Red Thread

Red Thread
Lelah


__ADS_3

Mika mencoba menghubungi nomor Raga berkali-kali, tetapi tidak ada satupun jawaban. Puluhan pesan singkat telah ia kirimkan pada cowok itu. Namun, tidak ada satu pun balasan. Raga hanya membaca pesan itu.


Mika mencoba untuk mengirimkan pesan, sekali lagi. Berharap kali ini Raga bersedia membalas pesannya, meski hanya satu kata.


Mika Ars


Kamu percaya aku, kan?


Ketika seluruh teman-temannya di sekolah menganggap dirinya sebagai pembunuh, setidaknya ada satu orang yang memercayainya. Dan, orang itu adalah Raga. Cowok itu yang selalu ada di sampingnya setiap kali terjatuh.


Namun nyatanya, hal itu tidak berlaku saat ini. Raga tidak acuh dan Mika harus kembali menelan kecewa. Cowok itu hanya membaca pesan darinya. Membuat sesuatu dalam dirinya berkata, jika cowok itu pun tidak percaya.


Suara pecahan kaca seketika membuat Mika tersentak. Ia melemparkan ponsel ke atas ranjang begitu saja. Lantas, berlari ke luar kamar. Pandangan matanya jatuh pada mamanya yang sedang memukul-mukul meja dengan sepatu di lantai bawah.


Mika memekik. Ia berlari menuruni tangga. Kemudian, mengunci gerakkan mamanya dengan pelukan dari belakang. Wanita itu berontak. Berusaha untuk melepaskan diri, seperti orang kerasukan. 


“Ma, ini Mika. Tolong berhenti.” Mika menahan desisan perih, karena ia tidak sengaja menginjak pecahan kaca di lantai.


“Lepas! Kamu anak pembawa sial! Pergi kamu dari sini!”


Yulia memukul keras lengan Mika dengan sepatu yang ia bawa. Mika memekik, tetapi tidak melepaskan lingkaran tangannya. Lengannya bahkan sudah mati rasa. Mamanya tidak hanya memukul sekali, tetapi berkali-kali.


“Kak Nagra, tolongin aku.” Mika merintih dalam hati. Tangannya yang mulai lemas, tanpa sadar terlepas dari tubuh Yulia. Wanita itu mengempaskannya. Membuat tubuhnya mendarat dengan keras di lantai. Mika bahkan tidak sadar, jika ada pecahan kaca yang menancap di lengannya.


“Pergi kamu dari sini! Saya nggak sudi lihat wajah kamu lagi!” Yulia menarik lengan Mika yang terluka. Menyeret gadis itu menuju pintu rumah.


Hujan deras dan gemuruh guntur menyambut Mika ketika menginjakkan kaki di depan pintu. Ia memohon dan meronta agar mamanya melepaskan dirinya. Dalam hati ia berharap, agar Papanya segera pulang dan menyelamatkannya—entah kemana lelaki itu hari ini. Ia tidak bisa menghadapi mamanya seorang diri. Sekarang tepat tanggal 23, dan mamanya sedang mabuk berat.


Meski tidak menyentuh bagian yang terluka, tetap saja Mika bisa merasakan tangannya berkedut-kedut. Luka itu semakin terasa perih akibat cengkeraman mamanya.


Mika terjerembab. Tubuhnya mendarat di atas rumput basah. Ia meringis, akibat pendaratan yang sangat tidak mulus.


“Saya mau, kamu temui Nagra. Bawa dia kembali ke rumah ini!” teriak Yulia, di bawah hujan yang semakin deras.


“Biarkan Mika masuk, ma. Dingin.” Mika mulai menggigil. Angin malam ini juga berembus cukup kuat.


Yulia hanya tertawa keras. Menggila. Tanpa menghiraukan Mika, ia kembali ke rumah. Menutup rapat pintu rumah besar itu.


Mika memaksakan diri untuk berdiri. Lantas, meringkuk di teras rumah. Tubuhnya menggigil hebat. Ditambah lagi sensasi perih di tangannya. Ada tiga pecahan kaca yang menancap di lengannya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil satu per satu kaca itu. Ia mendesis keras, setiap kali berhasil mengambil satu. Darah menetes, membasahi lantai. Bercampur dengan genangan kecik dari air hujan yang memercik.


Rasanya perih. Tetapi, cukup menyenangkan. Mika sengaja memperlambat gerakannya. Membiarkan rasa sakit itu menguasai dirinya. Setidaknya, ini lebih baik daripada rasa sakit hatinya.


