Red Thread

Red Thread
Kehancuran yang Tersembunyi


__ADS_3

Harusnya Mika tahu, menuruti Anggita untuk mengunjungi rumah Kai bukanlah ide yang baik. Hal itu sudah terbukti, bahkan ketika mereka masih berada lima ratus meter dari rumah cowok itu.


Keringat dingin membasahi dahi Mika, meski air conditioner di dalam mobil Anggita sangat dingin. Kakinya tidak mau berhenti untuk bergerak, seiring dengan dentuman kegelisahan di dadanya. Ia menggigiti bibir bawahnya, sesekali disertai desahan napas panjang—yang sama sekali tidak membuat perasaannya menjadi lebih baik.


Bagaimana jika cowok itu tidak mau menerima kedatangannya? Bagaimana jika Kai menertawakannya karena ia mendatangi cowok itu lebih dulu? Bagaimana jika Kai menganggapnya labil? Bagaimana jika Kai benar-benar akan menjauhinya? Rangkaian pertanyaan itu berputar-putar dalam kepala Mika, hingga rasanya seperti hendak meledak.


Sedangkan, Anggita memilih diam. Gadis itu tidak beraksi, meski mengetahui Mika yang sudah mirip cacing kepanasan. Gadis itu hanya tertawa dan melemparkan tatapan penuh arti, secara diam-diam. Tidak perlu ditanya lagi. Ia sudah tahu alasan Mika bersikap demikian.


Mobil yang dikendarai sopir Anggita berhenti tepat di depan rumah sederhana, dengan halaman luas—meski tidak seluas rumah Mika. Gusar yang menyelimuti hati Mika semakin hebat. Ia enggan beranjak. Namun, Anggita justru melotot tajam ketika ia mengatakan keengganannya. Sehingga mau tidak mau, ia harus mengikuti gadis itu.


Semoga nggak ada orang di rumah.


Mika terus menggumamkan kalimat tersebut dalam hati, sejak turun dari mobil. Ia tahu, kemungkinan Kai tidak berada di rumah sangat kecil. Motor cowok itu bahkan terparkir manis di halaman rumah.


Mampus gue! Umpatan itu mengakhiri gumaman dalam hati Mika. Pintu di depannya terbuka. Menampilkan wajah seorang cowok yang mengintip melalui celah pintu.


Mika mengerutkan kening. Wajah cowok itu asing. Ia bahkan tidak melihat cowok itu, ketika menginap di rumah Kai hari itu.


“Cari siapa?” tanya cowok itu. Nada suaranya dingin. Tidak ada raut bersahabat di wajahnya.


“Apa Kai ada di rumah?” Suara Anggita terdengar lirih, sedikit ragu-ragu.


“Kalian siapa?” Mika tidak tahan lagi dengan raut wajah yang dipasang cowok itu. Jika bukan karena etika kesopanan bertamu, ia pasti sudah melemparkan sepatunya.


“Kita… temannya Kai.” Jawaban Anggita yang mengambang, membuat cowok itu memicing curiga.


“Kai nggak ada di rumah!” tandas cowok itu, yang berhasil membungkam Anggita seketika.


Mika berdecak. Kedua lengannya terlipat di dada. Gestur yang selalu ia buat setiap kali merasa kesal dengan seseorang. Ia yang semula berharap jika Kai tidak ada di rumah, kini justru berharap agar cowok itu datang dan mengusir cowok menyebalkan di depannya. “Saya tahu Kai ada di dalam. Kenapa Anda bilang tidak ada?”


Anggita menyikut pinggang Mika. Memperingatkan Mika agar bersikap lebih sopan. Namun, Mika tidak tahan lagi. Masa bodoh dengan kesopanan bertamu.


“Dia nggak ada di rumah. Kenapa kalian nggak percaya?” cowok itu menyahut dengan tatapan tajam yang tertuju pada Mika.


“Bagaimana saya bisa percaya, kalau saya lihat sendiri motor dia ada di halaman.” Mika menunjuk motor Kai dengan lirikan matanya. Jawabannya membuat cowok menyebalkan itu akhirnya mengalah. Cowok itu mempersilakan Mika dan Anggita masuk, meski masih dengan pandangan curiga.


“Nama kalian siapa?” tanya cowok itu, setelah menutup kembali pintu rumah.


“Saya Anggita. Ini Mika,” jawab Anggita, terlalu bersemangat. Bahkan, suaranya terdengar lebih tinggi dari sebelumnya.


Mika memutar bola mata. Cowok itu memang cukup tampan dengan alis tebal, rahang tegas, dan lesung di kedua pipi setiap kali berbicara. Tapi, bagaimana bisa Anggita salah tingkah dengan cowok menyebalkan seperti itu?


