
Mika sengaja berangkat ke sekolah, sebelum mamanya bangun. Semalaman ia menunggu di depan kamar rawat, tanpa sedikit pun memejamkan mata. Beberapa kali Martin menyuruhnya untuk tidur di dalam kamar, tetapi berkali-kali pula ia menolak. Ia masih belum siap untuk berhadapan dengan mamanya. Ia masih berusaha untuk berdamai dengan rasa sakit dan ego yang masih sedikit bersemayam dalam hatinya.
Rasa lelah karena terjaga semalaman, lenyap saat matanya menangkap sosok Kai yang berjalan dari arah parkir sekolah. Dua sudut bibirnya tertarik ke atas, menunjukkan segaris senyum kecil. Mika hendak berteriak untuk memanggil Kai, tetapi cowok itu sudah lebih dulu melihat keberadaannya. Kai melambaikan tangan. Lantas, berlari kecil menghampiri Mika di koridor utama sekolah.
“Lo semalem nggak tidur?” tanya Kai. Matanya meneliti setiap jengkal wajah Mika.
“Tidur kok.” Mika mengalihkan pandangan saat menjawab hal itu. Takut, jika Kai akan menangkap kebohongan di matanya.
“Kantung mata lo udah kayak karung beras. Tebel banget.”
Mika mendengkus. Lantas, mendaratkan jitakan di kepala Kai. Kai meringis kecil, seraya mengusap-usap belakang kepalanya yang menjadi korban serangan Mika.
“Gimana keadaan nyokab lo? Gue dengar dari Anggita semalam, nyokab lo masuk rumah sakit.”
Mika memaksakan seulas senyum kecil. “Udah baikkan. Cuma maag.”
Cuma maag. Mika mengulang kalimat itu dalam hatinya. Berusaha untuk meyakinkan diri sendiri, jika mamanya memang akan baik-baik saja.
Kai mendaratkan telapak tangan di puncak kepala Mika. Tanpa sadar, hal itu membuat jantung Mika berdegup kencang.
“Jagain nyokab lo. Sebelum waktu bikin lo nyesel.”
Tubuh Mika seperti tersengat aliran listrik, saat melihat segaris senyum di wajah cowok itu. Ia masih enggan mengakui, tetapi hatinya tidak mampu untuk berbohong. Senyum itu seakan mengikatnya, menciptakan letupan-letupan hangat di dadanya. Ia menyukai senyum itu. Ia menyukai saat Kai mengusap kepalanya. Ia nyaman berada di dekat cowok itu.
Mika berdeham kecil. Berusaha untuk mengatur suaranya agar tetap terdengar biasa. Namun, sepertinya ia gagal. Akhirnya, untuk mengurangi kecanggungan yang menyelimuti, ia memaksakan untuk berbicara. “Barang-barang lo, gue balikin besok ya." Dalam hati, Mika berharap agar suaranya tidak terdengar gugup.
Kai terkekeh. “Santai aja. Jadi, lo udah memutuskan buat pulang?”
Mika mengangguk pelan. Meski, tidak sepenuhnya yakin.
“Bagus deh. Jangan kabur lagi. Nggak baik. Ntar aja perginya sama gue, kalau kita udah nikah.” Kai mengerlingkan mata pada Mika.
Kai sialan! Mika merutuk Kai dalam hati. Cowok itu sengaja membuatnya salah tingkah. Ia tidak tahu, sudah semerah apa wajahnya saat ini.
“Gue ke kelas dulu!” Mika langsung berlari, tanpa menghiraukan Kai yang memanggil namanya. Masa bodoh dengan Kai. Salah sendiri, masih pagi sudah membuat jantungnya berdetak tidak normal.
__ADS_1
Mika menghentikan langkah di ambang pintu kelas, saat melihat Raga berada di bangkunya. Cowok itu sedang serius menatap layar laptop. Raga bahkan tidak menyadari kedatangannya yang sudah berada di samping cowok itu.
