Red Thread

Red Thread
Sesuatu di Dalam Laci


__ADS_3

"Gimana kencan lo sama dia?"


Belum sempat Kai melepaskan jaket, Anggita menodong Kai dengan pertanyaan itu. Anggita memasang wajah ingin tahu yang membuat Kai mendesis lelah. Kai mengempaskan diri ke kursi kayu karena Anggita sedang berputar-putar malas di kasurnya. Salahnya sendiri yang mengatakan pada dua gadis itu agar menganggap rumahnya seperti rumah sendiri.


"Kalau lo tanya tentang acara kencan gue sama dia, maka dengan kesal gue akan jawab, GUE GAGAL KENCAN SAMA DIA!"


Hening. Satu detik... dua detik... tiga detik... Raya dan Anggita masih tetap diam. Mereka saling melemparkan pandangan, sebelum akhirnya menyadari sesuatu yang terjadi.


"HUAHAHAHA!" Raya dan Anggjta tertawa lebar, membuat Kai semakin kesal.


"Mau sok bawa mobil, ternyata gagal kencan juga dia." Anggita mengubah posisinya menjadi duduk, karena perutnya mendadak kram setelah tertawa.


"Karena Alana sama si cowok sialan yang nggak diketahui namanya itu, gue jadi gagal kencan. Mika syok. Akhirnya, dia langsung ngajak pulang." Kai menatap nyalang langit-langit kamarnya. Dua gadis itu memang berada di kamarnya, karena di ruang tamu sedang ada sopir Anggita yang menonton televisi.


"Cowok nggak dikenal? Siapa?" Raya mengalihkan perhatiannya dari ponsel. Fokusnya kini hanya tertuju pada Kai.


"Gue ketemu sepupunya Alana." Kai memberikan penjelasan dengan mata terpejam lelah.


"Terus, apa yang terjadi? Lo dapat informasi penting?" Anggita beringsut agar lebih dekat pada Kai.


Kai mengangkat bahunya. "Banyak yang terjadi, gue sampai pusing. Mika juga sama. Makanya, dia mau langsung pulang aja."


Anggita dan Raya saling melempar pandang. Saling bertanya tentang apa yang kira-kira baru saja terjadi. Namun, bukannya menjawab, Kai justru mengatakan bahwa ia mengantuk. Sehingga, membuat Raya dan Anggita terpaksa harus pulang dengan kepala dipenuhi tanda tanya.


"Oh, iya. Besok, kita lihat Alana." Kai memandang Raya dan Anggita yang hendak keluar dari kamarnya dengan tatapan yang seakan mengatakan nggak-ada-penolakan.


"Mau ngapain?" Raya masih bergidik dengan sesuatu yang terjadi pada mereka setelah menemui Alana hari itu.


Hari itu, hanya Mika yang lolos dari petugas rumah sakit, karena Raga langsung menyeret gadis itu keluar. Namun, tidak dengan Raya dan Anggita. Mereka harus menghadapi interogasi pihak keamanan di rumah sakit. Bahkan, pihak rumah sakit mengancam akan melaporkan mereka ke polisi. Sehingga, setiap mengingat kejadian itu membuat Raya senewen.


"Kita perlu memastikan sesuatu."


"Lo udah izin ke Raga?" tanya Anggita.


"Ngapain pakai izin segala? Udah, tenang aja. Ada gue."


Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, akhirnya Raya dan Anggita mengangguk. Dalam hati, mereka meyakinkan diri jika ancaman hari itu hanyalah gertakan dari pihak keamanan rumah sakit. Lagi pula, kali ini ada Kai.


"Oke." Anggita dan Raya menjawab secara bersamaan.


"Kita balik dulu, ya, Kai. Baik-baik lo." Anggita berpamitan, yang kemudian Kai membalasnya dengan anggukan sedikit tidak enak hati. Ia tidak berniat untuk mengusir dua temannya itu. Hanya saja, saat ini, ia sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun.



Dengan keraguan yang menyelimuti hati, Mika berjalan pelan mendekati Yulia di ruang tengah. Wanita itu sedang berkutat dengan laptop dan kertas-kertas di atas meja. Sepertinya, urusan pekerjaan. Yulia mendongakkan kepala saat melihat Mika berdiri dua langkah di sampingnya. Ia tersenyum kecil, yang lantas membuat Mika ikut tersenyum kikuk.

__ADS_1


"Ada apa, Ka? Baru pulang kencan kok udah cemberut?" Yulia bertanya sabar. Sangat berbeda dengan Yulia yang ada di hidup Mika selama beberapa bulan belakangan ini.


"Nggg... Itu, Ma..." Mika menggaruk tengkuknya. Tidak tahu, bagaimana harus mengatakan pada Yulia tentang Nagra. Namun, saat ini ia juga butuh tempat untuk bercerita. Paling tidak, untuk mengurangi rasa sakit hati karena ulah Alana.


