Red Thread

Red Thread
Mengalahkan Ego


__ADS_3

Satya menyipitkan mata curiga ketika melihat tiga temannya memasukkan motor ke halaman rumahnya. Merupakan hal langka melihat Abi, Samuel, dan Kai berada dalam satu lingkaran yang sama. Ia tahu, Abi dan Samuel memang sudah lama berteman. Namun sejak berada di kelas berbeda, mereka tidak pernah lagi terlihat bersama. Entah, untuk alasan apa. Satya tidak tahu.


“Kalian mau ngerampok rumah gue atau gimana? Ini udah jam sepuluh malam!” sungut Satya. Kedua tangannya dilipat di depan dada, seraya memasang tampang seperti tuan rumah galak. Sesekali, ekor matanya melirik ke pintu rumah. Berharap kehadiran tiga makhluk itu tidak mengusik ketenangan penghuni rumahnya.


Kai yang menghampiri Satya lebih dulu terkekeh pelan. “Sorry, Sat. Kita ke sini karena ada hal penting yang pakai banget. *Urgent*! Genting! Menyangkut hidup dan mati!”


“Ha? Siapa yang mau mati?!” Satya berteriak terkejut. Lupa jika suasana di kompleks rumahnya sudah sangat sepi.


“Nyamuk di rumah gue mati,” sahut Abi. Dari tatapan matanya, ia seakan ingin menimpuk Satya dengan sandal. “Suara lo udah ngalahin suara kucing kawin!”


Satya mendengkus. Lantas, ia menjatuhkan pandangan pada Abi dan Samuel secara bergantian. Sorot matanya menatap curiga pada mereka berdua. “Lo berdua, tumben barengan? Udah balikan?”


“Balikan, pala lo botak! Najis amat gue sama ini anak.” Samuel bergidik sambil melirik ke arah Abi. Sementara, Satya langsung menyentuh kepalanya. Memastikan bahwa ia tidak botak seperti umpatan Samuel.


Kai hanya menggelengkan kepala melihat perdebatan tiga manusia absurd di depannya itu. Ia sedang tidak berniat untuk menimpali ocehan ketiga temannya. Pikirannya hanya dipenuhi oleh satu tujuan, yaitu mengetahui seseorang yang sudah menyebarkan berita tentang Nagra.


“Kita boleh masuk, nggak? Atau, lo mau biarin kita kayak suami yang disuruh bininya tidur di luar?” celetuk Kai.


Satya tertawa kecil begitu sadar sudah nyaris lima menit mereka berdiri di luar. “Ya udah, masuk. Kalian nggak bawa apa-apa, ‘kan? Nggak ada yang nempel, ‘kan?” Matanya mengamati Kai, Satya, dan Samuel dengan teliti.


“Itu ada mbak-mbak berdiri di belakang lo. Mau kenalan?" sahut Abi asal. Jarinya menunjuk arah punggung Satya, sehingga membuat cowok itu seketika menoleh.


"Sialan lo!" Satya mengumpat ketika menyadari Abi hanya sedang mengerjainya.


Kondisi rumah Satya yang sudah sepi, membuat mereka mau tidak mau harus berbicara dengan setengah berbisik. Setelah Kai memberitahukan tujuan mereka yang berkunjung tanpa tahu waktu, Satya segera mengambil ponsel di kamar. Satya harus berjalan mengendap-endap seperti maling kucing, begitu tiba di depan pintu kamar orangtuanya.


Tidak sampai dua menit, Satya sudah kembali ke ruang tamu dengan ponsel di tangan. Cowok itu meletakkan benda pipih itu di atas meja dalam keadaan menyala. “Untung kemarin gue sempat screenshot.” Layar benda pipih itu menampilkan pesan dari seseorang beserta username orang tersebut. “Username-nya aneh nih. Nggak ada foto profil, apalagi biodata," kata Satya.


“F_23_A,” gumam Kai. Tanpa melepaskan fokus dari layar ponsel. “Ah, nggak kreatif nih. Jangan-jangan ini plat nomor dia?”


“Kayaknya ini bukan tulisan asal deh, Kai. Pasti ada maksudnya.” Samuel mencoba untuk menganalisis.