Mika tertawa kecil, saat ia berhasil melepas satu lagi pecahan kaca itu. Dalam hati ia bertanya, semenyedihkan inikah hidupnya? Bahkan, seorang pembunuh pun hanya akan meringkuk di dalam penjara dan membusuk di sana. Lantas, mengapa ia yang hanya—kebetulan—dituduh sebagai pembunuh harus merasakan sakit yang demikian menyesakkan?


Barangkali, mati akan jauh lebih menyenangkan. Godaan untuk menggoreskan pecahan kaca di urat nadi menghebat dalam dirinya. Mati tidak akan membuatnya berhadapan dengan mamanya lagi. Bukankah mati juga akan membuatnya bertemu Nagra? Ia bisa bercerita pada cowok itu seperti dulu. Menceritakan hal-hal yang ia lewati selama beberapa bulan ini.

__ADS_1


Berkali-kali Mika berpikir untuk mengikuti kepergian Nagra. Namun, berkali-kali pula ia menahan diri. Ada sesuatu yang seakan membisikkan bahwa masih ada yang harus ia selesaikan. Ada sesuatu yang mengatakan bahwa ia tidak boleh mati sebagai pecundang. Tidak boleh mati sebagai seseorang yang tidak bisa membela diri setelah dituduh sebagai pembunuh. Ia yakin, tidak hanya teman-temannya yang tertawa bahagia ketika menemukannya mati gantung diri atau terjun dari gedung tinggi, tetapi juga mamanya.


Mika mendesah semakin keras. Pecahan kaca yang ketiga, tertancap cukup dalam. Membuatnya harus merasakan sakit yang berlipat ganda.


Pandangan matanya yang semula berkabut karena air mata, perlahan meredup. Bibirnya sudah bergetar. Tubuhnya menggigil semakin hebat. Tepat setelah itu mencabut serpihan ketiga, pandangannya menggelap. Tubuhnya seperti melayang. Ia tidak sadarkan diri.



Sejak kejadian itu, sekolah menjadi salah satu yang Mika benci selain apartemen Nagra. Cemoohan dan tatapan sinis masih menjadi santapannya selama beberapa hari ini. Mika tidak tahu lagi, apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki keadaan. Jangankan menceritakan yang sebenarnya, melihatnya saja mereka enggan.


Mika berjalan memasuki toilet. Selama jam pelajaran hari ini, ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Rasanya, ia tidak bisa berkutik di dalam kelas. Setiap gerakan kecil yang ia lakukan, seakan kesalahan besar di mata teman-temannya. Mereka bukan hanya memandangnya dengan tatapan benci. Mereka juga menatapnya dengan sorot takut, seakan ia adalah seorang psikopat tanpa hati. Bahkan, Raya dan Anggita juga meninggalkannya. Mereka memilih untuk berpindah tempat. Meninggalkannya sendiri di sudut ruangan yang kini semakin terasa pengap dan menyesakkan.


Ia baru selesai mencuci muka, saat Raya dan Anggita memasuki toilet. Mereka masih bisa tertawa dan bersikap biasa, tanpa dirinya. Mereka bahkan tidak sedikitpun menoleh ke arahnya. Seolah, ia hanyalah makhluk tidak kasat mata.


“Gita, Raya.” Mika memberanikan diri untuk memanggil dua temannya itu. “Gue minta maaf.”


Anggita menoleh pada Mika dengan sorot muak. Lalu, ia tertawa sinis. “Lo nggak ada salah sama kita. Nggak perlu minta maaf.”


Mika memejamkan mata. Menahan perih yang menyusup dalam dadanya. “Gue nggak tahu lagi harus gimana jelasinnya, kalau bukan gue pembunuh Nagra.”


“Lo pikir, kita percaya gitu? Harusnya sekarang lo sadar diri. Percuma lo terus ngelak kalau bukti itu udah ada di depan mata!”


“Gue bukan pembunuh, Git. Gue nggak tahu, kenapa Nagra bisa meninggal. Gue nggak tahu!” Mika berteriak. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Sekali kerjapan saja, butiran bening itu akan membasahi pipinya.


Tanpa diduga, Anggita mendaratkan satu tamparan di pipi Mika. Hingga Mika harus mundur dua langkah. “Lo tahu arti kata percuma nggak sih, Ka? Nggak guna juga lo teriak-teriak kalau lo bukan pembunuh. Lo nggak punya bukti, kan? Udahlah. Buang-buang waktu ngeladenin lo.”