“Mika,” gumam cowok itu. “Jadi, lo yang namanya Mika?” Raut wajah dingin cowok itu lenyap sepenuhnya. Mata cowok itu berkilat antusias, seperti baru saja mendapat hadiah undian puluhan juta rupiah.


Mika mengangguk. Matanya melemparkan sorot heran. Ia tengah berpikir, apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?


“Gue Reza, kakak sepupu Kai.” Cowok itu tersenyum tipis. Membuat Anggita harus menutup mulut rapat-rapat dengan satu tangan agar tidak berteriak heboh. Gadis itu bahkan sama sekali tidak mengalihkan perhatian dari sepasang lesung di pipi cowok itu. Untung saja, Mika segera meremas kuat jemari gadis itu. Anggita memang lemah pada pesona cowok-cowok ganteng, tapi selama Mika mengenal gadis itu, Anggita belum pernah benar-benar beralih dari Nagra.


“Kai pernah cerita soal lo ke gue. Ayo, ikut gue,” kata Reza, kemudian. Ia berjalan lebih dulu menuju kamar tempat Mika pernah menginap. Cowok itu memutar engsel pintu. Kemudian, membuka pintu dengan sedikit dorongan. Dari celah kecil yang tercipta, mereka hanya bisa melihat kegelapan yang menyelimuti ruangan itu.

__ADS_1


“Tapi maaf, cuma Mika yang bisa masuk.” Cowok itu berpesan, seraya memandang Anggita dengan sorot meminta maaf.


Mika ingin bertanya alasannya, tetapi urung karena Anggita melemparkan pelototan tajam dan mendorong pelan agar Mika segera masuk. Mika akhirnya mengalah, dan memasuki ruangan gelap itu.


Aroma asap rokok yang pekat menyerbu indera penciuman Mika, ketika menginjakkan kaki di ruangan itu. Beruntung ia masih mengingat letak perabotan di sana. Sehingga, tidak menabrak apa pun meski dalam keadaan gelap. Mika meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu. Kegelapan itu membuatnya bingung dan sesak.


Beberapa detik kemudian, lampu kamar berpendar. Terang. Mika bisa melihat segala hal yang ada di ruangan itu, termasuk Kai yang duduk di atas ranjang. Cowok itu bersandar pada dinding, dengan pandangan lurus menerawang. Mata cowok itu kosong. Di sela telunjuk dan jari tengah Kai, terdapat puntung rokok yang menyala.


Mika mengedarkan pandangan ke lantai. Lebih dari sepuluh sisa puntung rokok berserakan di sana. Kegelisahan yang semula menyelimuti seketika lenyap, tergantikan oleh rasa khawatir. Entahlah, ia seperti melihat Nagra kembali. Kondisi Kai, nyaris menyerupai Nagra hari itu. Berantakan, hancur, dan depresi. Lalu, ia menghampiri Kai dengan langkah lebar.


“Kai,” Mika berucap lirih. Sangat lirih. Hingga terdengar serupa bisikan.


Kai hanya melihatnya sekilas. Kemudian, kembali menatap dinding kamar. Sama seperti semula. Tatapan itu masih tetap kosong. Seakan, tidak ada kehidupan di balik mata gelap itu.


Seketika, sesak menghimpit dada Mika. Kai benar-benar menyedihkan. Wajah cowok itu pucat, rambutnya berantakan, dan kantung mata tebal menggantung. Bekas luka dan memar juga masih terlihat jelas. Ditambah lagi bola mata yang memerah. Entah karena kurang tidur, atau terlalu banyak terpapar asap rokok.


Baru saja, Mika hendak bertanya tentang apa yang terjadi. Suara berat Kai lebih dulu menyela. “Ngapain lo di sini?”


“K—kai, kamu kenapa?” Mika tidak sadar telah menggunakan panggilan itu lagi. Panggilan yang seakan meruntuhkan sekat di antara mereka.


"Pergi!” Hanya itu yang diucapkan Kai sebagai jawaban atas pertanyaan Mika. Suara itu terdengar begitu dingin, lelah, dan penuh penekanan.


Mika mengabaikan perintah Kai. Ia tetap bergeming di tempat, tanpa melepaskan pandangan dari cowok itu. “Kai, apa yang—”


“GUE BILANG PERGI! Lo budek, ya?” Teriakan Kai menyentak Mika. Gadis itu bahkan menutup mulut dengan tangan untuk menahan pekikan.


Kai mengatupkan rahang rapat-rapat. Matanya terpejam, tetapi giginya bergemeletuk. Beberapa detik kemudian, dengan penuh penekanan, ia kembali berteriak. “Pergi, Mika! PERGI!”


