
Tanggal akan 23 kembali berulang. Sejak pagi, Mika tidak melihat mamanya di rumah. Hanya ada papanya yang sedang membersihkan halaman belakang.
Tidak seperti biasanya, kali ini papanya tinggal di rumah lebih lama. Setiap kali Mika bertanya, papanya hanya mengatakan sedang ada urusan yang harus diselesaikan. Ia juga tidak melihat potongan kue ulang tahun di dalam lemari es. Jadi, ia berasumsi jika papanya yang memakan kue itu.
Gosip tentang Nagra yang beredar di sekolah kemarin, masih memenuhi pikiran Mika. Apakah benar Nagra memang dibunuh? Tapi, siapa yang membunuh cowok itu? Ia bahkan tidak pernah mengetahui Nagra memiliki masalah dengan orang lain.
Mika menghampiri papanya yang sedang membersihkan rumput di halaman belakang. Ia harus memastikan satu hal.
“Pa,” panggil Mika. Martin menoleh, dan tersenyum kecil.
“Kamu kok belum berangkat?” tanyanya, yang dibalas Mika dengan helaan napas berat.
“Teman-teman di sekolah Mika lagi ngomongin soal Nagra.” Ucapan Mika menghentikan kegiatan Martin. Lelaki itu menghampiri Mika yang duduk di kursi kayu. “Mereka bilang, Nagra meninggal karena dibunuh. Tapi, kata polisi—”
“Papa sudah menduga sejak awal. Ada kejanggalan dalam kasus kematian Nagra.” Martin terdiam sejenak. Tampak memikirkan sesuatu. “Beberapa hari ini, Papa sudah minta polisi untuk menyelidiki kembali kasus Nagra. Kamu bisa bantu papa?”
Kening Mika berkerut samar. “Mika bisa bantu apa?”
“Kamu cari segala hal yang berkaitan dengan Nagra. Siapa teman-teman yang pernah dekat dengan dia. Jangan lupa, cari tahu tentang Alana. Mungkin, dia bisa jadi kunci dari kasus ini.”
“Alana?” tanya Mika. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Barangkali papanya benar, Alana ada kaitannya dengan kematian Nagra. Bukankah Nagra meninggal beberapa menit setelah ia memberi tahu cowok itu jika Alana berselingkuh? Tapi jika benar Alana yang melakukan, berarti pembunuhan itu sudah lama direncanakan. Mengingat kasus kematian Nagra begitu rapi. Tidak meninggalkan jejak satu pun. Dan, dibuat seolah cowok itu bunuh diri. Sepertinya, Mika harus bertepuk tangan untuk usaha pelaku yang sangat totalitas.
“Kamu ingat, empat bulan setelah mereka berpacaran, Nagra memutuskan pindah ke apartemen. Menurutmu, itu kenapa?”
Mika tidak mendapat satu pun ide untuk menjawab pertanyaan papanya. Ia hanya tahu, setelah kematian Nagra, Alana menghilang. Gadis itu juga tidak ditemukan di hari pemakaman Nagra.
“Mika akan cari tahu. Sekarang, Mika mau berangkat dulu.”
“Hati-hati,” seru Martin, setelah Mika berpamitan.
“Oh iya, Pa. Siapa yang makan kue di lemari es, ya?”
Martin hanya mengeluarkan kecil menanggapi pertanyaan Mika.
♥
Kai duduk di dalam ruang tata usaha dengan perasaan gelisah. Ia sudah berada di sana sejak sepuluh menit lalu untuk merayu seorang ibu yang memang mengurus daftar informasi siswa, hanya demi mendapatkan nomor ponsel Mika.
“Boleh ya, bu. Saya akan lakukan apa saja. Tapi, tolong kasih saya nomor telepon Mika,” kata Kai dengan nada memohon, dan wajah dibuat semelas mungkin.
Bu Dara mengembuskan napas jengkel. “Saya tetap tidak bisa memberi daftar informasi siswa ke orang lain. Kenapa kamu nggak mencoba untuk minta langsung ke dia?”
Kai berdecak pelan. “Mika nggak akan ngasih saya nomor telepon dia, Bu.”