Anggita berjalan menghampiri Mika, membuat gadis itu terpojok di sudut ruangan. Ada sorot terluka di sepasang matanya. “Gue mau jawab pertanyaan lo tentang mantan gue waktu itu.” Ucapan Anggita terhenti oleh air mata yang tiba-tiba meluruh membasahi pipinya. “Mantan gue itu Kak Nagra. Gue pacaran sama dia sejak SMP. Tapi beberapa bulan sebelum MOS, dia mutusin gue. Tanpa gue tahu alasannya. Gue berusaha nyari alasannya, tapi apa? Lo bunuh dia lebih dulu, sebelum gue tahu alasannya! Sialan!”


Mika tercengang. Anggita pernah berpacaran dengan Nagra? Kenapa dia tidak pernah mengetahui hal itu? Fakta apa lagi yang tidak ia ketahui?


Hanya ada satu jawaban dalam kepala Mika, perihal alasan Nagra memutuskan Anggita. Dan, alasan itu adalah Alana. Namun belum sempat ia mengatakan itu, Anggita sudah kembali berbicara.


“Kalau lo mau jawab, Kak Nagra putusin gue karena pacaran sama Alana. Lo salah besar! Mereka nggak pernah pacaran. Kak Nagra bahkan udah janji mau ngejauhin Alana demi gue. Kak Nagra nggak pernah mencintai Alana. Kita bahkan udah punya rencana bakal kuliah bareng, di tempat yang sama.” Tubuh Anggita meluruh. Bahu gadis itu berguncang keras. “Kak Nagra udah janji mau nunggu gue sampai selesai kuliah. Dia mau ngelamar gue. Tapi, lo bunuh dia lebih dulu. Sebelum rencana itu terwujud!”


Mika kehilangan kata-kata. Hanya air mata yang mewakili, seperti apa perasannya sekarang. Jika bisa, ia ingin menukar jiwanya dengan Nagra saat ini juga. Nyatanya, terlalu banyak yang terluka karena kepergian Nagra. Mungkin, akan lebih baik jika hari itu ia yang mati. Bukan Nagra. Setidaknya, tidak akan ada orang-orang yang terluka atas kepergiannya.


“Mungkin akan lebih baik, kalau dia pergi dengan orang lain atau menikah dengan orang lain. Setidaknya, gue tahu kalau dia masih baik-baik saja. Tapi, sekarang dia pergi untuk selamanya. Nggak akan pernah kembali.” Anggita bangkit dari posisinya. Tangannya mengusap air mata dengan kasar. Matanya yang memerah, menatap tajam Mika. “Dan, itu semua karena lo. Lo pantas mati, Mika!”


Anggita menarik rambut Mika, seperti orang yang kesurupan. Raya bahkan tidak kuasa menahan kekuatan Anggita.


Mika tidak melawan. Ia menerima setiap pukulan, dorongan, jambakan, dan cakaran kasar Anggita di tubuhnya. Jika itu bisa membuat gadis itu merasa lebih baik, ia akan membiarkannya. Bahkan, ia berharap Anggita membunuhnya saat itu juga. Setidaknya, ia tidak perlu lagi merasakan penderitaan batin lebih lanjut.


Tubuh Mika limbung, ketika Anggita membenturkan kepalanya ke tembok. Telinganya berdenging, seperti suara TV yang kehabisan acara di tengah malam. Namun, ia masih bisa mendengar teriakan Raya. Masih bisa mendengar isakan putus asa dan kecewa Anggita. Juga masih bisa mendengar gelak tawa Nagra. Semua itu saling bersahutan di telinganya.


Mika tersenyum di tengah rasa sakitnya. Ia yakin, tubuhnya sudah penuh memar dan luka. Anggita masih belum menyerah untuk membuatnya tidak berdaya. Raya terus berusaha menghentikan Anggita. Meski berulang kali, gadis itu harus terdorong dan menabrak dinding. Beruntung, toilet perempuan terletak paling ujung dan berjarak beberapa meter dari bangunan lain. Sehingga, tidak ada yang bisa mendengar kegaduhan di tempat itu. Untungnya pula, hanya ada mereka bertiga di tempat itu.

__ADS_1


“Orang kayak lo nggak pantas hidup, Ka! Lo itu monster! Psikopat! Pembunuh!”


Gejolak bahagia semakin bertambah di hati Mika. Beriringan dengan helaan putus asa napasnya. Telinganya mulai berdenging. Pandangannya menggelap. Nyaris ia saja tidak sadar, jika Anggita tidak segera menyiram tubuhnya dengan air. Gadis itu menyiram tubuhnya beberapa kali, hingga ia menggigil.


