Red Thread

Red Thread
Perayaan


__ADS_3

Mika tidak henti mengumpat diri sendiri dalam hati. Ia merutuki kebodohannya yang lupa membawa buku paket Matematika. Padahal, guru matematika yang mengajar di kelasnya terkenal sangat garang. Beliau tidak segan-segan menghukum siswa yang lupa membawa buku paket untuk berlari mengelilingi lapangan.


Ia hanya bisa mengembuskan napas pasrah, ketika suara melengking Bu Retno memaksanya untuk keluar kelas dan berlari mengitari lapangan. Hari ini ia bangun kesiangan, dan lupa menata buku yang seharusnya dibawa. Semalam, ia terlalu sibuk memikirkan hadiah apa yang akan diberikan pada ulang tahun mamanya.


Matahari bersinar cukup terik. Ia melangkah tanpa semangat menuju lapangan basket. Ia menelan ludah melihat siraman matahari yang cukup ganas di lapangan. Sangat tidak lucu jika ia pingsan di tengah lapangan.


Belum ada tanda-tanda hendak pingsan di putaran keempat. Namun, peluh sudah membasahi seragam Mika dan membuat rambut panjangnya berantakan. Masih kurang enam putaran lagi.


Di putaran ke tujuh, gerakan Mika melemah. Pandangannya mulai menggelap sedikit demi sedikit. Telinganya bahkan sedikit kesulitan mendengar langkah kakinya sendiri. Terik sinar matahari sama sekali tidak bersahabat. Justru terasa semakin hebat, saat Mika kehilangan nyaris seluruh tenaganya.


Namun, tiba-tiba ia merasa seseorang mencekal lengannya. Mika mengerjapkan mata beberapa kali. Menyingkirkan keringat yang mengenai kelopak mata, dan memperjelas pandangannya. Ia terkejut saat melihat Kai berlari bersamanya. Cowok itu memegang lengannya, dan sedikit menyeretnya agar lebih berlari lebih cepat.


“Gue temenin. Biar lo nggak pingsan di lapangan,” ucap Kai, tanpa melihat ke arah Mika.


Mika hanya tersenyum kecil. Ia sudah tidak memiliki stok tenaga untuk menjawab ucapan Kai. Napasnya satu-satu. Sepertinya paru-parunya akan meledak, jika ia memaksakan diri untuk berbicara.


Kedatangan Kai membuat Mika merasa lebih baik. Tenaganya seakan terisi ulang, sehingga ia bisa menuntaskan sepuluh putaran lapangan yang berukuran nyaris setengah lapangan sepak bola itu. Keadaan Mika sudah sangat berantakan. Rambutnya yang dibiarkan tergerai, lengket terkena keringat. Seragamnya basah kuyup. Dan, napasnya seperti hendak putus.


“Makasih, Kak Kai.” Mika berusaha berkata dengan susah payah.


“Anytime. Lo ngapain sih lari siang-siang begini? Nggak ada kerjaan?” tanya Kai.


“Aku lupa bawa buku paket matematika,” jawab Mika. Kemudian, ia mendaratkan tubuhnya di atas lantai semen, di tepi lapangan. “Dan, sekarang aku nggak boleh masuk sampai jam pelajaran selesai.”


“Kita ke kantin aja, yuk. Lo haus, kan?”


Mika mengangguk. Kemudian, mengikuti langkah Kai menuju kantin. Awalnya semua baik-baik saja. Tidak ada yang melihat mereka berkeliaran di koridor. Namun ketika mereka hendak berbelok di tikungan yang mengarah ke kantin, seseorang mencekal lengan Mika.


Sontak Mika menoleh. Ia memekik saat mengetahui seseorang yang mencekal lengannya adalah Raga. Wajah cowok itu datar dan kaku. Tatapan matanya tajam, tertuju pada iris cokelat Mika.


“Ngapain kamu sama dia?” tanya Raga.


Mika menggigit bibir bawahnya. Dalam hati, ia mengutuk keberadaan Raga di tempat itu. Otaknya berputar cepat, mencari alasan atas pertanyaan Raga. Tetapi, Kai lebih dulu menjawab pertanyaan itu.


“Gue mau ajak dia ke kantin. Dia habis lari keliling lapangan.” Kai tersenyum sinis. Kemudian, berjalan satu langkah lebih dekat pada Raga. “Lo tahu? Gue yang temenin dia lari sampai selesai. Kurang sweet apa gue?”


