
"Beni. Dia ada di sana!" Mika berseru.
"Gue bener, kan? Dia pasti ikut tim basket sekolah " Kai tersenyum puas karena tebakannya sama sekali tidak meleset. "Kita tunggu di sana aja, yuk. Paling sebentar lagi mereka kelar latihan."
Kai berjalan mendahului Mika menuju sebuah bangku semen panjang yang tidak jauh dari lapangan indoor sekolah. Pohon mangga menaungi tempat bangku tersebut berada, sehingga cahaya matahari sore hanya bisa mengintip dari celah-celah dedaunan.
Mika duduk di bangku tersebut dengan Kai di sampingnya. Mereka tidak terlibat percakapan selama beberapa saat. Hanya desau angin dan gemerisik dedaunan dari pohon di atas mereka yang terdengar. Kai sibuk mengetuk-ngetukkan jemarinya di permukaan bangku, menandakan bahwa ia sedang tidak sabar.
"Kamu kenal dekat sama Beni?" Mika membuka suara, memecah keheningan yang terjadi antara dirinya dan Kai.
"Nggak juga, sih. Gue cuma sekadar kenal aja." Kemudian, seperti teringat akan sesuatu, Kai sontak menoleh pada Mika. "Lo bilang, lo pernah ketemu sama Beni, kan? Hari itu ada sesuatu yang aneh, nggak, dari dia?"
Mika mengerutkan dahinya. "Aneh gimana?"
"Ya, aneh." Kai mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah di dua tangannya. Lantas, membuat gerakan menekuk dan tegak pada jari itu, mengisyaratkan bahwa ia memberi tanda kutip pada aneh.
Mika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia berusaha untuk mengingat setiap detail pertemuannya dengan Beni, hari itu. Namun, setelah mengingat lebih jauh, ia tetap tidak menemukan keanehan apa pun. Hingga akhirnya Mika hanya bisa menggeleng lemah.
Kai mengembuskan napas panjang. "Lo pernah mikir, nggak, kenapa Raga pindah ke sekolah pada pertengahan semester?"
Mika kembali menggeleng. Ia tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Namun, kemudian ia menemukan, itu memang aneh. Biasanya, akan sulit jika siswa pindah ke sekolah lain pada pertengahan semester.
"Oke, lupakan soal Raga. Gue mau tanya satu hal ke lo." Kai memutar tubuhnya menghadap Mika sepenuhnya. Matanya menatap Mika sangat dalam, hingga membuat jantung Mika berdegup cepat. "Kalau kasus Nagar selesai, boleh, nggak, gue nembak lo sekali lagi?"
"Ha?" Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Mika. Entah, kemana seluruh kosakata yang selama ini tersimpan dalam kepalanya pergi. Setelah itu, ia hanya membisu. Tidak habis pikir, mengapa Kai harus menanyakan hal itu. Maksud dia, mengapa Kai harus meminta izin padanya terlebih dahulu? Bukankah akan lebih baik jika cowok itu langsung melakukannya?
Kemudian, Kai tertawa kecil. Tangannya menggaruk tengkuk dengan kikuk. "Bodoh, ya. Ngapain juga gue tanya ke lo. Nggak usah dijawab. Gue udah tahu jawabannya."
Mika tidak tahu, apa arti di balik ekspresi wajah Kai saat ini. Bibir cowok itu mengatup rapat, membantuk garis lurus dan tipis. Namun, dalam hati, ia berharap jika raut wajah itu bukanlah pertanda buruk. Entah bagaimana ia harus mengatakan, tetapi ia tidak ingin kehilangan cowok itu. Ia tidak ingin Kai melangkah mundur.
Pikiran itu seketika buyar dari kepala Mika, saat pintu lapangan indoor terbuka lebar. Seketika, ia dan Kai berdiri. Mereka mengamati satu per satu siswa berseragam basket yang berjalan keluar dari ruangan itu. Tanpa sadar, Mika meremas tangan Kai, hingga menimbulkan senyum geli di wajah cowok itu.
Dua menit kemudian, seseorang yang mereka tunggu baru terlihat keluar dari ruangan itu. Beni berjalan beriringan dengan seorang pelatih basket sekolah, entah apa yang sedang mereka bicarakan.
"Beni!" Kai melambaikan tangan, begitu pelatih itu pergi lebih dulu.
Beni melihat ke arah Mika dan Kai dengan mata menyipit, selama beberapa saat. Sebelum akhirnya, senyum lebar terukir di bibir cowok itu. Beni berlari kecil menghampiri Mika dan Kai.
"Apa kabar lo? Gila! Makin ganteng aja lo." Beni melakukan high five dengan Kai.
"Kabar baik gue. Lo nggak ada niatan buat naksir gue, kan?" Kai memasang wajah bergidik, sehingga membuat Beni tergelak. Sementara, Mika tersenyum canggung saat mendengar percakapan itu.
"Tumben ke sini. Jangan bilang kalau lo lagi kangen sama gue." Beni menyipitkan mata curiga, yang kemudian ditanggapi Kai dengan mendaratkan jitakan pelan di kepala Beni.
