Red Thread

Red Thread
Rekaman CCTV


__ADS_3

Mendung sudah berkumpul di langit. Suara guntur sesekali terdengar, disertai embusan angin yang cukup kencang. Aroma hujan menerpa wajah Mika yang menampilkan gurat kegelisahan. Sudah beberapa kali ia mendesah dan menggigiti kukunya. Berharap hal itu bisa mempercepat waktu. Dan dalam sekejap mata, motor Raga sudah tiba di depan gedung apartemen Nagra. Sayangnya, itu tidak akan terjadi.


Raga mengendarai motornya menuju apartemen Nagra dengan kecepatan sedang. Jalanan yang cukup pada membuatnya harus puas hanya dengan kecepatan 60 kilometer per jam. Beberapa kali Raga melirik kaca spion, mengamati pantulan wajah Mika dari benda itu.


“Kamu gugup? Kenapa?” tanya Raga. Terdengar tidak terlalu keras karena teredam helm sport.


“Ini pertama kalinya aku ke apartemen Nagra, setelah kejadian itu. Wajar saja kalau aku gugup,” sahut Mika yang suaranya dikalahkan oleh suara angin dan deru mesin motor. Sehingga, Raga harus menajamkan telinga untuk mendengarnya.


“Nggak perlu segugup itu. Apartemen Nagra nggak seburuk yang kamu pikirkan. Lama-kelamaan, kamu pasti berdamai dengan kenangan itu. Kamu cuma butuh waktu dan membiasakan diri."


Mika ingin menyetujui ucapan Raga. Ia pun telah berusaha untuk mengenyahkan bayang-bayang Nagra yang tergeletak di ranjang dengan tubuh membiru. Ia telah mencoba untuk melupakan kejadian malam itu, tetapi otaknya seakan menolak. Bayangan itu masih tetap berada dalam kepalanya, meski kini sudah mulai samar. Hanya saja, rasa sakit di hatinya masih belum usai. Sama sekali belum. Rasa sakit itu justru semakin berkembang, ketika mengetahui kenyataan hari ini. Jika ia mengetahui orang itu, ia tidak akan melepaskan orang itu kali ini. Ia akan membuat orang itu merasakan hal yang selama ini ia rasakan.

__ADS_1


Perasaan gugup di hatinya semakin hebat ketika motor Raga memasuki area parkir apartemen. Tidak ada yang berubah dari tempat itu. Ia bahkan masih bisa mengingat dengan jelas, tempat ketika Nagra mengantarnya malam itu. Ia tidak pernah menyangka, jika itu adalah menit terakhir ia bisa berbicara dengan cowok itu.


Ada kekosongan yang menyelimuti hatinya. Gumpalan kerinduan merangsek. Menusuk relung hatinya, dan menciptakan rasa nyeri. Ada sebentuk penyesalan yang tidak bisa ia singkirkan. Andai saja, hari itu ia tidak meninggalkan Nagra sendiri. Andai saja, hari itu ia tidak menuruti perintah Nagra untuk segera pulang. Andai saja, hari itu ia lebih cepat kembali ke apartemen. Mungkin, kejadian itu tidak akan terjadi. Nagra masih ada bersamanya. Dan, keluarganya tidak akan menjadi seperti sekarang.


Perihal keluarganya, Mamanya sama sekali tidak mencarinya. Hanya Papanya yang beberapa kali mengirimkan pesan dengan isi serupa; menyuruhnya untuk segera pulang. Ia sengaja mengabaikan pesan itu. Bahkan, tidak sekalipun menerima panggilan yang masuk. Ia masih belum bisa menerima kenyataan yang sudah terjadi. Ia masih belum bisa memaafkan mamanya, papanya, dan Nagra. Mereka sudah terlalu lama menutupi kebohongan itu darinya.


“Ayo turun,” titah Raga. Mika segera turun, dan menyerahkan helm pada Raga.


Mika mengangguk. Lantas, berjalan di belakang Raga.


Beberapa meter dari mereka, seseorang menghentikan motor sedikit jauh dari motor milik Raga. Matanya mengamati setiap gerakan yang dibuat oleh Mika dan Raga. Segaris senyum licik dan tidak suka tercetak di bibirnya. Disertai dengan dengkusan kasar.

__ADS_1


Ia turun dari motor, setelah memastikan dua orang itu tidak melihat keberadannya. Lantas, ia bersandar di balik pilar yang berada tidak jauh dari pintu masuk gedung apartemen. Dari tempatnya, ia bisa mengamati sekitar, termasuk Mika dan Raga. Namun, orang lain yang berada di dalam gedung itu tidak akan mengetahui keberadaannya. Setelah memastikan Raga dan Mika pergi ke lantai dua, ia menyelinap menuju ruangan di lantai dasar yang terletak paling ujung, tepat di bawah tangga. Sebuah ruangan kecil dengan tulisan 'Penyimpanan CCTV' di atas pintu. 


Ia berdiri sesaat di dekat ruangan. Menunggu seorang petugas keamanan keluar dari ruangan itu. Ia merapatkan jaket dan topi.  Tidak lupa sebuah kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya. Setelah memastikan tidak akan ada yang mengenali, ia memasuki ruangan tersebut. Sepertinya, hari ini keberuntungan tengah berpihak padanya. Seorang petugas keamanan yang baru saja keluar dari ruangan itu, lupa untuk mengunci pintu kembali.


Pelan, ia menutup pintu ruangan itu. Pandangannya menyapu ke seluruh penjuru. Ada cukup banyak monitor layar lebar di dinding yang menampilkan rekaman setiap sudut gedung apartemen. Tanpa menghiraukan hal itu, ia menuju sebuah komputer di sudut ruangan. Satu-satunya komputer yang menyala di ruangan itu. Dengan cekatan, ia mencari rekaman CCTV dengan pada saat tanggal kematian Nagra. Untungnya, ia pernah melakukan pekerjaan seperti ini saat memecahkan kasus pencurian di sekolah lamanya dulu. Sehingga, ia tidak kebingungan untuk menemukan letak rekaman itu.


Ia mengembuskan napas lega ketika menemukan rekaman CCTV yang dicari. Tanpa membuang waktu, ia segera memindahkan rekaman CCTV itu ke dalam flash disk.


Tanpa membuang waktu, ia bergegas melangkahkan kaki menuju pintu setelah rekaman itu ia kantongi. Namun, sepertinya, kali ini keberuntungan tidak lagi berpihak padanya. Belum sempat ia keluar, suara Raga terdengar mendekati pintu. Kepalanya berputar ke kiri dan kanan, mencari tempat yang tepat untuk bersembunyi. Mengetahui tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi, ia segera berlari menuju belakang pintu.


Napasnya tertahan, ketika suara derit pintu terdengar memenuhi ruangan. Pintu itu terbuka, ia bisa melihat bayangan Raga dan Mika memasuki ruangan. Sayangnya, mereka tidak menutup kembali pintu itu. Sehingga, memudahkannya untuk menyelinap keluar, sebelum Raga maupun Mika mengetahui keberadaannya.

__ADS_1


Baru dua langkah ia meninggalkan ruangan tanpa suara, desahan kesal Raga terdengar di belakangnya. Seseorang itu tersenyum miring saat mendengar Raga mengatakan sebuah kalimat dengan nada kecewa dan geram. "Rekamannya nggak ada. Sudah dihapus!"


__ADS_2