Mika tetap bergeming. Enggan pergi, meski sudah mulai ketakutan. Sorot mata Kai benar-benar tajam. Jika sorot mata itu bisa menjelma anak panah, ia pasti sudah terbunuh.


“Gue nggak butuh lo datang ke sini! Sialan!” Kai tidak memarahi Mika. Namun, lebih kepada diri sendiri.


“Kenapa lo harus datang ke sini? Kenapa lo harus lihat gue kayak gini?” Suara Kai bergetar, dipenuhi raungan putus asa. Cowok itu mengusap kasar wajahnya. Lalu, mulai membenturkan bagian belakang kepalanya ke tembok. Berkali-kali. Hingga membuat Mika harus mengambil tindakan.


"Berhenti, Kai. Berhenti.” Mika berteriak. Tangannya mencoba untuk menahan pergerakan kepala Kai, tetapi cowok itu berulang kali menepis dan mendorongnya agar menjauh.


Karena merasa Mika tidak akan berhenti untuk menahannya, Kai akhirnya mendorong Mika dengan keras. Hingga menyebabkan punggung Mika menabrak pembatas ranjang. Mika meringis kesakitan. Namun, hal itu segera teralih oleh bentakan Kai.


“Gue nggak butuh lo datang ke sini! Gue nggak mau lo lihat gue sebagai pecundang!" Kai mengacak-acak rambutnya. Lantas, kembali membenturkan kepalanya ke dinding.


“Aku mohon berhenti. Jangan sakiti diri sendiri lagi. Kamu bukan pecundang, Kai." Mika berteriak. Air mata sudah membasahi pipinya. Meski kewalahan, Mika akhirnya berhasil menarik Kai dalam rangkuman tangannya. Menahan setiap gerakan cowok itu agar tidak lagi menyakiti diri.


Kai meraung. Berteriak. Berusaha melepaskan diri. Cowok itu menangis. Hal yang tidak pernah Mika lihat selama ini. Dalam setiap isakannya, Mika bisa menangkap jelas kehancuran yang tidak pernah diucapkan. 


“Nggak ada gunanya lagi gue hidup. Gue cuma jadi sumber masalah. Gue udah hancurin hidup orang tua gue, hidup Nagra, dan sekarang gue udah hancurin hidup lp Semua orang ninggalin gue. Nggak ada gunanya lagi gue hidup, Ka. Gue cuma mau mati! GUE MAU MATI!” Kai mendorong Mika, berusaha untuk melepaskan lengan Mika yang mengurung tubuhnya. Namun, gerakannya berhenti saat Mika menangkup dua pipinya.


"Kai, dengarkan gue. Lo itu bukan sumber masalah. Lo itu Kai. Cowok yang pernah buat gue merasa bahagia. Cowok yang pernah menyelamatkan hidup gue di atap sekolah. Cowok yang pernah membuat gue merasa kalau masih ada banyak hal di hidup gue yang menyenangkan."


Kai mendengar hal itu. Rasa tenang sempat membuatnya terdiam beberapa saat. Namun, tiba-tiba saja rasa sakit itu lagi-lagi menyergap. Kai kembali memberontak. “Tinggalin gue! Kenapa masih di sini? LO BUDEK ATAU BEGO?”

__ADS_1


Mika menggeleng kuat-kuat. “Nggak. Gue nggak akan ninggalin lo”


“Sialan!” Kai mengempaskan cekalan Mika. Membuat gadis itu kembali terdorong. “Buat apa lo temuin gue lagi?”


Mika meringis. Punggungnya kembali terasa nyeri karena menghantam dinding dengan keras. “Gue mau nemenin lo. Gue nggak mau lo ngerasa sendiri.” Mika terdiam sejenak. Ia mengusap kasar air matanya, seraya menelan ludah. “Gue nggak mau kehilangan lo.”


Hening. Sepasang mata gelap Kai memancarkan sesuatu yang tidak terbaca. Mika mematung. Menanti reaksi apa yang akan diberikan cowok itu.


Namun beberapa detik kemudian, Kai justru menangis. Hanya menangis. Tidak ada ada lagi teriakan, pun usaha menyakiti diri.


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Kai jadi seperti ini?


Pertanyaan itu telah mengganggu pikiran Mika sejak menginjakkan kaki di kamar Kai. Pertanyaan yang belum juga mendapatkan jawaban. Dan justru, bertumbuh semakin hebat.


Mika menghampiri Kai, perlahan. Waspada, jika saja cowok itu kembali mengamuk. Ia menyentuh lengan Kai yang berguncang. Tidak ada reaksi penolakan. Akhirnya, Mika memberanikan diri untuk menarik cowok itu dalam rangkuman tangannya. Membiarkan Kai menangis di bahunya.