Raga masih terdiam. Raut wajahnya tetap datar. Namun, sorot matanya berkobar. Ada kemarahan terpendam dalam bola matanya. Sesuatu yang membuat Mika harus mundur selangkah, untuk melindungi diri sendiri dari kemarahan cowok itu.


“Mau lo apa sebenarnya? Mika itu cewek gue. Lo nggak ada hak buat dekatin dia!” kata Raga, yang terdengar seperti geraman. Giginya bergemeletuk untuk menyalurkan kemarahan.


Kai justru tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Raga yang sudah merah. Ia berjalan lebih dekat, hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Kai yang lebih tinggi dari Raga, membuat Raga sedikit mendongak agar bisa menatap mata cowok itu.


“Gue cuma nggak mau dia terus terjebak sama lo. Gue nggak suka lihat dia pacaran sama lo. Jadi, gue mau lo putusin dia sekarang.” Kai mengatakan itu dengan berbisik. Tidak ada yang mendengar, kecuali dirinya dan Raga. Kalimat yang diucapkan Kai membuat tubuh Raga menegang. Sementara, Mika hanya memandang bingung dua cowok di depannya.


“Gue nggak akan pernah putusin dia! Gue sayang sama dia. Dan, gue nggak akan ngelepasin dia. Ngerti lo?” Raga membalas Kai dengan bisikan pula.


Kai tertawa sambil bertepuk tangan mendengar jawaban Raga. Seakan kalimat itu adalah lelucon paling lucu yang pernah ia dengar. Tatapan dingin Raga, sama sekali tidak membuat nyalinya menciut. Kai justru semakin senang bisa menyulut kemarahan cowok itu. Kai hanya ingin Mika tahu, bahwa Raga bukan seseorang yang tepat untuk gadis itu. Dan, seseorang yang tepat itu adalah dia.


“Sayang?” tanya Kai. Nada suaranya sinis. Seakan di balik pertanyaan itu tersirat sesuatu, seperti gue-jijik-lo-mengatakan-itu. “Gue nggak akan berhenti ganggu hubungan lo sama Mika, sampai dia mau jadi pacar gue. Atau paling tidak, sampai lo putusin dia.”


Tanpa menunggu jawaban Raga, ia berbalik dan menghampiri Mika. “Kapan-kapan aja ya kita ke kantin bareng. Peliharaan lo udah ngamuk ini.”



“Kamu kenapa masih dekat sama dia?” tanya Raga.


Mika tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk, mengamati mangkuk soto di hadapannya. Dibanding melihat sorot mata Raga, ia lebih suka mangkuk yang tinggal berisi satu sendok kuah soto. Saat ini, sorot mata Raga terlalu mengerikan.


“Aku nggak ada maksud dekat sama dia, Ga. Salah kalau aku temenan sama kak Kai?” Mika berkata dengan ragu-ragu. Ketika marah, Raga tidak pernah bisa ditebak. Dan selama ia berpacaran dengan cowok itu, ini adalah pertama kalinya Raga marah.


“Salah! Aku nggak suka sama dia.”


Mika memberanikan diri untuk menatap Raga. Keningnya berkerut samar. “Kenapa kamu kayak benci banget sama dia? Bukannya selama ini kamu nggak pernah semarah ini kalau lihat aku ngobrol sama cowok lain?”


Kelopak mata Raga melebar sejenak. Kemudian, ia mendesah pelan. Tangannya mengusap wajah, tampak sedikit frustrasi menghadapi Mika.


“Aku nggak suka sama dia, Mika. Nggak suka! Nggak perlu alasan lain, kan?”


Mika memiringkan kepala. Kenapa Raga terlihat aneh hari ini? Bukankah kata tidak suka selalu memiliki alasan? Apa Kai memang terlalu berlebihan?


Memang. Menurutnya, Kai memang sedikit berlebihan. Cowok itu terang-terangan menunjukkan perasaannya di depan Raga. Bahkan, setelah tahu jika ia dan Raga berpacaran. Namun, entahlah. Ia seperti tidak terima saat Raga mengatakan tidak menyukai Kai.


“Kamu aneh, Ga.” Hanya itu yang keluar dari bibir Mika. Sebelum akhirnya, ia memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Meninggalkan Raga yang menjatuhkan tatapan tajam padanya. Ada kekhawatiran di sorot matanya yang tidak ditangkap oleh Mika. Cowok itu mendesah pelan, setelah Mika mengambil satu langkah menjauh.


