Red Thread

Red Thread
Nomor Tidak Dikenal


__ADS_3

Raga menatap langit-langit kamarnya dengan nyalang. Berkali-kali ia mengembuskan napas panjang. Hari ini ia merasa lelah. Sangat lelah. Sejak pagi, ia sama sekali tidak bisa menjalani hari dengan tenang. Semesta seolah sengaja mengatur kehadiran Mika untuk membuatnya terkena serangan jantung ringan. Mulai dari gadis itu yang mendatanginya di kelas tadi pagi, hingga keberadaan Mika, Raya, dan Anggita di kamar rawat Alana.


"Kenapa lo? Suntuk banget kelihatannya." Beni yang tiba-tiba datang melempar wajah Raga menggunakan bantal.


Raga mendesis, lalu bangkit dari posisinya setelah berhasil memberikan umpatan untuk Beni. Sementara, Beni justru terkekeh geli. Lalu, tanpa meminta persetujuan si pemilik rumah, Beni sudah mengempaskan diri di sofa, di sudut kamar Raga. Menyandarkan punggungnya di sandaran sofa layaknya bos besar, seraya menaikkan tumit kaki kirinya di atas paha kanan. Beni mengeluarkan kotak rokok yang ia simpan di balik saku jaket, lantas membakar ujung benda itu.


"Kapan, sih, lo mau berhenti ngerokok?" Raga memandang sinis pada Beni.


Beni tertawa ringan menanggapi pertanyaan itu. "Kalau udah waktunya."


"Kalau udah waktunya mati, maksud lo?" Raga mendengkus. Namun, sekali lagi, Beni menanggapi itu dengan tawa ringan.


"Eh, lo belum jawab pertanyaan gue. Kenapa lo suntuk?" Beni menaikkan satu alisnya.


"Mika udah tahu tentang Alana." Raga kembali merebahkan dirinya ke ranjang. Rasanya sangat lelah setiap kaki mengingat kejadian hari ini.


"Mika? Pacar lo itu?"


"Mantan." Raga membenarkan. Memang tidak ada pernyataan secara langsung jika ia dan Mika sudah selesai. Namun, kejadian tadi siang sudah cukup menjadi tanda bahwa ia dan Mika memang sudah usai. Lagi pula, ia tidak pernah mencintai gadis itu.


"Oh, sekarang udah jadi mantan." Beni tertawa geli. "Gimana dia bisa tahu?"


Raga mendesis. "Dia ngikutin gue ke rumah sakit."


Beni mengangguk-anggukkan kepala seraya mengembuskan napas panjang. Membiarkan asap putih beraroma tembakau menguar dari bibirnya. "Terus, sekarang rencana lo apa lagi?"


Raga menggeleng. "Nggak tahu. Tujuan gue pindah ke sekolah itu dan dekatin dia dari awal cuma mau lihat dia menderita. Dan, itu udah tercapai. Gue udah lihat waktu semua siswa di sekolah nuduh dia sebagai pembunuh karena foto yang gue pasang. Gue udah lihat dia yang nyaris bunuh diri, tanpa perlu gue turun tangan secara langsung." Lalu, Raga bangkit dari posisinya. Ia menatap Beni dengan mata berkilat. "Apa perlu gue bunuh dia juga?"


Beni berdecak. "Lo udah lama, kan, di sekolah itu. Menurut lo, siapa aja yang udah tahu tentang perkembangan kasus kematian Nagra ini?"


"Cuma beberapa. Mika, Anggita, Raya, dan..." Raga menggantung kalimatnya. Ada kilatan tidak terbaca di matanya yang seketika muncul. "Kai."


Beni mengangguk-anggukan kepalanya. "Dengar dari cerita lo, sepertinya kasus ini rumit, ya."

__ADS_1


"Ben, kalau mereka udah tahu keberadaan Alana, apa kasus ini akan segera terpecahkan?" Raga bertanya pelan.


