Red Thread

Red Thread
Tentang Alana


__ADS_3

"Alana memang hamil, tapi bukan sama Nagra. Ada orang lain nggak bertanggung jawab yang udah ngelakuin itu ke dia." Pernyataan itu berputar dalam kepala Mika, hingga menimbulkan desakan kemarahan di dadanya.


"Tapi, kenapa Alana malah nuduh Nagra yang ngelakuin itu?" Tanpa sadar, nada suara Mika naik satu oktaf. Kai harus meremas tangan gadis itu untuk kembali menenangkan.


"Karena, Alana takut Nagra akan ninggalin dia kalau sampai Nagra tahu yang sebenarnya. Gue nggak tahu, sebenarnya Alana sayang atau terobsesi sama Nagra. Tapi, setelah tahu dia hamil, dia bersikeras mencari cara agar ia bisa mengakui jika itu anak Nagra. Dengan begitu, Nagra nggak akan bisa lari dari dia. Gue tahu, Alana juga salah. Dia memaksa Nagra untuk bertanggung jawab atas sesuatu yang nggak dilakukan sampai cowok itu frustrasi. Gue udah berkali-kali bilang ke Alana supaya dia ngaku aja yang sebenarnya ke Nagra. Tapi, Alana tetap Alana. Kasihan juga gue lihat Nagra waktu itu."


Kepalan tangan Mika mengeras. Kai bahkan bisa merasakan tangan itu bergetar dalam genggamannya. "Sabar, Ka." Kai membisikkan kalimat itu di telinga Mika.


Mika memejamkan mata sejenak, menahan amarah yang sudah memuncak. Lalu, dengan suara yang dipaksa terdengar biasa, ia kembali berkata. “Jadi, kalau bukan Kak Nagra? Siapa yang buat Alana hamil?"


Lelaki itu menggeleng. Entah ia tidak tahu, atau memang tidak ingin memberikan jawaban.


 Mik ingin menghantam apa pun yang ada di depannya saat ini. Jika bukan karena cekalan Kai, ia pasti sudah mengamuk di halaman klub ini. Alana memang sialan. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa gadis itu menjatuhkan tuduhan pada Nagra? Memangnya, seberdosa itukah Nagra karena tidak ingin menerima perasaan Alana? Sebutir air mata akhirnya mengalir di pipi Mika, sebagai pertanda bahwa sedang hancur saat ini.


          

__ADS_1


“Gue masih ingat sehancur apa Alana saat tahu Nagra meninggal. Dia bener-bener ngerasa bersalah dan terpukul. Hal itu membuat dia banyak ngelamun. Sampai suatu hari, dia jatuh di kamar mandi karena hilang fokus. Dan, dia keguguran. Itu yang akhirnya membuat dia jadi kayak sekarang.” Lelaki itu kembali mengisap rokoknya.


“Kalau bukan Kak Nagra, kenapa Kak Nagra nggak bisa mengelak dari tuduhan itu?” pertanyaan itu akhirnya keluar dari bibir Mika.


 “Alana pernah cerita kalau ada kejadian di villa yang membuat Nagra nggak bisa mengelak dari tuduhan itu."


"Kejadian apa?” Suara Kai meninggi. Ia sudah teramat penasaran dengan kejadian yang disebut-sebut oleh Samuel sejak hari itu. Namun, tidak ia temukan juga jawabannya.


           


Mika membekap mulutnya. Dadanya seketika sesak, membayangkan bagaimana perasaan Nagra hari itu. Sama seperti dirinya. Nagra dituduh atas sesuatu yang tidak pernah diperbuat. Cowok itu disudutkan, dijadikan tersangka atas kesalahan yang tidak pernah mengotori tangannya.


“Alana sialan!” Mika tidak tahan untuk tidak berteriak. Suara tangisnya memecah malam, mengalahkan dentum musik dari dalam klub. Kai melingkarkan tangannya di bahu gadis itu. Menyandarkan kepala Mika di dadanya. Membiarkan gadis itu menumpahkan segala kemarahan dan tangisannya.


“Kak Nagra mati karena cewek sialan itu, Kai. Berengsek!”

__ADS_1


“Lo tenang dulu ya, Ka. Kita juga nggak bisa nyalahin Alana. Dia juga terpojok.” Kai mencoba untuk menenangkan Mika.


“Apa? Dia memang udah nggak bener dari awal, Kai! Dia murahan!”


“Mika!” Kai mengeluarkan bentakan. Sementara, sepupu Alana hanya menyaksikan hal itu dengan sorot datar. Lelaki itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Sebab ia tahu, tidak ada gunanya membela Alana. Bagaimanapun juga, gadis itu adalah biang dari rasa sakit orang-orang di sekitar Nagra. Meski, Alana juga tidak bisa dipersalahkan. Seseorang di sana yang seharusnya bertanggung jawab atas semua kejadian ini. Seseorang yang hingga saat ini identitasnya belum diketahui. Dan, hanya Alana yang mengetahui orang itu.


“Ada lagi yang mau kalian tanyain, sebelum gue balik ke dalam?” tanya lelaki itu. Tangannya melumat puntung rokok yang sudah mengecil di atas kursi. Kemudian, beranjak untuk membuangnya ke tempat sampah. 


Kai menggeleng. “Thanks atas informasinya, Bro. Maaf kalau kita nyinggung perasaan lo, maupun Alana.”


Lelaki itu tersenyum sangat tipis. Lalu, menepuk bahu Kai. “Santai. Gue tahu perasaan kalian. Gue harap, pelaku pembunuhan Nagra segera tertangkap. Lo juga bisa hubungi gue kalau ada sesuatu. Lo pasti punya nomor Alana. Gue pakai nomor ponsel dia.”


Selepas kepergian lelaki itu, Kai menuntun Mika yang masih terisak ke dalam mobil.


"Lo mau jalan-jalan dulu sebelum pulang?"

__ADS_1


Mika menggeleng untuk menanggapi tawaran Kai. Ia sedang tidak ingin melakukan apa pun. Dalam kepalanya, hanya ada kemarahan pada Alana dan cara untuk membalas yang tidak akan mungkin ia lakukan.


__ADS_2