
Semua memang sudah membaik. Tidak ada lagi yang perlu Mika khawatirkan. Sepertinya, pepatah itu memang benar. "Semesta tidak pernah menjanjikan pelangi setelah hujan. Namun, akan selalu ada matahari setelah badai". Mika lupa, dimana ia pernah membaca kutipan itu. Hanya saja, ia selalu membawa kutipan itu di kepalanya. Kemana pun.
Sekarang, semesta memang menepati janjinya. Hidupnya sudah jauh lebih bahagia sejak tertangkapnya Beni. Dan tentu saja, kasus kematian Nagra terselesaikan.
"Ma, Mika berangkat ke sekolah dulu, ya." Mika mengecup pipi Yulia, lantas mengambil tas ranselnya dari kursi makan.
"Kamu nggak sarapan dulu?" tanya Yulia.
Mika menggeleng, seraya melirik jam tangannya. "Mika sarapan di sekolah aja. Takut telat. Anggita sama Raya juga sudah di depan."
Yulia berdecak. "Tunggu, mama siapkan bekal dulu."
Mika hendak mencegah, tapi jemari Yulia sudah bergerak lincah memasukkan nasi dan sayuran ke kotak makanan. Mika hanya tersenyum kecil, sambil terus memerhatikan Yulia. Selama tujuh belas tahun, ini adalah pertama kali Yulia menyiapkan bekal makanan untuknya.
"Ini." Yulia mendorong kotak makanan yang sudah terisi penuh pada Mika. "Harus dihabiskan!"
Mika meringis. Melihat isi kotak itu saja, sudah membuatnya kenyang. Namun, ia tetap mengangguk. Tanpa membuang waktu lagi—dan karena Anggita sudah membunyikan klakson mobil—ia segera berlari menuju halaman rumah.
♥️
"Ka, siang ini lo jadi jalan sama Kak Kai?" tanya Anggita, seraya berbisik. Suasana kelas yang sedang sangat hening, membuat Raya yang duduk di depan Mika pun ikut menoleh.
"Jadi. Kenapa?" jawab Mika, dengan berbisik pula. Ia tidak ingin terkena lemparan spidol dari Pak Bono—guru Fisika yang terkenal paling galak di antara guru kelas dua belas lainnya.
"Gue ikut, ya." Anggita memasang wajah memelas, yang justru membuat Mika mengerutkan kening. Melihat ekspresi Mika, Anggita langsung menambahkan sambil mengangkat jari tengah dan telunjuknya. "Gue nggak akan ganggu kalian. Sumpah."
"Tumben lo mau ikut gue jalan? Biasanya nggak pernah mau kalau gue ajakin." Mika tetap saja tidak menghilangkan ekspresi curiga di wajahnya.
Anggita menghela napas panjang. Raut wajahnya terlihat lelah. Mika tidak tahu yang terjadi pada gadis itu. Namun, ia bisa segera menangkap dengan jelas bahwa ada sesuatu yang terjadi. Sesuatu yang tidak baik.
"Nyokab gue pulang hari ini."
__ADS_1
Kali ini, giliran Mika yang menghela napas panjang. Sesuai dugaannya, sesuatu tidak baik memang akan terjadi. "Sampai kapan lo mau lari? Nggak capek, Git? Dulu, lo selalu nasihatin gue buat menghadapi masalah. Dulu, lo yang nasihatin gue untuk bisa berdamai sama kenyataan. Tapi, sekarang apa?"
"Ini beda, Ka." Anggita menatap Mika dengan sorot lelah yang baru kali ini Mika lihat. Selama ini, Anggita tidak pernah mengeluarkan sorot mata itu di depannya. Mungkin, karena gadis itu tengah berusaha terlihat tegar agar bisa menghiburnya. Atau mungkin, karena Anggita belum siap membagi lukanya dengan orang lain. Dan, Mika lebih cenderung memilih opsi yang pertama.
"Oke. Lo boleh ikut gue. Tapi, janji. Setelah ini, lo nggak boleh kabur-kaburan lagi dari nyokab lo."
