Red Thread

Red Thread
Buku Harian


__ADS_3

Keadaan ruang apartemen Nagra masih sama seperti hari itu. Hanya saja, pakaian kotor di bak cuci sudah tidak lagi ada. Botol obat tidur kosong yang pernah menjadi bukti utama bahwa Nagra melakukan bunuh diri, masih berada di ranjang, di tepi tumpukan bantal. Mika mengalihkan pandangan pada laci meja yang selalu dikunci oleh Nagra. Selama ini, Nagra tidak pernah mengizinkannya untuk membuka laci itu. Ia pun tidak tahu, dimana Nagra menyimpan kunci laci itu.


Mika berjalan menuju buffet kecil di seberang ranjang Nagra. Matanya menyapu seluruh permukaan benda itu. Mencari sesuatu yang barangkali bisa ia gunakan sebagai petunjuk. Namun, tidak ada yang mencurigakan di sana. Hanya ada jajaran buku pelajaran, fotonya bersama Nagra dalam sebuah bingkai, dan sebuah kotak berisi tumpukan buku musik milik Nagra. Barang-barang yang sering ia lihat ketika mengunjungi apartemen cowok itu.


“Kamu nemuin sesuatu?” tanya Raga. Cowok itu baru saja kembali dari memeriksa dapur.


Mika menggeleng. “Nggak ada apa pun," katanya, tanpa melepaskan pandangan dari fotonya bersama Nagra di atas buffet.


Perlahan tangannya bergerak mengambil bingkai foto itu. Nagra sedang tersenyum lebar. Sepasang mata cowok itu berbinar, seperti bintang. Hal yang selalu disukai Mika dari Nagra. Tanpa sadar, segaris senyum tergores di bibirnya. Kerinduan dalam hatinya meluap ke permukaan. Jemarinya bergerak pelan untuk mengusap permukaan kaca bingkai foto itu.


“Kak Nagra, apa kabar? Aku datang ke sini lagi,” katanya dalam hati, dengan sesak yang memenuhi dada.


Ketika ia hendak mengembalikan bingkai foto itu ke atas meja, jarinya menyentuh sesuatu di balik benda itu. Mika membalik bingkai foto itu, dan menemukan ujung kunci kecil dan tipis mengintip dari celah-celah bingkai. Kening Mika berkerut. Itu kunci apa?


“Ga,” panggil Mika, seraya mengacungkan kunci di tangan kanannya yang baru saja ia temukan.


Raga menghampiri Mika dengan wajah penasaran. “Itu kunci apa? Kamu dapat itu dari mana?”


“Nggak tahu. Aku dapat dari benda ini.” Mika mengacungkan bingkai foto yang masih berada di tangan kirinya.


“Coba, aku lihat.” Mika menyerahkan kunci itu pada Raga. Raga mengamati permukaan kunci itu selama beberapa detik. Kemudian, cowok itu berjalan menuju laci di sebelah Mika.


Raga mencoba untuk memasukkan kunci itu ke tempatnya. Namun, ternyata tidak sesuai. Raga menggeleng pelan. Kemudian, mengembalikan kunci itu pada Mika.


"Bukan kunci laci meja," kata Raga.


Mika mengerutkan dahi. Jika bukan kunci laci meja, maka itu kunci apa? Serius, Mika mengamati setiap sudut kunci itu. Tipis, kecil, dan hanya ada dua lengkungan berbentuk sudut lancip di ujung dua lengkungan itu. Dilihat dari bentuknya, seketika satu ide muncul dalam kepala Mika.


"Ini mungkin kunci buku harian," seru Mika. Tanpa membuang waktu, ia dan Raga segera mencari buku di atas buffet yang kemungkinan berpasangan dengan kunci itu.

__ADS_1


Ada empat buku yang terkunci berjajar di depan mereka. Keempatnya ditemukan di tempat terpisah. Dua di antara jajaran buku pelajaran. Dan, dua lagi di dalam kotak tempat penyimpanan buku musik. Dilihat dari sampulnya, buku-buku itu sama sekali tidak menyerupai buku harian. Gambar sampul bagian depan buku-buku itu serupa, hanya berbeda warna. Ada gambar not balok berukuran besar di bagian tengah sampul, dan dikelilingi dengan tanda-tanda musik yang tidak terlalu dipahami oleh Mika.


