Red Thread

Red Thread
Sepintas Kenangan


__ADS_3

Sepasang kelopak mata Mika terbuka lebar. Kaget. Pendar cahaya putih dari lampu kamar membuat matanya perih. Pandangannya masih kabur saat ia mengamati setiap sudut ruangan tempatnya berada sekarang. Tidak ada lagi kegelapan, tanah becek, bebatuan, dan emperan toko. Ruangan itu terang dengan dinding dipenuhi poster Sonic, dan sebuah bungkus permen lollipop yang warnanya sudah memudar.


Mika memaksakan diri untuk mengubah posisinya menjadi duduk. Kepalanya terasa berdenyut-denyut. Hidung dan matanya panas. Tenggorokannya sakit, dan sangat kering. Sepertinya, sekarang ia terserang demam. Sialnya lagi, ia belum mati.


Perlahan, Mika bangkit dan berjalan keluar kamar. Ia berdiri beberapa detik di ambang pintu kamar. Pandangannya menyapu ke seluruh penjuru. Rumah itu sepi. Seakan hanya ia penghuni tempat itu. Keinginan untuk menyusuri setiap sudut rumah itu sirna, saat rasa mual tiba-tiba menyerangnya. Mika bergegas menuju kamar mandi yang terletak tepat di seberang tempatnya berdiri. Ia baru keluar lima menit kemudian, setelah berhasil meredakan mual dan mengguyur kepalanya dengan beberapa gayung air.


“Astaga! Kamu ngangetin aja sih.” Mika memekik, saat Kai tiba-tiba muncul di hadapannya. Nyaris saja ia menabrak cowok itu, yang tengah membawa semangkuk mi kuah.


Kai memasang wajah datar saat berhadapan dengan Mika. Namun, tetap tidak bisa menutupi sorot geli di sepasang matanya. Cowok itu maju selangkah, lantas meletakkan satu punggung tangan di dahi Mika.


“Masih panas. Gue buatin mi kuah, nih. Dari semalam, lo belum makan apa-apa, kan?” Kai menunjuk mi kuah di tangannya dengan isyarat mata.


Mika tidak mengeluarkan sepatah kata, selama beberapa saat. Ia hanya memandang bergantian antara Kai dan mi kuah di tangan cowok itu. Tentu saja, hal itu membuat Kai merasa sedikit risi. Lantas, cowok itu kembali berkata dengan nada bersalah. “Sorry, di sini nggak ada pitsa atau makanan mahal lain. Gue cuma punya mi instan.”


“Eh, nggak. Bukan itu.” Mika menyela ucapan Kai seketika. Ia hanya tidak ingin Kai salah paham. “Gue cuma bingung, kenapa gue ada di sini?”


Kai berdecak. Lantas, berjalan meninggalkan Mika. Sambil menuju ruang tamu—yang juga berfungsi sebagai ruang tengah—Kai berkata, “Semalam lo pingsan. Nggak sadar kalau udah ngerepotin?”


Bukannya tersinggung, Mika justru tertawa kecil mendengar cibiran Kai. Seraya mengekor langkah cowok itu, Mika melemparkan pandangan ke setiap sisi rumah Kai. Rumah itu tidak seluas rumahnya. Hanya ada lima ruangan di rumah tersebut; dua kamar tidur, kamar mandi, dapur, dan ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang tengah. Hanya ada satu persamaan antara rumahnya dengan rumah itu. Ralat. Bukan rumahnya, melainkan rumah keluarga Nagra. Rumah itu juga sepi.


“Orangtua kamu kemana?” tanya Mika. Tangannya sibuk mengaduk mi kuah di depannya.


“Gue udah pernah ngasih tahu lo, orangtua gue keluar kota.”


Mika menoleh pada Kai dengan menaikkan satu alisnya. Merasa aneh dengan kepergian orang tua Kai. Sudah nyaris satu bulan, tetapi orang tua cowok itu masih belum juga kembali. “Masih belum pulang juga?”


Kai tertawa hambar, seraya menggeleng. “Mereka nggak akan pernah pulang.”


Alis Mika bertaut, heran. “Memangnya mereka kerja apa? Sesibuk itu?”