“Ya kalau begitu, kamu nggak usah lagi berusaha nyari nomor telepon dia. Dia saja nggak mau ngasih ke kamu.”
“Yah, bu,” Kai melenguh. “Tolongin saya, ya. Saya bantu buat bersih-bersih ruang TU deh.”
Bu Dara menggelengkan kepala. Tidak habis pikir dengan kekeraskepalaan Kai. “Kenapa kamu bersikeras mau minta nomor telepon dia?”
“Karena, saya suka sama dia.” Kai menjawab dengan spontan, sehingga membuat Bu Dara tertawa kecil.
Kai nyaris memekik bahagia, ketika akhirnya Bu Dara beranjak dari tempatnya dan berjalan untuk mengambil buku berisi daftar informasi siswa. Beberapa saat kemudian, Bu Dara menyerahkan selembar kertas kecil pada Kai. “Ini. Saya kasihan saya kamu.”
“Akhirnya!” Kai tidak bisa menutupi kelegaan, sekaligus kebahagiaan di wajahnya. Ia bahkan mencium punggung tangan Bu Dara beberapa. “Terima kasih, Bu.”
“Eh, jangan lupa. Kamu sudah janji mau bantu bersih-bersih ruang TU. Saya tunggu, nanti sepulang sekolah.”
Kai hanya bisa mengangguk pasrah, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa boleh buat? Ia terlanjut mengatakan hal itu. Setidaknya, ia sudah mendapatkan nomor ponsel Mika.
♥
“Kamu sudah dengar kabar tentang Nagra?” tanya Raga. Lantas, ditanggapi Mika dengan anggukan.
“Kenapa kabar itu baru muncul sekarang? Bukannya ini sudah hampir satu tahun Nagra meninggal?” Mika kembali mengangguk.
“Menurut kamu, gimana caranya aku nyari tahu tentang siapa yang bunuh Nagra sebenarnya?”
Raga terlihat berpikir. “Coba kamu ingat-ingat, siapa yang pernah datang ke rumah Nagra? Atau, siapa yang sering pergi bareng Nagra?”
Dua pertanyaan Raga hanya berujung pada satu nama, Alana. Entahlah, hari ini terlalu banyak nama Alana muncul dalam kepalanya. Hal itu membuatnya memperoleh satu kesimpulan sementara, jika Alana memang berperan dalam kematian Nagra. Namun ia tidak tahu, peran seperti apa yang dipegang gadis itu.
“Setahu aku, dia sering pergi sama Alana. Itu pun karena mereka memang pacaran. Nagra itu bukan cowok yang mudah bergaul. Aku bahkan nggak tahu, siapa teman-teman dekat dia.”
Raga manggut-manggut. “Kalau begitu, kamu harus cari tahu tentang Alana. Kamu masih ingat kunci apartemen Nagra? Kamu bisa cari sesuatu di sana. Mungkin saja, kamu menemukan petunjuk.”
Tepat sekali. Mengapa ia tidak pernah berpikir untuk menggeledah kamar Nagra setelah cowok itu meninggal? Bodohnya, ia hanya diam saja meski tidak setuju dengan dugaan polisis. Tanpa sekalipun terpikir untuk mencari petunjuk di apartemen cowok itu. Bukankah sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu jatuh juga? Sepandai-pandainya si pembunuh menghilangkan jejak, pasti akan ada yang tertinggal.
“Kamu bilang, hari ini mau ke makam Nagra? Kayaknya, aku nggak bisa antar kamu.”
“Kenapa?”
“Aku ada urusan. Barusan aja Papa ngasih tahu.”
Mika terpaksa mengangguk. Ia lupa jika sekarang hari Kamis. Raga tidak pernah bisa mengantarnya pulang di hari itu. Cowok itu selalu beralasan untuk membantu papanya. Jadi mau tidak mau, ia harus pergi ke makam Nagra sendiri.
__ADS_1
♥
Sudah lima belas menit Mika berdiri di gerbang sekolah, tetapi Pak Rudy belum juga datang. Ia sudah mengirimkan pesan pada lelaki itu. Namun, belum ada balasan.
Mika mendesah kesal. Angkutan yang biasa berlalu lalang di depan sekolah, juga tidak juga memunculkan keberadaannya. Ia bahkan berpikir, apakah sekarang para sopir sedang melakukan mogok masal.
