Red Thread

Red Thread
Siapa Lelaki Itu?


__ADS_3

Mika mengajak tiga temannya untuk kembali ke apartemen Nagra. Ia perlu menenangkan diri diri terlebih dahulu selama beberapa waktu, sebelum melanjutkan penelusuran. Lagi pula, ia pun perlu memikirkan rencana untuk mencari tahu tentang siapa lelaki yang ditemui Alana di klub hari itu.


Mika menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil. Ia sangat lelah. Ia bahkan lupa, kapan terakhir kali ia tidur dengan tenang. Di sampingnya, Kai hanya meliriknya sekilas, beberapa kali. Cowok itu tidak bertanya apa pun. Hanya membiarkan Mika tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Mata Mika terpejam. Ia berharap bisa tidur, meski hanya beberapa menit. Sayangnya, suara-suara dalam kepalanya tidak mengizinkannya untuk beristirahat sejenak. Suara tidak berwujud itu terus memaksanya untuk bekerja, hingga kasus ini benar-benar tuntas.


Mika akhirnya mengalah. Ia membuka matanya kembali, dan menoleh pada Kai. "Kita ke rumahku aja," katanya.


Kai mengernyitkan dahi. Meski begitu, ia tidak bertanya apa pun. Ia hanya terus menjalankan mobil, dan memutar balik di tempat yang disediakan, sesuai permintaan Mika.


"Kenapa kita nggak jadi ke apartemen Kak Nagra?" Raya yang sejak tadi hanya mengamati kebisuan yang terjadi antara Mika dan Kai, akhirnya membuka suara.


"Gue ngerasa kalau ada sesuatu yang bisa gue temuin di rumah." Mika memberikan jawaban, walau pun ia sendiri tidak yakin. Sependek pengetahuannya, sebagian besar barang-barang Nagra sudah dipindah ke apartemen sejak cowok itu memilih untuk tinggal di sana. Dan yang sengaja ditinggal di rumah hanya barang-barang seperti kasur, lemari, dan meja belajar. Tidak ada sesuatu yang menarik dan mencurigakan.


Tidak ada yang mengatakan apa pun lagi. Deru mesin kendaraan dan suara klakson pun tidak mampu menyingkirkan keheningan yang terjadi di antara mereka. Hingga akhirnya, Kai membuka suara. "Gimana kalau hari ini, kita istirahat dulu aja? Muka lo udah pucat banget, Ka. Hampir mirip kayak zombie."


"Nggak, Kai." Mika menjawab cepat, hingga nyaris terdengar seperti bentakan. "Kita harus segera menyelesaikan ini. Percuma. Gue nggak akan bisa tidur dengan tenang kalau kasus ini masih belum menemukan titik terang."


"Tapi, Ka. Kalau lo sakit, semua juga nggak akan bisa berjalan lancar." Kai menolak keinginan Mika yang menurutnya terlalu berlebihan. Segenting apa pun situasinya, kesehatan adalah hal utama.


"Gue janji, gue nggak akan sakit."


Kai berdecak. Bagaimana Mika bisa menjanjikan itu, sementara penentuan sakit dan sehat di luar kemampuan manusia? "Tapi, begitu kita sampai, lo harus janji untuk tidur sebentar. Kita juga mau numpang tidur. Capek banget gue. Kalian juga pasti capek, kan?" Kai melihat Anggita dan Raya di bangku belakang melalui kaca spion tengah.


Memahami isyarat itu, Anggita langsung menjawab, "Iya, Ka. Gue capek banget. Pegel banget badan gue rasanya."


"Ntar, gue numpang tidur di rumah lo, ya." Raya menambahi.


Mika akhirnya mengalah. Tiga lawan satu. Ia tetap tidak akan menang. Akhirnya, ia hanya bisa menuruti permintaan teman-temannya. Lagi pula, tidak ada gunanya jika ia memaksakan diri untuk mencari sendiri, sementara teman-temannya tidur. Ia tetap membutuhkan teman untuk diskusi.


