhan di amplop itu. Dari alamat yang tertera, panti asuhan itu terletak cukup jauh dari tempat tinggalnya.


Apakah perusahaan tempat mamanya bekerja sedang mengadakan kerja sama dengan sebuah panti asuhan? Mika hendak membuka amplop tersebut, saat mamanya menggumamkan sesuatu.


Mika terkejut, ketika mamanya mencekal pergelangan tangannya. Mata sayu wanita itu menatapnya tajam. Beberapa detik kemudian, wanita itu tertawa kecil.


“Ngapain kamu di sini, anak kesayangan mama?” kata Yulia. Suaranya terdengar seperti orang yang sedang mengigau.


“Eh, aku—” Mika memutar otak. Mencari sebuah alasan yang tepat.


“Ah, mama lupa!” Yulia berteriak nyaring. “Kamu bukan anak kesayangan mama. Kamu yang sudah buat Nagra meninggal.”


Mika menatap mamanya nanar. Ia mencoba melepaskan cengkeraman tangan Yulia di pergelangan tangannya. Namun, cengkeraman itu semakin kuat.


Seluruh tubuh Mika menegang, saat melihat Yulia berdiri. Tanpa melepaskan tangannya, Yulia menghampirinya. Wanita itu menarik kasar lengannya. Lantas, mendorong tubuhnya hingga menghantam dinding. Mika meringis, tetapi Yulia justru tertawa.


“Sakit?” tanya Yulia retoris. Jemarinya lantas bergerak mengusap pipi Mika. Usapan itu lembut, tetapi menyakitkan.


“Rasa sakit itu nggak sebanding sama sakit yang saya alami karena ulah kamu!” Mika memejamkan mata mendengar teriakan mamanya. “Seharusnya, hari itu bukan Nagra yang pergi. Tapi, kamu. Kamu hanya anak nggak berguna yang membuat hidup saya berantakan!”


Yulia kembali tertawa. Mika nyaris saja menangis. Tiba-tiba saja, Yulia menarik tangannya dan mendorong bahunya keras. Mika mendesah, saat tubuhnya terjatuh di atas lantai. “Dasar pembunuh! Anak nggak tahu diri! Bisanya cuma bikin susah!”


Pengap memenuhi paru-paru Mika. Kalimat-kalimat itu seakan menyeretnya pada sebuah lembah hitam mengerikan. Membiarkannya terjebak di sana, hingga mati kedinginan.


Mika ingin membantah. Ia ingin mengelak dari semua tuduhan itu. Namun, ia tidak bisa. Hatinya menyangkal, tetapi mulutnya bungkam.


Ia tidak tahu yang terjadi setelah teriakan itu. Tiba-tiba saja, kini ia melihat Yulia berjalan ke arahnya dari sebuah meja di sisi lain ruangan. Ada pisau berkilat di tangan wanita itu.


Mika memekik. Tubuhnya gemetar. Otak dan persendiannya, seakan berkonspirasi untuk tidak pergi dari tempat itu.


Apa yang akan dilakukan mamanya? Apa mamanya ingin membunuhnya?


Mika ketakutan. Bibirnya gemetar dengan wajah memucat. Mamanya semakin dekat dan mengacungkan pisau tersebut padanya.


Tidak. Seandainya ia harus mati pun, tidak sekarang. Masih ada yang harus ia selesaikan, tentang Nagra. Tepat dua langkah sebelum Yulia tiba di tempatnya, Mika memaksakan diri untuk bangkit. Dengan langkah terseret dan tubuh nyeri, ia berlari menuju kamar. Menutup pintu dan menguncinya.


Jantung Mika berdegup tidak beraturan. Persendiannya melemah. Suara teriakan dan gedoran pintu kamarnya, membuat tubuhnya kian meluruh. Mika menangis tanpa suara. Harus berapa lama lagi ia hidup dalam ketakutan ini? Mamanya tidak berbahaya. Tetapi, wanita itu bisa melakukan hal-hal di luar nalar setiap kali mabuk. Bisa jadi—suatu hari nanti—mamanya mendorongnya dari balkon. Membiarkannya mati, sebelum sempat mengatakan bahwa ia bukan pembunuh Nagra. Atau lebih tepatnya, bukan ia yang menyebabkan Nagra bunuh diri.