Mika mencoba untuk membuka kunci buku itu satu per satu. Ia mendesis penuh kelegaan, saat akhirnya kunci itu berhasil membuka kunci buku terakhir dengan sampul warna cokelat tua.


Mika membuka lembar demi lembar buku itu. Tidak ada yang aneh. Buku itu hanya berisi catatan lagu. Baru pada halaman nyaris akhir, ia menemukan sesuatu. Sebuah benda timbul tertutup kertas yang menempel di salah satu halaman. Mika meraba benda itu. Kemudian, perlahan, ia mengambil benda yang disembunyikan di balik kertas berbentuk amplop itu. Sebuah kunci lagi. Tidak lebih besar dari kunci yang ia temukan pertama kali. Karena ukuran yang kecil dan tipis, benda itu bisa disembunyikan dengan mudah di antara halaman buku.


Mika bergegas mendekati laci meja dengan kunci yang baru saja ia temukan. Tepat. Laci itu akhirnya terbuka. Mika menarik laci itu perlahan, seiring dengan napasnya yang tanpa sengaja tertahan. Akhirnya, ia bisa melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah diizinkan oleh Nagra.


Mika bengong sesaat. Ia pikir, laci itu berisi sesuatu yang luar biasanya. Nyatanya, tidak ada yang aneh dalam laci itu. Ada sebuah buku dengan sampul bergambar not-not balok. Sama seperti buku-buku yang ia temukan tadi. Sepertinya, Nagra memang sengaja membeli buku itu lima buah sekaligus. Namun, dibanding yang lain, buku itu adalah yang paling ia kenal. Nagra pernah menggunakan buku itu saat mengajarinya bermain gitar. Di samping buku itu, ada sebuah kotak berwarna hitam.


Mika mengambil dua benda itu. Lalu, berjalan menuju ranjang Nagra. Ia memilih untuk membuka kotak hitam itu lebih dulu. Ada berbagai macam benda berukuran kecil yang tersimpan di sana. Dari sekian banyak benda, hanya satu hal yang menarik perhatian Mika. Sebuah gelang tali berwarna merah.


Mika tersentak. Ia segera mengambil gelang milik Kai yang selama ini berada di dalam tasnya—ia selalu lupa ketika hendak mengembalikan benda itu. Sesuai dugaannya, gelang itu sama persis dengan milik Kai. Pantas saja, ia tidak asing ketika melihat benda itu di westafel rumahnya hari itu. Namun, mengapa Kai dan Nagra memiliki benda yang sama? Apa mereka sudah saling kenal? Atau, ini memang petunjuk jika Kai yang bertanggung jawab atas kematian Nagra?


Mika berusaha untuk mengelak pertanyaan terakhir. Namun, gagal.


“Kamu nemuin sesuatu?” Suara Raga menyentak kembali kesadaran Mika. Belum sempat Mika menjawab, Raga sudah mengambil gelang tali merah dari tangannya.


Raga mengambil gelang milik Kai dari tangan Mika. Keningnya berkerut samar. Tatapannya jatuh pada dua benda itu, selama beberapa saat. “Kenapa mereka punya dua benda yang sama?”


Mika menggeleng pelan. Ia membiarkan Raga mengamati dua benda itu, sementara ia menjatuhkan pandangan pada buku milik Nagra. Tangannya bergerak untuk mengambil kunci yang menggantung di buku itu. Kemudian, ia gunakan untuk membuka benda itu.


Buku bersampul biru dengan motif not balok itu terbuka. Ada foto keluarganya di halaman depan. Sepertinya, foto itu diambil ketika ia masih berusia enam tahun. Ada sebaris tulisan di bagian bawah foto itu.


Tiga tahun setelah dia datang ke kehidupan kami.


Mika mengusap tulisan itu. Ada haru yang menyelinap dalam dadanya. Ia membuka halaman selanjutnya. Hanya ada catatan musik dan kunci gitar yang ditulis Nagra. Pada halaman ketiga puluh, ia mulai menemukan sesuatu yang berbeda. Ada tulisan dengan tinta berwarna emas di halaman itu.


Sebentuk Cerita.

__ADS_1


Mika membuka halaman selanjutnya, dan menemukan fotonya yang tengah tersenyum lebar. Ada dua foto yang ditempel berdampingan. Fotonya berusia kira-kira tiga tahun, dan ketika ia mengenakan seragam abu-abu untuk pertama kali.