“Kamu lihat apa sih?” tanya Mika. Keningnya berkerut samar, dan ikut menjatuhkan pandangan di layar laptop.
Raga tersentak ketika mendengar suara Mika. Reflek, ia menutup laptopnya dengan sedikit keras. “Astaga, Ka! Aku kira siapa.” Raga mengelus dadanya sendiri beberapa kali, sambil mengatur napasnya.
Mika terkekeh. “Kamu serius banget. Lagi lihat apa, sih?”
“Duduk dulu.” Raga menggeser duduknya, dan menempati bangku Anggita yang masih kosong. Ia memberikan tempat duduk untuk Mika.
Raga membuka kembali laptopnya. Tidak berapa lama kemudian, sebuah video kembali berputar di layar benda itu.
Mika mengamati dengan serius. Itu video rekaman CCTV yang belum sempat mereka lihat kemarin.
“Aku udah tahu, siapa yang ada di apartemen Nagra setelah kamu pergi hari itu,” kata Raga, mengundang rasa penasaran dalam diri Mika.
“Siapa?”
Raga tidak memberikan jawaban. Cowok itu hanya memutarkan video itu, dan mengisyaratkan agar Mika melihatnya sendiri.
Seperti kemarin, video itu dimulai dengan kedatangan cowok misterius dengan jaket dan topi hitam. Kening Mika berkerut dengan mata menatap tajam pada setiap pergerakan kecil yang dilakukan cowok itu.
“Nggak mungkin,” Mika bergumam. Kesadarannya masih belum sepenuhnya kembali. Jantungnya berdegup tidak beraturan, diiringi dengan sangkalan yang berbisik dalam hati dan kepalanya.
“Kamu udah lihat, kan?” tanya Raga. Mika tidak menjawab. Ia bahkan tidak bisa mendengar ucapan Raga dengan jelas. Ia masih terlalu terkejut. Telinganya mendadak berubah tuli.
“Ini nggak mungkin, ‘kan? Rekaman itu pasti hanya rekayasa.” Mika terus melontarkan penyangkalan dalam hati. Meski tidak bisa menutupi rasa sakit yang seketika menggerogoti.
“Itu pasti bukan rekaman CCTV di kamar Nagra, kan?” tanya Mika dengan suara bergetar. Dadanya terasa sangat sesak. Seakan ada beton berukuran besar yang menghimpit.
“Kalau itu bukan di kamar Nagra, lalu siapa cowok yang membuatkan teh itu?” Raga memutar kembali rekaman CCTV itu. Kemudian, menjedanya tepat di bagian saat Nagra membuatkan teh. Telunjuk cowok itu menunjuk tepat di sosok Nagra.
“Nggak mungkin kalau Kai yang ngelakuin itu.”
“Kamu boleh nggak percaya, Ka. Tapi, ini bisa jadi bukti kalau orang dalam video itu memang Kai.”
__ADS_1
“Tapi, mereka nggak pernah kenal sebelumnya.” Mika masih berusaha untuk menyangkal. Walau sudut hatinya, perlahan mulai memercayai apa yang telah dilihatnya.
“Kamu nggak pernah tahu teman-teman Nagra, kan? Kamu nggak dua puluh empat jam sama dia. Bisa jadi, mereka udah saling kenal. Dan, sering ketemu tanpa sepengetahuan kamu.” Raga mencoba untuk menjelaskan.
Mika menggelengkan kepala berulang kali. Rasanya, sebuah palu raksasa baru saja meluluhlantakkan hatinya, menghimpit dadanya, dan meremukkan jantungnya. Ia tidak sanggup bernapas dengan normal.
Nggak mungkin kalau itu Kai. Kai orang baik. Nggak mungkin dia yang bunuh Nagra.
Rangkaian kalimat penolakan tidak membuat perasaan Mika membaik. Justru menghadirkan rasa sakit yang lebih hebat. Kepalanya memutar kembali segala ingatan yang pernah ia lakukan bersama Kai.
