Red Thread

Red Thread
Sesal


__ADS_3

“Tante Yulia sayang sama lo.”


Kalimat itu menghantam Mika, sekali lagi. Memantul-mantul dalam kepalanya. Menghadirkan bising yang menyeretnya pada pusaran bernama sesal. Rasa bersalah yang menyelubunginya, memberatkan setiap langkah yang ia ambil. Tidak bisa ia hindari.


Mika berlari menyusuri lorong rumah sakit. Napasnya terengah-engah. Kakinya mulai terasa kebas akibat terus berlari dari area parkir rumah sakit. Aroma karbol dan obat yang menyengat, membuatnya sedikit kesulitan untuk bernapas.


Berulang kali ia tidak sengaja menabrak orang-orang di koridor. Beberapa dari mereka melontarkan makian. Beberapa hanya menyeringai, menatapnya tajam dan kesal. Ia tidak memedulikan hal itu. Saat ini, hanya ada rasa takut dan khawatir yang memenuhi setiap sudut hatinya.


Apa mamanya baik-baik saja? Pertanyaan itu masih setia mengikuti sejak ia meninggalkan rumah Anggita. Ia bahkan lupa berpamitan pada gadis itu. Masa bodoh. Urusan Anggita bisa ia selesaikan setelah ini. Sekarang, mencari tahu tentang keadaan mamanya adalah satu-satunya hal yang harus ia lakukan.


Mika baru menghentikan langkah, ketika tiba di depan kamar rawat yang dituju. Papanya sedang berdiri di samping pintu dengan kepala tertunduk. Meski begitu, ia masih bisa melihat wajah lelaki itu yang tampak kusut, khawatir, dan lelah. Membuat kekalutan dalam hati Mika semakin menjadi.


“Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan mama?” Martin mendongakkan kepala. Tampak terkejut mendengar suara itu. Selama beberapa saat, pandangannya tertuju pada Mika. Sepertinya ia tengah meyakinkan diri, bahwa yang berdiri di depannya memang benar-benar Mika.


“Kamu pulang?” Suara Martin terdengar pelan dan bergetar. Mika sengaja segera membuang muka, dua detik setelah beradu pandang dengan Papanya. Ia masih belum siap untuk lebih lama memandang lelaki itu. Melihat wajah papanya seakan melemparnya pada kejadian beberapa hari lalu.


“Mama bagaimana?” Mika mengulang kembali pertanyaannya. Kali ini dengan nada sedikit mendesak. Entah karena ia memang segera ingin tahu jawabannya, atau karena ia tidak suka mendengar pertanyaan papanya. Hanya saja, perasaannya menjadi tidak tentu arah setelah mendengar pertanyaan itu. Mengambang.


Kamu pulang? 

__ADS_1


Pertanyaan macam apa itu? Memangnya, dimana rumahnya selama ini? Bukankah ia tidak pernah memiliki tempat untuk pulang?


“Mama kamu terkena maag akut. Dia harus menginap di sini selama beberapa hari.” Martin akhirnya memberikan penjelasan yang membuat kekhawatiran Mika lenyap nyaris sempurna.


Mika mengembuskan napas lega. Ternyata, Mamanya hanya terkenal maag. Bukan penyakit jantung atau apa pun yang bisa menimbulkan kematian dalam sekejap. Setidaknya, ia tidak perlu menghadapi kematian yang disebabkan olehnya sekali lagi. Setidaknya, ia tidak perlu lagi menyandang status baru—dan, semoga tidak terjadi—sebagai pembunuh Mamanya.


Mika mengintip ke dalam kamar melalui kaca kecil di pintu. Mamanya tertidur di atas ranjang. Wajah mamanya tampak pucat dengan selang infus di lengan. Tanpa sadar, bibirnya tersenyum tipis. Sangat tipis. Ada kehangatan yang timbul di dadanya, meski sedetik kemudian tergantikan oleh rasa sakit dan muak.


Mamanya baik-baik saja. Lalu, untuk apa gue masih di sini? Pertanyaan itu hadir begitu saja dalam benak Mika. Seakan mendorong persendian di kakinya untuk segera melangkah pergi, secepat mungkin. Lebih cepat dari waktu ia datang ke tempat ini. Bukan apa-apa. Ia hanya tidak nyaman berada di antara orang-orang yang—mungkin—tidak mengharapkan kehadirannya.


Meski Anggita sudah menjelaskan panjang lebar. Meski gadis itu telah mengatakan bahwa sebenarnya orangtuanya—ralat, orangtua angkatnya—menyayanginya, tetap saja ia belum sepenuhnya bisa menerima. Perihal kebohongan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun. Perihal perlakuan mamanya. Dan, perihal sikap manis memuakkan yang ditunjukkan Martin padanya.


