
“Lo darimana?” Pertanyaan Kai langsung menyerbu Mika begitu menginjakkan kaki di teras rumah cowok itu.
Mika terbelalak saat melihat Kai berdiri di ambang pintu rumah. Cowok itu yang hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek. Kedua tangannya dilipat di depan dada dengan mata yang menatap tajam.
Sepasang mata Mika nyaris tidak berkedip saat pandangannya jatuh pada cowok itu. Kai sangat berbeda dengan yang selama ini ia lihat. Jika biasanya lengan cowok itu tertutup baju lengan pendek atau seragam sekolah, sekarang bagian itu terbuka lebar. Membuat otot lengan cowok itu yang cukup menonjol terlihat jelas. Mika harus mengakui jika Kai terlihat lebih tampan daripada biasanya.
Keberadaan Kai membuat Mika kehilangan konsentrasi, hingga tanpa sadar menginjak tepi anak tangga yang memang digunakan untuk memisahkan teras dan ruang tamu. Tubuhnya limbung. Ia mencoba untuk menggapai dinding terdekat sebelum jatuh. Sayangnya, ia terlambat. Beruntung, Kai segera menarik lengannya sebelum terjengkang. Karena hal itu, seketika kepala Mika menghantam dada bidang Kai.
Mika kehilangan kata-kata, beberapa detik setelah ia mendapat kesadarannya kembali. Mendadak, wajahnya memanas. Degup jantungnya tidak lagi terkontrol, metika hidungnya bisa menghirup aroma Kai dengan sangat jelas. Telinganya bisa menangkap irama degup jantung dalam dada cowok itu. Entahlah, ini hanya perasaannya atau tidak. Nyatanya, degup jantung cowok itu seirama dengan miliknya. Cepat. Dalam keheningan yang terjadi selama beberapa saat itu, Mika justru berharap dalam hati jika waktu berhenti di detik itu juga.
Ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan perasaannya saat ini. Namun, bersama Kai ia merasa pulang. Seperti ketika bersama Nagra dulu, ia seakan menemukan kemanan dan tempat bersandar yang nyaman. Raga memang pernah membuat jantungnya berdegup kencang, tetapi tidak seluar biasa ketika bersama Kai. Raga memang pernah membuatnya seperti menemukan jalan pulang. Namun, perlahan ia mulai merasa tersesat.
Tanpa harus berpikir dua kali, sekarang ia telah menemukan jawaban atas perasaan yang mengganggu hatinya selama beberapa waktu. Jawaban yang semakin membulat dalam dadanya. Jawaban yang ia yakini kebenarannya dalam hati kecil. Dan, jawaban yang—jika bisa—ingin ia teriakkan pada seseorang di depannya, sekarang juga. Ia jatuh cinta pada seorang Kainaka Assegaf.
“Mau sampai kapan meluk gue?” Suara berat Kai membuat Mika berjengit. Suara itu seakan menarik kembali seluruh kesadaran Mika ke tempat seharusnya. Bergegas ia melepaskan diri, tetapi rangkuman tangan Kai justru semakin erat. Membuatnya kembali terdiam di tempat.
“Jangan dulu deh. Gue masih mau begini. Sebentar aja, ya,” kata Kai. Nada suara cowok itu lirih dan penuh permohonan.
Mika tidak menjawab. Namun, juga tidak bergerak. Ia membiarkan diri tenggelam dalam rangkuman lengan Kai.
Tidak hanya Mika yang merasa menemukan kembali tempat untuk pulang. Kai pun demikian. Setelah banyaknya waktu yang ia lewati sendiri, ia tidak lagi merasa kesepian setelah menemukan Mika. Ia tidak lagi merasa takut, setelah mengetahui bahwa gadis itu ada di depannya. Segenap harapan yang dulu pernah ia tutup dalam-dalam karena berpikir tidak akan bertemu dengan Mika kembali, kini kembali memuncak ke permukaan.
Dalam hati, Kai berjanji. Ia tidak melepaskan Mika lagi. Ia tidak akan membiarkan gadis itu pergi dari hidupnya, meski hanya sejengkal. Namun, jika nantinya mereka tidak bisa bersatu, ia akan tetap menjadikan gadis itu sebagai tuju. Menjadikan tempat bahwa hatinya pernah berlabuh, meskipun hanya berakhir dengan kata remuk. Ia akan tetap menjaga gadis itu, tidak peduli dari jarak jauh atau dekat. Selain janji pada diri sendiri, ada janji lain yang harus ia tepati.
“Aku mau ganti baju. Gerah.” Ucapan pelan Mika menyadarkan Kai. Cowok itu segera melepas rangkuman tangannya, dan mengeluarkan cengiran kecil.
“Sorry. Gue terbawa suasana.” Kai menggaruk tengkuknya kikuk.
Mika tersenyum kecil. Ia merasa canggung dengan situasi yang sempat terjadi. Masih dengan hati yang berdebar dan gelenyar aneh dalam dada, ia berpamitan untuk ke kamar.