“Kai itu berbahaya, Ka,” ucap Raga, nyaris menyerupai desisan.

__ADS_1


Mika menghentikan langkah. Memutar kembali tubuhnya menghadap Raga. Lantas, menaikkan satu alisnya. “Berbahaya?”


Raga hanya mengangguk, tanpa memberikan jawaban lebih lanjut. Lalu, ia meninggalkan Mika yang melemparkan tatapan bertanya-tanya.



Mika tidak bisa tidak memikirkan pernyataan Raga di sekolah beberapa jam lalu. Bayangan tentang Kai yang menemuinya di hari pertama cowok itu sekolah, hingga Kai yang menemaninya berlari di lapangan tadi pagi, berlarian dalam kepalanya. Dari semua sikap yang ditunjukkan Kai padanya, tidak ada satu pun yang menandakan bahwa cowok itu tidak baik. Kai memang berpenampilan sedikit nakal. Seragamnya seringkali di keluarkan. Rambutnya yang hanya dipotong sedikit lebih pendek daripada saat pertama kali masuk SMA Pelita, selalu dibiarkan berantakan. Namun, apakah hanya itu yang menyebabkan Raga menyimpulkan bahwa Kai bukan cowok baik-baik?


Pikiran Mika terlalu larut dalam segala hal tentang Kai, hingga tanpa sadar ia menabrak punggung seseorang. Ia mengusap-usap kepalanya. Lantas, mendongak untuk melihat siapa yang sudah menghalangi jalannya.


Ia memekik dan mundur satu langkah, ketika mengetahui jika seseorang itu adalah seseorang yang telah membuatnya melamun. Kai berdiri di depannya. Memandangnya dengan ekspresi wajah dan sorot mata yang sulit di artikan. Cowok itu tidak memberinya senyuman menyebalkan seperti biasa. Atau, memakinya yang tidak berhati-hati.


“Maaf, kak Kai. Aku nggak sengaja.” Mika memutuskan untuk membuka percakapan terlebih dahulu. Kai sama sekali tidak memberikan jawaban. Cowok itu masih sibuk memerhatikannya. Dan, hal itu membuat Mika bergidik. Ingatan tentang pernyataan Raga beberapa saat lalu kembali melintas dalam kepalanya. Apa yang sedang Kai pikirkan tentang dirinya?


Namun, beberapa detik kemudian, ketakutannya menguap seketika. Kai mengulas senyum lebar. Senyum menyebalkan yang selama ini selalu Mika lihat setiap kali cowok itu sedang mengganggunya, atau saat berhadapan dengan Raga.


“Kalau jalan lihat-lihat ya, Dek. Untung kamu nggak nabrak lemari es. Bisa benjol itu kepala,” kata Kai. Cowok itu tidak melihat ke arah Mika. Tangannya sedang sibuk memilih beberapa mie instan di rak.


Pandangan Mika jatuh pada keranjang belanjaan Kai yang hanya berisi mie instan berbagai rasa. “Kakak beli mie instan sebanyak itu, buat apa?”


Kai mengangkat satu alisnya saat mendengar pertanyaan Mika. “Buat ngasih makan tikus di rumah. Ya, buat gue makanlah.”


“Kenapa banyak sekali?”


Kai terdiam sejenak. Kemudian, ia tertawa kecil. “Karena, gue nggak ada uang buat beli pitsa atau makanan enak lainnya.”


“Orangtua kakak kemana?” Mika segera menutup mulutnya, setelah pertanyaan kurang ajar itu meluncur begitu saja. Ia sudah melanggar batas privasi orang lain. Barangkali, Kai tersinggung atas pernyataannya. Terlihat dari sikap cowok itu yang menggaruk kepalanya dengan gusar. Mika bisa melihat raut wajah Kai mengeras, selama beberapa saat.


“Orangtua gue lagi sibuk. Keluar kota. Nggak tahu kapan mau pulang. Kenapa? Lo mau kenalan sama mereka? Jangan sekarang deh. Gue belum siap buat biayain hidup lo.” Kai tertawa lebar, setelah itu.


Mika mengerucutkan bibir. Ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah mendengar ucapan Kai. Jantungnya bahkan sudah berdegup tidak karuan dalam dadanya.