Mika berjalan menuju meja belajar, setelah memastikan bahwa mamanya tidak ada lagi di depan kamarnya. Ia masih ketakutan. Tangannya masih bergetar hebat saat menunjuk deretan tanggal di kalender. Tanggal 23. Tepat enam bulan kematian Nagra. Pantas saja, mamanya pulang dalam keadaan mabuk. Selain tanggal 12, tanggal 23 adalah sesuatu yang selalu berusaha Mika hindari. Mamamya akan bersikap aneh pada dua tanggal itu. Namun jika Mika mengetahui alasan di balik tanggal 23, maka alasan di balik tanggal 12 masih misteri untuknya. Bukan, itu bukan hari ulang tahun Nagra.


Pandangan matanya beralih dari angka 23 menuju angka 31 di deretan bawah. Mika berusaha mengenyahkan kejadian hari ini dan membuat fokus pada satu hal, hari ulang tahun mamanya.



Bukan Kai namanya, jika tidak menarik perhatian banyak orang. Pagi ini saja, tanpa ada hujan mau pun angin, cowok itu sudah berdiri di depan kelas Mika dengan membawa setangkai bunga Lily putih. Bukan bunga dengan harga mahal itu yang menjadi pusat perhatian, melainkan dirinya.


Kehadiran Kai—masih dengan tas bergambar Sonic—di depan kelas Mika membuat banyak pasang mata tertuju padanya. Tidak sedikit yang melemparkan tatapan heran, mengingat baru dua hari ia berada di sekolah itu. Tetapi, sudah memiliki tambatan hati. Rambutnya yang semula sedikit gondrong, telah dipotong lebih pendek. Meski masih dibiarkan acak-acakan.


Kai meleparkan senyum lebar pada beberapa siswa yang memandang ke arahnya. Senyumnya semakin bertambah lebar, ketika melihat Mika berjalan ke arah ruang kelas bersama Raga. Ia melambaikan tangan dengan sangat bersemangat, begitu Mika menjatuhkan pandangan padanya.


“Kak Kai, ngapain di sini?” tanya Mika, tepat saat ia tiba di depan pintu kelas. Pandangannya jatuh pada bunga Lily di tangan Kai, yang membuat keningnya berkerut samar.


"Gue mau ngasih ini ke lo.” Kai menyerahkan setangkai bunga di tangannya pada Mika. Namun setelah beberapa detik berlalu, Mika tidak juga menyambut bunga itu. Kai terpaksa menarik tangan Mika, dan meletakkan bunga tersebut di telapak tangan gadis itu.


“Nggak usah macam-macam!” gertak Raga. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Kai. Tatapan tajamnya hanya ditanggapi Kai dengan senyum santai.


“Ada yang salah kalau gue ngasih bunga ke dia?” tanya Kai, tanpa rasa bersalah. Ia menaikkan satu alisnya, sehingga membuat Raga semakin geram.


Raga hendak maju satu langkah, tetapi Mika segera mencekal pergelangan tangannya. Gadis itu menggeleng pelan. Memberi isyarat agar Raga tidak melakukan apapun.


“Kalau gitu, gue balik dulu ya. Selamat belajar, Mika,” kata Kai. Ia berlalu dari tempatnya, setelah menghadiahi Raga tatapan menyebalkan. Baru dua langkah ia meninggalkan tempat itu, gerakannya seketika berhenti. Ia memutar tubuh untuk menghadap Mika dan Raga sekali lagi. “Jangan mau diatur-atur sama cowok lo. Lo berhak berteman sama siapa pun, termasuk gue. Dan, hati-hati sama Raga.”


Raga menggeram. Jika bukan karena cekalan Mika di tangannya, ia pasti sudah memberi Kai pelajaran. Ia hanya bisa memandang punggung Kai yang semakin menjauh dengan tatapan marah, dan kedua tangan terkepal erat. Napasnya memburu. Bahunya naik turun dengan cepat. Setiap embusan napasnya, seakan menunjukkan emosinya yang sudah tiba di permukaan.


