
Mika hanya bergelung di sofa dan ranjang selama liburan kali ini. Tidak ada kesibukan. Anggita dan Raya sedang berlibur dengan keluarga masing-masing. Sedangkan, orangtuanya masih tetap sibuk bekerja. Setelah terselesaikannya kasus Nagra, Papanya memutuskan untuk pindah ke kantor cabang yang lebih dekat rumah mereka. Sehingga, mereka bisa berkumpul setiap hari. Sekaligus, memperbaiki hubungan yang sempat retak.
Mika tidak tahu, seperti apa definisi bahagia sesungguhnya. Namun, ia tahu jika bahagia memiliki banyak wujud. Salah satunya adalah kembali sebuah tempat pulang bernama keluarga.
Suara presenter wanita di televisi mengalihkan perhatian Mika dari novel yang dibacanya. Sebuah headline news itu menampilkan rumah Beni yang ia datangi hari itu. Rumah itu tampak sepi. Di sekitarnya melingkar garis polisi. Mika menaikkan volume suara.
Purnomo Wiraatmaja, seorang pengusaha kaya yang sudah malang-melintang di dunia bisnis, dini hari tadi ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penggelapan dana dan penyuapan. Purnomo diduga melarikan diri ke luar kota bersama keluarganya. Hingga saat ini, polisi masih melakukan penyelidikan.
Purnomo Wiraatmaja dilaporkan melakukan tindak penyuapan terhadap anggota kepolisian atas dugaan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh anak semata wayangnya, Ferdian Beni Wiraatmaja. Salah seorang saksi telah memberikan kesaksian dan bukti kuat atas tindak pembunuhan itu. Saat ini polisi masih mencoba untuk mendalami kasus tersebut, dan memeriksa pihak-pihak terkait.
Mika tercengang. Novel di tangannya bahkan sudah jatuh sejak beberapa saat lalu. Pandangannya belum beralih dari layar televisi, hingga berita itu selesai. Kepalanya masih memutar segala macam dugaan dan berita yang ia dapatkan hari ini. Hingga akhirnya, ia tiba pada suatu kesimpulan. Hari itu, polisi memang sengaja menghentikan penyelidikan kasus kematian Nagra dan memberikan penjelasan bahwa cowok itu melakukan bunuh diri karena ulah keluarga Beni. Sial. Pantas saja, ia merasa janggal dengan keputusan itu. Ternyata, keluarga Wiraatmaja adalah dalang dari semua itu. Dan yang paling sial lagi, saat ini ia bersekolah di salah satu sekolah milik keluarga Wiraatmaja.
Denting bel rumah menyentak kesadaran Mika. Ia gelagapan, tampak setengah kebingungan dengan situasi yang baru saja terjadi. Baru setelah beberapa detik, ia beranjak dari kursi. Ia merapikan rambut asal-asalan dengan tangan, sebelum membuka pintu rumah.
Ia terkejut, ketika menemukan Raga berdiri di depan rumahnya. Cowok itu sudah tidak mengenakan seragam sekolah. Namun, menggunakan jaket hitam, topi, dan tas ransel di punggung.
Mika mengerutkan kening. “Kamu mau kemana?”
__ADS_1
Raga tersenyum kecil. Tangannya terulur untuk mengurung jemari Mika dalam genggamannya. “Aku minta maaf. Selama ini, aku udah banyak salah ke kamu. Aku terlalu tenggelam dalam dendam. Aku termakan omongan Beni, hingga menempatkan kamu sebagai seseorang yang harus menanggung semuanya.” Raga terdiam sejenak. Pandangan matanya tertuju pada Mika. Tatapan itu dalam. Sangat dalam. Hingga membuat Mika merasa rikuh. “Sebenarnya, aku mau pergi diam-diam. Tapi mereka, nyuruh aku buat pamit ke kamu.” Raga melirik pada Kai, Anggita, dan Raya di belakang cowok itu. “Aku mau ke luar negeri. Kebetulan Ujian Nasional udah selesai. Aku mau cari informasi kuliah di sana.”
“Kenapa mendadak?” Mika seakan kehilangan suaranya.
Raga menggeleng, seraya tersenyum kecil. “Sebenarnya, ini nggak mendadak. Aku dan keluarga udah ngerencanain ini sejak dua bulan lalu. Sekalian, papa juga mau cari psikiater terbaik untuk Alana di sana.” Raga menghela napas panjang. “Maafin aku ya, Ka. Maaf karena udah bikin hidup kamu berantakan. Maaf, karena aku udah ngedepanin ego. Maaf buat semuanya."