“Lo beli apa di sini?” Kai menjatuhkan pandangan pada keranjang belanjaan Mika yang berisi berbagai macam bahan kue. “Mau buat kue? Mau gue bantuin nggak? Walaupun cowok, gue jago buat kue.”


Mika menimbang-nimbang tawaran Kai. “Kalau nggak enak, gimana?”


“Kalau nggak enak, lo harus jadi pacar gue,” jawab Kai asal.


“Kalau enak?”


Mika tergelak. “Kak Kai, apaan sih? Nggak jelas banget.”


Kai menggaruk tengkuknya dengan kikuk. “Kita cari bahan-bahan yang lainnya aja yuk.”


Mika mengangguk. Kemudian, berjalan lebih dulu menuju rak berisi bahan-bahan membuat kue.


“Ngomong-ngomong, gue belum pernah lihat lo ketawa selebar itu.” Kai berucap lirih.


“Apa? Kak Kai bilang apa?” tanya Mika. Kai menggapi pertanyaan itu dengan gelengan pelan dan senyum singkat.


Mika tidak menyadari, jika ada seseorang yang sejak tadi memerhatikan setiap gerakan kecilnya. Ia tidak menyadari, jika ada seseorang yang setengah mati menahan getaran dalam dada. Ia tidak menyadari, jika ada seseorang yang menatapnya dengan tatapan seteduh telaga di pegunungan. Ia juga tidak menyadari, jika ada seseorang yang diam-diam terluka ketika melihat Mika tertawa. Dan, orang itu adalah Kai.



Ada satu kesan yang Kai dapatkan ketika menginjakkan kaki di rumah Mika; hampa. Matanya memandang berkeliling ke seluruh sudut rumah tersebut. Perabot berharga mahal menghiasi setiap sisi. Lampu berukuran besar yang nyaris menyerupai lampu di kerajaan Disney menggantung di langit-langit. Televisi LED berukuran 40 inci berdiri tegak di atas buffet kokoh berukiran rumit. Tidak ada satu pun yang tidak menarik untuk tidak dipandang di rumah tersebut. Hanya ubin lantai yang terlihat biasa.


Namun, semua keindahan itu sama sekali tidak mampu menggantikan sesuatu yang hilang dari sebuah rumah. Kehangatan. Kai sendiri tidak tahu seperti apa rumah seharusnya. Keadaan rumahnya juga tidak jauh beda seperti milik Mika. Kosong dan dingin. Hanya saja, rumahnya jauh lebih sederhana. Tidak bisa dibandingkan dengan rumah yang nyaris menyerupai istana itu.


Kai berjalan di belakang Mika. Mengikuti gadis itu menuju dapur yang berbatasan langsung dengan halaman belakang. Hanya ada pintu kaca besar yang memisahkan ruangan tersebut dengan halaman luas berisi berbagai macam bunga.


“Rumah lo memang selalu sepi begini?” tanya Kai. Pandangannya berkeliling ke seluruh penjuru dapur.


Mika tertawa hambar. “Selalu. Dan, nggak pernah berubah.”


Kai mengangguk. Memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Ia segera membantu menyiapkan berbagai macam peralatan memasak.


Sejak kecil, Kai sudah belajar memasak dari mamanya. Tidak jarang, ia membuat mamanya kesal karena sering menghancurkan masakan mamanya. Namun, dari situ Kai belajar. Jika memasak bukan hanya tentang keindahan dan rasa, melainkan juga tentang kesabaran.


Mamanya memang kesal, tetapi wanita itu tidak pernah mengeluh dan memarahi Kai secara berlebihan. Mamanya justru mengajarinya untuk mencampur berbagai macam bahan, hingga menghasilkan suatu masakan yang cukup layak untuk dimakan. Setidaknya, itu adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia ingat tentang mamanya. Sebelum waktu mengubah segala hal yang pernah ia miliki.


“Bisa, nggak? Ngaduk gini doang susah amat.” Kai merasa gemas melihat Mika yang kesusahan mengaduk adonan kue. Ia segera mengambil baskom berisi adonan itu dari Mika. Dengan cekatan, ia memutar, mencampur, dan menekan adonan itu beberapa kali.