“Jangan didengerin! Aku bisa buang bunga ini kalau kamu mau,” ucap Mika. Ia bersikap tidak peduli pada ucapan Kai, meski kepalanya terus memutar ucapan itu beberapa kali.


Apa maksudnya hati-hati?


“Nggak perlu!” tandas Raga. Ia pergi tanpa menoleh lagi pada Mika. Tanpa menunggu jawaban dari gadis itu. Kehadiran Kai di sekolah ini, benar-benar membuatnya sangat kesal. Sejak hari pertama menginjakkan kaki di sekolah, Kai seakan sudah mengibarkan bendera perang padanya. Cowok itu menguji emosinya dengan sengaja mendekati Mika. Dan hari ini, cowok itu menyuruh Mika agar berhati-hati padanya.


Sialan. Kali ini, ia masih melepaskan cowok itu. Tapi, tidak jika hal itu terulang kembali. Ia tidak akan melepaskan Kai. Sekali pun, tidak.


__ADS_1


“Sejak kapan Mika pacaran sama Raga?” tanya Kai.


Samuel berpikir, sambil mengusap-usap dagunya. “Kalau nggak salah, dua minggu setelah Raga pindah ke sekolah ini.”


Satu alis Kai terangkat. “Kapan dia pindah ke sekolah ini?”


Satya menyipitkan mata. Memandang curiga ke arah Kai. “Kenapa lo tanya-tanya soal mereka? Lo mau nikung Raga?”


Kai tergelak. Bukan tebakan yang buruk. Ia baru berkenalan dengan Satya dan Samuel selama dua hari. Namun, dua teman sekelasnya itu sudah bisa menebak tujuannya. “Cerdas juga lo.”


Samuel menggelengkan kepala, setelah mengetahui tujuan Kai. “Raga baru pindah ke sini pertengahan semester kemarin. Gue juga heran, kenapa dia bisa gampang banget ke sekolah ini di pertengahan semester,” jawabnya. Samuel mencondongkan tubuhnya ke arah Kai sedikit. Matanya melirik ke kiri dan kanan, memastikan bahwa tidak ada yang mendengar mereka. “Tapi kalau lo mau ngerebut Mika dari Raga, lo harus siap-siap kalah.”


Tidak ada respon dari Kai. Raut wajahnya tetap datar seperti biasa. Pandangan matanya kosong, seakan ia tengah berpikir. Namun tiga detik kemudian ia kembali bersuara. “Apa hebatnya Raga?”


“Dia kapten tim futsal sekolah. Dia juara pertama di semester kemarin. Padahal baru tiga bulan sekolah di sini. Ngalahin si juara bertahan. Dan, katanya dia keren. Walau pun sebenarnya, gue lebih keren,” Satya mencoba menjelaskan.


“Gue lebih keren dari dia. Gue juga bisa main futsal.” Kai merasa tidak terima, mendengar penjelasan Satya. Baginya, permainannya bisa jadi lebih baik daripada Raga. Bisa jadi juga ia lebih pintar dari cowok itu. Jika hanya karena itu Mika menyukai Raga, maka ia yakin bisa menyingkirkan Raga.


“Ada satu hal lagi yang dimiliki Raga, dan lo nggak punya.” Samuel berbisik lagi. Kali ini, ia tersenyum lebar. Senyum yang menurut Raga terlihat seperti mengejek. “Dia punya Mika. Cewek yang sayang sama dia.”


“Sialan!” umpat Kai. Satya dan Samuel tertawa lebar.


Mereka benar. Kai mungkin bisa mengalahkan Raga dalam hal bermain futsal dan kecerdasan. Tetapi, ia tidak bisa memastikan jika Mika akan beralih padanya dan meninggalkan Raga. Tidak ada jaminan. Bahkan, jika ia lebih hebat dari cowok itu.


Kai sama sekali tidak merasa rendah, setelah mengetahui kenyataan yang mungkin akan terjadi itu. Ia justru merasa, jika ia pasti bisa mendapatkan Mika.