Abi yang sejak tadi fokus pada layar ponsel Satya, seketika tersentak. Dalam otaknya, telah terbentuk satu kemungkinan tentang username tersebut. “Kalian ingat nggak kalau Nagra meninggal tanggal 23. Bisa jadi, angka di username itu adalah tanggal meninggalnya Nagra.”


Satya menjentikkan jari. “Cerdas lo! Tumben pinter?”


Abi melirik tajam pada Satya, lantas mendengkus. “Kalau lo lupa, rangking gue selalu di atas lo.”


Satya hanya tertawa menanggapi pernyataan Abi.


“Terus, kalau F sama A?” tanya Kai, yang kemudian ditanggapi dengan gelengan oleh Abi.



Mika mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang begitu tiba di rumah Anggita. Hari ini ia benar-benar lelah. Penyelidikkan yang ia lakukan bersama Raga, membuat tenaga dan pikirannya seakan dipaksa untuk bekerja keras. Tanpa menghiraukan Anggita yang mengomel karena ia membuat ranjang gadis itu berantakan, Mika memejamkan mata.


“Lo jadi mutusin Raga?” Pertanyaan Anggita membuat sepasang mata Mika kembali terbuka lebar.


Mika mengembuskan napas lelah. Kemudian, mengubah posisinya menjadi duduk. “Gimana gue mau mutusin dia. Baru aja mau mutusin, tiba-tiba dia ngasih tahu gue tentang rekaman CCTV di apartemen Kak Nagra.”


“CCTV?” tanya Anggita. Entah mengapa, ia merasa aneh dengan hal itu. “Kenapa dia baru ngajak lo buat menyelidiki CCTV itu sekarang?”


Mika mengedikkan bahu. “Katanya sih, dia juga baru tahu kalau ada tetangganya yang kerja jadi petugas keamanan di apartemen Kak Nagra. Nah, dia tahu tentang CCTV itu dari orang tersebut.”


Tanpa melepaskan pandangan dari Mika, Anggita mengetuk-ngetukkan jemari di dagu. Terlihat jelas bahwa ia sedang berpikir. Tiba-tiba saja, terbentuk satu pertanyaan yang menimbulkan kecurigaan dalam dirinya. Mengapa Raga mengatakan hal itu, tepat ketika Mika ingin mengakhir hubungan mereka? Namun, ia segera menepis kecurigaan itu. Lantas, kembali bertanya pada Mika, “Terus, hasilnya gimana? Ada yang kalian temuin dari rekaman itu?”


“Nah, itu dia. Kita belum sempat lihat sampai selesai. Kita hanya tahu, kalau ternyata ada orang lain yang datang ke apartemen Kak Nagra setelah gue. Dari gerak-geriknya sih nggak mencurigakan. Apa lagi, dia sama kak Nagra kayaknya udah lama saling kenal. Tapi gue penasaran aja, kenapa dia datang ke apartemen itu dengan pakaian yang aneh.”


“Aneh gimana?”


“Ya aneh aja. Dia datang pakai jaket sama topi. Padahal waktu itu malam hari. Nggak mungkin kalau dia kepanasan di jalan.”

__ADS_1


Anggita tidak lagi menanggapi pernyataan Mika. Kepalanya tengah mencerna setiap kalimat yang terlontar dari bibir Mika. Perihal orang yang tidak ia ketahui itu, dan tentang siapa saja yang pernah dekat dengan Nagra.


Namun, sama seperti sebelumnya. Ia tidak mendapat satu pun jawaban. Selama ia menjalin hubungan dengan Nagra, ia hanya mengetahui jika cowok itu dekat dengan satu orang, Samuel. Hanya saja, ia masih belum dapat memastikan bahwa orang itu Samuel. Ia masih harus menanyakan hal itu pada Kai.


Seketika itu pula, satu per satu kenangannya bersama Nagra kembali menghantam. Tiba-tiba saja, dadanya terasa begitu sesak. Wajah, senyum, tawa, dan suara Nagra seakan kembali hadir memenuhi telinga dan kepalanya. Berputar di pelupuk mata, seiring dengan munculnya lapisan transparan di bagian itu.


“Aku nggak pacaran sama Alana, Git. Kamu harus percaya sama aku!” Nagra berkata dengan penuh kesungguhan.


“Gimana aku bisa percaya kalau hampir setiap malam minggu kalian selalu jalan berdua?” Anggita menggertakkan giginya. Menahan amarah dan kecemburuan yang sudah tiba di ubun-ubun.