Tidak sampai satu jam, mobil Aggita yang dikendarai Kai berhenti di halaman rumah Mika. Pak Rudy menyambut kedatangan mereka dengan senyum lebar. Lelaki paruh baya itu menghampiri Mika yang baru turun dari mobil dengan wajah khawatir.


"Mbak Mika nggak apa-apa, kan? Ibu khawatir banget karena sudah dua hari Mbak Mika nggak pulang." Pak Rudy menyejajari langkah Mika menuju pintu rumah.


Mika tersenyum sedikit dipaksakan. "Nggak apa-apa, Pak. Dua hari ini Mika nginep di apartemennya Kak Nagra. Mika juga udah ngasih tahu Mama, kok."


"Mika, astagaaa! Kenapa kamu baru pulang? Mama khawatir sama kamu." Yulia berlari kecil dari arah rumah, lalu memeluk Mika.


Mika tertawa kecil. Sudah lama ia mendapat sambutan seheboh itu ketika pulang ke rumah. Dan, hari ini ia mendapatkannya. "Mika udah pulang, Ma. Mama tenang aja. Mika, kan, cuma ke apartemen Kak Nagra."


Yulia mengembuskan napas lega. Kemudian, ia menjewer pelan telinga Mika. "Dasar kamu, ya! Suka banget bikin Mama khawatir. Eh, tunggu!" Yulia mengamati setiap jengkal wajah Mika dengan ekspresi datar. "Kamu kenaoa kayak orang nggak tidur berhari-hari gini?"


"Mika memang nggak tidur, Tante," celetuk Kai dari arah punggung Mika yang langsung dibalas Mika dengan pelototan tajam.


"Dasar, kamu ini!" Lalu, arah pandang Yulia jatuh pada teman-teman Mika. "Ayo masuk. Tante udah masak banyak. Kita makan bareng."

__ADS_1


Tawaran itu disambut girang oleh Raya dan Anggita. Mereka bahkan langsung berlari kecil ke dalam rumah, mengikuti langkah Yulia. Kai masih berdiri di tempatnya. Ia memandang Mika penuh arti. Lalu, melangkah di samping Mika.


"Lo senang?" tanya Kai.


Mika mengerutkan dahinya geli. "Senanglah. Udah lama banget tahu, Mama nggak pernah sekhawatir itu sama gue."


"Bagus deh." Kai berdeham. "Ka, gue seneng bisa lihat lo senyum kayak gitu. Apa pun yang terjadi nanti, janji sama gue kalau lo akan tetap tersenyum seperti itu."


"Eh?"


Kai tersenyum kecil. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia berjalan lebih dulu memasuki rumah. Lantas, duduk di samping Anggita untuk menikmati makanan.


Di ambang pintu rumah, Mika berdiri mematung. Ada kembang api yang tiba-tiba meletup dalam dadanya. Seulas senyum kecil tersungging di bibirnya, tanpa sadar. Kai. Cowok itu memang selalu berhasil membuat Mika merasa berarti dan istimewa.



Mika tidak tahu bagaimana harus bersikap. Ia canggung, tetapi juga sangat bahagia. Ia tidak mengerti, mengapa hari ini Yulia bersikeras ingin menemaninya tidur. Awalnya, ia ingin menolak karena ia masih merasa harus menyelesaikan kasus Nagra. Namun, karena melihat teman-temannya yang sudah tertidur pulas di ruang tengah, ia akhirnya memilih untuk ikut tidur.


"Mau mama ceritakan dongeng?" Yulia menawarkan diri.


Mika menggeleng. "Nggak usah. Mama temenin Mika tidur aja."


Yulia tersenyum. Lalu, ia merebahkan diri di samping Mika, dan mulai bercerita tentang kenangan mereka dulu. Mika mendengarkan semua, tanpa ada yang terlewat. Ia juga mendengar cerita tentang Nagra saat memaksa Yulia dan Martin untuk menjadikannya sebagai bagian dari keluarga. Tidak ada lagi rasa sakit, yang ada hanya hangat. Tidak ada lagi rasa terluka, yang ada hanya bahagia. Dan untuk pertama kalinya, setelah bulan-bulan berat yang ia lalui, ia bisa tidur dengan nyenyak.