Kai sengaja menunggu Raga keluar dari ruang kelas, saat jam pelajaran terakhir selesai. Cowok itu memainkan jemarinya di dinding untuk menghalangi jalan jajaran semut, sambil sesekali melempar pandangan pada Raga yang masih merapikan buku.


Ia tersenyum kecil, saat melihat cowok itu melangkah meninggalkan bangku. Dengan sikap teramat santai, Kai berdiri di depan pintu. Sengaja menghalangi jalan Raga.


“Minggir!” Raga mendorong tubuh Kai menjauh. Namun, cowok itu masih tetap bergeming di depan pintu.


Kai tersenyum lebar. Ia mengangkat tangannya di depan wajah. Membuat tiruan kamera dengan ibu jari dan telunjuknya, hingga membentuk segiempat. Lalu, melihat wajah Raga dengan satu mata melalui segiempat tersebut.


“Gue penasaran, apa hebatnya lo sampai bisa buat Mika jatuh cinta?” tanya Kai.


Raga mendesah kesal. “Minggir. Gue nggak punya waktu buat ngeladenin lo!”


Kai kembali melihat Raga dengan normal. “Gue nggak akan ngejauhin Mika.”


Raga benar-benar geram mendengar ucapan Kai. Cowok itu sama sekali tidak merasa bersalah dengan niatnya. Sepertinya, Kai memang berusaha mengibarkan bendera perang padanya.


Raga berdecak. Mencoba tidak menghiraukan ucapan Kai, meski dalam hati ia ingin menghantam cowok itu. Ia memutuskan untuk meninggalkan Kai yang sudah memposisikan diri bersandar di dinding.



“Kamu udah baca ini?” Mika menyerahkan selembar brosur pada Raga.


Brosur berisi pengumuman class meeting itu membuat kening Raga berkerut. Ada beberapa perlombaan yang diadakan untuk memeriahkan acara, salah satunya adalah pertandingam futsal. Tidak ada yang salah. Hanya saja, ia pertandingan futsal itu hanya diadakan untuk dua tim, yaitu tim futsal sekolah dan tim futsal kelas 12 IPA 3. Dan sebagai kapten tim, ia tidak merasa mendapat undangan secara langsung dari pihak OSIS.


“Kenapa yang tanding futsal cuma dua tim?” tanya Raga.


Mika mengedikkan bahu. “Itu yang mau aku tanyain ke kamu. Aku kira kamu tahu. Kan, kamu kapten tim futsal sekolah.”


“Aku nggak tahu soal ini,” kata Raga. Lalu, ia beranjak dari posisi duduknya. “Aku mau ke ruang OSIS dulu, tanya soal ini.”


“Kalau gitu, aku ke kelas ya. Sebentar lagi masuk.” Ucapan Mika ditanggapi dengan anggukan pelan oleh Raga.


Tidak seperti biasa, kali ini kelas Mika terlihat sangat gaduh. Suara teriakan, alunan musik tidak teratur dari meja yang dipukul dengan tangan, dan suitan terdengar cukup mengganggu. Mika tidak bisa menyembunyikan keheranannya. Ia melangkah lebih cepat saat melihat Anggita dan Raya keluar dari ruang kelas dengan raut kesal.


“Lagi ada apa?” tanya Mika.


“Ada cowok gila yang bikin kelas jadi berisik,” jawab Anggita. Wajahnya terlihat sangat kesal.


“Lihat, tuh!” Raya menunjuk seseorang yang sedang berdiri di depan kelas. “Katanya dia mau nyatain cinta ke lo.”


Mika menyipitkan mata. Memfokuskan pandangan pada seorang cowok yang berdiri di depan kelas dengan membawa sapu yang diibaratkan sebagai gitar.


Kegaduhan semakin bertambah hebat ketika ia berjalan memasuki kelas, dan menghampiri cowok itu. Mika bisa mendengar suara Kai yang menyanyikan lagu dari salah satu band Indonesia, dengan gaya seperti seorang vokalis handal. Kai sama sekali tidak menyadari kehadiran, bahkan ketika ia sudah berdiri tepat di samping cowok itu.


