Red Thread

Red Thread
Telepon Asing


__ADS_3

Mika tahu jika hidup Anggita sedang tidak baik-baik saja.


Nyaris dua tahun berada dalam lingkaran yang sama, Mika tidak pernah melihat sosok Anggita yang seperti ini. Berulang kali Mika berusaha untuk menegur Anggita, tetapi hanya tatapan tajam sekaligus rapuh yang ia dapatkan.


Melihat Anggita yang tidak juga memberikan tanggapan, Mika memutuskan untuk mengalah. Selama hampir empat jam di dalam kelas, ia memilih untuk tidak lagi banyak bertanya pada Anggita.


Mungkin Anggita butuh waktu.


Sikap diam Anggita, akhirnya membuat Mika harus bertanya pada Raya saat mereka berada di kantin.


"Anggita cerita sesuatu, nggak, ke lo?" tanya Mika, setelah mereka berhasil keluar dari kerumunan siswa yang tengah mengantri makanan di stan penjual soto.


Raya melihat ke arah Mika, dan langsung berseborok dengan tatapan heran milik Mika. Ia mempertahankan tatapan itu selama beberapa detik. Ada gemuruh di dadanya yang tiba-tiba menyusup. "Dia nggak mau terlibat sama lo lagi dalam beberapa waktu ini."


Mika termangu. Kenapa? Apa ia melakukan kesalahan pada Anggita? Sayangnya, setelah mencoba untuk mengingat segala sesuatu yang terjadi di antara mereka sejak beberapa hari lalu, ia tidak menemukan kesalahan fatal yang membuat Anggita memutuskan mengambil jarak darinya. "Kenapa?"


Tidak langsung ada jawaban dari Raya. Mika tahu, jika itu berarti tidak baik. Sorot mata Raya seakan mengatakan bahwa lebih baik ia tidak bertanya lebih lanjut. Dari sorot mata itu pula, Mika bisa melihat tatapan kasihan yang entah ditujukan untuk siapa. Dirinya atau Anggita?


"Lebih baik, lo jangan dekati dia dulu." Setelah mengatakan itu, Raya meninggalkan Mika.


"Tunggu, Ray! Gue salah apa?" Mika berteriak. Namun, Raya tidak memutar balik tubuhnya untuk memberikan jawaban pada Mika. Gadis itu hanya mengangkat satu telapak tangannya ke samping kepala, mengisyaratkan bahwa ia tidak ingin membahas masalah itu lebih lanjut.


Telapak tangan Mika mengepal tanda sadar. Pandangannya tidak lepas dari punggung Raya yang semakin menjauh. Apa lagi sekarang? Setelah masalah Nagra, masalah apa lagi yang membuat Anggita menjauh darinya?


Mika masih berdiri di tempatnya. Kepalanya berusaha menebak-nebak sesuatu yang telah terjadi. Lima detik, tidak ada jawaban yang bisa ia temukan. Sepuluh detik, masih tetap kosong. Di detik ke lima belas, ia akhirnya mendesah kesal dan memutuskan untuk kembali ke kelas. Selama apa pun ia memikirkan hal itu, tetap tidak akan ia temukan jawabannya, selain bertanya langsung pada Anggita.


Pernyataan Raya benar. Begitu menginjakkan kaki ke dalam kelas, ia melihat Anggita yang sudah berpindah tempat duduk bersama Raya. Gadis itu bahkan mengalihkan pandangan ketika tatapan mereka tidak sengaja bertabrakan.

__ADS_1


"Gue punya salah ke lo?" Mika memberanikan untuk bertanya, meski Anggita sudah memasang gestur berpura-pura tidak melihatnya. Lebih tepatnya, menganggap dia tidak ada.


Tidak ada jawaban dari Anggita. Gadis itu hanya melirik Mika sekilas, lantas kembali fokus pada buku fisika di hadapannya.


"Git, gue nggak suka lo yang kayak gini. Apa susahnya ngasih tahu dimana salah gue?"


Dengan kasar, Anggita meletakkan pensil di tangannya ke atas meja, hingga ujung dari benda itu patah. Ia mendongak, dan menatap tajam ke arah Mika.


Mika terkesiap. Tatapan itu sama seperti tatapan yang pernah Anggita berikan padanya beberapa bulan lalu, setelah seseorang menempelkan fotonya di majalah dinding dan menuduhnya sebagai pembunuh Nagra.


"Lo bisa diam, nggak? Gue capek, Ka. Gue benci sama lo. Lo udah hancurin hidup gue!"


"Maksud lo apa, Git? Gue salah apa?" Mika melirihkan suaranya. Seluruh pasang mata teman-teman kelasnya, kini sudah tertuju pada mereka.


Anggita menarik satu sudut bibirnya dan tertawa sinis. "Kalau lo pintar, harusnya tahu dimana salah lo." Anggita mengibaskan satu tangannya. "Udahlah, Ka. Gue nggak mau membahas ini lebih lanjut. Berhenti tanya ke gue. Berhenti ngomong sama gue. Berhenti dekati gue. Gue muak sama lo!"


Mika mundur satu langkah. Punggung tangannya mengusap genangan air mata yang belum meluruh. Rahangnya mengatup rapat. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia meninggalkan Anggita.