Apakah ini alasan cowok itu begitu gigih mengejarnya? Apakah karena ini cowok itu terus berusaha untuk menyingkirkan Raga dari hidupnya? Karena, Kai merasa Raga adalah ancaman yang bisa membongkar rahasianya. Apakah Kai memang sengaja menghilangkan jejak dengan berusaha mendekatinya?
Kai itu berbahaya. Pernyataan Raga hari itu kembali menggema dalam tempurung kepalanya. Harusnya, sejak awal ia sudah menyadari keanehan itu. Harusnya, ia tidak memercayai Kai. Harusnya ia memercayai Raga, jika Kai memang berbahaya. Dan harusnya, ia tidak pernah jatuh cinta pada cowok itu.
Seketika air mata yang menggenang di pelupuk mata Mika, meluruh menjadi butiran-butiran kecil di pipi. Tidak ada isakan yang keluar dari bibir Mika. Hanya sorot matanya yang sarat akan luka dan sesal.
Jadi, Kai juga yang datang ke apartemen untuk menghapus rekaman CCTV itu?
Sialan! Mika mengumpat dalam hati. Sepasang kelopak matanya yang semula menampilkan sebentuk luka, kini bergelegak. Ada gejolak kemarahan hebat dan melingkupinya. Membuat tubuhnya seketika memanas.
Mika hendak bangkit dari tempatnya, tetapi Raga segera mencekal pergelangan tangannya. Sorot mata cowok itu tenang, meski tidak bisa menutupi kemarahan yang juga bersarang di sana.
“Tenang dulu. Kai memang ada di dalam rekaman ini. Tapi, kita harus mencari bukti lain. Bukti yang menguatkan bahwa dia memang bersalah.” Raga mencoba untuk meyakinkan Mika.
“Apa lagi, Ga? Semua udah jelas. Udah jelas, kalau memang Kai pelakunya.” Mika berkata penuh penekanan. Berusaha untuk menjaga nada suaranya tetap pelan, agar tidak memancing perhatian teman-temannya.
“Kita nggak bisa menyimpulkan hanya dari satu hal. Nanti sore, kita ke apartemen Nagra. Kamu masih ingat kuncinya, kan?” Pertanyaan Raga, ditanggapi dengan anggukan oleh Mika.
Raga berhasil membuat Mika untuk tidak bertindak gegabah. Meski tidak tahu, apa lagi yang akan mereka lakukan di apartemem Nagra. Bukankah video rekaman CCTV itu sudah di tangan? Tidak cukupkah hal itu digunakan sebagai barang bukti?
Mika menarik napas panjang. Namun, hal itu tidak mengurangi rasa marah dan kecewa pada Kai yang memenuhi hatinya. Seseorang yang ia percaya, seseorang yang ia anggap sebagai tempatnya berlari, nyatanya adalah seorang pembunuh yang berkedok pahlawan untuknya.
Jika bukan karena Raga, ia pasti sudah menghantam dan memaki Kai bertubi-tubi. Bagaimana bisa ia jatuh cinta pada cowok selicik Kai? Bagaimana bisa ia teperdaya pada sikap dan tingkah manis cowok itu?
Nyatanya, Kai hanyalah serigala berbulu domba. Musuh dalam selimut, yang selama ini mengenakan topeng untuk membuatnya tertipu.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa lakukan. Ia hanya menangis untuk menyalurkan kemarahan dan rasa sakitnya. Jika ia mengetahui sejak awal, ia yakin sakit hatinya tidak akan sehebat ini. Ia sudah terlanjur jatuh hati pada cowok itu. Ia sudah terlanjurkan menyandarkan kepercayaan bahwa Kai akan membantunya bangkit setelah kepergian Nagra. Sebab selama ini, Raga tidak bisa melakukan hal itu.
Kainaka Assegaf, lo memang sialan! Gue nggak akan tinggal diam. Gue akan bawa lo ke neraka!