Mika yang sejak tadi tidak melepaskan pandangan dari cowok itu, tersentak ketika akhirnya cowok itu membalas tatapannya. Kai tidak kalah terkejut. Ia menghentikan kegiatannya seketika, saat menyadari Mika ada di sampingnya.


Mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Mika tidak mengerti, mengapa jantungnya berdegup cepat ketika mata mereka beradu. Kai hanya menatapnya datar, tetapi ada lonjakan hebat dalam dada yang membuat Mika kesulitan bernapas.


“Kak Kai, ngapain di sini?” Mika menjaga nada suaranya agar terdengar biasa. Meski dalam hati, ia sudah gugup setengah mati. Tidak seperti tatapan Raga yang menenggelamkan dan sedikit mengintimidasi. Tatapan mata Kai jauh lebih hangat dan menyenangkan. Hal itu yang membuat Mika sempat kehilangan kendali atas dirinya untuk beberapa saat.


Kai tersenyum kecil. “Hari ini gue nggak lihat lo di kantin. Gue kangen. Jadi, gue samperin ke kelas lo.”


Mika menaikkan satu alisnya. Kangen? Apa Kai sedang mengigau? “Terus, ngapain bawa sapu sambil nyanyi di depan kelas?”


Kai tertawa kikuk. Tangannya menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Ia sibuk mencari alasan. Tetapi, salah satu teman Mika lebih dulu menyahuti dari arah belakang. “Katanya, dia lagi latihan buat nembak lo pakai lagu itu."


Sialan! Pekik Kai dalam hati. Sepertinya, ia harus berterima kasih pada salah satu teman Mika itu yang sudah membantunya berterus terang, tanpa meminta izin padanya dulu. Ia menahan ekspresi agar tetap datar, dan berusaha tidak terlihat gugup. Ia tidak mengerti, mengapa lebih mudah mengatakan hal itu ke semua orang dibanding kepada yang bersangkutan?

__ADS_1


“Kak Kai, lagi ngigau ya?” Pertanyaan Mika sukses membuat wajah Kai memerah. Suara tawa terdengar dari seluruh penghuni kelas. Rasanya, Kai ingin menghilang saat itu juga. Namun, bukan Kai namanya jika tidak segera menguasai situasi. Tanpa menunggu suasana kelas kembali tenang, ia menyanyikan dua bait lagu untuk Mika.


♫ *Aku mencintaimu, lebih dari yang kau tahu


Meski kau takkan pernah tahu♫* 


Mika berharap jika ia bisa tertawa setelah mendengar lagi itu. Tetapi, yang bisa ia lakukan hanya menatap Kai dengan bingung dan gugup setengah mati. Susah payah ia menahan agar ekspresinya tidak berubah. Namun, ia gagal. Ia bisa merasakan wajahnya memanas, sesaat setelah Kai menyelesaikan dua bait lagu tersebut.


Kenapa gue jadi begini? Ingat Raga, Ka. Ingat Raga!


Melihat Mika yang tidak kunjung memberikan tanggapan, Kai tersenyum kecut. Ia mundur beberapa langkah untuk menyandarkan sapu yang sejak tadi dipegangnya di sudut ruangan. Matanya tidak sedikit pun terlepas dari Mika.


Hanya beberapa detik, Kai sudah kembali di hadapan Mika. Ia sengaja menciptakan jarak yang lebih pendek dari sebelumnya. Dari jarak itu, ia bisa menghirup aroma strawberry yang menguar dari rambut Mika.


Kai mendaratkan telapak tangannya di puncak kepala Mika. Tatapan matanya mengunci iris cokelat yang memandangnya dengan sorot terkejut itu. Ia sengaja berdiam dalam posisi itu selama beberapa saat. Kai ingin melihat ke dalam mata Mika. Ia mencari sesuatu yang sudah lama ingin ia temukan di balik iris mata cokelat itu. Hingga beberapa detik kemudian, ia lebih dulu memutuskan kontak mata. Kai tersenyum tipis. Kemudian, mengusap pelan puncak kepala Mika.