Deru mesin motor membuat Mika menoleh ke arah gerbang sekolah. Kai ada di sana, bersama motor bebek hitam kesayangan.
“Lo lagi nunggu siapa?” tanya Kai.
“Lagi nunggu Pak Rudy. Nggak tahu, kapan mau datang.” Mika tidak bisa menyembunyikan raut kesal di wajahnya. “Kakak kenapa belum pulang?”
Kai tertawa kecil, seraya menggaruk tengkuk. Ia melemparkan pandangan ke sekitar Mika. “Raga kemana?”
“Pulang dulu. Ada urusan.”
Kai manggut-manggut. “Lo bareng gue aja kalau begitu.”
“Boleh?” Pertanyaan Mika, langsung dijawab anggukan bersemangat oleh Kai.
Kai mengulurkan helm pada Mika yang disambut gadis itu dengan gerakan sedikit ragu. “Ayo naik,” titah Kai, ketika Mika tidak kunjung bergerak.
Mika mengenakan helm. Kemudian, mengambil langkah lebih dekat pada Kai. Ia naik ke motor bebek itu dengan tangan bertumpu pada bahu cowok itu. Rok yang ia kenakan, membuatnya sedikit kesulitan ketika naik diboncengan.
Kai melepas jaket yang ia kenakan, kemudian menyerahkannya pada Mika. “Pakai! Buat nutup rok lo.”
Kai melajukan motornya, setelah memastikan Mika menggunakan jaket sesuai petunjuknya. Tanpa sadar, Kai tersenyum. Ia tidak pernah membayangkan akan membawa Mika diboncengan motor tua milik ayahnya. Gadis itu terlihat tidak keberatan, meski menaiki motor yang tidak bisa berjalan di atas kecepatan 60 kilometer per jam.
“Kita langsung pulang?” tanya Kai.
“Kita mampir ke pemakaman dulu boleh?” Kai mengangguk. Mika menunjukkan arah menuju pemakaman Nagra.
Jarak sekolah dengan pemakaman Nagra tidak terlalu jauh. Hanya setengah dari jarak rumah Mika ke sekolah. Hanya membutuhkan waktu kurang dari empat puluh lima menit—dengan motor berkecepatan ulat bulu—untuk bisa sampai di tempat itu.
Meski hari masih siang, suasana pemakaman selalu mencekam. Semilir angin membuat anak-anak rambut Mika yang tidak terikat berantakan. Mika melewati satu demi satu batu nisan, diikuti Kai di belakang punggungnya. Mereka berhenti di sebuah makam yang terletak di tengah area pemakaman.
Mika berjongkok di samping makam Nagra. Tangannya mengusap batu nisan yang masih tampak baru itu dengan lembut. Ada tatapan sarat kerinduan yang ditangkap Kai dari mata gadis itu. Selama beberapa menit, mereka memilih diam. Membiarkan kicau burung dan suara gesekan dedaunan yang tertiup angin memecah keheningan.
“Kak Nagra, apa kabar? Kangen nggak sama aku, sama Mama, sama Papa?” Mika memecah keheningan yang sempat terjadi. “Nggak terasa ya, udah enam bulan lebih Kakak pergi. Gimana di sana, kak? Senang nggak?”
Mika kemudian tertawa hambar. “Sampai sekarang, aku belum baikan sama Mama. Mama masih sering nuduh kalau aku yang udah bikin Kak Nagra meninggal. Kakak ingat waktu kita bertengkar hari itu? Aku sebenarnya ingin meminta maaf, karena udah marah-marah. Tapi, Kak Nagra keburu tidur dulu. Aku udah berusaha bangunin. Tapi, Kakak masih tetap nggak mau bangun.
Sampai sekarang, aku masih belum tahu. Apa memang karena aku Kakak meninggal hari itu? Apa karena aku ngasih tahu kalau Alana selingkuh? Apa mungkin kalau aku diam hari itu, Kak Nagra nggak akan meninggal? Maaf. Harusnya aku memang nggak ngasih tahu Kakak soal Alana. Seharusnya, kita nggak perlu bertengkar malam itu. Maaf.” Mika menundukkan kepala. Mengucapkan kata maaf itu beberapa kali. Air mata yang sejak tadi ia tahan, meluncur bebas dari sudut matanya. Kai berusaha menenangkan Mika, dengan mengusap-usap pelan punggung gadis itu.