Kai menghela napas panjang. Seakan ada beban yang sedang coba ia lepaskan melalui embusan napas. Bahunya yang semula tegak, tampak sedikit menurun seiring dengan raut wajahnya yang berubah keruh. Dengan malas, ia menjawab pertanyaan Mika. “Mereka cerai waktu umur gue tujuh tahun.”


Mika menundukkan kepala. Mengalihkan perhatian pada semangkuk mi instan di tangannya. “Maaf,” katanya pelan.


Kai tertawa kecil. Setiap kali berbicara tentang orangtuanya, ingatannya selalu beralih pada gadis kecil yang telah membuat bekas luka di ujung alisnya. “Lo masih ingat sama anak kecil yang udah ngelempar gue pakai batu?”


Mika mengangguk. Fokusnya kembali terlempar penuh pada Kai.


“Hari dimana gue ketemu dia adalah hari terakhir orang tua gue sidang cerai. Gue sengaja nggak datang. Untuk apa? Lagi pula, gue juga nggak ngerti soal begituan. Yang gue tahu, hari itu hidup gue berubah gelap. Orang-orang ngeliat gue dengan sorot kasihan. Dan, gue muak. Akhirnya, gue pergi ke taman. Di tempat itu, gue ketemu dia.” Pandangan mata Kai menerawang pada dinding di depannya. Bibirnya tidak henti menyunggingkan senyum hangat, yang membuat Mika cemburu.


Perasaan itu memang sialan. Bagaimana bisa ia cemburu pada dia? Bagaimana bisa perasaan itu ada, sedangkan pacarnya bukan Kai?


“Ayo main. Jangan diem aja. Kamu kayak kucing gendut kelaperan,” kata Mika kecil. Ia menghampiri Kai dengan senyum lebar di bibir.

__ADS_1


“Kucing kelaperan malah nggak bisa diem kali, Ka,” celetuk Nagra dari belakang Mika. Cowok itu masih memainkan bola di kakinya.


Mika mengabaikan Nagra. Ia justru menarik-narik tangan Kai. "Ayo main. Aku mau lihat kamu main bola sama Kak Nagra. Kasihan dia nggak ada teman. Aku, kan, nggak bisa main bola.”


“Kenapa aku?” Hanya pertanyaan itu yang keluar dari bibir Kai. Iya, kenapa dia yang diajak bermain? Kenapa dia yang dipilih? Sedangkan, hari ini orangtuanya seakan membuangnya.


Mata elang Kai menyorot penuh kerinduan, setiap kali ingatan itu hadir dalam kepalanya. Jauh lebih sakit merindukan seseorang yang ada di sampingnya, tetapi tidak tergapai. Dibanding, merindukan seseorang yang memang tidak lagi ada.


“Kenapa dia ngelempar kamu pakai batu?”


Pada bagian ini, Kai tidak bisa menyembunyikan tawa. Barangkali, itu adalah ingatan paling lucu yang pernah ia miliki. Raut wajah anak kecil itu ketika menangis dan merajuk, selalu mampu menjadi penghibur. Setiap kali ia ingin menyerah karena hidupnya, anak kecil itu selalu menjadi semangat baru untuknya. Ia hanya ingin bersama anak kecil itu, sekali lagi.


“Karena, gue ngalahin abangnya pas tanding bola. Padahal, abangnya udah nerima kekalahan. Eh, dia malah ngambek. Nimpuk gue pakai batu. Pas tahu gue berdarah, dia malah nangis.”


Mika tertawa, tetapi terdengar hambar. Baginya, cerita Kai terdengar jauh lebih menarik, daripada kisah cinta dalam drama televisi. Hanya saja, ada sesuatu dalam dadanya yang terasa nyeri. Ia tidak suka melihat raut wajah Kai saat bercerita tentang anak kecil itu. Ia merasa iri, cemburu, atau entahlah. Ia tidak mengerti perasaannya sendiri.


“Waktu terakhir kali kalian ketemu, apa yang terjadi?” tanya Mika.


“Nggak ada yang terjadi. Dia cuma ngasih gue permen lollipop, terus cerita kalau dia bahagia dengan keluarganya. Udah, itu aja. Dia bahkan nggak bilang kalau mau pergi.” Kai tersenyum getir.