“Kakak bisa bikin gue juga, ya.” Sorot mata Mika menyiratkan kekaguman. Jika dulu Nagra yang selalu membuatnya terheran-heran atas kemampuan cowok itu memasak, kini Kai yang menggantikan posisi itu. Melihat Kai dengan lihai memasukkan bahan-bahan ke adonan dan mencampurnya, membuat Mika kembali mengingat sosok Nagra.


Kak Nagra, sekarang mama ulang tahun. Kamu nggak mau bikini mama kue lagi seperti dulu? Mika tersenyum sendu. Seandainya cowok itu masih ada, ia pasti tidak akan merencanakan perayaan ulang tahun mamanya sendiri. Ia pasti tidak akan kerepotan sendiri, karena harus menyiapkan berbagai macam bahan dan bentuk dari kue ulang tahun itu. Dan seandainya Nagra masih ada, perayaan ulang tahun mamanya pasti akan lebih meriah.

__ADS_1


“Kenapa lo? Ngelamun aja. Apa lo terpesona sama gue?” pertanyaan Kai membuyarkan lamunan Mika.


Mika bahkan tidak menyadari, jika sejak tadi pandangannya tertuju pada cowok itu. Mika segera mengalihkan pandangan, sebelum Kai melihat wajahnya yang mungkin sudah memerah.


“Gue boleh tanya sesuatu?” tanya Kai. Kemudian, ditanggapi Mika dengan anggukan kepala.


“Lo udah lama pacaran sama Raga?”


Mika tampak berpikir sejenak. Lantas, ia menjawab pelan. “Sejak empat bulan yang lalu, mungkin.”


“Lo tahu nggak, kenapa dia pindah ke sekolah lo?”


Mika mengerutkan kening samar. Ia tidak tahu, kemana arah pembicaraan Kai. Namun, ia tetap memberikan jawaban. “Nggak tahu. Dia nggak pernah cerita soal itu.”


“Lo nggak pernah nyoba tanya ke dia?”


“Kenapa kak Kai tanya soal itu? Ada yang salah dengan dia pindah ke SMA Pelita?” Mika bertanya dengan tidak sabar. Matanya memicing curiga pada Kai.


Kai menggeleng, kemudian tertawa pelan. “Nggak sih. Gue cuma pingin tahu aja,” ucapnya. Gerakan tangan Kai yang mengaduk adonan berhenti sejenak. Kali ini, fokusnya hanya tertuju pada Mika. “Lo sayang sama dia?”


Sayang? Mika bahkan tidak pernah tahu soal itu. Selama ini, ia hanya tahu jika bersama Raga hidupnya terasa lebih baik. Bersama cowok itu, ia seperti menemukan kembali sebuah rumah. Namun, hingga detik ini ia belum memastikan pada hatinya sendiri, apakah ia memang menyayangi cowok itu? Atau paling tidak, apakah ia mencintai cowok itu? Apalagi, setelah kehadiran Kai yang membuat perasaannya kian terombang-ambing.


“Nggak tahu,” jawab Mika, pada akhirnya. “Kenapa?”


Kai menghela napas panjang. “Kalau lo nggak bisa memastikan perasaan sendiri. Gimana lo bisa meyakini kalau dia memang benar-benar cinta sama lo? Benar-benar sayang sama lo?”


“Tapi, bukankah cinta nggak membutuhkan alasan?”


“Cinta memang nggak butuh alasan, Ka. Tapi, lo harus punya alasan untuk tetap mencintai dia. Paling nggak, lo punya alasan kenapa hati lo mau bertahan sama dia.” Kai tersenyum kecil. “Kalau sekarang gue bilang gue sayang sama lo, gimana?”


Kelopak mata Mika melebar mendengar perkataan Kai. Seakan ia baru saja mendapat kabar jika ia memenangkan hadiah puluhan juta rupiah. Namun, di sisi lain ia seperti baru mendapat kabar jika rumahnya terkena bom Molotov. Perasaannya mengambang. Tidak tentu arah.


Ia kehilangan kata-kata. Bahkan, menatap mata Kai saat ini membuat persendiannya seolah melumpuh. Tidak ada sorot menuntut dari mata itu. Tidak ada raut memaksa dari wajah itu. Namun, Mika merasa terpojokkan. Ia seakan menjadi seseorang yang dipaksa untuk mengaku, meski sebenarnya tidak ingin. Ia tidak mengerti, bagaimana perasaannya saat ini?


