
Kai_naka Asgf
Temui gue di atap!
Pesan itulah yang membawa Mika ke tempat ini, di atap sekolah. Tempat ia pernah melakukan usaha bunuh diri.
Ia menjatuhkan pandangan pada Kai yang sibuk dengan kanvas, cat, dan kuas. Cowok itu sama sekali tidak menghiraukan keberadaannya. Jika biasanya Mika akan langsung pergi ketika tidak dipedulikan, maka kali ini berbeda. Ada sesuatu yang membuatnya betah berlama-lama. Apa lagi, jika bukan Kai.
Gerakan lincah jemari Kai, kerutan di dahi ketika rambut bagian depan tersibak, dan ekspresi yang santai tapi serius, membuat Mika tidak bisa melepaskan pandangan sedetik pun. Kai yang biasanya terlihat sedikit menyebalkan, bisa berubah menjadi seseorang yang–setidaknya–sedikit mengagumkan dengan benda-benda itu.
“Apa yang bisa lo dapat dari gambar ini?” Pertanyaan Kai memecah keheningan yang sempat terjadi. Ia memutar kanvas yang sudah selesai digambar itu menghadap Mika.
Kening Mika berkerut samar. Ada dua orang yang sedang berenang menuju pantai di tengah lautan. Beberapa orang tampak mengambang dan tidak bergerak di belakang mereka. Ada dua suasana di sana; malam saat di tengah laut, dan pagi di tepi pantai. Ada gulungan ombak besar yang siap melahap dua orang itu dari belakang. Namun, mereka tidak sedikit pun tampak raut ketakutan di wajah mereka. Mereka sama-sama menggenggam pisau, yang membuat darah mengalir dari telapak tangan dan bercampur dengan air laut.
“Mereka lagi nyari ikan, terus tenggelam di laut,” kata Mika. Matanya mengerjap polos, dan sukses membuat Kai tergelak.
“Mereka bukan lagi nyari ikan, Ka. Mereka adalah orang-orang yang ditenggelamkan oleh keadaan,” ucap Kai, beberapa saat kemudian. Matanya melirik ke arah Mika yang masih sedikit kebingungan.
“Lihat!” Kai menunjuk dua orang yang berenang. “Mereka sedang berenang untuk menjauh dari lautan dan ombak yang bisa kapan saja menggulung tubuh mereka. Mereka berusaha untuk menuju sebuah pantai yang terang. Pisau, ombak, dan kegelapan ini digambarkan sebagai sebuah derita. Hidup nggak pernah lepas dari derita dan putus asa. Setiap orang pasti mengalaminya. Mereka memiliki dua jalan yang harus dipilih untuk bisa bebas. Tetap berjuang seperti dua orang ini, meski dengan tubuh penuh luka, dan tahu jika ombak akan menyeret mereka kembali ke tengah laut, atau justru menenggelamkan. Atau, memilih berakhir seperti mereka yang mengambang dan tidak bergerak. Mereka yang mengambang itu adalah orang-orang yang kalah. Yang memilih menyerah sebelum berusaha untuk sampai ke tepi.”
Penjelasan Kai menghantam Mika. Membuatnya kembali teringat pada usaha bunuh dirinya hari itu. Barangkali jika saat itu Kai terlambat menyelamatkannya satu detik saja, bisa dipastikan ia akan berakhir seperti beberapa orang itu. Kalah dan tanpa harapan.
“Gue pernah mengalami depresi. Meski pun, penyebabnya sama sekali bukan hal penting menurut orang lain. Tapi, itu benar-benar bikin gue nyaris mati. Untungnya, hari itu ada seseorang yang bantu gue untuk bangkit. Walau akhirnya, gue bikin orang itu mati secara nggak langsung.”
“Mati?” Bibir Mika bergetar ketika mengucap kalimat itu. Entahlah, saat ini kata mati menjadi sesuatu yang ia takuti.
Kai mengangguk. “Dia nyuruh gue untuk menggambar, setiap kali merasa tertekan. Gue selalu ikutin kata-kata dia, setiap kali ngerasa tertekan, setiap kali gue merasa kalau mati itu enak.”
Kai merunduk untuk mengambil kuas, kanvas kosong, dan cat, kemudian menyerahkannya pada Mika. “Lo bisa gunakan ini, kapan pun lo ngerasa putus asa. Gue yakin, ini lebih bisa mengurangi perasaan tertekan daripada menyayat diri sendiri.”
Mika menerima benda itu, kemudian tersenyum tipis. “Thanks, Kak.”
