
Tidak ada yang berubah dengan hari ini. Matahari masih bersinar cukup terik. Awan tebal mulai menampakkan diri sedikit demi sedikit. Bumi masih berputar pada porosnya. Orang-orang masih sibuk. Dan, sekolah masih gaduh dengan lalu-lalang siswa.
Perubahan itu hanya terjadi dalam hati Mika. Sejak munculnya anggapan tentang Kai, ada ruang kosong yang terbentuk di hatinya. Ruangan itu seakan merampas suara-suara di sekitarnya. Membuatnya seperti berada di tengah adegan film pantomime bernuansa gelap. Tidak ada suara. Hanya gerakan. Tidak ada cahaya. Hanya hitam, putih, dan hampa.
Kekosongan di hatinya sama sekali tidak berkurang, meski Raga tengah berada sampingnya. Cowok itu tidak membuka percakapan apa pun. Hanya memerhatikan lukisan tiga tangan dengan gelang tali merah yang ditunjukkan Mika pagi in, di sekolah.
Mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran sendiri. Mika dengan kekalutan hatinya. Dan, Raga dengan lukisan di depannya.
“Aku sama sekali nggak ada ide tentang lukisan ini. Aku nggak kenal sama Nagra sebelumnya. Jadi aku nggak bisa nebak, siapa lagi yang punya gelang seperti ini selain Kai dan Nagra." Raga akhirnya bersuara, setelah hening yang terasa amat panjang bagi Mika.
Mika sudah menduga jawaban itu sejak awal. Tidak akan mudah baginya menemukan jawaban atas gelang itu dalam waktu cepat. Salah satu cara yang bisa ia lakukan adalah dengan menanyakan hal itu pada Kai. Hanya saja, ia enggan bertemu cowok itu. Tidak. Bukan enggan. Lebih tepatnya, ia belum mampu bertemu cowok itu lagi.
“Kamu udah ada rencana, kapan mau nyerahin bukti itu ke polisi?” pertanyaan Raga membuat Mika menghela napas. Entahlah, mengapa tiba-tiba hatinya terasa sangat berat melakukan itu. Setelah melihat Kai di depan rumahnya kemarin, seluruh kebulatan tekad yang sudah ia bangun, runtuh berantakan. Labil, kata itulah yang tepat untuk menggambarkan dirinya saat ini. Meski sebenarnya bukti-bukti itu cukup untuk memecahkan kasus ini, tetapi ia tetap tidak yakin untuk melakukannya.
“Aku belum ada rencana, Ga,” jawab Mika, diikuti helaan napas panjang.
“Mau sampai kapan kamu ngulur waktu? Kamu mau biarin pembunuh Nagra terus menikmati udara bebas?” desak Raga.
Mika menggeleng. Ia ingin segera menyelesaikan kasus itu. Namun, ia tidak ingin menyerahkan Kai ke polisi. “Aku perlu waktu lagi.”
"Atau, ini karena Kai? Kamu nggak mau nyerahin kasus ini ke polisi, karena kamu nggak mau Kai masuk penjara?” Suara Raga terdengar satu oktaf lebih tinggi. Matanya memicing curiga pada Mika yang masih menatap kosong bangku kayu di depan mereka.
Mika mengembuskan napas berat, sekali lagi. Pandangan matanya beralih pada Raga. Berusaha untuk menampilkan sorot penuh keyakinan di sepasang bola matanya. “Bukan karena Kai. Aku cuma butuh waktu, sebentar lagi.”
Raga mendengkus. Lantas, meninggalkan Mika yang masih bingung dengan perasaan sendiri. Raga merasa kesal karena Mika terlalu banyak mengulur waktu. Dan lebih kesal lagi, karena tahu alasan Mika melakukan hal itu karena Kai.
“Ka, Kak Raga kenapa?” Raya yang tiba-tiba berdiri di samping bangku Mika memasang raut penasaran. Ia baru saja berpapasan dengan Raga di ambang pintu. Cowok itu hanya melewatinya begitu saja. Tanpa peduli padanya yang sudah memasang senyum sopan.
“PMS kali,” sahut Mika, asal. Ia sedang enggan menanggapi pertanyaan apa pun, dan dari siapa pun. Kemudian, ia bangkit dan berjalan keluar kelas.
Raya hanya memandang punggung Mika yang kemudian menghilang di balik dinding. Seperti siswa lainnya, ia tidak terlalu mengikuti perkembangan kasus kematian Nagra. Ia hanya merasa tidak terlalu kenal dengan Nagra, dan akan jauh lebih baik jika tidak ikut campur.
♥
Entah apa yang membuat Mika melangkahkan kaki menuju kelas Kai. Koridor kelas dua belas sangat gaduh. Jauh lebih gaduh daripada koridor kelas sepuluh yang biasa ia lalui. Beberapa kali ia mendengar panggilan menggoda dari cowok-cowok yang duduk di tepi koridor. Bukan sesuatu yang asing. Mereka sering melakukan hal itu, ketika ada adik kelas perempuan yang berjalan di koridor kelas mereka—apalagi kelas sepuluh seperti dirinya.