"Mungkin iya. Mungkin juga nggak. Tinggal bagaimana cara si pembunuh itu berkelit." Beni sengaja menekan kata pembunuh yang ia ucapkan.


Raga menghela napas. Seketika, ia merasa tidak bertenaga.



“Raga?” Anggita dan Raya berteriak secara bersamaan saat Mika baru selesai mengatakan tentang dugaan baru yang ia temukan Ia juga menunjukkan video rekaman CCTV itu pada dua sahabatnya.


Mika mengangguk mantab. "Kita harus buat Raga ngaku secara langsung, bagaimana pun caranya."


"Sialan banget dia! Bisa-bisanya dia nuduh Kai sama lo yang udah bunuh Nagra." Anggita menggebrak meja kayu di depannya. Napasnya sudah memburu, membuat bahunya naik-turun cepat. Tidak ada lagi raut terpukul yang beberapa saat lalu mewarnai wajahnya. Kini, justru tergantikan dengan raut penuh kebencian.


Raya mengusap-usap bahu Anggita. Berusaha untuk menenangkan gadis itu. Meski tahu, Anggita sangat sulit ditenangkan ketika berada di puncak kemarahan. Gadis itu mampu melakukan apa pun di luar dugaan, seperti pada Mika hari itu.


“Ka, gue baru tahu kalau ternyata nomor nggak dikenal itu punya Beni. Gue nyimpen nomor dia di ponsel gue.” Kai yang baru saja kembali dari membeli beberapa bungkus nasi goreng, tiba-tiba menunjukkan layar ponselnya pada Mika. Ada dua belas digit angka di sana. Angka itu sama persis dengan nomor tidak dikenal yang mengirimkan pesan pada Nagra hari itu.


"Beni?" Mika bergumam. Ia merasa tidak asing dengan nama itu. Kening Mika berkerut samar. Seketika, ingatannya terlempar pada kejadian di kedai es krim hari itu. Pada seorang lelaki bertopi hitam dengan garis merah di sisi kanan dan kiri. Lelaki yang membuat Raga bersikap seratus delapan puluh derajat berbeda dari biasanya. "Ah, gue inget. Dia temannya Raga yang waktu itu. Tapi, apa hubungan dia sama kasus ini? Gue juga baru tahu kalau ternyata dia juga teman Kak Nagra."


“Tapi, apa hubungannya sama Nagra? Kenapa Raga nggak ngasih izin?” tanya Mika beruntun.


“Bisa aja Beni ngerasa tersaingi karena Alana lebih suka sama Nagra daripada dia. Bagaimana pun juga, Beni yang lebih dulu kenal Alana dibanding Nagra. Dan, dia juga udah naksir Alana sejak SMP,” Kai menjeda kalimatnya sejenak. “Gue dulu satu SMP sama Raga. Nah, Beni itu temannya Raga. Gue nggak tahu, kenapa Raga ngelarang Beni deketin Alana.”


“Pantes, hari itu gue lihat mereka akrab banget. Ternyata, mereka udah lama temenan," celetuk Mika.


"Memangnya, Beni ngirim pesan apa ke Nagra?" tanya Anggita. Kai menyerahkan ponsel Nagra dan menunjukkan pesan dari Beni. Raya ikut membaca pesan itu.


“Jadi, sekarang siapa yang harus kita curigai? Beni atau Raga?” Raya benar-benar bingung dengan kasus itu. Semakin jauh mereka melangkah, semakin banyak pihak-pihak yang patut dicurigai. Dan, saling tuduh pun tidak bisa dihindari.


“Besok sepulang sekolah, kita cari Beni. Kalau memang benar Raga yang udah buat Nagra meninggal, seenggaknya kita bisa dapat banyak informasi dari Beni,” putus Kai, menyelesaikan sesi diskusi mereka hari ini.