Ia menyandarkan benda tersebut di dinding, lantas menatapnya cukup lama. Satu kendala yang ia hadapi sekarang, ia tidak bisa menggambar.
“Nggak usah mikir. Gambar aja sesuai keinginan jari lo. Kita nyari ketenangan sama kebebasan, bukan nilai estetika.”
Sayangnya ketika Mika hendak menggoreskan kuas di kanvas, bel kembali berbunyi. Menandakan bahwa waktu istirahat telah usai.
“Nanti sore ikut gue. Gue yang akan ngomong ke Raga, kalau hari ini lo pulang bareng gue.”
♥
Matahari mengintip dari balik gedung-gedung tinggi, saat Kai menghentikan motornya di sebuah lapangan. Area persawahan membentang di sekeliling lapangan. Tempat ini tidak terlalu jauh dari area perkotaan. Tetapi, tingkat polusinya sedikit lebih tipis.
“Kenapa kita ke sini?” tanya Mika.
“Kamu bawa alat lukis yang tadi?”
Mika mengangguk. Kemudian, ia mengeluarkan benda-benda yang diberikan Kai tadi pagi dari paper bag-nya.
Kai mengeluarkan kayu penyangga dari tasnya, dan meletakkan kanvas milik Mika di atas kayu itu.
“Gambar apapun yang kamu mau,” kata Kai.
Mika sama sekali tidak memperoleh ide tentang sesuatu yang akan ia gambar. Ia hanya menggerakkan kuas di tangannya ke sembarang arah. Membentuk garis demi garis dengan warna berbeda.
Ia sengaja memilih kombinasi warna gelap. Entah, untuk alasan apa. Barangkali, warna-warna itu mewakili hidupnya yang gelap. Di tengah kegiatannya, tiba-tiba ia merasakan ponselnya bergetar di dalam saku.
__ADS_1
Raga Angkasa
Jangan pulang terlalu malam. Hati-hati.
Mika tersenyum tipis saat membaca pesan itu. Sekali lagi, ia merasa hampa saat mendapat perhatian-perhatian kecil seperti itu dari Raga. Seharusnya, ia senang. Selama ini, Raga bahkan tidak pernah mengiriminya pesan lebih dulu. Cowok itu terkesan tidak peduli tentang dimana ia berada, apa yang sedang ia lakukan, atau bagaimana kabarnya. Namun, semua itu berubah setelah kejadian di depan majalah dinding sekolah hari itu. Tidak. Lebih tepatnya, setelah cowok itu tahu ia bersama Kai di atap sekolah.
“Kakak ngomong apa ke Raga?” tanya Mika, tanpa melepaskan perhatiannya dari kanvas.
“Kayaknya kita perlu mengubah satu hal. Jangan panggil gue kakak lagi. Gue berasa tua banget.”
“Kan, Kakak memang udah tua.” Kai melirik tajam pada Mika, setelah mendengar jawaban itu. Yang dibalas Mika dengan tawa lebar.
Lagi. Ada sudut hatinya yang terasa nyeri, ketika melihat Mika tertawa seperti itu. “Pertama, jangan panggil gue Kakak. Cukup panggil gue Kai. Kedua, kapan terakhir kali lo tertawa selebar itu?”
Mika mengalihkan perhatian pada Kai. Dahinya berkerut penasaran. “Kenapa?”
“Gue kangen lihat lo ketawa seperti itu.” Kai hanya bisa mengatakan itu dalam hati. Sebagai jawaban, ia hanya menggelengkan kepala pelan.
“Aku boleh tahu tentang bekas luka itu?” Mika menunjuk sudut matanya sendiri, memberi isyarat pada Kai.
Kai menyentuh bekas lukanya. Raut wajahnya yang semula biasa, seketika tampak diselimuti mendung. Keruh.
“Waktu umur gue tujuh tahun.” Kai menjeda kalimatnya sejenak. Kepalanya sedikit miring, berusaha untuk mengingat kejadian yang sudah sebelas tahun berlalu itu. “Dulu pernah ada anak kecil yang ngelempar gue pakai batu. Dia itu lucu. Dia yang ngelempar, gue yang luka, malah dia yang nangis.” Kai tertawa kecil. Setiap mengingat kejadian itu, ia selalu merasa bahagia. “Tapi, gue nggak tahu keberadaan dia sekarang.”
Bagi Kai, anak kecil itu adalah seseorang yang pernah menyelamatkannya dari kegelapan. Anak kecil itu seakan menawarkan sebuah harapan padanya. Dari cara anak itu tertawa, melihat, dan berbicara, Kai bisa menemukan sebuah warna di hidupnya yang monoton dan gulita.