“Gimana kalau memang aku yang udah buat Kak Nagra meninggal? Gimana kalau memang aku yang udah buat kak Nagra bunuh diri? Harus gimana lagi caranya aku minta maaf?” tanya Mika pada Kai. Yang ditanya hanya bisa terdiam. Tidak mengeluarkan sepatah kata, karena memang otaknya menolak untuk diajak bekerja sama saat ini.
Diam-diam, Kai tersenyum kecil. Setidaknya, ia mendapatkan satu fakta tentang kematian Nagra. Meski masih abu-abu.
♥
*Koridor sekolah terlihat lebih sepi hari ini. Ada kesan menakutkan dan dingin yang Mika tangkap. Sepanjang mata memandang, tidak ada teman-temannya yang biasa berdiri di sekitar koridor. Ia bahkan heran, apakah ia yang datang terlalu pagi? Atau, sekolah memang meliburkan siswanya tanpa pemberitahuan?
Keheranan Mika berakhir, saat matanya menangkap kerumunan di dekat ruang kelasnya. Mika mempercepat langkah, ingin mencari tahu apa yang ada di tengah lingkaran itu. Namun, seketika tubuhnya menegang. Nagra ada di tengah kerumunan itu. Wajah cowok itu pucat pasi. Pandangannya sayu. Nagra tidak menanggapi satu pun pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya.
Meski begitu, Mika tetap bahagia. Ia berharap jika ini bukan sekadar mimpi. Namun, tepat ketika ia hendak berlari menghampiri Nagra, cowok itu menatapnya tajam. Sepasang mata Nagra yang memerah, membuat kaki Mika terpaku di tempat. Tanpa Mika mengerti, Nagra tiba-tiba menunjuk ke arahnya. Kemudian, diikuti oleh seluruh pasang mata.
Mika berusaha mundur perlahan, saat satu per satu siswa di lingkaran itu mendekatinya. Tatapan mereka sama sekali tidak bersahabat. Menusuknya, seakan hendak menyingkirkannya. Mika ingin berteriak meminta penjelasan, tetapi Nagra sudah tidak ada di tempat.
“Pembunuh!” Mika tersentak. Raga berdiri di sampingnya. Sorot matanya seperti mengandung pedang yang mampu menghunus jantung Mika.
“A—aku bukan pembunuh,” elak Mika. Ia menepis tangan-tangan yang mulai mencoba untuk menariknya.
“Pembunuh pantas mati!” Teriak salah satu siswa dari kerumunan itu.
“Lo nggak pantas ada di sini!”
“Lo harus mati!”
Mika hendak mengambil langkah untuk melarikan diri, tetapi tangan seseorang mencekal pergelangan tangannya. Wajahnya bertambah pucat saat mengetahui jika seseorang itu adalah Nagra. Raut wajah Nagra kaku. Mika memjamkan mata. Namun ketika ia membuka mata, wajah Nagra berubah. Wajah itu dipenuhi goresan benda tajam, pucat, dan ada darah yang menetes dari beberapa luka.
Mika berteriak ketakutan. Tetapi, tidak ada suara yang keluat. Nagra menggerakkan bibirnya, perlahan. Dengan suara berat, cowok itu berkata, “Tolong aku.”
Seketika Mika sesak napas. Ia hanya bisa mematung, saat melihat tubuh Nagra perlahan membias. Sosok itu hilang ditelan cahaya putih menyilaukan. Mika tidak menyadari yang terjadi, tiba-tiba saja tubuhnya terdorong. Ia terperosok ke dalam lubang gelap yang tidak berujung. Teriakan dan tuduhan itu masih terdengar dengan jelas, meski ia tidak mampu lagi melihat cahaya.*
♥
Tidak hanya dalam mimpi, Mika memang benar-benar terjatuh. Ia meringis saat tubuhnya terjatuh ke lantai. Ia mengusap-usap punggungnya yang sudah berhasil mendarat dengan keras. Mika membenarkan letak kursi yang ikut terguling karena ulahnya. Kemudian, ia kembali duduk di atas benda tersebut.