“Kak Kai ngomong apa sih? Nggak lucu tahu, kak.” Mika mengerucutkan bibir. Berpura-pura tidak menghiraukan perkataan Kai, meski dalam hati, jantungnya sudah seperti hendak meledak.


“Gue nggak bercanda. Gue serius,” tegas Kai.


Mika terdiam sejenak. Kemudian, ia tertawa lebar. “Kita baru ketemu kurang dari tiga minggu, kak.”


“Kalau Raga bisa nyatain cinta ke lo hanya dalam waktu dua minggu, kenapa gue nggak?” Kai menghentikan kalimatnya. Ia kembali mengalihkan perhatian pada adonan kue di depannya.



Mika tersenyum bahagia, saat melihat kue buatannya dan Kai matang dengan sempurna. Masih ada tiga puluh menit, sebelum mamanya tiba di rumah. Dengan telaten, Mika mengoleskan butter cream dan menambahkan beberapa hiasan di kue itu. Sesuai pesan Nagra setiap kali mereka membuat kue ulang tahun untuk mamanya, Mika memberikan cukup banyak buah strawberry di bagian atas.


Kai tampak sibuk menyiapkan tempat untuk kue itu. Hari ini, Mika benar-benar bahagia atas kehadiran Kai. Selain membantu mempersiapkan kue, cowok itu juga membantu untuk membersihkan ruang tengah dan menempelkan beberapa hiasan di dinding.


“Kak Kai boleh pulang, kok. Ini juga udah selesai,” kata Mika, tanpa melihat Kai. Tangannya masih sibuk menyusun potongan strawberry di permukaan atas kue.


“Nanti aja. Sekalian, gue mau kenalan sama calon mertua.” Kai tertawa kecil, yang kemudian ditanggapi Mika dengan lirikan tajam.


“Kakak dulu playboy ya?”


Kai tertawa keras mendengar pertanyaan Mika. “Nggak. Gue gini ke lo doang.”


Percakapan mereka terhenti, ketika derit pintu terdengar dari arah ruang tamu. Tubuh Mika menegang, saat derap sepatu mamanya terdengar beradu dengan lantai. Ia tidak pernah merasa setegang ini, ketika merayakan ulang tahun mamanya. Dalam hati, ia berharap jika rencana ini bisa membuat hati mamanya luluh. Paling tidak, sedikit saja.


“Sana, bawa ke depan. Mumpung nyokab lo belum masuk kamar. Gue tunggu di dapur aja.” Kai berbisik. Tangannya sigap menancapkan dua buah lilin bertuliskan angka tiga puluh enam di bagian atas kue.


Mika mengangguk. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya pelan-pelan. Dengan hati-hati, ia membawa kue itu ke ruang tengah.


“Mama pasti suka.” Mika kembali tersenyum. Ia sudah bisa membayangkan raut wajah bahagia mamanya. Ia bisa membayangkan mamanya yang akan memeluknya erat. Dan, mamanya yang akan menerimanya kembali.


Mika melihat mamanya yang duduk di atas sofa. Wanita itu terlihat sangat lelah. Mika mengulas senyum paling manis, ketika mamanya melihat ke arahnya. Mata mereka sempat beradu beberapa saat, sebelum mamanya lebih dulu memutuskan kontak.


Mika meletakkan kue di atas meja. Pandangannya beralih beberapa kali antara kue tersebut dan mamanya. Wanita itu sama sekali tidak bereaksi. Masih duduk di sofa ruang keluarga, dengan tatapan tertuju pada kue buatan Mika. Tidak ada yang berubah dari tatapan itu. Tetap datar dan dingin. Bahkan, jauh lebih dingin dari biasanya. Hal ini membuat perasaan Mika gusar. Ia menggigit bibir bawahnya beberapa kali. Rangkaian pertanyaan mulai memenuhi kepalanya.


Apakah mamanya tidak menyukai ini?


Apakah kue ini terlihat buruk?


Apakah mamanya lupa hari ulang tahun sendiri?


Rangkaian pertanyaan itu akhirnya menemukan muara seiring dengan kalimat yang diucapkan mamanya. Kalimat yang meluluhlantakkan kebahagiaan kecil Mika. Kalimat yang melumpuhkan seluruh indera Mika selama beberapa saat. Dan, kalimat yang membuat harapan-harapan Mika tandas tanpa sisa. “Buang kue itu.”

__ADS_1


__ADS_2