__ADS_1
Mika berhenti di samping pintu kelas Kai. Ia tidak tahu apa yang ada dalam kepalanya saat ini. Akan jadi masalah, jika Raga melihatnya di tempat ini. Apa lagi, kelas Raga hanya berjarak satu ruang kelas dengan kelas Kai. Namun, ia seakan tidak peduli. Ia hanya ingin melihat Kai. Hanya itu.
Mika menarik napas panjang sejenak. Berusaha untuk meredakan gemuruh dan gugup di dadanya. Hanya satu langkah lagi, ia bisa melihat seluruh isi kelas cowok itu. Hanya satu langkah lagi, ia bisa melihat Kai. Namun, satu langkah itu tidak pernah berhasil ia selesaikan. Ia memilih untuk memutar badan, dan berjalan menjauh dari kelas cowok itu.
Ia berjalan tergesa-gesa. Kepalanya menunduk, menekuri garis-garis ubin memanjang yang ia pijak. Hingga tanpa sengaja, ia menabrak punggung tegap milik seseorang.
Mika memekik. Ia mundur satu langkah, dan mendongakkan kepala. Samuel berdiri di depannya dengan ekspresi yang juga terkejut. Cowok itu menatap ke arahnya, selama beberapa detik. Kemudian berdeham untuk mencairkan suasana.
“Lo lagi ngapain di sini?” tanya Samuel. Kepalanya celingak-celinguk di sekitar Mika. Mungkin sedang mencari, dengan siapa Mika datang ke tempat ini.
“Eh, aku…aku…” Mika tergagap. Kepalanya tengah mencari alasan yang tepat, tanpa menyebutkan nama Kai. Bisa jadi masalah jika ada yang mengetahui bahwa ia mencari Kai. Apa lagi, jika orang itu mengadukan kepada Raga. “Aku lagi cari pinjeman sapu,” kata Mika pada akhirnya, yang justru membuat dahi Samuel berkerut semakin dalam.
“Memangnya di kelas lo nggak ada sapu?” pertanyaan Samuel dibalas dengan gelengan kikuk oleh Mika. “Terus, sekarang sapunya mana?”
Aduh, bisa nggak sih ini orang nggak kebanyakan tanya? Mika merutuk dalam hati. “Itu… sapunya lagi dipakai semua.”
Samuel masih mempertahankan wajah datarnya, meski dalam hati sudah tertawa geli melihat tingkah Mika. Tanpa bertanya pun, ia sudah tahu tujuan gadis itu datang ke tempat ini. Melihat wajah Mika yang sudah memerah dengan gestur tubuh tidak nyaman, Samuel akhirnya menghentikan kepura-puraannya. “Kai lagi nggak masuk. Dia masih sakit.”
“Sakit?" Sepasang mata Mika melebar kaget. Namun, ia jauh lebih terkejut mendengar suaranya sendiri yang mendadak menjadi tinggi. Membuat kegaduhan yang semula terjadi di sekitarnya, seketika senyap. Ia bahkan melontarkan kalimat itu hanya sepersekian detik setelah ucapan Samuel berakhir. Mika melemparkan pandangan ke beberapa kakak kelasnya yang ada di koridor. Ia tersenyum kikuk, sebagai tanda permintaan maaf. Lantas, kembali berkata dengan suara lirih. “Kemarin waktu ke rumah gue, dia baik-baik aja.”
Mika terdiam sejenak. Sebuah ingatan tiba-tiba terlintas dalam kepalanya. “Dua hari yang lalu, aku lihat Kak Satya sama Abi bawa Kai ke UKS. Dia kenapa?”
Kali ini, giliran Samuel yang sibuk mencari alasan. Tidak mungkin jika ia mengatakan bahwa Kai baru saja menjadi samsaknya. Mika pasti akan menyalahkannya dan mengejarnya dengan beragam pertanyaan. Ia hanya tidak ingin gadis itu tahu, jika ia pernah berteman dengan Nagra. Tidak, selama kasus tentang cowok itu belum selesai.
“Dia habis berantem?” Mika kembali menodong Samuel, ketika melihat cowok itu tidak juga memberikan jawaban.
“Nggak. Dia nggak berantem,” Samuel tertawa kecil dan hambar. “Dia habis jatuh dari tangga. Nggak sengaja nginjek tali sepatunya sendiri.”
Mika mengerutkan kening. Ia baru tahu jika jatuh dari tangga bisa menyebabkan bonyok di muka. Hanya saja, ia tidak ingin bertanya lebih lanjut. Selain karena jam pertama akan segera dimulai, ia juga tidak ingin Raga melihatnya di tempat ini.
“Kalau gitu, aku balik ke kelas aja. Tolong kabari kalau dia udah masuk, Kak." Mika berpamitan, seraya tersenyum kecil.
“Hati-hati, Ka. Banyak mata jelalatan di sini."
♥
__ADS_1
Sepanjang hari ini, Mika sama sekali tidak tenang. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya. Pertama, Raga yang terus mendesaknya agar menyerahkan bukti itu ke polisi. Kedua, ketidakhadiran Kai di sekolah. Ketiga, tentang alasan Samuel mengenai luka-luka di wajah Kai. Dan keempat, tentang satu lagi pemilik gelang tali merah yang belum ia temukan. Empat hal itu memenuhi kepalanya. Menciptakan benang-benang kusut yang sulit untuk diurai.