Anggita mengangguk dengan sangat terpaksa. "Gue usahain."
♥
Sesuai rencana awal, Anggita benar-benar mengikuti Mika untuk bertemu Kai. Gadis itu bahkan dengan suka rela memberi Mika tumpangan menuju pusat perbelanjaan yang sudah ditentukan oleh Kai, sehingga Kai tidak perlu repot-repot menjemput Mika di sekolah.
"Lo mau makan apa, Git?" tawar Kai, dan langsung dijawab Anggita dengan gelengan.
"Gue nggak lapar. Gue keliling dulu, ya. Kalian makan dulu aja."
"Yakin? Gue yang bayar. Tenang aja," kata Kai.
Anggita tersenyum kecil, dan masih tetap menggeleng. "Yakin. Gue jalan dulu, ya." Sebelum Kai atau Mika memberikan pertanyaan lagi, Anggita segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauhi area foodcourt.
Anggita menoleh sejenak pada Mika dan Kai. Ia tersenyum tipis melihat mereka yang sudah sibuk mengobrol. Entahlah, ia harus marah atau senang dengan situasi ini. Ada sesuatu di sudut hatinya yang tidak suka melihat mereka bahagia, sementara ia tidak.
Berulang kali ia meyakinkan diri bahwa Mika berhak untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Namun, berulang kali pula ia merasa marah pada keadaan yang membuatnya tidak bisa merasakan kebahagiaan itu bersama Nagra.
Nagra. Apakah cowok itu sudah bahagia sekarang? Apakah di sana cowok itu sudah bisa tertawa, setelah misteri kematiannnya terpecahkan? Jika iya, lalu mengapa di sini ia tidak bisa bahagia setelah kepergian cowok itu?
Anggita berbelok menuju toilet. Ia mengamati setiap jengkal pantulan wajahnya di cermin. Lingkaran hitam di bawah mata membuat penampilannya tampak lelah. Semalam, ia sama sekali tidak tidur setelah mendapat pesan singkat dari Mamanya yang mengatakan bahwa wanita itu akan pulang.
"Kenapa Mama harus pulang di saat semuanya sudah berantakan? Kenapa Mama harus pulang di saat keluarga kita nggak lagi bisa diselamatkan?"
Anggita ingin memaki. Namun, entah kepada siapa. Bukan ia tidak bahagia atas kepulangan Mamanya. Tolong katakan, anak mana yang tidak bahagia ketika bisa bertemu Mamanya? Ia hanya belum bisa menerima atas kepergian Papanya dari rumah karena kelakuan Mamanya, beberapa bulan yang lalu. Ya, Mamanya yang tidak tahu diri. Mamanya yang hanya mementingkan harga diri. Mamanya yang hanya mementingkan karir. Tanpa pernah tahu, seperti apanya Papanya berjuang untuk merawat keluarga agar tetap baik-baik saja.
__ADS_1
Getar ponsel dari dalam saku mengalihkan Anggita dari ingatan masa lalunya. Sama seperti kematian Nagra, ia tidak pernah ingin mengingat perihal kehancuran keluarganya. Namun, ingatan itu terus berdatangan tanpa henti. Membawanya semakin jatuh ke lubang yang dalam.
Mama: "Kamu kemana? Mama sudah di rumah. Mama ingin ketemu kamu."
Anggita menarik satu sudut bibirnya setelah membaca pesan itu. Ia pun ingin bertemu Mamanya, tetapi ia tidak bisa bersikap seperti beberapa bulan lalu. Saat keegoisan Mamanya belum menghancurkan keluarga dan hidupnya.
Akhirnya, Anggita memilih untuk mengabaikan pesan itu. Panggilan masuk dari mamanya setelah itu pun, ia biarkan tanpa jawaban. Tidak sekarang. Ia belum siap bertemu, meski tahu ia tidak akan bertemu mamanya lagi selama beberapa bulan setelah ini. Mungkin setahun. Atau, mungkin dua tahun. Anggita tidak tahu. Yang ia tahu, Mamanya mungkin tidak akan lagi mengakui ia sebagai anak demi karir dan popularitas.