“Empat hari lagi, lo harus lihat gue main futsal.” Hanya itu yang Kai ucapkan, sebelum meninggalkan Mika yang masih mematung.


Mika tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ia tidak tahu, mengapa jantungnya berdetak sangat cepat ketika ia berada dalam jarak sedekat itu dengan Kai. Ia sudah memiliki Raga, sebagai tempat perasaannya berlabuh. Namun ketika bersama Kai, ia seakan lupa jalan pulang. Tatapan hangat cowok itu membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Rupanya, tatapan Kai jauh lebih membahayakan dibanding tatapan Raga.


“Gila! Gue berasa nonton drama Korea versi kearifan lokal!” Teriakan Leni dari bangku paling belakang membawa kembali kesadaran Mika.


Masih dengan degup jantung yang belum sepenuhnya normal, Mika berjalan menuju bangkunya. Ia bisa melihat Anggita dan Raya yang duduk di bangkunya. Mereka menatapnya, seakan menuntut penjelasan atas kejadian beberapa saat lalu.


“Itu nggak seperti yang kalian pikirkan.” Mika memijat pelipisnya. Kai benar-benar membuatnya pusing hari ini.


“Memangnya, lo tahu kita mikir apa?” tanya Anggita. Lantas, ditanggapi Mika dengan gelengan.


Raya tertawa kecil. “Kita justru mikir, lo sebenarnya lebih cocok sama Kai dibanding sama Raga.”


Mika menaikkan satu alisnya. Bagaimana bisa dua temannya berpikir seperti itu?


“Kalian berdua itu cocok. Seneng aja gitu, lihat kalian barengan,” celetuk Anggita. Kemudian, ia tertawa.


Mika terdiam selama beberapa saat. Tidak menanggapi celetukan Anggita. Ada satu hal yang ia pikirkan, saat ini. Bukan tentang sikap Kai beberapa saat lalu, melainkan perihal ucapan cowok itu.


Jadi, pertandingan futsal itu rencana Kai? Tapi, untuk apa?



Raga tidak bisa menutupi kegeramannya ketika mendengar cerita dari Abi tentang kejadian di kelas Mika dua jam yang lalu. Kedua telapak tangannya mengepal. Menahan diri untuk tidak melampiaskan kemarahan begitu saja.


Kali ini, Kai sudah melewati batas. Cowok itu telah melanggar batas-batas yang sudah seharusnya tidak dilalui. Dan kali ini pula, ia tidak akan membiarkan cowok itu mengambil seseorang yang berusaha ia pertahankan.


Raga beranjak dari tempatnya. Ia tidak menghiraukan Abi yang bertanya perihal tujuannya. Dengan langkah lebar, ia berjalan menuju kantin.


Keadaan kantin yang ramai di jam istirahat, tidak ia hiraukan. Raga menyibak kerumunan untuk membeli sebuah roti dan susu cokelat. Setelah berhasil mendapatkan dua benda itu, ia berjalan menuju kelas Mika. Untungnya, sejak pagi ia belum melihat Mika pergi ke kantin. Sehingga, ia bisa mencoba bersikap baik dan berusaha membuat gadis itu lupa pada Kai dengan memberikan dua benda itu.


Sejak berpacaran dengan Mika, ini adalah kali ketiga ia menghampiri gadis itu di kelas selama jam istirahat. Selama ini, hanya Mika yang mendatanginya di kelas. Atau, mereka akan bertemu di taman sekolah.


Kehadiran Raga di kelas Mika, membuat obrolan para siswa yang masih berada di ruangan tersebut terhenti. Mereka melemparkan tatapan bertanya-tanya pada Raga. Beberapa siswi juga tampak gugup melihat Raga memasuki ruangan. Meski mereka tahu, Raga tidak datang untuk melihat mereka. Mika, Anggita, dan Raya juga ikut menghentikan obrolan mereka. Tatapan mereka hanya tertuju pada Raga yang berjalan menuju bangku mereka dengan wajah datar.