"Sorry. Nggak sengaja." Kai masih tetap mencari sesuatu di meja Nagra. Apa pun yang bisa memberikan petunjuk tentang seorang lelaki yang ditemui Alana di klub hati itu.


Mereka tidak benar-benar tidur. Setelah memastikan Mika tidur dengan lelap, mereka segera melaksanakan aksi untuk menggeledah kamar Nagra. Mereka juga sudah mendapat izin dari Yulia. Yulia bahkan antusias menanggapi rencana itu. Dan hasilnya, Yulia menemani hingga Mika tertidur agar tiga orang itu bisa menjalankan aksinya.


"Kai, ponsel Nagra masih di lo, nggak?" tanya Raya. Ia tiba-tiba memikirkan tentang sesuatu.


"Iya. Kenapa?"


"Gue mau pinjam sebentar." Raya mengambil ponsel Nagra dari tangan Kai, dan mulai membongkar isinya. Ia sendiri tidak tahu apa yang ia cari sebenarnya. Ia hanya penasaran, apakah benar tidak ada petunjuk apa pun yang ditinggalkan.


"Lo nemu sesuatu, Git?" tanya Kai. Ia mulai lelah membongkar meja belajar Nagra. Tidak ada sesuatu mencurigakan yang ia temukan di tempat itu.


Anggita mengacungkan sebuah flash disk yang ia temukan di bawah kasur Nagra. Entahlah, tiba-tiba saja memikirkan untuk sesuatu di tempat itu. "Kita perlu lihat isinya."


"Gue bawa laptop." Raya segera mengeluarkan laptop dari tasnya.


Pekerjaan mereka terhenti, selama menunggu isi flash disk itu tampil di layar laptop Raya. Benda mungil itu hanya berisi tugas-tugas sekolah, dan laporan kerja Nagra sebagai anggota OSIS. Namun, ketika mereka sudah nyaris menyerah dan menyimpulkan bahwa tidak ada apa pun dalam benda itu, Kai berseru, "Tunggu!"


Kai mengambil alih laptop itu dari tangan Raya, lalu mengubah setting-nya agar bisa melihat file-file yang tersembunyi. Benar saja, ada satu folder yang tidak mereka ketahui keberadaannya beberapa saat ini. Sebuah folder yang diberi nama dengan huruf random itu menarik perhatian mereka.

__ADS_1


"Coba buka!" Anggita memberikan instruksi.


Tidak lama kemudian, folder itu terbuka dan layar laptop menampilkan sebuah file video. Mereka saling berpandangan sesaat. Pikiran negatif pun mulai terbentuk dalam kepala Kai.


"Nggak sangka gue, Nagra ternyata nyimpen video 'begituan'." Kai berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jangan ngaco! Nagra nggak kayak lo." Anggita menghadiahi Kai dengan jitakan, hingga membuat cowok itu meringis sambil mengusap-usap belakang kepalanya.


"Bercanda kali, Git. Lo kenapa sensi banget sama gue?"


Anggita memutar bola mata. Ia memilih untuk mengabaikan Kai, dan kembali fokus pada laptop yang sudah mulai proses untuk menampilkan video itu.


Beberapa detik berlalu begitu lama. Mereka menahan napas, selama menunggu hingga layar laptop itu memutarkan video. Baru setelah video berputar, mereka bisa mengembuskan napas lega.


Video itu menampilkan wajah Alana yang kusut dan lelah. Lingkaran hitam, serta tulang pipi menonjol menghiasi wajah gadis itu. Nyaris sama seperti yang dilihat Anggita dan Raya di rumah sakit jiwa hari itu. Mata Alana pun memerah. Masih ada jejak air mata yang mengalir di pipinya. Alana tidak langsung membuka suara begitu video itu direkam. Gadis itu bahkan menangis terlebih dahulu, yang membuat Kai gatal untuk memutar video beberapa detik lebih cepat.


"Nggak usah di-skip! Kita tunggu aja sampai selesai." Anggita menepuk punggung tangan Kai yang sudah hendak mengarahkan kursor.