Panggilan kedua masuk ke ponselnya. Nama Mika terpampang di layar, dan membuat Anggita harus menormalkan tenggorokkannya terlebih dahulu sebelum menjawab telepon itu.
"Kenapa, Ka?"
"Lo dimana? Ke sini buruan. Ada sesuatu yang harus lo tahu. Gue tunggu. Nggak pakai lama."
Mika langsung memutuskan sambungan setelah menyelesaikan kalimatnya. Anggita mengamati penampilannya di cermin sekali lagi. Ia menarik kedua sudut bibirnya, melatih segaris senyum agar tampak baik-baik saja. Setelah mengembuskan napas panjang beberapa kali, ia berjalan meninggalkan toilet.
♥
"Ini apa?" Anggita mengerutkan kening bingung melihat Kai yang menyodorkan ponsel milik cowok itu ke depannya.
"Coba dengar rekaman itu!" titah Kai.
Masih dengan ekspresi kebingungan, Anggita menuruti perintah Kai. Ia menekan ikon play di layar ponsel Kai. Dan kemudian, suara Raga terdengar dari speaker ponsel.
"Sehari sebelum berangkat ke Amerika, gue nyamperin Beni. Niatnya, gue cuma mau pamitan. Tapi, ternyata dia ngasih tahu gue sesuatu hal yang nggak pernah kita duga selama ini. Tentang kematian Nagra. Kasus itu ternyata nggak sesederhana yang kita kira. Tertangkapnya Beni bukan berarti kasus itu selesai. Beni ngomong secara langsung ke gue, kalau dia cuma orang suruhan. Ada orang lain yang ngasih dia bayaran untuk membunuh Nagra. Gue udah desak Beni untuk mengatakan tentang orang itu. Tapi, Beni sama sekali nggak mau buka suara. Dia cuma ngasih gue kunci tentang orang itu. Dia—orang yang nyuruh Beni buat ngebunuh Nagra—ada di sekitar kita, tapi bukan salah satu dari kita. Sorry, gue nggak bisa bantu kalian buat menyelesaikan kasus ini. Keadaan Alana masih belum memungkinkan untuk pulang ke Indonesia. Gue cuma bisa bantu kalian dengan rekaman ini. Jadi, gue mohon, usut kasus ini sampai tuntas. Nagra berhak mendapat keadilan. Dan, orang itu—orang yang udah bunuh Nagra—dia harus membusuk di penjara."
Anggita terdiam lama setelah mendengar rekaman itu. Hanya pandangannya yang bergerak dari Mika ke Kai, lantas ke Mika lagi. "Ja—jadi..."
Kai mengangguk, seakan mengetahui yang hendak Anggita katakan. "Bukan Beni pelaku utamanya. Pembunuh yang sebenarnya masih berkeliaran dengan bebas. Bahkan, bisa jadi, dia sedang tertawa bangga karena kita justru menangkap orang yang salah."
"Lalu, kenapa Beni bersedia untuk membantu orang itu? Kenapa Beni bersikap seakan memang dia yang membunuh Nagra?" Anggita menatap Mika dan Kai bergantian. Mendesak dua orang di depannya untuk segera memberikan jawaban yang membuat hatinya lega. Namun, yang Mika dan Kai lakukan hanya memberikan gelengan pelan.
__ADS_1
"Gue nggak tahu. Gue juga punya pertanyaan yang sama. Besok kita temui Beni. Mungkin saja, dia mau ngasih kita jawaban." Jawaban dari Kai menutup sesi diskusi tentang Nagra yang tidak akan mereka temukan jawabannya hari ini, tanpa menanyakan secara langsung dengan yang bersangkutan.
Mika menundukkan wajah dalam-dalam. Ia pikir, semua sudah selesai. Ia pikir, perasaan lega atas selesainya kasus itu akan bertahan selamanya. Ternyata, ia salah. Kasus itu tidak selesai semudah yang ia kira.