“Jadi, bungkus permen di kamar kamu dari anak kecil itu?”


Kai mengangguk sekali. Bungkus lollipop dan sapu tangan merah muda. Hanya itu kenangan fisik yang ia miliki dari anak kecil itu.


Tanpa sadar, Mika mengepalkan telapak tangannya yang bebas. Kai bahkan masih menyimpan bungkus permen lollipop itu di kamar. Ada sesuatu yang hendak merangsek keluar dari dadanya. Sesak. Jika tidak berada di rumah dan di samping Kai, ia pasti sudah berteriak untuk meringankan perasaan.


Kai menjatuhkan arah pandang pada Mika. Ada seribu satu macam perasaan yang memancar dari sepasang mata tajamnya. Tanpa melepaskan pandangan, ia berucap pelan. Namun, tegas dan penuh keseriusan. “Gue mau berterima kasih sama dia. Karena dia, gue bisa melewati hari-hari menyedihkan itu. Karena dia, gue berani berharap lagi. Karena dia juga, gue merasa kembali utuh.”


Mika memutus kontak matanya dengan Kai, lantas mengalihkan pandangan ke arah lain. Melihat sorot dari sepasang mata gelap itu, membuat hatinya mencelus. Ia tidak suka saat Kai mengatakan hal itu. Ia tidak suka saat mengetahui ada orang lain yang mengisi hati cowok itu. Benar-benar tidak suka.


Setelah mencoba untuk menguatkan hati, ia kembali menatap Kai. Seulas senyum simpul yang dipaksakan terukir di bibirnya. “Kamu sayang sama dia?”


Kai spontan mengangguk. “Gue sayang sama dia—” Ia menggantung kalimatnya. Diam-diam tersenyum bahagia melihat raut wajah Mika yang berubah keruh. Entahlah. Bolehkah ia berharap sekarang? Bolehkah ia berharap jika Mika juga memiliki perasaan untuknya? Kai lantas berkata dengan suara yang berusaha dibuat tetap datar. "Tapi, gue udah terlanjur sayang dan jatuh cinta sama lo.”


Sepasang mata Mika melebar setelah mendengar pernyataan itu. Ada gelenyar aneh di dadanya. Di tengah kecemburuan yang sempat menyelimuti, ia merasa teramat hangat. Ada rasa tenang yang tidak bisa ia jelaskan. Perasaan ini jauh berbeda dibanding ketika Raga mengatakan perasaan padanya hari itu. Perasaan ini menenangkan, melegakan, dan tanpa keraguan. Ia bahkan tidak menyadari jika wajahnya sudah memanas.


“Kamu emang bakat ngegombal ya,” kata Mika. Lantas, tertawa geli. Ia mencoba untuk menahan agar suaranya tetap terdengar netral.


“Gue serius. Jadi, mending lo cepat putusin Raga. Biar gue bisa jadi pacar lo.” Kai kemudian tergelak.


Mika terdiam beberapa saat, setelah mendengar pernyataan Kai. Membuatnya menyadari walau pun ia dan Kai memiliki perasaan yang sama, masih ada Raga di tengah mereka.


Ucapan itu pun mengingatkannya pada kejadian di taman kemarin sore. Ia baru ingat, sejak kemarin Raga bahkan sama sekali belum menghubunginya. Cowok itu seakan menghilang ditelan bumi.

__ADS_1


“Kenapa kamu memilih tinggal di rumah ini? Kenapa nggak ikut Mama atau Papa kamu?” Mika mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan. Pembahasan tentang Raga, sama sekali tidak membuatnya nyaman. Hal itu justru membangkitkan kembali rasa kesal di hatinya.


“Karena, nggak ada satu pun dari mereka yang bisa gue pilih.” Kai bisa mengatakan itu dengan sangat santai. Meski, Mika melihat kegaduhan di balik sorot mata cowok itu. Ada luka yang bergejolak, bercampur kekecewaan dan amarah.


“Paling nggak, kamu tahu siapa orangtua kandung kamu,” kata Mika lirih. Ia menelan ludah dengan susah payah. Menahan rasa sakit ketika pertengkaran Papa dan Mamanya kembali terngiang di telinga.


