Red Thread

Red Thread
Beni


__ADS_3

Sesuai janji, sepulang sekolah, Kai mengantarkan Raga ke makam Nagra menggunakan mobil Anggita. Mika, Raya, dan Anggita masih sesekali saling melemparkan pandangan. Mereka tidak tahu, apa yang membuat dua orang itu akhirnya berbaikan. Kai tidak menceritakan apa pun. Bahkan, setelah Mika menanyakan hal itu berulang kali. Kai hanya menanggapinya dengan senyuman misterius.


"Kenapa lo bisa akur sama dia?" Pertanyaan kesekian Mika untuk Kai. Ia masih belum menyerah untuk mencari tahu tentang hal itu.


Kai menaikkan satu alisnya. Pandangannya jatuh pada Raga yang masih berjongkok di samping makam Nagra. "Lo mau tahu banget, ya?"


"Iya. Banget."


"Kalau mau tahu banget, jadi pacar gue dulu. Nanti gue kasih tahu jawabannya." Kai mengedipkan sebelah matanya, yang lantas membuat Mika memutar matanya.


"Bodo, Kai!" Mika meninggalkan Kai dengan kesal. Sementara, Kai terkekeh geli di belakang punggungnya.


Kai melajukan mobil Anggita meninggalkan area pemakaman setelah nyaris setengah jam berapa di sana. Raga lebih banyak bungkam di dalam mobil. Cowok itu hanya menyahut sekenanya ketika Anggita, Raya, atau Kai mengajak berbicara. Hanya Mika yang masih mendiamkan cowok itu.


"Kita mau kemana sekarang?" tanya Anggita.

__ADS_1


"Kita ke rumah Beni. Ka, rekamannya lo bawa, kan?" Kai melihat Mika melalui kaca spion tengah mobil.


"Aman." Mika mengacungkan ibu jarinya.


"Rekaman apa?" Raga baru ingat, jika kemarin Kai berjanji akan memberi tahunya sesuatu yang lain.


"Eh, lo kasih ke Raga rekamannya. Biar dia dengar dulu."


Mika tidak menyahut. Ia hanya memberikan alat perekam itu pada Raga. Anggita dan Raya yang juga belum mendengar isi rekaman itu, sedikit mendekat pada Raga.


Suara berat seseorang terdengar dari alat perekam itu. Tidak terlalu jelas di beberapa bagian, karena diikuti suara berisik dari musik dan gesekan pakaian Karena, Kai meletakkan alat itu di dalam jaket. Namun, setiap kalimat yang diucapkan seseorang itu berhasil membuat Raya, Anggita, dan Raga mematung. Raga yang paling terkejut. Seseorang itu menceritakan kejadian di villa yang selama ini ia yakini bahwa kejadian itu yang membuat Alana hamil.


"Kenapa dia nggak pernah bilang ke gue, sih?" Raga menggeram, kesal pada sepupunya yang sudah menyembunyikan rahasia sebesar itu.


"Memangnya, lo pernah tanya ke dia?" Pertanyaan Kai ditanggapi Raga dengan gelengan. "Itu, sih, salah lo sendiri."

__ADS_1


Kai menghentikan mobil di depan sebuah rumah megah dengan pagar besi tinggi. Rumah itu nyaris menyerupai istana. Tidak heran, mengingat orangtua Beni adalah seorang pengusaha kaya yang sudah malang-melintang di dunia bisnis.


Tidak sulit untuk menembus pagar tinggi rumah Beni. Satpam rumah itu sudah sangat mengenal Raga. Apa lagi, orangtua Beni dan Raga adalah rekan bisnis. Sehingga, Raga sering berkunjung ke rumah itu.


Beni muncul setelah Raga memencet bel sebanyak tiga kali. Cowok itu mengulas senyum ramah, sama seperti biasa. Namun, itu justru terlihat memuakkan di mata empat orang di depannya.


Tanpa aba-aba, tanpa memberi peringatan, Raga menyarangkan pukulan telak di wajah cowok itu. “Dasar Bajingan! Gue bakal bunuh lo sekarang!"


Beni terjengkang. Jika tangannya tidak menahan, punggungnya pasti sudah mendarat tidak mulus di lantai. "Maksud lo apa, sih Ga?"


Raga berdecak. Ia maju. Menarik kasar kerah kemeja Beni. "Lo itu bajingan! Lo nuduh Nagra, pura-pura jadi temen gue, ternyata lo busuk!"


"Ga, gue nggak ngerti maksud lo."


Raga menahan diri untuk tidak meludahi wajah cowok di depannya. "Lo yang udah buat Alana hamil. Lo yang udah ngelakuin itu ke Alana, Sialan!"

__ADS_1


Beni terdiam sesaat. Namun, kemudian ia tertawa. Keras, tetapi hambar. "Jadi, akhirnya, lo tahu semuanya?"


"Sialan lo! Kenapa lo ngelakuin itu ke Alana? KENAPA?"


__ADS_2