Gue nggak pernah nyangka kalau dia bakal datang ke hidup gue. Dia gadis kecil yang gue temui di panti asuhan hari itu. Gadis itu kecil yang ngajak gue main pesawat kertas, sampai lupa waktu. Dan, satu-satunya gadis kecil yang nggak menganggap gue aneh karena sulit bersosialisasi.


Namanya Mika Arestya. Gadis kecil berusia hampir tiga tahun yang aktif dan menyenangkan. Dia memiliki senyum hangat yang membuat gue langsung tertarik saat pertama kali bertemu. Di senyum itu, gue seperti menemukan rumah. Hari itu juga, gue meminta mama untuk menjadikannya bagian dari keluarga.


Dia tumbuh menjadi gadis cantik. Gue bahkan pernah jatuh cinta sama dia secara diam-diam. Cuma mama yang tahu tentang hal itu. Kalau saja mama nggak ingatin bahwa dia adik gue, pasti udah gue pacarin dia. Haha.


Gue selalu berusaha jadi kakak terbaik buat dia. Walaupun kita sering berantem, gue sayang banget sama dia. Dia itu pemberani. Perempuan paling berani setelah mama yang pernah gue temui. Mika pernah marah-marah ke seorang cowok yang baru pertama kita kenal, hanya karena gue kalah main bola dari dia. Dia juga pernah berantem sama anak tetangga kompleks karena anak itu bilang gue aneh. Akhirnya, mama yang harus turun tangan buat pisahin mereka. Thanks ya, Ka. Gue bangga punya lo. Walau pun, lo kadang ngerepotin.


Dan sekarang, gadis ingusan yang gue temui di panti asuhan itu udah jadi anak SMA. Nggak terasa ya, kita udah ngelewati beberapa tahun bersama. Meski pun gue nggak pernah bilang secara langsung, tapi lo tahu kalau gue sayang sama lo. Selalu.


*Jangan ngerepotin lagi ya, Ka. Jangan judes. Nanti nggak ada yang mau jadi pacar lo.


I love you beyond the words, Mika Arestya.*


Mika menutup buku itu. Ia megap-megap. Seluruh oksigen dalam paru-parunya seakan direnggut paksa. Tangannya memukul dada beberapa kali. Berusaha untuk menyingkirkan sesak yang terasa menyakitkan. Air mata sudah meluruh di pipinya, diiringi raungan keras yang membuat Raga panik.


“Ka, kamu kenapa?” Mika tidak menjawab pertanyaan Raga. Tangisnya justru semakin hebat.


Satu per satu ingatan bersama Nagra berkelindan dalam kepalanya. Menyeretnya pada sebuah kehampaan yang seakan membawa pergi jiwanya. Ingatan-ingatan itu seperti hadir untuk mengambil napasnya. Semakin banyak kenangan yang hadir, semakin sulit dirinya untuk bernapas.


"Kak Nagra, Ga. Kak Nagra mana?” Mika berteriak di tengah tangisnya. Ia meraung, memegangi kepalanya. Jika bisa, ia ingin melepas kepalanya. Lantas, membenturkannya di lantai. Sehingga, kenangan-kenangan itu akan menghilang dari kepalanya.


"Kak Nagra nggak boleh pergi. Suruh dia kembali, Ga. Panggil dia!” Mika meraung frustrasi. Raga bahkan kewalahan menahan Mika yang membenturkan kepala ke tembok, seraya memukul dadanya sendiri.


Kak Nagra nggak boleh pergi! Mika mengulang pernyataan itu, beberapa kali dalam hatinya. Berharap Nagra akan mendengarnya, lantas kembali untuk mengusap kepalanya. Seperti dulu, ketika ia menangis karena ia takut pada petir.


Kalau gue mati, apa gue bisa ketemu Kak Nagra di sana? Bagaimana rasanya mati?

__ADS_1


   Setelah sekian lama menghilang dari kepalanya, pikiran itu kembali hadir. Tanpa sadar, ia membenturkan kepala dan memukul dada semakin keras. Pening mulai menyerang. Dadanya nyeri dan sesak. Ia tidak tahu yang terjadi kemudian. Tiba-tiba saja, gerakannya terhenti. Ia berada dalam rangkuman tangan Raga.


__ADS_2