Mika ingin tertawa mendengar itu. Waktu yang tepat untuk apa? Waktu yang tepat mengusirnya? Atau, mereka memang sengaja menunggu hingga ia merasa frustrasi lebih dulu?


“Yulia tertekan setelah kamu pergi. Beberapa kali, Papa dengar dia menangis di kamar kamu.” Martin menjeda kalimatnya. Ada kesedihan yang membayang di sepasang matanya. “Yulia sebenarnya sayang sama kamu. Dia hanya nggak tahu cara menunjukkannya. Dia terlalu larut dalam egonya sendiri.”


Mika mendengkus saat mendengar hal itu. Walau pun sudah berusaha menguatkan hati agar bersikap biasa, tetap saja pandangan mata papanya seakan menjebaknya. Sepasang mata Martin tepat tertuju padanya. Membuat Mika harus menelan ludah dengan susah payah untuk meredakan nyeri di dada, bercampur rasa ingin berteriak untuk membantah pernyataan itu. Tatapan papanya tidak menuntut, pun menyiratkan bahwa ia bersalah. Tetapi, ia merasa tersudut. Tatapan mata itu sendu, tetapi membuatnya merasa seperti terdakwa yang hendak digiring ke ruang persidangan.


“Hari itu, Yulia yang memakan kue di dalam lemari es. Papa lihat sendiri. Tapi, papa pura-pura nggak tahu. Papa sering lihat Yulia ke kamar kamu waktu malam, hanya untuk memastikan bahwa kamu tidur dengan nyenyak. Yulia yang membuatkan kamu kue ulang tahun hari itu, bukan papa. Kemarin, dia bahkan nyari keberadaan kamu sampai jam tiga pagi. Papa mengikuti dia dari belakang. Berulang kali memaksanya untuk pulang karena hujan sangat deras. Tetapi, mama kamu bersikeras untuk nyari kamu. Dia ke rumah Anggita, ke makam Nagra, dan ke apartemen Nagra. Bahkan, papa lihat mama kamu sempat diusir oleh satpam apartemen karena mereka mengira mama kamu adalah tunawisma.”

__ADS_1


Mika tidak tahu, sejak kapan air mata mengalir di pipinya. Ia masih ingin menyangkal semua cerita itu, tetapi tidak mampu. Rasa bersalah, penyesalan, kemarahan, dan kekecewaan bercampur menjadi satu dalam dadanya. Menciptakan hawa yang tiba-tiba panas dan menghimpit. Ia kesulitan bernapas. Seluruh oksigen dalam paru-parunya seakan direnggut paksa. Seluruh persendiannya seketika melumpuh. Mika meluruh di lantai rumah sakit yang dingin.


*“Mika, jangan lari-lari. Nanti jatuh!”


“Nagra, jangan isengin adik kamu terus”*


*“Kamu sudah sembuh? Ini mama buatin bubur ayam.”


“Udah, nggak usah takut. Mama temenin kamu sampai tidur.”*


“Selamat ulang tahun, Mika sayang.”


Isakan Mika semakin keras, ketika ingatan itu berkelebat dalam kepala. Ia bahkan baru menyadari, jika selimut yang melingkar di tubuhnya hari itu barangkali adalah perbuatan mamanya. Beberapa bulan menyakitkan itu membuatnya lupa, jika ia pernah begitu dekat dengan mamanya. Mama yang pernah membuatkannya bubur ayam ketika sakit. Mama yang pernah menemaninya saat hujan, karena dulu listrik akan padam setiap kali hujan deras. Dan, mama yang selalu membelanya setiap kali Nagra berbuat menyebalkan.


Mika tidak tahu lagi, bagaimana perasaannya saat ini. Dalam kepalanya, berputar satu pertanyaan yang membuatnya semakin tersudut. Sebenarnya, siapa yang menjadi tokoh antagonis di sini? Dia atau mamanya?


Tanpa sadar, Mika menggerakkan tangannya untuk memukul dadanya sendiri. Berharap hal itu mampu mengurangi sakit yang terasa mengiris jantungnya. Ia menepis tangan Martin yang berusaha untuk memeluknya. Bukan memberikan ketenangan, sentuhan lelaki itu justru membuatnya semakin dalam tenggelam dalam penyesalan. Sudah terlalu jauh ia menuruti ego. Hingga lupa bahwa tempat yang beberapa bulan ini tidak ia anggap rumah adalah tempatnya pulang yang sebenarnya. Dalam raungan tanpa suara yang hanya bisa ia pendam sendiri, Mika berkata lirih pada semesta.


Masihkah ada kesempatan baginya untuk memperbaiki segala kesalahan yang pernah terjadi?

__ADS_1


__ADS_2