Mika segera menghubungi Anggita, setelah berhasil melarikan diri dari Kai. Napasnya terengah-engah. Rasanya, seperti baru saja berlari marathon sejauh puluhan kilometer. Namun, ada perasaan hangat yang memenuhi dadanya. Sehingga, tanpa sadar Mika mengulas senyum tipis di bibirnya.
“Jemput gue, setengah jam lagi,” ucap Mika, begitu sebelum Anggita sempat mengeluarkan kata sapaan.
“Iya, bawel.”
Hanya itu. Mika segera memutuskan sambungan telepon dan berlari ke kamar mandi.
Mika baru keluar dari kamar, setelah Anggita memberitahukan bahwa sudah berada di depan rumah Kai. Ia benar-benar berterima kasih pada penemu GPS, sehingga ia tidak perlu repot-repot menjelaskan lokasi rumah Kai kepada Anggita dengan sangat mendetail.
“Lo mau kemana?” tanya Kai, saat melihat Mika keluar dengan pakaian rapi dan tas. Mata cowok itu mengamati Mika dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan curiga, sekaligus penasaran.
__ADS_1
“Aku mau nginep di rumah Anggita. Boleh ya?” tanya Mika dengan nada memohon.
Kai masih belum melepaskan pandangan dari Mika. Hal itu sedikit membuat Mika rikuh. “Aku pinjem tas kamu. Cuma tiga hari. Nanti, aku kembali lagi ke sini.”
“Lo pergi bukan karena kejadian tadi, kan?” tanya Kai, yang berhasil membuat wajah Mika kembali memanas dan jantung berdebar.
Mika membuang muka. Berharap, Kai tidak melihat perubahan warna wajahnya. “Bukan. Aku cuma mau nemenin Anggita. Orangtua dia lagi ke luar kota selama tiga hari.”
Kai manggut-manggut. Kemudian, bangkit dari sofa dan menghampiri Mika.
Jantung Mika berpacu cepat di dalam sana, saat mengetahui jarak yang terbentang antara dirinya dan Kai semakin dekat. Ia tersentak, ketika telapak tangan kanan Kai mendarat di puncak kepalanya.
“Hati-hati. Kalau bisa, nggak usah balik ke rumah ini. Langsung pulang aja ke rumah lo. Gue yakin, orangtua lo pasti khawatir.”
Mendengar hal itu, seketika Mika teringan pada beberapa pesan singkat dari Papanya Ia bahkan lupa jika belum membalas pesan-pesan itu. Namun, papanya masih tetap berusaha untuk menghubunginya. Terakhir, ia menolak panggilan lelaki itu setengah jam yang lalu.
“Aku belum siap buat kembali ke rumah.” Mika berkata pelan. Kepalanya menunduk dalam-dalam, mengamati ujung jari kakinya.
“Lo mau tinggal di rumah ini terus?” tanya Kai. Ia terdiam sejenak. Lantas, sorot matanya berubah jahil dengan senyum menyebalkan terukir di bibir. “Sabar kali, Ka. Ntar kalau kita udah nikah, lo boleh tinggal di rumah ini sampai kapan pun.”
Mika melongo, sehingga membuat Kai tertawa keras. Gemas, Mika mendaratkan cubitan di pinggang cowok itu, dan membuat Kai meringis kesakitan.
Mika tergelak penuh kemenangan. “Kamu juga sih. Masih belum waktunya, Kai. Kita masih SMA.”
“Jadi, kalau udah waktunya lo mau nikah sama gue?” Kai kembali melemparkan tatapan jahil yang sukses membuat Mika salah tingkah.
“Bu—bukan gitu.” Mika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung mencari kalimat yang cocok untuk menjawab pertanyaan konyol Kai.
“Kalau gitu, tunggu gue. Beberapa tahun lagi, gue akan ngelamar lo.” Kai masih melanjutkan serangannya yang membuat Mika semakin salah tingkah.
“Aku pergi dulu deh,” putus Mika, akhirnya. Terlalu lama bersama Kai, akan membahayakan kondisi jantung dan membuatnya kian salah tingkah.
“Hati-hati, calon istri masa depan Kainaka Assegaf!” Kai berteriak dari tempatnya, seraya melambaikan tangan pada Mika.
Mika menoleh kembali pada Kai, lantas menjulurkan lidah. Berpura-pura masa bodoh, meski kembang api di dadanya sudah meletup-letup. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum, selama berjalan menghampiri Anggita di halaman rumah. Suatu kehangatan yang tidak bisa ia deskripsikan timbul dalam hatinya. Kai berhasil membuatnya salah tingkah, tetapi juga membuatnya kembali merasa hidup secara bersamaan.
♥
“Kenapa kalian ke vila hari itu?” tanya Kai. Malam ini, ia mengajak Abi dan Samuel untuk bertemu di sebuah kafe yang tidak jauh dari rumahnya.
“Kumpul biasa sih. Karena, kita udah bosan kumpul di emperan. Kebetulan, sepupu Alana punya vila keluarga di sana,” jawab Samuel. Abi dan Kai sudah memberitahunya, jika ingin menyelidiki kasus kematian Nagra. “Tunggu, kalian nggak berpikir kalau gue penyebab Nagra meninggal, kan?”
