Red Thread

Red Thread
Seandainya


__ADS_3

Mati-matian Mika berusaha menahan diri untuk tidak menoleh ke arah Kai. Gejolak kemarahan dalam hatinya semakin bertambah hebat saat melihat cowok itu. Meski kini mereka hanya berjarak empat langkah, seakan ada suatu penghalang di tengah mereka.


Kita belum ada bukti. Belum tentu Kai yang sudah membunuh Nagra.


Berulang kali Mika mengulang pernyataan itu. Seakan tengah meyakinkan diri untuk tidak bertindak gegabah dengan mengungkapkan rasa kecewa dan marahnya pada cowok itu. Namun, tetap saja. Ada sesuatu dalam dirinya yang tidak terima. Ada dorongan yang membuatnya ingin segera menyalurkan amukan pada cowok itu.


   “Lo kenapa, Ka?” tanya Anggita. Keningnya berkerut saat melihat wajah Mika yang berubah menjadi merah.


Mika menggeleng, lantas memaksakan seulas senyum. Namun, bukan Anggita jika tidak bisa melihat gelagat aneh dalam diri Mika. Gadis itu nyaris menyerupai Raga. Pada saat tertentu, Anggita bisa membacanya hanya dengan melihat ekspresi wajah. Baginya, Mika seperti buku yang terbuka. Terlalu mudah untuk mengetahui isinya dalam hal-hal tertentu.


“Lo ada masalah sama Kai?” tanya Anggita, sekali lagi.


Mendengar nama itu disebut, ada sesuatu yang seolah menohok jantungnya. Ia berhenti bernapas selama beberapa saat. Lantas, mendesis panjang. Ia tidak tahu, mengapa di saat seperti ini, justru ingatan tentang hari-harinya bersama Kai yang muncul dalam kepalanya. Beriring kemarahan yang meletup-letup, ia tetap tidak mampu menghindari perasaan lain yang terlanjur tumbuh untuk cowok itu. Sudut hatinya terasa nyeri, saat mengingat kenyataan yang ia temukan hari ini dan rangkaian kenangannya bersama Kai. Hal itu berhasil menimbulkan satu pertanyaan, tanpa jawaban dalam dirinya. Apakah ia jatuh cinta pada orang yang salah?


“Gue nyari kalian dari tadi. Ternyata, malah di sini.” Mika mengalihkan perhatian pada Raya yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Anggita. “Eh, ini. Ada titipan dari cowok di belakang lo.” Raya menyerahkan sebatang cokelat pada Mika. Ada senyum menggoda yang menyebalkan di wajah gadis itu. Jika dalam keadaan biasa Mika akan langsung menyela, maka sekarang ia hanya melemparkan segaris senyum tipis yang dipaksakan.


Mika mengambil cokelat itu. Memutar-mutarnya di tangan. Kemudian, mengembalikannya pada Raya. “Tolong, kembaliin ke dia.”


“Kenapa?” tanya Anggita dan Raya nyaris bersamaan. Heran dengan sikap Mika yang tiba-tiba menjadi dingin.


Kenapa? Kenapa orang lain selalu menanyakan hal itu, saat ada sesuatu yang tidak berjalan seperti biasanya? Tidak bisakah mereka hanya diam, dan melakukan yang ia minta? Untuk sekarang, Mika benar-benar muak dengan pertanyaan itu. Pertanyaan yang seakan memaksanya untuk memberikan jawaban, meski hatinya sedang teramat kalut.


Karena tidak ingin mendapat pertanyaan yang sama. Mika terpaksa mengambil kembali cokelat itu. Kemudian, memasukkannya ke saku. Tanpa melihat ke arah Raya dan Anggita, ia menghabiskan sisa sotonya yang sudah hampir dingin.



Bohong jika Kai mengatakan tidak mendengar ucapan gadis itu. Meski dengan suara setengah berbisik, ia tetap bisa menangkap dengan jelas. Termasuk, nada geram dan kecewa dalam suara Mika. Ia hanya sedang berpura-pura tidak mengetahui, walau hatinya terus bertanya-tanya.