Ia terdiam beberapa saat. Jadi, itu hanya mimpi? Mengapa terasa sangat nyata? Mengapa seakan Nagra memang meminta tolong padanya?
Ia menjatuhkan pandangan pada gelang bertali merah milik Kai yang ia temukan beberapa hari lalu. Rupanya semalam ia tertidur saat mencoba mengingat, di mana ia pernah melihat gelang seperti itu.
Mika menyingkirkan selimut yang menutupi punggungnya. Sudah nyaris pukul 6 pagi. Ia harus segera bersiap ke sekolah.
♥
__ADS_1
Mika bisa bernapas lega, karena kejadian dalam mimpinya semalam tidak benar-benar terjadi di dunia nyata. Keadaan koridor masih tetap ramai. Beberapa teman menyapanya. Anggita dan Raya bahkan berseru girang saat ia masuk ke kelas.
“Ka, lo harus lihat ini.” Raya mendorong sebuah kantong plastik pada Mika.
Mika membuka kantong plastik itu dengan kening berkerut. Tangannya mengambil sebatang cokelat, lengkap dengan kertas kecil yang sengaja di tempel di benda itu.
“Katanya, cokelat bisa memperbaiki suasana hati. Semoga ini bisa buat lo seneng.” –Kai.
“Manis banget! Gue juga mau dong dikasih cokelat!” Anggita berseru, membuat beberapa mata menoleh ke arah mereka.
Raya mengambil kertas itu dari tangan Mika. “Kayaknya, Kak Kai beneran suka sama lo.”
“Jadi, sekarang lo direbutin dua cowok keren? Astaga, Ka. Kapan gue bisa kayak lo?” Lagi-lagi Anggita berteriak heboh.
Mika memutar bola matanya. “Jangan mau. Ribet.”
Anggita tertawa, lantas mengambil cokelat itu dari tangan Mika. Membuka bungkusnya, dan mengambil satu potong.
“Eh, Ka. Tadi Kak Kai bilang, katanya mulai hari ini lo harus hati-hati. Memangnya ada apa?” tanya Raya dengan mulut berisi cokelat.
Satu alis Mika naik. Kemudian, ia menggeleng pelan. “Hati-hati soal apa?”
Anggita mengedikkan bahu. “Dia cuma ngasih itu aja sih. Tapi dari ekspresinya, kayaknya dia nggak main-main.”
Mika masih terjebak dalam pikirannya sendiri, ketika tiba-tiba seluruh siswa di kelasnya berhamburan ke luar. Mereka berlari, seakan ingin melihat sesuatu yang sangat menarik di luar ruangan.
“Ada apa sih? Lihat yuk!” Anggita beranjak dari tempatnya, dan ikut berlari ke luar kelas. Raya mengikuti di belakang. Sedangkan, Mika masih terdiam di tempat. Ada ketakutan yang tiba-tiba menyusup dalam dadanya. Jantungnya berdegup kencang. Bahkan, keringat dingin sudah membasahi dahi sebelum ia sempat melihat sesuatu itu. Dalam hati, ia terus berharap jika itu bukan sesuatu yang hadir di mimpinya semalam.
“Ka, ayo!” seru Raya dari ambang pintu kelas. Dengan langkah gontai, Mika mengikuti dua temannya.
Mika tidak tahu yang terjadi. Semakin ia mendekati mading sekolah, semakin banyak pasang mata yang menatap tajam ke arahnya. Ia menelan ludah dengan susah payah. Mencoba menepis pikiran buruk yang melintas dalam kepalanya.
Ia menerobos kerumunan siswa yang masih berdiri di depan mading. Seketika itu pula, seluruh tubuhnya mati rasa. Jantungnya berhenti berdetak, beberapa saat. Membuatnya nyaris mati dalam arti yang sebenarnya. Tatapan matanya yang tertuju pada selembar kertas di mading, perlahan mengabur. Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya. Tubuhnya gemetar. Menahan tangis, takut, dan marah.