Kai berdecak. "Santai, Git. Sebenarnya, gue punya salah apa, sih, ke lo?"


Anggita membalas tatapan kesal Kai dengan tatapan sengit. "Gue masih kesal karena lo ngabisin minuman gue kemarin."


Kai mendesah. "Gue udah minta maaf kali, Git. Lagian, gue juga udah ganti minuman lo."


"Rasanya beda."


"Apanya yang beda, Anggita? Nama menunya sama, bahannya sama, pesannya juga di tempat yang sama." Kai mengacak-acak rambutnya gemas.


"Ssstt!! Kalian bisa diam, nggak, sih? Dia udah mau ngomong ini." Raya menengahi perdebatan tidak penting antara Kai dan Anggita.


Perdebatan itu selesai. Fokus mereka kini hanya tertuju pada satu titik, Alana.


"Halo, Nagra." Suara serak Alana membuka video itu. Setelah itu, ada jeda yang cukup panjang, hingga membuat tangan Kai mulai gatal untuk kembali mempercepat video itu.


"Gue sebenarnya nggak tahu, gimana caranya harus ngomong ini ke kamu. Aku nggak tahu, kamu bakal bisa nerima, atau nggak. Aku nggak tahu, kamu bakal percaya atau nggak. Tapi, Gra, aku nggak tahu lagi harus ngomong ini ke siapa." Alana mengusap air matanya. Kemudian, isakan kembali terdengar. Setelah menghapus air matanya, Alana kembali berbicara. "Aku hamil, Gra. Kamu mungkin nggak ingat apa yang udah kita lakukan di villa hari itu, karena kamu mabuk. Tapi, Gra, aku hamil. Anak kamu."


Raya menjeda video itu. Ia, Kai, dan Anggita saling pandang. Mereka mencoba untuk mencari jawaban atas pertanyaan sama yang timbul dalam kepala mereka masing-masing. "Memangnya, apa yang terjadi di Villa?"


Seketika, Kai teringat pada ucapan Samuel hari itu. Cowok itu pernah mengatakan jika alasannya bertengkar dengan Nagra hari itu adalah karena kejadian di Villa. Jadi, Samuel pasti tahu tentang kejadian itu. Sayangnya, Samuel tidak ingin menceritakan hal itu lebih jauh, sehingga Kai nggak bisa mengorek informasi dari cowok itu.


Raya kembali memutar video itu. Tidak ada yang diucapkan Raya, hingga video itu berakhir. Tepat lima detik sebelum video itu selesai, seorang lelaki memasuki kamar Alana. Raya, Anggita, dan Kai mencondongkan kepala lebih dekat ke layar laptop. Berusaha untuk mencari tahu tentang siapa lelaki itu.


"Alana, ayo makan. Kamu belum makan dari tadi pagi, kan?" Lelaki itu berjongkok di samping Alana. Dari gerakan tangan lelaki itu yang mengusap air mata di pipi Alana, mengisyaratkan bahwa mereka memiliki hubungan yang sangat dekat.


Video itu berakhir, tepat setelah si lelaki mengusap air mata Alana. Hak itu meninggalkan pertanyaan di dada Anggita, Kai, dan Raya. Mereka saling melempar pandang. Mencari dukungan, apakah mereka memikirkan sesuatu yang sama? Hingga pada akhirnya, Raya lebih dulu bersuara, mewakili isi kepala dua temannya, "Jangan-jangan, Kak Nagra dijebak. Jangan-jangan memang bukan Nagra yang buat Alana hamil. Tapi, lelaki itu."

__ADS_1


Anggita tidak tahu bagaimana perasaannya. Ia akhirnya bisa bernapas lega dan senang, karena tuduhan tentang Nagra yang menghamili Alana perlahan mulai menipis. Namun, kecewa tetap tidak bisa ia sembunyikan. Untuk tujuan apa Alana menuduh jika Nagra yang melakukan itu semua? Dan lagi, dugaan bahwa Alana bukan perempuan baik-baik kembali hinggap di pikirannya. Jika Alana memang perempuan baik-baik, mengapa gadis itu tidak melawan saat lelaki itu mengusap air matanya?


__ADS_2