Yulia mengerutkan dahi. "Kamu kenapa?"


"Tapi, Mama jangan marah ya?"


Yulia tergelak mendengar pertanyaan itu. "Nggak. Mama nggak marah. Kenapa?"


"Ngg... Mama masih percaya, nggak, kalau Kak Nagra meninggal karena bunuh diri?"


Raut wajah Yulia yang semula santai dan ramah, berubah menjadi kaku. Mika mematung. Tiba-tiba saja, tubuhnya bergetar takut. Jika saja ada lubang penembus ruang milik Doraemon di depannya, ia pasti sudah melarikan dengan benda itu untuk menghindari tatapan tajam Yulia.


Bodoh, Ka. Kenapa harus bilang sekarang, sih. Umpatan pada diri sendiri pun, sama sekali tidak berguna. Seandainya waktu bisa diputar beberapa detik ke belakang, ia akan memilih untuk tidur di kamar. Bukannya malah menghampiri Yulia dan menanyakan tentang hal itu.


"Dari awal, sebenarnya Mama nggak percaya kalau itu bunuh diri." Yulia menundukkan kepala. Mika membulatkan kelopak matanya.


Jadi, mamanya sudah memikirkan itu sejak awal?


"Lalu, kenapa Mama nggak meminta polisi untuk mengusut lebih lanjut?"


Yulia menggeleng lemah. "Mereka bersikeras bahwa itu adalah bunuh diri. Jadi, kasus ditutup begitu saja."


Mika terdiam. Menimbang-nimbang, apakah ia harus mengatakan tentang Alana, atau tidak. Setelah berdebat dengan diri sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk mengatakan itu.


"Alana hamil. Anak Nagra. Nagra baru tahu setelah Nagra meninggal. Mama nggak sengaja menemukan flash disk yang berisi video pengakuan Alana."


"Tapi, Ma. Itu bukan kesalahan Kak Nagra. Kak Nagra dijebak."


"Dijebak bagaimana maksud kamu?"


"Kak Nagra nggak pernah melakukan hal itu pada Alana." Kemudian, Mika menceritakan kembali sesuatu yang ia dengar dari lelaki di klub malam itu pada Yulia.


"Mika sudah hampir setengah jalan. Mama sama Papa, kan, punya teman anggota kepolisian, bisa, nggak, kalau Mama minta teman Mama itu untuk membantu Mika?"


Yulia bungkam. Wajahnya masih pucat. Terlihat jelas bahwa ia terkejut atas cerita yang baru saja disampaikan Mika.


"Nanti mama coba untuk hubungi dia. Semoga dia mau membantu." Yulia akhirnya berbicara, setelah berhasil menenangkan diri sendiri.



Jalanan masih belum terlalu ramai. Orang-orang masih sibuk bergelung dengan selimut hangat di Minggu pagi yang dingin, atau menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah. Namun, mobil Anggita sudah melaju sepanjang aspal kota, dengan Kai sebagai pengemudi. Sejak beberapa hari lalu, Anggita dan Kai bersekongkol untuk membujuk sopir Anggita agar mau meminjamkan mobil itu pada mereka. Sementara, sopir Anggita ditinggalkan di rumah Kai. Bukan berpikiran buruk, tetapi di rumah itu tidak ada yang bisa dicuri dan dijual. Selain televisi butut yang harganya tidak lebih dari dua ratus ribu jika dijual.


Tidak seperti kemarin, hari ini Kai menyetir dengan kecepatan yang mampu membuat orang asma tiba-tiba terkena serangan jantung. Berulang kali Mika memukul lengan cowok itu, dan mengeluarkan bentakan setiap kali Kai melakukan manuver tajam yang membuat klakson mobil pengendara lain berbunyi panjang. Namun, Kai hanya terkekeh. Dan, dengan santai, berkata, "Biar kalian nggak pada tidur waktu gue lagi nyetir."

__ADS_1


Berkat cara menyetir Kai yang membuat Mika berkali-kal mengumpat di dalam mobil, mereka tiba di lokasi hanya dalam waktu lima belas menit—yang normalnya membutuhkan waktu empat puluh menit. Begitu turun dari mobil, Mika langsung melancarkan serangan dengan menjitak kepala Kai, dan melontarkan kekesalannya, “Untung gue nggak muntah. Astaga! Lo mabok atau kesurupan? Abis diputusin lo, ya?”


Kai tertawa geli. Satu tangannya membungkam mulut Mika. Jika tidak, gadis itu tidak akan berhenti mengomel. “Gimana mau diputusin, jadian aja belum.” Kai mengedipkan sebelah matanya pada Mika. Sementara, Mika hanya memutar bola matanya.


“Kode terus ya, Kai. Jangan kasih kendor!” seru Anggita dari belakang mereka. Kemudian, diikuti tawa mereka bertiga—kecuali Mika. Gadis itu memasang wajah pura-pura muak. Meski sebenarnya, tengah menutupi detak jantungnya.