__ADS_1


Apa yang telah ia lakukan? Ia sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Bukankah tadi pagi mereka masih baik-baik saja? Bukankah Mika masih bisa tersenyum padanya? Atau, gadis itu sedang terkena sindrom bulanan? Dengan sekuat hati, Kai menahan langkahnya untuk tidak menghampiri Mika.


Kai belum mengetahui jawaban atas pertanyaan itu, hingga bel masuk berbunyi. Baru saja ia hendak beranjak dari bangku kantin, Mika sudah berdiri di sampingnya. Wajah gadis itu kusut, dingin, datar, dan marah. Ekspresi yang tidak pernah dilihat Kai selama ini. Sehancur apapun, Mika tidak pernah memasang raut wajah seperti itu di depannya.


Gadis itu meletakkan cokelat pemberiannya di atas meja, disertai suara gebrakan. Ia bahkan yakin, cokelat itu sudah patah menjadi dua bagian.


Kai mendongak, berusaha menangkap sesuatu dari tatapan Mika. Namun, hanya ada kekosongan dan kehampaan di iris cokelat itu. Ditambah dengan tatapan tajam yang menghunus. Ia ingin bertanya, ada apa. Sayangnya, Mika sudah lebih dulu mengambil langkah.


“Mika!” panggil Kai. Tidak ada tanda hendak berhenti dari Mika.


Kai berlari, menerobos kerumunan siswa yang hendak kembali ke kelas. Hanya butuh beberapa detik, hingga ia bisa menahan pergelangan tangan Mika. Dengan satu sentakan, Kai berhasil membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


“Lo kenapa? Gue ada salah?”


Gue ada salah? Mika benar-benar ingin tertawa mendengar hal itu. Bagaimana bisa Kai mengatakan hal itu dengan wajah polos. Seakan kejadian di apartemen itu tidak pernah terjadi.


“Lo kenapa?” tanya Kai, sekali lagi. Dan kali ini, ditanggapi dengan tawa mendengkus oleh Mika.


“Lepas!” bentak Mika. Satu kata yang penuh dengan penekanan dan paksaan, membuat Kai harus menguraikan cekalannya. “Mulai hari ini, jangan pernah temui gue lagi! Gue nggak mau lihat lo!”


Gue-lo. Mika tidak pernah menyebut itu, kecuali pada teman-teman seumuran, pada dua orang yang membuat gadis itu sebal—seperti Ronald dan Abi, dan pada orang yang gadis itu benci. Orang yang Mika benci? Apakah Kai berada dalam posisi itu? Kai sungguh tidak bisa memahami perubahan Mika hari ini.


“Gue ada salah apa sama lo?” Kai mendesis. Kegelisahan perlahan merangkak untuk menuju permukaan. Menghadirkan bersitan ketakutan dalam hati Kai.


Tanpa menjawab pertanyaan itu, Mika pergi. Tidak menghiraukan Kai yang memanggil namanya.


Kai ingin menyusul langkah Mika, tetapi urung ketika pandangannya jatuh pada seorang guru yang berjalan menuju kelasnya. Dengan berat hati, Kai membiarkan Mika pergi begitu saja.

__ADS_1



Bagaimana perasaan Mika sekarang? Ia pun tidak tahu. Terlalu banyak hal yang memenuhi hati dan pikiran, sehingga tidak ada satu pun materi yang masuk ke otaknya. Dalam kepalanya, hanya ada tentang Kai, Nagra, dan video rekaman itu.


“Lo mau ke UKS aja?” Pertanyaan Anggita menyentak kesadaran Mika. Ia nyaris memekik, jika tidak segera menutup mulut dengan telapak tangan. “Nanti, gue yang izinin ke guru.”