Selain keluarganya yang berantakan, ada satu hal lagi yang tidak Kai suka di dunia ini; melihat Mika murung. Sejak sepuluh menit yang lalu—sejak mereka meninggalkan halaman rumah Mika—gadis itu sama sekali tidak mengajaknya berbicara. Mika terus memandang keluar jendela, menghindari kontak mata dengannya.


"Kamu kenapa? Ada masalah?" Kai yang semula berniat menunggu Mika hingga gadis itu membuka suara, akhirnya tidak tahan dengan keheningan yang terjadi.


Mika hanya menggeleng pelan. Masih dengan arah pandang ke luar jendela.


"Ka, kalo lagi ngobrol, tatap lawan bicaranya. Nggak sopan buang muka kayak gitu." Kai menyentuh dagu Mika, dan membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


Di sela kegiatannya menyetir, Kai memerhatikan setiap jengkal wajah Mika. Kelopak mata gadis itu sembab. Tanpa bertanya pun, Kai tahu jika itu hasil dari menangis selama beberapa jam. Wajah Mika kusut. Polesan bedak dan lip tint tipis sama sekali tidak bisa menyembunyikan wajah gadis itu yang sedikit memucat.

__ADS_1


Kai mengerutkan dahi. "Ada masalah lagi sama keluarga kamu?"


Mika tidak menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, lantas menundukkan kepala. Matanya memerhatikan jalinan benang yang terlihat membentuk garis-garis panjang di celana jeans-nya.


"Bukan soal keluargaku. Ini soal Anggita," ucap Mika lirih. Ia masih belum ingin memandang wajah Kai. Ia tahu, sekarang, cowok itu pasti sudah memasang wajah bingung, dan memintanya untuk memberikan penjelasan lebih lanjut secara tidak langsung. "Dia bilang, dia nggak mau dekat aku lagi. Aku nggak tahu kenapa. Sikap dia hari ini aneh banget."


"Lagi siklus bulanan cewek kali, Ka," celetuk Kai, yang langsung dibalas Mika dengan decakan kesal.


"Nggak mungkin, Kai. Sekesal-kesalnya cewek kalau lagi siklus bulanan, dia nggak akan bersikap gitu. Aku benar-benar kayak nggak kenal lagi sama Anggita. Aku nggak tahu, salahku dimana. Tiba-tiba aja dia bilang, kalau aku udah hancurin hidup dia." Mika menggelengkan kepala. Hingga kini, ia masih bertanya-tanya tentang letak salahnya pada Anggita. Jika itu masih tentang Nagra, seharusnya Anggita sudah tahu, jika ia sama sekali tidak bersalah. Ia pun masih berusaha untuk mencari pembunuh yang sebenarnya.


Kai mengetuk-ngetukkan jemari telunjuknya di dagu. Tampak sedang berpikir, seraya memerhatikan lalu lintas yang sedang padat. "Mungkin dia lagi nggak stabil. Kamu sendiri, kan, yang bilang kalau keluarga dia lagi nggak baik-baik aja. Biarin dia tenang dulu. Dia cuma butuh waktu. Setelah itu, kamu bisa cari tahu alasan dia ngomong kayak gitu."


"Menurut kamu, apa alasan Anggita ngomong gitu?" Mika menoleh pada Kai. Matanya melebar, terlihat antusias menunggu jawaban dari Kai.


"Kenapa, ya?" Kai menggaruk kepalanya. Sudah lama ia tidak berinteraksi dengan Anggita, secara langsung. Sehingga, ia kesulitan untuk menebak sesuatu yang terjadi. "Karena, dia ngerasa hidup kamu sekarang lebih baik dari dia?"


"Cuma itu?" Mika menaikkan satu alisnya tidak percaya.


Kai mengedikkan bahu. "Mungkin. Karena, dia ngerasa hidup dia sekarang nyaris sama dengan hidup kamu yang dulu."


Mika mendesis. "Nggak mungkin. Anggita bukan orang kayak gitu. Ini pasti lebih rumit daripada sekadar rasa iri."


Kai mengedikkan bahu, sekali lagi. Rumit. Sama seperti otaknya setiap kali menghadapi Mika yang tiba-tiba merajuk tanpa alasan.


"Jalan pikiran cewek memang serumit itu, ya," ujar Kai dalam hati. Bibirnya tersenyum tipis. Miris saat menyadari bahwa ia tidak akan pernah memahami dengan pasti isi kepala perempuan.


Di tengah keheningan yang terjadi setelah obrolan tanpa solusi itu, ponsel Mika tiba-tiba berdering. Deretan nomor asing terpampang di layar ponsel.

__ADS_1


Mika mengerutkan kening sejenak, lantas melemparkan pandangan pada Kai. Setelah mendapat anggukan persetujuan dari cowok itu, ia menggeser ikon telepon hijau ke atas. Suara laki-laki dari seberang, seketika membuat Mika mematung.


"Saya tahu rencana kamu. Hentikan penyelidikan tentang Nagra, sekarang juga. Atau, saya akan cari kamu dan keluarga kamu."


__ADS_2