Area rumah sakit itu masih sepi. Sebenarnya, ini masih terlalu pagi untuk berkunjung. Hanya ada tiga mobil, dan beberapa sepeda motor di area parkir. Raya dan Anggita berjalan lebih dulu menyusuri koridor yang akan membawa mereka ke kamar rawat Alana. Di belakang mereka, Kai masih belum melepaskan kuncian lengannya di bahu Mika. Gelagat cowok itu teramat posesif, hingga membuat Mika merasa rikuh.


Raya dan Anggita berhenti, tepat di depan sebuah kamar rawat di ujung koridor. Pintu ruangan itu tertutup rapat, begitu juga dengan jendelanya. Mereka menoleh pada Kai. Memberikan isyarat agar cowok itu masuk terlebih dahulu. Kejadian ketika Alana mengamuk hari itu, masih membekas di ingatan mereka.


           “Ah! Kalian cemen banget,” cibir Kai, yang selanjutnya dihadiahi Mika dengan cubitan di lengan kanannya.


Kai meringis seraya mengusap-usap lengan kanannya. “Nggak boleh galak sama calon suami.”


“Najis, Kai. Najis!” seru Raya, berpura-pura muntah.


Kai melirik pada Raya, seolah mengatakan iri-ya-lo melalui tatapan matanya. Lalu, ia membuka pintu di depannya perlahan-lahan. Ia mengintip melalui celah yang tercipta. Dan, pandangannya jatuh pada Alana yang tidur memunggungi pintu. Kai menegapkan kembali tubuhnya. Melirik pada Anggita, Raya, dan Mika. “Kita masuk, nih?”


Ketiga gadis itu mengangguk bersamaan. Kai mengembuskan napas pasrah. Bagaimanapun juga, satu cowok melawan tiga perempuan tidak akan ada artinya. Tanpa memberikan bantahan, ia membuka pintu semakin lebar. Napasnya tertahan, saat pintu mengeluarkan derit yang memekakan.


Alana memutar tubuh. Kai tersentak, saat mata gadis itu tertuju padanya. Gadis itu melemparkan sorot mata sayu yang tidak pernah Kai kenal dari seorang Alana.


“Al,” sapa Kai pelan. Langkahnya ragu-ragu untuk mendekati gadis itu.


Alana tidak memberikan reaksi. Seperti kemarin, gadis itu hanya melemparkan tatapan kosong dan hampa. Alana bahkan tidak bergerak, ketika Kai mengulurkan tangan untuk mengusap kepala gadis itu.


“Lo apa kabar? Masih ingat gue, kan?” Alana tetap tidak menjawab. Tetapi, ada sorot berbeda di sepasang matanya. Mata itu berbinar, tampak lebih hidup dari sebelumnya. “Kalau lo lupa, gue Kai. Kainaka Assegaf. Kita pernah temenan dulu. Gue temannya Nagra sama Raga.”


Alana tidak menjawab. Namun, tangannya bergerak pelan. Gadis itu mengusap pelan wajah Kai. Tanpa diduga, gadis itu terisak. Kai tampak kebingungan. Ia mengalihkan tatapan pada Mika, Raya, dan Anggita di belakangnya. Meminta penjelasan atas perubahan yang terjadi pada Alana. Namun, ketiganya hanya mengangkat bahu sambil menggelengkan kepala.


Mereka seketika tersentak. Alana mengeluarkan suara. Di tengah isakannya, gadis itu berkata pelan, “To...long.”


"Ada apa, Al?" tanya Kai, pelan.


"Be...ni." Ucapan terbata itu membuat Anggita, Raya, Mika, dan Kai saling pandang.


"Kenapa dengan Beni, Al?"


Alana memanggil nama Beni beberapa kali. Semakin keras, dan semakin keras. Hingga akhirnya, Alana meraung. Tangannya yang semula menyentuh wajah Kai, sudah beralih untuk memukul-mukul tepian ranjang.


Kai berusaha menahan pergerakan Alana. Namun, gadis itu memberontak semakin hebat. Ada kemarahan yang terpancar di sepasang mata Alana.


“Beni… bunuh dia… Nagra!” Alana berteriak. Tidak terlalu jelas, tetapi cukup untuk bisa dimengerti oleh Anggita, Raya, Mika, dan Kai


Belum sempat mereka menyahuti ucapan Alana, gadis itu kembali berteriak kalap. Kali ini seraya memukul-mukul laci di nakas. “Bunuh dia! Bunuh!”

__ADS_1


Tiga orang perawat berlari menghampiri Alana. Salah satu dari mereka menyuruh Mika, Anggita, Raya, dan Kai keluar dengan paksaan. Kai sempat meminta perawat itu untuk mengambil sesuatu dari dalam laci, sebelum meninggalkan ruangan. Hanya ada satu benda di laci itu, sebuah amplop berwarna putih.


__ADS_2