__ADS_1
Kai nyengir kuda. “Tadinya, kita mikir gitu. Katanya lo sama Nagra pernah berantem, seminggu sebelum Nagra ditemukan meninggal. Gue pikir permasalahan kalian ada hubungannya dengan itu.”
Samuel mendengkus. “Bukan gue yang bunuh Nagra. Sumpah! Kenapa lo malah mau makan temen sendiri sih, Kai?”
“Bukan mau makan temen sendiri, Sam. Tapi, kasus ini beneran rumit. Nggak ada seorang pun yang mau dengan sukarela menunjuk dirinya sebagai pembunuh Nagra,” ujar Kai.
“Eh, kadal air! Mana ada pembunuh ngaku dirinya sebagai pembunuh?” Abi melemparkan kulit kacang pada Kai. “Masa iya, mereka mau teriak-teriak, Kenalin, gue pembunuhnya Nagra. Lo mau minta tanda tangan, nggak?”
“Bego!” Samuel mendaratkan jitakan di kepala Abi. “Kalau kalian memang mau menyelidiki kasus itu, gue bisa bantu sedikit. Tapi, gue tetap nggak bisa cerita penyebab pertengkaran gue sama Nagra.”
“Kebanyakan intro lo. Buruan!” Abi mendesak tidak sabar.
Samuel mengeluarkan selembar foto dari dompetnya. Kai segera merebut foto itu, dan mengamati satu per satu orang yang ada dalam foto itu.
“Ekspresi lo kenapa kayak nahan buang air sih, Bi?” Kai tidak bisa menyembunyikan tawa saat melihat ekpresi Abi.
“Sialan!” Abi merebut foto itu dari tangan Kai.
“Sini! Ntar ini foto robek kalau kalian rebutin!” Samuel berdecak. “Lihat nih!” Samuel menunjuk foto seorang cowok yang berdiri di sebelah kiri Alana. “Ini sepupunya Alana. Kalau kalian mau cari tahu tentang Nagra, cari tahu juga tentang Alana. Dan, salah satunya dari sepupu cewek itu.”
“Lo tahu, dia ada di mana?” tanya Kai.
“Nah, itu dia masalahnya. Setelah Nagra meninggal, Alana menghilang nggak ada kabar. Begitu juga sepupunya. Gue udah nyoba cari Alana di rumah lamanya, tapi nggak ada. Tetangganya pun nggak ada yang mau ngasih tahu.” Samuel mencoba menjelaskan. Setelah Nagra meninggal, ia memang berusaha menemui Alana. Bukan untuk mencari tahu tentang Nagra, melainkan untuk mengetahui kondisi Alana. Ia tahu, Alana mencintai Nagra. Ia hanya takut, jika gadis itu akan sangat terpukul karena kejadian itu.
“Lo ngerasa ada yang aneh nggak sih sama si Alana?” Abi membuka suara. Membuat Samuel dan Kai memandang ke arahnya. “Tiba-tiba aja Alana ngilang setelah tahu Nagra meninggal. Berarti, dia udah lebih dulu tahu tentang kabar itu dibanding kita. Kita aja baru tahu kabar itu dua hari setelah pemakaman. Dan juga, tetangganya nggak ada yang mau ngasih tahu. Ini beneran aneh sih menurut gue.”
“Atau, bisa jadi—” Kai menjeda kalimatnya. Pandangannya berputar dari Kai ke Samuel, dan sebaliknya. Mata gelapnya menyorot misterius. “Alana dan keluarganya diculik Alien, terus disuruh tinggal di Mars.”
“Si bego! Lo bisa serius, nggak?” Abi sudah bersiap melemparkan gelas kopinya pada Kai, tetapi urung. Jika saja ia tidak ingat bahwa gelas itu berharga mahal, ia pasti sudah mendaratkan benda itu ke kepala Kai.
“Gue udah dengerin serius, Sialan!” maki Samuel, yang membuat Kai justru tergelak.
“Kali ini serius. Sebelum ke foto ini, gue mau tanya dulu. Siapa yang pertama kali ngasih tahu kalau Nagra dibunuh sama orang dekat dia?” tanya Kai. Pandangannya mengarah pada Samuel dan Abi dengan tajam.
Abi dan Samuel saling pandang sejenak. Tampak juga tengah berpikir. Hingga akhirnya Abi lebih dulu membuka suara. “Waktu gue buka grup, pangkal dari berita itu udah nggak ada. Kayaknya setelah berita itu nyebar, sengaja dihapus sama yang bersangkutan.”
“Ini aneh. Kenapa harus dihapus? Dan kalau dia bisa ngirim di grup sekolah, berarti dia siswa di sekolah kita.” Kening Kai berkerut dalam.
“Gue baru inget. Hari itu Satya jadi komentator kedua. Gue lupa siapa yang pertama. Mungkin aja, dia tahu tentang si pengirim," sahut Samuel.
Setelah mendengar jawaban itu, Kai akhirnya memutuskan satu hal, "Kita ke rumah Satya. Sekarang."
__ADS_1