“Menurut gue, lo jangan gegabah buat nyerahin kasus ini ke polisi. Gue nggak tahu kenapa. Tapi gue yakin, nggak hanya satu orang yang terlibat dalam kasus kematian Kak Nagra. Kalau pun hanya satu orang, perasaan gue mengatakan, itu bukan Kai." Ucapan Anggita membuyarkan lamunan Mika dan mengembalikannya ke alam nyata.
“Kenapa begitu?” tanya Raya.
"Mika pernah bilang, kalau kematian Kak Nagra ini rapi banget. Si pelaku bahkan sampai naruh obat tidur di samping bantal Kak Nagra, biar seolah-olah Kak Nagra meninggal karena bunuh diri.” Anggita memberikan argumen.
“Kemungkinan besar, Kak Nagra meninggal kurang dari dua puluh menit setelah gue pergi dari apartemennya. Karena, pas gue kembali ke sana—dua puluh menit setelah pulang—Kak Nagra udah meninggal.” Mika menambahi.
Raya berpikir sejenak. Jemarinya mengetuk-ngetuk lantai beton di sampingnya. Sejak beberapa hari ini, mereka tidak lagi berkumpul di kantin setiap jam istirahat. Mereka akan langsung pergi ke atap, membawa camilan yang dibawa dari rumah, dan mulai membuka forum diskusi.
“Menurut gue, keberadaan obat tidur di sana memang cuma pengecoh. Biasanya, obat tidur akan memberikan reaksi selama tiga puluh menit sampai satu jam. Waktu yang terlalu lama untuk membunuh, kan? Apa lagi, kalau Kak Nagra masih sempet bersihin apartemen selama waktu kurang dari dua puluh menit itu." Raya mencoba untuk memberikan hasil analisisnya, setelah mencari-cari informasi tentang reaksi obat tidur di internet.
“Itu dia yang bikin gue curiga. Selama ini, Kak Nagra nggak pernah mengonsumsi obat tidur. Tapi, hari itu gue lihat Kak Nagra kacau banget. Itu pertama kalinya, gue lihat dia benar-benar kacau. Gue nggak tahu ini kebetulan atau memang udah direncanain. Hari itu gue juga lihat Alana pergi sama cowok ke klub malam. Sampai sekarang gue masih mikir, apa Kak Nagra udah tahu kalau Alana selingkuh terus dia jadi kacau? Atau, Kak Nagra kacau karena alasan lain.” Mika berusaha untuk memutar kembali kejadian hari itu dalam kepalanya.
“Alana selingkuh?” Sepasang kelopak mata Anggita melebar. “Lo yakin?”
“Kenapa?” Mika dan Raya bertanya secara bersamaan.
“Aneh aja, sih. Alana itu udah ngejar-ngejar Kak Nagra sejak lama. Gue tahu, dia cinta banget sama Kak Nagra. Kayaknya, nggak mungkin kalau dia sampai selingkuh di belakang Kak Nagra.” Anggita menjeda kalimatnya sejenak. Ia menghela napas panjang, seakan sedang membuang beban berat di dadanya. “Lo juga bilang kalau tadi Kak Nagra kacau. Gue nggak percaya kalau itu karena Alana selingkuh. Kak Nagra nggak pernah cinta sama Alana. Pasti ada hal lain yang membuat Kak Nagra seperti itu.”
Anggita menjatuhkan tatapan pada Mika. Ada sorot penuh permohonan di sepasang bola matanya. “Gue nggak tahu kenapa. Tapi menurut gue, satu-satunya orang yang tahu tentang hal itu cuma Kai. Jadi, gue mohon sama lo, Ka. Dengerin penjelasan dari Kai.”
Mika terkesiap. Ia tidak menyangka, jika Anggita akan mengatakan hal itu.
Dengerin penjelasan dari Kai.
Lalu, apa? Bukankah cowok itu mengatakan tidak akan mengganggunya lagi, setelah memberikan penjelasan? Apakah sekarang ia harus mendengarkan penjelasan Kai, dan membiarkan cowok itu menjauhinya?
Mika seakan terlempar pada kebimbangan untuk kesekian kali. Ia mungkin bisa mendapatkan titik terang atas kasus kematian Nagra dari Kai. Tetapi, ia tidak ingin cowok itu menjauh setelahnya.
Sepertinya, Raya melihat keraguan di sepasang bola mata Mika. Ia menyentuh punggung tangan Mika. Hingga membuat Mika tersentak. “Kenapa, Ka?” tanya Raya.
Mika menggeleng. Matanya terpejam, selama beberapa saat. Ia tengah mencoba untuk meyakinkan diri bahwa ini adalah satu-satunya jalan. Ia harus mendengarkan penjelasan Kai. Meski ia harus menekan ego ke titik terendah, dan bersiap jika cowok itu memutuskan untuk meninggalkannya.
__ADS_1