Ada kekhawatiran di wajah Anggita, yang membuat Mika tersenyum tipis. Sebenarnya, pergi ke UKS bukan ide yang buruk. Hanya saja, ia takut jika perasaannya semakin tidak beraturan ketika berada di ruangan hening itu. Akhirnya, ia hanya menggeleng pelan. Kemudian, berpura-pura mencatat di bukunya.


Selama sisa pelajaran hari itu, Mika sama sekali tidak sanggup berkonsentrasi. Setiap materi yang disampaikan guru, seakan hanya lewat di telinganya.


“Gue balik dulu ya,” kata Mika pada Anggita, hanya beberapa detik setelah guru mata pelajaran terakhir meninggalkan kelas. Tanpa menunggu jawaban dari Anggita, ia berlari meninggalkan ruangan. Raga sudah menunggu di depan kelasnya. Tanpa membuang banyak waktu, serta sebelum Raya dan Anggita menjatuhkan kecurigaan, mereka segera menuju area parkir sekolah.


“Kamu yakin kita bisa nemuin sesuatu di dalam apartemen Kak Nagra?” tanya Mika, ketika sudah berada di atas motor Raga.


Raga menyerahkan helm pada Mika, seraya mengangguk. “Nggak ada salahnya kita coba nyari di sana. Bisa jadi, si pembunuh atau Nagra meninggalkan sesuatu.”


Mika tidak menjawab. Ia hanya mengenakan helmnya, kemudian menepuk pelan bahu Raga. Memberikan isyarat agar cowok itu segera melajukan motor.


Ada debar di dada Mika, ketika motor hitam Raga meninggalkan area parkir sekolah. Melalui kaca spion motor Raga, ia sempat melihat Kai di belakangnya. Cowok itu menjatuhkan pandangan padanya, dengan sorot mata tidak terbaca.


Mika berusaha untuk mengabaikan rasa sakit di dadanya. Membunuh setiap jengkal perasaan yang sempat tumbuh untuk cowok itu, meski ia tidak yakin bisa.


Nagra pernah bilang, agar ia jujur pada dirinya sendiri. Namun, bagaimana bisa jujur ketika ia tidak mengerti perasaannya sendiri? Ia jatuh cinta pada Kai. Ia menyayangi cowok itu, lebih daripada yang pernah ia rasakan bersama Raga. Tidak. Ia tidak pernah benar-benar menyayangi Raga. Ia hanya menjadikan cowok itu sebagai sandaran saat kesepian. Jadi, ia hanya menyayangi Kai.


Hanya saja, ketika kenyataan pagi ini terungkap. Satu per satu perasaan itu, menjelma mata pedang yang bersiap untuk membunuhnya. Belum menusuk, hanya menggoreskan luka sedikit demi sedikit. Perih menjadi satu dengan rasa kecewa dan marah dalam dirinya. Anehnya pada saat seperti ini—ketika tinggal satu langkah ia menemukan titik terang atas kematian Nagra—ia justru menyesal telah diselamatkan oleh Kai hari itu. Ia justru menyesal karena Kai yang menyelamatkannya dari kebodohannya hari itu. Sebab, penyelamatan itu adalah awal mula perasaannya untuk Kai berubah menjadi hal yang nyata.


Seandainya bukan Kai yang menyelamatkannya hari itu, perasaan untuk cowok itu tidak akan tumbuh sedalam ini. Seandainya bukan Kai yang menyelamatkannya, ia tidak perlu melalui banyak kenangan bersama cowok itu. Dan seandainya bukan Kai yang menyelamatkannya, ia tidak perlu merasakan perasaan seperti ini sekarang.

__ADS_1


Rangkaian kata seandainya yang terbentuk dalam hatinya membuat Mika sama sekali tidak menyadari, jika motor Raga sudah memasuki area parkir apartemen. Debaran di jantungnya semakin hebat. Ada ketakutan dan kegelisahan yang menyelimuti. Bagaimana jika benar-benar Kai yang membunuh Nagra? Barangkali akan lebih mudah menjawab pertanyaan itu, jika ia tidak pernah mengenal Kai dan jatuh cinta pada cowok itu.


__ADS_2