“Tumben ke sini, Ga?” tanya Mika dengan kening berkerut, ketika Raga sudah berdiri di samping bangkunya.


Raga tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya menyerahkan kantung plastik berisi roti dan susu cokelat pada Mika.


Jika kehadiran Kai mampu membuat suasana kelas menjadi gaduh, maka kehadiran Raga adalah kebalikannya. Tidak ada kasak-kusuk, apalagi teriakan menggoda. Seluruh mata tertuju pada cowok itu dalam kebisuan. Mereka menunggu, apa yang akan terjadi setelah itu. Raga sepertinya mampu membuat siapa pun di sekelilingnya menjadi kaku dan dingin.


Mika melihat kantung plastik yang diberikan Raga dengan sorot bingung. “Ini buat aku?”


“Iya. Aku tahu, dari tadi pagi kamu belum makan. Jadi, aku bawain ini.” Jika Raga tidak mengatakan hal itu dengan nada dingin, pasti para siswi di kelas itu akan meleleh dan tersipu. Sayangnya, suara Raga memang benar-benar kaku. Sehingga, mereka hanya terdiam. Barangkali sambil berpikir, dimana sisi romantis Raga?


Untungnya, Mika bukan salah satu dari siswi yang menatap Raga dengan sorot bingung itu. Ia mengenal Raga. Dan, itu adalah sisi romantis Raga. Mika mengambil kantung plastik dari tangan Raga, seraya tersenyum lebar.


“Baik banget. Maka—” belum sempat Mika menyelesaikan kalimatnya, seseorang tiba-tiba saja merebut kantung plastik dari tangannya.


Kai berdiri di samping Raga. Matanya tertuju pada isi kantung plastik tersebut, seakan sedang meneliti apakah ada bahan berbahaya di dalam benda itu? Beberapa detik kemudian, ia meletakkan kantung plastik itu di atas meja, tetapi tidak dengan susu cokelat. Kai tetap menahan susu cokelat itu di tangannya.


Pandangan Kai jatuh pada Raga. Kemudian, ia melemparkan senyuman menyebalkan. “Takut banget pacar lo kena busung lapar. Sampai rela bawa makanan gini dari kantin.”


“Mau lo apa?” tanya Raga. Sorot matanya tajam. Nada suaranya berat dan dingin.


“Nggak ada sih.” Tanpa rasa bersalah, Kai menusukkan sedotan di ujung kemasan susu itu. Lalu, meminumnya. “Tenang. Gue cuma mau mastiin kalau susu ini aman. Siapa tahu, tiba-tiba aja lo ngasih racun di dalamnya, kan?”


Raga menggeram. Ia sudah mengepalkan telapak tangan, tetapi Mika lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.


“Gue tadi sebenarnya nyari lo. Karena lo masuk kelas ini, ya gue ikutin.” Kai berkata pada Raga.


“Ada urusan apa lo sama gue?” Raga menahan suaranya, hingga terdengar menyerupai desisan.


“Lo nggak perlu protes ke anggota OSIS. Gue yang nyuruh mereka untuk ngadain pertandingan futsal itu,” jawab Kai dengan santai.


“Kenapa hanya dua tim?” Kali ini, Mika angkat bicara. Sejak tadi pagi, ia sudah penasaran dengan tujuan Kai.


“Karena kalau gue menang, gue mau bikin cowok lo ini sadar bahwa ada beberapa hal yang nggak bisa diselesaikan dengan kemarahan dan rasa dendam.” Sayangnya, kalimat itu hanya bisa Kai katakan dalam hati.

__ADS_1


Tatapan tajamnya yang semula tertuju pada Raga, beralih pada Mika. Tepat ketika pandangannya jatuh pada gadis itu, sorot matanya berubah drastis. Kai melemparkan tatapan menyenangkan, seperti beberapa jam lalu. Lantas, ia berkata dengan penuh percaya diri, “Karena kalau gue menang, gue mau nembak lo di depan teman-teman.”


Kai mengatakan itu, seakan Raga tidak pernah ada di sana. Dan, seolah hubungan antara Mika dan Raga hanyalah sebuah omong kosong.


__ADS_2