"Bunuh gue sekarang, Git.” Mika bersorak dalam hati. Berharap Anggita akan melakukan yang lebih hebat dari ini. Ia sudah siap untuk mati.


“Git, udah! Lo nggak mau jadi pembunuh juga, kan?” Raya menahan lengan Anggita yang hendak kembali menyiram air.


Anggita mendesah. Lantas, melemparkan gayung itu ke lantai dengan keras. Ia berjongkok, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Mika yang sudah babak belur. Jari tangannya mencengkeram kedua pipi Mika.


“Lo tahu, ini sama sekali nggak sebanding dengan rasa sakit hati gue. Sama sekali nggak sebanding dengan apa yang udah lo lakuin ke Nagra!”


Tepat setelah mengatakan itu, Anggita pergi bersama Raya. Meninggalkan Mika yang hanya bisa tertawa miris. Menertawakan keadaannya sendiri.


“Kenapa lo nggak bunuh gue aja, Git? Kenapa?” Mika berucap pelan, di tengah napasnya yang sudah satu-satu.


Ia mendesah. Berusaha bangkit dari posisinya, tetapi gagal. Sekujur tubuhnya terasa ngilu. Akhirnya, ia merebahkan tubuhnya di atas lantai. Tidak peduli pada jaket dan seragamnya yang sudah terkena bercak darah akibat luka dari serangan Anggita dan luka semalam.



Jika tidak ada yang memercayainya, untuk apa lagi ia hidup? Bukankah selama ini ia hanya membuat hidup orang lain berantakan? Karena Anggita tidak berhasil membunuhnya kali ini, maka ia yang akan melakukannya sendiri.


Mika keluar dari toilet ketika jam jam istirahat telah berakhir setengah jam lalu. Dengan tubuh basah kuyup dan kondisi berantakan penuh luka, ia berlari menuju atap sekolah. Tidak ada yang melihatnya di koridor. Semua kelas sedang melakukan kegiatan pembelajaran. Dan, semua pintu kelas ditutup rapat.


Mika merentangkan tangannya lebar-lebar, ketika kakinya menginjak lantai beton di bagian gedung paling atas. Dari tempat itu, ia bisa melihat langit dengan lebih dekat. Maupun, lapangan sekolah yang terhampar luas.


Segaris senyum tipis terukir di bibirnya. Barangkali, tidak terlalu buruk jika ia menjatuhkan diri di lapangan itu. Ia pasti hanya sekali merasakan sakit yang luar biasa, sebelum menemui kebebasan. Dalam kepalanya, berputar tentang seberapa besar kemungkinan ia mati jika menjatuhkan diri dari atas gedung setinggi tiga puluh meter itu?


Ia pasti tidak hanya mati. Namun, tubuhnya juga hancur berantakan. Teman-temannya akan melihat tubuhnya yang sudah tidak berbentuk. Mereka akan membicarakannya, satu atau dua minggu ke depan. Setelah itu, selesai. Mereka akan melupakannya. Dan, menganggapnya sebagai seorang pengecut. Seorang pengecut yang membunuh kakaknya sendiri, lantas memilih mati dengan bunuh diri.


Ia ingin tertawa, setiap kali mendengar ada yang mengatakan bahwa seseorang yang bunuh diri adalah pengecut. Bunuh diri mungkin tindakan pengecut. Tetapi, tidak pernah ada alasan remeh di baliknya. Orang lain tidak pernah merasakan apa yang dirasakan pelaku bunuh diri. Mereka hanya bisa menghakimi dan mencemooh.


Mika mengambil langkah lebih dekat dengan tepi gedung. Tubuhnya yang kurus, seperti hendak diterbangkan oleh angin.


Ia memajukan satu kaki, membiarkannya melayang di udara selama beberapa saat. Seakan bersiap untuk menyambut kebebasannya.


Perlahan tubuhnya condong ke depan. Tidak ada raut ketakutan di wajahnya. Hanya ada senyum kedamaian yang akan ia bawa untuk menyambut kematian. Ia bisa merasakan tubuhnya melayang. Tiga detik lagi, ia akan membawa tubuhnya untuk terjun ke bawah. Ia mulai menghitung dalam hati.


Satu.


Dua.


Tiga.


Tepat dihitungan ketiga. Tepat ketika kakinya sudah hampir melayang seluruhnya. Seseorang menarik lengannya dari belakang.

__ADS_1


Tubuhnya limbung, dan mendarat di atas tubuh seseorang. Ia membuka mata. Sepasang kelopak matanya terbuka lebar, ketika mengetahui seseorang yang sedang meringis kesakitan di bawahnya.


Kai.


__ADS_2