“Semalam gue akhirnya tahu, kalau ternyata gue anak adopsi.” Mika tertawa hambar. Merasa bahwa hidupnya benar-benar menyedihkan. “Pantas aja, nyokab selalu memperlakukan gue berbeda dengan Nagra. Gue juga ingat, kalau teman-teman gue dulu pernah bilang, gue sama sekali nggak mirip mama atau papa.” Mika menjelaskan sebelum Kai sempat bertanya.


Pandangan Kai tetap terfokus pada Mika. Merekam setiap ekspresi yang tercetak di wajah gadis itu dalam kepalanya. Tanpa aba-aba, ia mendaratkan telapak tangan di puncak kepala gadis itu.


“Nggak ada yang perlu disesali. Jadi anak adopsi juga nggak selamanya buruk, Ka. Kalau boleh milih, gue lebih baik jadi anak adopsi dengan orangtua angkat yang lengkap. Seenggaknya, gue nggak perlu ngerasain sakitnya dioper seperti bola. Dan, tinggal sendiri karena dibuang sama orangtua kandung gue.” Kai tersenyum getir. “Paling nggak, masih ada salah satu dari mereka yang sayang sama lo.”


Mika tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa. Kenangan indah yang pernah ia lewati bersama Mama, Papa, dan Nagra hadir di alam bawah sadarnya. Kenangan saat mereka berlibur bersama, menonton televisi bersama, dan saat mereka merayakan ulang tahunnya. Semua kenangan indah itu datang silih berganti, dan menjebaknya dalam sebuah dilema tidak berkesudahan.


Setelah itu, mereka terjebak dalam keterdiaman yang cukup lama. Mika menghabiskan sisa mi kuahnya. Sedangkan, Kai sibuk dengan ponsel. Kebisuan itu hanya berlangsung selama kurang dari lima menit. Sebelum akhirnya, Kai mendesah, lantas mengatakan, “Ka, gue nggak tahan lagi mau ngomong ini ke lo.” Ia terdiam sejenak. Menahan tawa. “Mata lo ada beleknya.”


Mika menghentikan kegiatannya menghabiskan kuah mi. Ia meletakkan mangkuk itu di atas meja begitu saja, dan segera berlari menuju kamar. Wajahnya tertunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan rasa malu. “Kai sialan!” makinya dalam hati.


“Gue mau berangkat ke sekolah habis ini. Lo jaga rumah aja, ya. Jadi calon istri yang baik!” Kai berteriak. Mika bisa mendengar cowok itu tertawa setelahnya.


"Bodo amat!" teriak Mika dari dalam kamar, yang kemudian disambut oleh gelak tawa Kai.


Kai memang sialan.



Nyaris dua puluh empat jam, Raga sama sekali tidak menghubunginya. Berkali-kali Mika mencoba untuk kembali menelepon cowok itu, tetapi hanya berakhir dengan pengabaian.


Mika sudah tidak tahan lagi. Setelah beberapa hari ia menahan keputusan itu, akhirnya ia menumpahkannya melalui pesan singkat yang akan ia kirimkan pada Raga.


Ia sudah meyakinkan diri, bahwa ia tidak akan menyesali keputusannya. Lagipula, sudah nyaris sebulan ini perasaannya untuk Raga berubah. Sejak kehadiran Kai yang membuat hidupnya jauh lebih berwarna, Raga seakan hanya sosok pelengkap. Bukankah tidak ada lagi gunanya mempertahankan, saat perasaan pun tidak lagi menemukan kenyamanan?


Mika Ars


Ga, aku mau putus.


Mika menekan ikon kirim di layar ponselnya dengan keyakinan tinggi. Setelah ini ia tidak perlu membohongi diri lagi di depan Raga, jika ia memang telah jatuh cinta pada Kai. Ia tidak perlu lagi bermain kucing-kucingan di depan cowok itu.


Tidak sampai lima menit, ponselnya bergetar. Mika mengerutkan kening ketika membaca nama Raga di layar ponselnya. Mengapa cowok itu bis membalas dengan sangat cepat ketika ia mengatakan ingin putus?


Raga Angkasa


Besok kita ketemu di taman sekolah.

__ADS_1


Ada yang mau aku kasih tahu ke kamu.


Ini soal kasus Nagra. Aku nemu fakta baru.


__ADS_2