Red Thread

Red Thread
Kejutan untuk Kai


__ADS_3

Kai mengisap rokok dalam-dalam. Membiarkan paru-parunya dipenuhi dengan asap yang membuatnya terbatuk beberapa kali. Sudah lama ia tidak berkawan lagi benda itu. Sejak kematian Nagra, ia memutuskan untuk berhenti merokok—karena janji pada cowok itu. Namun rasa tertekan yang melingkupinya saat ini, membuatnya berusaha mencari pelarian. Dan, satu-satunya pelarian yang ia temukan adalah benda itu.


Pandangan Kai jatuh pada puncak gedung yang berusaha menggapai langit, di seberangnya. Pikirannya benar-benar kosong. Hanya bergerak seperti ranting di tengah aliran sungai. Mengambang dan mengikuti arus, tanpa tahu tujuan. Di tengah kekosongan itu, tiba-tiba sebaris pertanyaan timbul dalam kepalanya. Bagaimana rasanya jika jatuh dari gedung itu? Apakah Nagra akan menyelamatkannya lagi, seperti hari itu? Atau, Mika yang akan membantunya keluar dari kekosongan mengerikan ini?


*“Menjauh dari situ, bodoh! Lo bisa jatuh.” Bentakan Nagra membuatnya yang sudah berada di ujung gedung menoleh. Hari itu adalah hari ketika ia tahu mamanya akan menikah lagi. Orangtuanya memang sudah lama bercerai. Namun, ia selalu berharap mereka akan kembali bersama. Sayangnya, harapan itu musnah bersamaan dengan kabar yang ia terima pagi ini.


“Pergi!” Tandas Kai, tanpa menoleh pada Nagra di belakang punggungnya.


“Oke, kalau lo nggak mau menjauh dari situ. Gue bakal lihat lo loncat dari sini.” Bukannya pergi, Nagra justru duduk manis di lantai. Melihat Kai yang teramat putus asa.


Rasa bimbang mulai menyelemuti Kai. Perlahan, ia memundurkan kakinya. Ia menjauh dari tepi gedung. Di belakangnya, Nagra tidak bisa menahan senyum dan perasaan lega.


“Nggak ada gunanya lo loncat dari sana. Lo mati pun, keluarga lo nggak bakal balik lagi kayak dulu. Palingan mereka cuma sedih seminggu, terus ketawa lagi sama keluarga baru mereka. Dan, lo dilupain.”

__ADS_1


Nagra benar-benar sialan. Bagaimana bisa cowok itu mengatakan hal tersebut, saat ia berada di titik terendah? Namun perlahan, ucapan itu menyusup ke relung hatinya. Membuat Kai, mau tidak mau, harus menyetujuinya. Tidak ada jaminan orangtuanya akan kembali, meski ia terjun dari gedung ini.


Kai menangis tanpa suara. Lalu, Nagra melepaskan topi yang ia kenakan, dan memasangkannya di kepala Kai. Merendahkan bagian ujung depan, hingga menutupi setengah wajah Kai. Tanpa bertanya pun Kai sudah tahu, Nagra sedang membuatnya nyaman untuk menangis.*


Kai melemparkan sisa puntung rokok ke lantai, dan melumat benda itu dengan sepatu. Sisa kenangan itu membawa tangannya untuk mengambil puntung rokok yang lain. Masa bodoh dengan paru-parunya yang menghitam. Akan lebih baik, jika benda itu dapat membuatnya mati detik itu juga.


Belum sempat ia menghabiskan batang rokok ke sekian, tiba-tiba suara bantingan pintu terdengar di belakangnya. Sontak, Kai menoleh ke belakang. Samuel berjalan dari arah pintu dengan wajah merah padam.


Tanpa sempat memikirkan sesuatu, satu hantaman sudah bersarang di perutnya. Kai terhuyung, dan terjatuh di lantai. Ia tidak mengerti. Namun, Samuel tidak memberikannya kesempatan untuk bertanya. Samuel menindih tubuh Kai. Memukul Kai bertubi-tubi. Tidak peduli dengan Kai yang sudah terengah-engah dan babak belur.


*“Walaupun aku nggak jadi pacar kakak, tapi kita masih bisa temenan kok.”


“Gue nyesel udah jatuh cinta sama lo!”*

__ADS_1


Sialan! Kenapa di saat seperti ini, justru suara Mika yang terngiang di telinganya. Raut wajah kesal gadis itu, cara gadis itu tersenyum, marah, dan tertawa. Hal-hal yang selama ini tidak pernah Kai bayangkan akan berada dalam genggamannya, meski sesaat. Hal-hal yang mulai detik ini, tidak akan lagi menjadi miliknya. Dan, itu membuatnya sangat frustrasi. Dalam diam, di tengah napasnya yang mulai berat, hal yang bisa ia katakan hanyalah terima kasih dan maaf untuk gadis itu.


“Maaf. Karena mungkin, gue udah buat hidup lo berantakan. Terima kasih, udah bersedia jadi mimpi indah buat gue.”


“Sam, lo gila? Kai bisa mati kalau gitu caranya!” teriakan Satya terdengar dari arah pintu.


“Bajingan ini emang pantas mati! Dia udah ngebunuh temen gue. Bangsat! Harusnya, gue nggak pernah percaya sama lo!” Samuel menendang perut Kai, sekali lagi. “Lo pura-pura nyari tahu tentang kematian Nagra. Lo udah nuduh gue yang bunuh dia. Tapi, ternyata lo sendiri yang udah bunuh dia!


“Kita belum tahu yang sebenarnya, Sam. Belum tentu dia salah.” Satya berusaha menenangkan Samuel dan menarik cowok itu menjauh. Tetapi, gagal. Samuel menepis tangan Satya, dan kembali menerjang Kai. Samuel menarik paksa kerah seragam Kai. Memaksa Kai untuk berdiri. Lalu, menghadiahi dengan beberapa pukulan lagi. Lantas mendorong tubuh Kai, hingga mendarat dengan keras di lantai.


“Gue bilang berhenti, sialan!” Satya tidak tahan lagi. Ia mendaratkan pukulan di wajah Samuel, hingga cowok itu terjengkang. “Gue nggak membela Kai. Tapi, kalian temen gue. Gue nggak mau lihat kalian berantem. Gue tahu, lo sahabatan sama Nagra. Gue tahu lo marah, Sam. Tapi, nggak gini caranya. Lo bisa ngebunuh Kai, sebelum kasus ini nemuin titik terang!”


Samuel terengah-engah. Tangannya mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan rasa asin akibat pukulan Satya. Pandangannya menatap tajam Kai yang sudah tidak bergerak.

__ADS_1


Berengsek! Samuel merutuk dalam hati. Keinginan untuk menghabisi Kai detik itu juga, urung ia lakukan. Jika saja Satya tidak mengikutinya, ia pasti sudah mengirim Kai ke neraka.


Abi datang beberapa saat kemudian. Raut wajahnya benar-benar panik, ketika melihat kondisi Kai. “Kita bawa Kai ke rumah sakit!”


__ADS_2