Ada beberapa kalimat di kertas itu yang membuat Mika kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Beberapa kalimat, lengkap dengan fotonya dan Nagra.
"Masih ingat Nagra—mantan wakil ketua OSIS tahun lalu? Nagra yang pernah digosipkan meninggal karena bunuh diri, ternyata tidak benar-benar bunuh diri. Ada seseorang yang menjadi penyebab kematiannya. Dan, orang itu adalah adiknya sendiri. Mika Arestya.”
Sebuah panah yang mengarah ke atas terletak tepat di akhir paragraf. Menunjuk ke arah foto Mika yang terpampang besar. Lebih besar daripada milik Nagra.
*Apa-apaan ini?
Gue bukan pembunuh.
Bukan gue yang buat Nagra meninggal.*
Mika berharap bisa mengucapkan kalimat-kalimat itu. Namun yang terjadi, ia hanya diam membisu. Mematung di depan selembar kertas itu.
Ia menggigit bibir kuat-kuat, hingga lidahnya merasakan rasa asin yang mengalir. Dengan tangan gemetar, ia menyobek kertas itu dari mading.
“Jadi, Mika adiknya Nagra?”
“Nggak nyangka ya. Tega banget.”
“Nagra punya salah apa sama dia?”
Bisik-bisik itu mulai terdengar, disertai dengan tatapan mata yang menusuk tajam.
“Jadi, lo penyebab Nagra meninggal? Kenapa hari itu lo pura-pura nggak kenal sama dia? Pura-pura nggak tahu?” Anggita tertawa hambar, sambil bertepuk tangan. “Lo hebat banget, ya. Nggak nyangka kalau selama ini gue berteman sama pembunuh!”
“Ini nggak seperti yang kalian pikirkan.” Mika berkata pelan. Entah mengapa, tiba-tiba saja suaranya menghilang.
“Lo mau mengelak apa lagi? Kita udah tahu yang sebenarnya. Sepandai-pandainya lo menyembunyikan bangkai, pasti akan kecium juga. Pembunuh nggak seharusnya ada di sini!” imbuh Raya. Gejolak kemarahan tergambar jelas di sepasang bola matanya. Raya yang selama ini terkenal kalem dibanding Mika dan Anggita, justru berubah menjadi seseorang yang menakutkan di situasi tertentu, seperti saat ini. Dengan kasar, Raya mendorong tubuh Mika hingga jatuh menghantam dinding.
“Pembunuh pantas mati!” teriak salah satu teman Mika yang lain.
“Lo harus bertanggung jawab atas kematian Nagra!”
“Harusnya lo dihukum seberat-beratnya!”
“Nagra itu orang baik. Kenapa lo tega?”
“Nggak nyangka ya, Nagra punya adik seorang pembunuh!”
Mika menutup telinga. Berusaha menulikan telinga dari tuduhan dan penghakiman itu. Tetapi sekeras apa pun ia mencoba, suara-suara itu tetap mampu menembus pendengarannya. Mika menangis tanpa suara. Tanpa isakan. Dan, tanpa air mata.
Semua yang terjadi, nyaris sama dengan yang ada dalam mimpinya. Hanya saja, kali ini tidak ada Nagra.
Mika bisa mendengar suara retakkan hatinya sendiri. Remuk tidak berbentuk. Matanya menatap nanar punggung teman-temannya. Tidak ada yang memedulikannya. Mereka pergi begitu saja.
Jika bisa, ia ingin mati detik itu juga. Setidaknya, mati akan membuatnya terbebas dari perasaan ini. Mati membuatnya tidak perlu memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Omong kosong dengan keyakinan untuk bertahan. Ia telah hancur. Bersepai menjadi kepingan kecil yang berserakan.
Seiring langkah teman-temannya yang semakin menjauh, Mika bisa menangkap sosok Kai dan Raga yang berdiri berlawanan arah. Mereka sedang memandang ke arahnya dengan tatapan tidak terbaca.
Tidak ada yang mendekat, meski Mika sudah berteriak meminta tolong melalui tatapan mata. Mereka tetap bergeming, seakan sedang menyaksikan pertunjukkan drama yang memuakkan, tetapi enggan untuk meninggalkan.
__ADS_1