Hanya saja, takdir tidak mengizinkan mereka untuk selamanya bersama. Mereka hanya dipertemukan sebanyak dua kali, ketika tragedi pelemparan dan tiga hari setelah itu. Ada satu hal selalu Kai ingat dari pertemuan terakhir mereka. Anak kecil itu memberinya lolipop, sambil tertawa karena merasa Kai lucu dengan plester menempel di dahi. Anak kecil itu mengatakan bahwa ia mirip seperti preman yang sering muncul di film.
Kai tidak bisa tidak tertawa setiap kali mengingat kejadian itu. Bahkan, ia masih menyimpan bungkus permen itu di kamarnya, hingga hari ini. Baginya, benda itu adalah satu-satunya hal yang ia miliki dari anak kecil itu.
Setelah pertemuan itu, mereka tidak pernah lagi berjumpa. Kai masih mencoba menunggu di taman hingga matahari terbenam, setiap hari. Namun, anak kecil itu tidak pernah muncul.
“Kenapa gue harus cari dia, kalau sekarang dia ada di depan gue?” Kai menggeleng sekali lagi. Membuat wajah sesedih mungkin, sehingga bisa membuat Mika percaya. Ternyata, memainkan peran seperti ini jauh lebih menyenangkan daripada berpura-pura bahagia saat hati berantakan.
“Kamu sayang sama dia?”
“Sayang.” Kai segera membekap mulutnya, saat kalimat itu meluncur dengan spontan.
Mika menghela napas panjang. Berpura-pura untuk tersenyum, meski ada sudut hatinya yang terasa nyeri. Ia tidak tahu, mengapa perasaan seperti itu harus ada. Ia bahkan tidak tahu, apakah Kai memiliki perasaan yang sama. Bisa saja, cowok itu memang berniat untuk menolongnya, tanpa mengikutsertakan perasaan.
“Kalau sayang, jangan diam aja. Kamu cari dia sampai dapat. Siapa tahu, dia juga lagi nunggu kamu.”
“Kayaknya, dia nggak mungkin nunggu gue. Dia pasti udah lupa.”
Mika mengangguk pelan. Kemudian, bibirnya bergerak perlahan. Membisikkan sesuatu dengan teramat lirih. “Semoga kalian bisa ketemu lagi suatu hari nanti. Dan, semoga kalian bahagia.”
Tanpa Mika sadari, Kai menangkap sorot berbeda di matanya. Cowok itu mengetahui, jika ada siratan kecemburuan yang nampak jelas di mata Mika. Diam-diam, Kai mengulas senyum kecil. Seiring dengan Mika yang berpura-pura menutupi semuanya, ada harapan yang pelan-pelan terpancar dalam dada Kai.
“Iya. Semoga kita bahagia, Mika.”
♥
Satu jam sebelum Mika dan Kai pergi
*“Gue mau ajak Mika pergi hari ini.” Kai sengaja menghadang Raga yang baru saja keluar dari perpustakaan dengan membawa setumpuk buku.
“Gue nggak ngasih izin.”
__ADS_1
Kai tersenyum sinis. Kemudian, ia menepuk bahu Raga beberapa kali. “Gue ke sini nggak minta persetujuan dari lo. Gue cuma mau ngasih tahu, kalau hari ini lo nggak perlu antar dia pulang.”
Raga mendengkus. Di wajahnya sudah tampak raut kesal, yang justru membuat Kai diam-diam bersorak.
Kai mundur satu langkah. Berjaga-jaga jika saja Raga berniat melemparkan tumpukan buku yang sedang dibawa padanya.
“Mau lo apa sebenarnya? Kenapa lo terus berusaha dekatin Mika? Dia itu pacar gue!” Raga menggertakkan giginya. Setiap kata yang keluar dari bibirnya, diucapkan dengan penuh penekanan.
Kai terkekeh. “Jangan kira, gue nggak tahu tujuan lo pacaran sama Mika. Gue tahu semuanya, Ga.”
Sepasang kelopak mata Raga terbuka lebar, setelah mendengar jawaban Kai. Ia berusaha untuk menenangkan diri. Kai hanya mencoba untuk memancing emosinya.
“Gue pacaran sama dia, karena gue sayang sama dia.”
Kai kembali menahan tawa. Jika ia tidak ingat saat ini sudah memasuki jam pelajaran, ia pasti sudah tertawa lepas mendengar jawaban itu.