__ADS_1


Mika melemparkan pandangan ke sekeliling gedung sekolah megah di depannya. Ia pikir, selama ini gedung sekolahnya yang paling mewah. Ternyata, masih ada satu sekolah lagi yang lebih mewah. Bangunan di hadapannya lebih menyerupai tempat wisata daripada gedung sekolah. Jika bukan karena misi tertentu, ia pasti akan berlama-lama mengamati setiap sudut bangunan itu.


Kai menarik tangannya menuju lapangan sekolah. Raya dan Anggita memilih untuk tinggal di mobil. Mereka tidak ingin Beni merasa curiga, jika mereka datang secara bersamaan.


“Nanti aja terpesonanya. Kita harus cari Beni dulu." Kai mendahului langkah Mika menyusuri lapangan sekolah yang nyaris seperempat lapangan bola itu. “Sama gedung aja terpesona. Masa sama gue nggak sih, Ka?”


Mika mendesah, dan memutar bola matanya. Tangannya yang bebas ia gunakan untuk mendaratkan cubitan di lengan Kai. “Jangan mulai deh, Kai!"


Kai tertawa geli. Tangannya yang semula menggandeng pergelangan tangan Mika, beralih pada bahu gadis itu.


"Lepas, Kai!” Mika memukul-mukul tangan Kai. Tetapi, cowok itu justru tertawa keras, tanpa berniat melepaskan lingkaran lengannya. Lingkaran itu justru semakin erat. Mika akhirnya menyerah. Ia membiarkan Kai merangkul bahunya. Meski dengan begitu, jantungnya tidak lagi bisa berdetak secara normal.


Bisa banget ini cowok cari kesempatan.


"Udah lama ya gue nggak ngejahilin lo. Ngomong-ngomong, selama kita nggak barengan, lo nggak kangen sama gue?"


Mika berdecak menanggapi Kai. Ia sudah hendak menjawab pertanyaan itu dengan penyangkalan tegas. Namun, ia justru mengatakan, "Kangen." Mika terkejut atas ucapannya sendiri. Bagaimana bisa kepala, dan mulutnya mengatakan sesuatu yang beda?


"Eh, nggak. Bukan gitu maksud gue, tapi—"


"Tapi apa? Nggak usah ngelak lagi, Ka. Mata lo nggak bisa berbohong." Kai terkekeh. Tangannya yang bebas mengacak-acak rambut Mika, membuat gadis itu menggerutu kesal.


Kai menghentikan langkahnya tidak jauh dari lapangan indoor sekolah. Masih dengan Mika dalam rangkuman lengannya, ia berjalan lebih dekat ke lapangan itu. Suara pantulan bola di lantai semen terdengar menggema dari lapangan itu. Suara teriakan dan decit sepatu, sesekali ikut mengiringi.


"Kenapa kita ke sini?" Mika melemparkan tatapan tidak mengerti.


"Perasaan gue mengatakan kalau Beni jadi salah anggota tim basket."


Mika mengerutkan kening semakin dalam, membuat Kai akhirnya harus menjelaskan, "Dari SMP, Beni suka banget sama basket. Nah, kemungkinan, di SMA dia juga masih main. Gue dapat jadwal kalau sekatang tim basket sekolah ini lagi ngadain latihan."


Mika mengangguk mengerti. Lalu, ia mengintip dari sela pintu utama lapangan basket itu. Ada cukup banyak siswa yang berlarian di dalam ruangan menggunakan seragam basket. Pandangan Mika jatuh pada seseorang bertubuh tegap yang sedang melemparkan bola ke ring di titik three point. Jarak yang cukup jauh dan celah yang terlalu kecil, membuatnya sedikit kesulitan untuk membaca nama punggung cowok itu.


"Beni. Dia ada di dalam!" Mika berseru sambil menunjuk pada celah pintu ruangan.

__ADS_1


"Gue bener, kan? Dia pasti ikut tim basket sekolah " Kai tersenyum puas karena tebakannya sama sekali tidak meleset.


__ADS_2