"Kebetulan gue lagi ada perlu di sekitar sini. Jadi, gue mampir. Cuma pingin tahu isi sekolah lo, sih. Eh, kebetulan banget lihat lo baru selesai latihan." Kai menyampaikan kebohongan itu dengan santai dan lancar, sehingga hal itu sama sekali tidak terdengar seperti kebohongan. Mika bahkan heran, dari mana Kai mendapatkan alasan yang menurutnya cukup masuk akal itu.
Beni manggut-manggut, lalu pandangannya jatuh pada Mika. "Eh, lo yang dulu sama Raga, kan? Kok sekarang sama Kai?"
"Eh, itu..." Mika menggaruk kepalanya. Bingung mencari kata yang tepat untuk menjelaskan hubungan rumit antara dirinya dan Raga.
__ADS_1
Mengetahui kebingungan di wajah Mika, Kai segera menyahuti. "Dia udah putus sama Raga. Sekarang dia gebetan gue. Calon pacar, lebih tepatnya."
Mika meringis. Sementara, Beni menyipitkan mata curiga.
"Jadi, lo nikung Raga?" Pandangan Beni beralih pada tangan Kai yang saat ingin menggenggam jemari Mika.
"Bukan nikung, kita bersaing secara sehat." Kai mengedikkan bahunya, kemudian ia tertawa kecil.
Beni tergelak. "Gila! Gue nggak ngerti lagi sama hubungan persahabatan lo dan Raga. Bisa-bisanya kalian suka satu cewek yang sama."
"Ya, begitulah. Lo nggak akan ngerti seabsurd apa hubungan kita." Kai terkekeh. "Eh, kita mau ngobrol sambil berdiri, nih? Lo nggak buru-buru pulang, kan?"
Beni melihat jam tangannya sejenak. "Nggak kok. Tenang aja."
"Oke, bagus. Gue juga perlu tanya beberapa hal ke lo." Kai menjentikkan jemarinya antusias. Lalu, ia mengajak Mika dan Beni untuk duduk.
"Ada apa? Serius banget kayaknya." Beni menatap tidak mengerti, sekaligus penasaran pada Kai.
"Lo udah lama kenal sama Nagra?" Kai tahu itu pertanyaan konyol. Ia bahkan sudah tahu jika Beni mengenal Nagra sejak SMP. Namun, sebagai pancingan, ia rasa pertanyaan basa-basi itu tidak ada salahnya.
"Dari SMP. Gue kenal dia dari Raga. Kenapa?"
"Lo pernah ketemu dia lagi, nggak, waktu SMA?"
Beni terdiam sejenak. "Pernah. Waktu gue lagi jalan sama Alana, sama Raga juga. Gue nggak sengaja ketemu dia di minimarket."
"Lo nggak ketemu dia lagi setelah itu?" Beni menjawab pertanyaan Kai dengan gelengan pelan.
"Gini, Ben. Lo tahu, kan, kalau Nagra udah meninggal?"
Beni mengangguk. "Gue tahu. Raga yang ngasih tahu gue."
Setelah itu, Kai mengeluarkan ponsel Nagra dari saku jaketnya. Kai menghadapkan layar benda pipih yang menampilkan barisan singkat itu pada Beni. "Ini pesan dari lo, kan?"
Beni terdiam sejenak. Pandangan matanya masih serius menatap layar ponsel di hadapannya. Kemudian, akhirnya ia mengangguk pelan. "Iya, itu dari gue."
"Kenapa kamu ngirim pesan seperti itu?" Mika menjaga nada suaranya tetap terdengar biasa, agar tidak terkesan menyudutkan Beni.
Beni menghela napas. "Hari itu, gue lagi kesal sama Nagra. Gue ngirim pesan itu setelah tahu kalau Alana jadian sama Nagra. Tapi, gue nggak ada maksud apa-apa. Itu cuma ungkapan kekesalan. Gue udah lama ngejar Alana, tapi malah Alana malah pacaran sama dia."
Mika bisa melihat raut kecewa di wajah Beni. "Tapi, kamu tahu, nggak, kalau mereka nggak pernah—" Mika tidak melanjutkan kalimatnya. Kai melemparkan tatapan tajam padanya. Memberikan isyarat agar ia tidak membuka jika Nagra dan Alana tidak pernah pacaran di depan Beni.
"Nggak pernah apa?" Beni memandang bingung pada Mika dan Kai, secara bergantian.
"Nggak ada. Lupakan! Ben, gue nggak ngerti, kenapa lo harus ngirim pesan seperti ini ke Nagra?" Kai kembali mengambil alih interogasi.
"Gini, Kai. Lo pernah ngerasain, nggak, gimana rasanya waktu orang yang lo sayang malah jadian sama orang lain? Lo pernah ngerasain, nggak, gimana waktu perasaan khawatir itu tiba-tiba datang?"
"Gue tahu perasaan lo, Ben. Tapi, lo, kan udah kenal Nagra."