“Mau sampai kapan lo pura-pura, Ga? Gue udah tahu semua rencana lo. Gue tahu, apa yang selama ini lo sembunyikan. Lo pacaran sama Mika hanya untuk manfaatin dia, ‘kan? Basi, Ga!”
“Jaga mulut lo, berengsek! Jangan sembarangan ngomong! Gue nggak pernah berusaha manfaatin dia.”
Kai kembali tertawa, tetapi tidak dengan matanya. Sorot mata cowok itu seperti ingin membunuh lawan bicaranya. Tajam, dingin, dan menghunus.
“Gue nggak mau berdebat sama lo. Gue cuma mau ngasih tahu, kalau hari ini gue pergi sama Mika. Nggak peduli, lo setuju atau nggak. Karena, gue memang nggak minta persetujuan,” ucap Kai. Lantas, ia kembali menepuk bahu Raga beberapa kali.
Kai kembali memutar tubuh, setelah mengambil jarak lima langkah dari Raga. “Tenang aja. Gue nggak akan ngasih tahu Mika tentang rencana lo. Tapi, gue yakin, dia akan segera tahu dengan sendirinya.”*
♥
“Gue udah tahu semua rencana lo. Lo pacaran sama Mika hanya untuk manfaatin dia, ‘kan?”
“Sialan!” Raga menggeram ketika suara Kai kembali terngiang di telinganya. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Kai mengambil kesimpulan itu? Bagaimana bisa Kai menjatuhkan tuduhan itu padanya?
Kemarahannya sudah tiba di ubun-ubun. Seharusnya, sejak awal, dia sudah mengantisipasi kedatangan Kai. Seharusnya ia tahu, jika cowok itu mendekati Mika dengan sebuah tujuan. Seharusnya, sejak awal, ia tidak pernah membiarkan cowok itu mendekati Mika.
“Lo kenapa, Ga?” tanya Abi, ketika meletakkan kaleng soda dingin ke meja di depannya.
“Sialan emang si Kai. Dia nuduh gue pacaran sama Mika, karena gue cuma mau manfaatin cewek itu.”
Abi menaikkan satu alisnya. “Lo masih betah pacaran sama Mika? Semua anak Pelita udah ngasih dia cap sebagai pembunuh.”
“Kalau itu, mereka aja yang bego. Mereka udah narik kesimpulan, cuma dari berita di mading dan grup sekolah. Mereka sama sekali nggak coba untuk cari lebih dalam.”
“Jadi, lo nggak percaya kalau Mika pembunuhnya?”
Raga mendengkus. Tatapan matanya kini tertuju pada Abi. “Bi, coba lo pikir deh. Apa alasan dia bunuh Nagra? Nagra itu kakak dia. Gue tahu, selama ini Mika sayang banget sama Nagra.”
Abi mengusap-usap dagu, seakan sedang berpikir keras. “Jadi, kira-kira siapa pembunuh sebenarnya?”
“Menurut analisa gue, dia ada di sekolah kita. Coba lo pikir! Aturan di sekolah kita ketat, Bro. Nggak ada yang bisa keluar masuk seenaknya. Dia pasti punya akses. Atau paling nggak, dia punya orang dalam yang bisa bantu dia untuk leluasa bergerak.”
Abi manggut-manggut. “Dan menurut lo, dia punya dendam sama Mika atau hanya untuk kepentingan pribadi?”
“Nah, itu dia yang gue pikirin sekarang. Selama bareng Mika, gue nggak pernah tahu dia punya masalah sama orang lain.”
Abi meneguk soda dari dalam kaleng. Pembahasan ini membuat kepalanya pening. Ia tidak pernah menyangka, jika kasus kematian Nagra ternyata berbuntut panjang. Ia kira, kematian itu hanya selesai dengan kesimpulan bunuh diri. Ternyata, tidak.
Mereka terdiam selama beberapa saat. Berusaha untuk mencerna setiap kalimat dan kemungkinan yang ada dalam kepala. Hingga akhirnya, Raga kembali berucap. “Sebelum kejadian di mading, ada yang bilang kalau pembunuh Nagra adalah orang yang dekat sama cowok itu. Kan, lo udah lama sekolah di sana. Lo pasti tahu, siapa aja yang pernah dekat sama Nagra di sekolah.”
__ADS_1
Abi mulai memikirkan satu per satu kemungkinan yang ada. Nagra memang tidak pernah bermasalah. Namun, cowok itu memiliki kesulitan dalam bersosialisasi. Dan, orang-orang yang pernah dekat dengan cowok itu hanya Anggita dan Samuel.
Mungkinkah pembunuh itu adalah Samuel?