“Dari kemarin, Kai udah dua kali mencoba buat bunuh diri.” Reza membuka percakapan, saat ia dan Mika duduk di teras rumah. Anggita sudah pulang lebih dulu karena mendapat telepon dari mamanya.


"Kenapa?” Mika tidak percaya dengan sesuatu yang baru saja didengarnya. Bukankah hari itu Kai yang mencegahnya untuk bunuh diri?


Reza terdiam sejenak. Jemarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi di sampingnya. Pandangannya menerawang. Ada kebimbangan yang tersirat di sana. Apakah ia harus mengatakan yang sebenarnya, atau membiarkan Mika bertanya sendiri pada Kai?


Dan beberapa detik kemudian—setelah memastikan bahwa mengatakan yang sebenarnya tidak akan menimbulkan masalah baru—Reza akhirnya membuka mulut. "Dia ngerasa nggak berguna. Sejak kecil dia udah ditinggalin orangtuanya. Mereka menganggap dia hanya pengganggu, perusak kebahagiaan.” Reza menjeda penjelasannya. Pandangannya beralih pada Mika. “Dia mulai merasa lebih baik setelah ketemu sama lo. Asal lo tahu, bukan Kai yang bunuh Nagra. Tapi, dia selalu ngerasa bersalah. Karena beberapa hari sebelum Nagra meninggal, mereka sempat terlibat perselisihan. Kai bahkan sempat memukuli Nagra. Dia nggak sempat meminta maaf. Itu yang buat dia benar-benar down waktu lo bilang, kalau Nagra meninggal karena dia. Dan, karena lo nggak mau nemuin dia."


Seketika, Mika teringat pada video pemukulan Kai terhadap Nagra yang ia dapatkan dari Raga hari itu. Anggita benar, Kai memiliki alasan tersendiri mengapa insiden itu sampai terjadi. Namun, ia tidak tahu mengenai alasan itu. “Sebenarnya, apa yang disembunyikan Kai? Apa yang terjadi antara Kai dan Kak Nagra?"


Reza terdiam. Ia memejamkan mata selama beberapa detik. Bimbang. Ia tahu, Kai tidak akan suka jika ia menceritakan apa yang selama ini tersembunyi. Namun, ia pun tidak ingin Mika terus terjebak dalam anggapan yang salah tentang Kai. Bagaimanapun juga, ia tidak rela jika sepupunya itu disebut sebagai pembunuh.


Reza kembali membuka mata. Ia menghela napas panjang. Lalu, menatap Mika dengan penuh kesungguhan. “Kalian bisa tanya sendiri ke Kai, kalau dia udah lebih baik. Gue nggak mau melanggar privasi dia. Bilang juga sama Samuel, kalau dia udah nyerang orang yang salah." Reza berpamitan masuk ke rumah sebentar, setelah mengatakan hal itu.


"Samuel?" gumam Mika. Ia jadi teringat pada pertemuannya dengan Samuel di koridor kelas dua belas hari itu. Hari itu, Samuel terlihat gusar saat ia menyebutkan nama Kai. "Kenapa Samuel?"


Karena tidak juga menemukan jawaban dan gagal mendapatkan informasi dari Kai, Mika akhirnya memutuskan untuk pulang. Lagi pula, Raga juga sudah tiba di depan rumah Kai.


"Kamu ngapain di sini? Ini rumah siapa?" todong Raga saat menginjakkan kaki di teras rumah Kai. Pandangan mata cowok itu menyusuri setiap sudut halaman rumah.


"Ini rumah—" Belum sempat Mika menjawab pertanyaan itu, Reza sudah berdiri di ambang pintu. Ia hendak berpamitan untuk pulang, tetapi melihat raut wajah terkejut dari dua cowok itu membuatnya urung.


Mika memandang Reza dan Raga secara bergantian. Wajah Reza kaku dengan tatapan tajam. Sementara, wajah Raga memucat dengan bibir mengatup rapat.


Apa yang terjadi sama mereka?


Kebekuan itu hanya berlangsung selama beberapa detik. Reza lebih cepat menguasai situasi. Cowok itu mengulas senyum lebar, dan menghampiri Raga yang masih berdiri dengan tegang di tempatnya.


“Halo, Raga! Udah lama kita nggak ketemu. Apa kabar? Gimana kabar Alana?” Reza menepuk bahu Raga. Seolah, mereka adalah teman lama yang baru bertemu kembali.


Mendengar hal itu, sontak Mika membulatkan mata lebar-lebar. Dengan suara tinggi dan penuh keterkejutan, ia berteriak. "ALANA?"

__ADS_1


__ADS_2