__ADS_1
Beni mendesis. Ia menarik napas panjang, lalu memejamkan matan sejenak. "Gue kenal Nagra, tapi gue nggak dekat sama dia. Gue nggak tahu bagaimana sifat dia. Lo bayangin aja, Kai, selama ini gue yang jaga Alana kalau Raga nggak ada. Dan, tiba-tiba aja dia jadian sama Nagra, seseorang yang nggak gue kenal dekat. Gimana gue nggak khawatir? Gue takut aja kalau nanti terjadi sesuatu sama Alana."
Kai manggut-manggut. Ia mengerti, bagaimana perasaan itu. Ia pun merasakan hal yang sama setiap kali melihat Mika bersama Raga.
"Setelah lo putus dari Alana, lo pernah lihat cewek itu lagi, nggak?"
"Nggak pernah." Beni menjawab cepat. "Gue nggak pernah tahu kabar dia. Setiap kali gue tanya ke Raga, dia selalu mengalihkan topik. Sampai sekarang, gue masih mencoba untuk nyari informasi keberadaan Alana."
"Alana depresi." Jawaban yang dilontarkan Mika membuat Kai dan Beni tersentak. Kai kaget karena tidak menyangka jika Mika akan memberitahukan hal itu. Sementara, Beni terkejut oleh kenyataan yang baru saja diketahuinya.
"Depresi, gimana maksud lo?"
"Ya, depresi. Dia kayak orang gila. Beberapa hari lalu, gue ketemu dia." Mika mengabaikan tatapan tajam Kai yang menyuruhnya untuk segera tutup mulut.
"Sialan! Kenapa nggak ada yang pernah ngasih tahu gue?" Beni memukul permukaan meja di depannya, dengan kesal.
"Sabar, Ben. Kita bisa jenguk Alana nanti. Sekarang, ada yang lebih penting dari keberadaan Alana." Kai menjeda kalimatnya. "Gue sama Mika lagi mengusut kasus kematian Nagra. Gue nggak tahu, kenapa polisi menghentikan kasus ini begitu saja waktu itu Jadi, sebelum menyerahkan kasus ini ke polisi, kita nyoba buat menemukan pelakunya lebih dulu."
Beni menghela napas panjang. Sorot terluka di wajahnya masih belum sepenuhnya menghilang. Napas cowok itu masih panjang dan dalam. Tampak jelas jika Beni masih berusaha untuk menetralkan keterkejutannya. Baru beberapa detik kemudian, cowok itu berkata. "Kalian punya rencana apa buat menemukan pelakunya?"
Kai dan Mika menggeleng bersamaan. Sampai saat ini, mereka belum tahu apa yang akan mereka lakukan. Sejauh ini, mereka hanya menyisir sedikit demi sedikit kemungkinan yang ada.
"Tapi, kita udah punya seseorang yang patut dicurigai." Mika menyahuti.
"Siapa?" Beni antusias untuk mendengar jawaban selanjutnya.
"Raga."
Mulut Beni terbuka sedikit mendengar jawaban itu. Sepasang matanya melebar. Tidak percaya jika mereka akan mengatakan nama itu sebagai terduga pembunuh. "Ke—kenapa kalian bisa nuduh Raga?"
"Karena, semua bukti mengarah ke dia," jawab Mika.
"Bukti? Bukti apa?"
"Rekaman CCTV," jawab Mika. Kemudian, ia kembali teringat sesuatu. "Kamu dekat sama Alana, kan? Apa kamu tahu kalau Alana sering pergi ke klub malam?"
"Alana pergi ke klub malam? Nggak mungkin banget. Dia itu cewek baik-baik, Mik."
"Tapi, Ben. Aku lihat sendiri kalau hari itu dia masuk ke klub malam sama seorang cowok. Aku nggak tahu cowok itu siapa."
"Alana? Klub malam? Cowok?" Beni mencoba untuk merangkai kata-kata kunci yang diucapkan Mika dalam kepalanya. Beberapa detik kemudian, ia menjentikkan jari. "Kenapa kalian nggak nyoba nyari tahu ke klub itu?"
"Aku nggak yakin kalau cowok itu masih ada di sana."
"Iya, Ka. Kenapa kita nggak nyari ke sana aja. Kota nggak akan tahu jawabannya, kalau nggak nyoba."
"Nah, Kai benar. Kalian coba cari ke sana dulu aja. Tapi, maaf, gue nggak bisa bantu." Beni memasang wajah menyesal. Lalu, cowok itu melihat jam tangannya. "Udah sore, gue balik dulu, ya."
"Hati-hati, Ben. Sorry ya, kita udah ganggu waktu lo." Kai menyambut uluran tangan Beni.
__ADS_1
Beni mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya. "Anytime, Bro. Gue balik dulu."
Selepas kepergian Beni, Mika dan Kai saling diam. Kai sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya. Sementara, Mika tengah tenggelam dalam pikiran dan pertanyaannya sendiri. Bagaimana caranya mencari laki-laki itu, sementara ia tidak mengetahui wajahnya? Saat itu, posisi laki-laki itu memunggunginya, sehingga ia tidak bisa melihat wajah laki-laki itu.