Mika tidak tahu, sejak kapan air mata meluruh di pipinya. Ia bahkan sudah terisak ketika Raga menyelesaikan kalimatnya. Cowok itu menariknya dalam dekapan. Tidak lama, tetapi cukup untuk membuat Mika kesulitan bernapas. Seburuk apa pun kenangan yang ia miliki, Raga tetap seseorang yang pernah menemaninya di masa sulit. Dan, melepaskan bukanlah sesuatu yang mudah. Apa pun alasannya.
“Aku ke sini juga mau lihat kamu bahagia sama seseorang.” Mika bergeming mendengar kalimat itu. Raga melirik ke arah Kai. Memberi isyarat pada cowok itu agar mendekat.
“Awas kalau lo sampai sakitin dia. Gue nggak akan segan-segan buat nyingkirin lo beneran,” bisik Raga, yang membuat Kai terkekeh.
Raga memundurkan langkah perlahan, memberi Kai ruang untuk mendekat pada Mika. Mika ingin melontarkan pertanyaan selanjutnya, tetapi Kai lebih dulu membungkam mulutnya.
“Nggak usah banyak tanya. Dengerin aja!” katanya. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah permen lollipop dari saku. Mika mengerutkan kening, bingung. Namun, ia akhirnya menerima permen itu karena Kai terus memaksa.
"Makasih ya, Ka. Hari itu lo udah ngasih gue permen. Akhirnya gue tahu, kalau bahagia itu nggak melulu sesuatu yang besar. Makasih karena udah ngajak gue main bola sama Nagra. Makasih juga, udah pernah ngelempar gue pakai batu. Seenggaknya, itu udah bikin gue inget terus sama lo. Sama anak kecil perempuan yang ngeselin, tapi berhasil buat hidup gue lebih baik."
__ADS_1
"Jadi, anak kecil perempuan yang kamu maksud itu–"
Kai mengangguk, memotong ucapan Mika. "Iya, dia Mika Arestya. Lo mungkin udah lupa, tapi gue nggak. Lo pernah nyelametin gue hari itu. Hari ketika orangtua gue membuang gue. Sejak hari itu gue berjanji, kalau gue nggak akan pernah ngelepasin lo lagi. Apa pun yang terjadi. Gue udah janji sama diri gue sendiri, sama Nagra, kalau gue akan terus jagain lo. Karena itu, gue mau tanya sekali lagi ke lo. Lo mau jadi pacar gue?”
Mika gelagapan. Ia membuka mulutnya, kemudian kembali tertutup. Terbuka kembali, lantas kembali menutup. Begitu terus hingga tiga kali. Ia seakan kehilangan suara. Darahnya berdesir. Jantungnya berdegup tidak karuan. Ia bahkan tidak tahu, apakah ia masih berpijak di tanah yang sama.
“Ka? Lo dengar gue?” Mika hanya mengangguk untuk menanggapi pertanyaan itu. Namun, kesadaran belum sepenuhnya kembali.
“Kai, a–aku…” Mika kehilangan kata-kata.
“Kalau lo nolak, gue janji nggak akan ganggu lo lagi. Gue akan pergi, kalau lo mau itu.”
“Nggak!” tukas Mika, cepat. “Aku mau. Aku mau jadi pacar kamu.”
Kai tertawa kecil. Kemudian, ia menoleh pada ketiga temannya di belakang, memberikan isyarat dengan mengacungkan ibu jarinya. Raya, Anggita, dan Raga bersorak. Mereka berlari menghampiri Mika dan Kai.
“Sebelum mereka ke sini. Gua mau peluk lo dulu.” Kai menarik Mika ke dalam rangkuman tangannya. Rasanya teramat nyaman. “Terima kasih, udah mau datang hari itu. Terima kasih, udah ngasih tahu gue artinya berjuang dan menunggu. Aku sayang sama kamu.”
__ADS_1
Mika tersenyum. Kebahagiaannya benar-benar terasa lengkap kali ini. Ia mengalihkan pandangan ke samping Kai. Di tempat itu, ia seakan melihat Nagra tengah melambaikan tangan dan tersenyum ke arahnya.
“Selamat jalan, Kak Nagra. Mika janji akan bahagia di sini.”