“Alana lagi tertekan. Dia ada masalah dengan mantan pacarnya. Dia minta tolong ke aku—”


“Minta tolong supaya dia bisa dekat dengan kamu, gitu?”


Nagra mendesah. Tangannya meraup wajah dengan frustrasi. “Aku nggak pernah berpikiran untuk pacaran sama dia. Aku cuma mau bantuin dia. Hanya sampai dia bebas dari mantan pacarnya itu.”


*Anggita memejamkan mata, sejenak. Berusaha untuk meredam kemarahannya sendiri. “Aku perempuan, Gra. Aku bisa lihat kalau dia itu suka sama kamu."


“Dia yang suka, bukan aku. Kamu nggak perlu khawatir begitu. Buat aku, cuma ada kamu. Aku janji, nggak akan pacaran sama Alana. Tapi, kamu harus sabar ya. Aku pasti ninggalin dia kalau situasinya udah kondusif.”*


Anggita mencebikkan bibirnya kecewa. Meski sedikit tidak terima, ia tetap tidak bisa melakukan apa pun. Melihat hal itu, Nagra segera menarik Anggita dalam rangkuman tangannya. Berusaha untuk meredam kekecewaan gadis itu di dadanya. Ia tahu, selama ini gadis itu sudah menahan sakit hati. Ia tahu, gadis itu berusaha untuk memahami situasi, meski harus berulang kali menekan kecemburuan. Maka, ia tidak menyela. Ia hanya menyandarkan kepala Anggita di dadanya. Membiarkan gadis itu memukul dadanya, sambil sesekali mengeluarkan makian kesal.


*“Memangnya, apa yang terjadi antara Alana sama mantan pacarnya?” tanya Anggita, setelah berhasil kembali menenangkan diri.


“Katanya, mantan pacarnya selalu neror dia. Alana takut. Mantan pacarnya juga sempat beberapa kali nyoba nyelakain dia. Dia minta aku buat bantuin dia. Buat pura-pura jadi pacar dia. Biar mantan pacarnya nggak ganggu lagi.”


Anggita menatap Nagra, selama beberapa detik. Ada sesuatu di sepasang bola matanya. Sesuatu yang menyerupai kekhawatiran, tetapi juga ketidakterimaan. “Apa keluarganya nggak ada yang tahu? Kenapa harus kamu? Kenapa nggak Samuel? Kan, mereka bisa balikan.”


“Alana itu tertutup. Keluarganya nggak ada yang tahu soal itu.” Nagra kemudian tertawa kecil. “Samuel sama Alana masih belum akur, sampai sekarang.”*


Anggita mengusap kasar air matanya. Ingatan tentang hari itu, masih menjadi satu hal yang ia sesalkan. Andai saja hari itu ia tidak membiarkan Nagra terlibat semakin jauh dengan Alana, mungkin Nagra masih bersamanya sekarang. Andai saja ia segera menemui Alana untuk mengakhiri kepura-puraan itu, mungkin kejadian di apartemen itu tidak akan terjadi.


Dering ponsel milik Mika menyentak kesadaran Anggita. Ia kembali mengusap sudut matanya, memastikan jika tidak ada air lagi di sana. Pandangannya beralih pada Mika. Gadis itu tengah menggenggam ponsel di tangan, dengan wajah tegang.


“Siapa, Ka?” tanya Anggita, seraya berusaha membuat suaranya terdengar biasa.


“Papa.” Mika berkata lirih. Terhitung sejak tadi pagi, ini adalah kedua puluh kali papanya menelepon.


“Kenapa nggak diangkat? Siapa tahu penting.”


Mika menggeleng pelan. Gadis itu menggigit bibir bawahnya, dengan kuat. Mencoba untuk meredam gejolak rasa bersalah dalam dadanya.


“Maaf, Pa,” kata Mika, dalam hati. Tepat setelah dering ponselnya berhenti.


Baru saja ia hendak meletakkan ponsel di atas nakas, benda itu kembali berdering.


“Angkat aja, Ka,” kata Anggita.


Dengan berat dan setelah berpikir selama beberapa detik, Mika akhirnya memutuskan untuk mengangkat panggilan itu. Jarinya bergerak pelan, mengusap layar ponselnya ke arah kanan.


“Mika, kamu dimana?” suara berat papanya langsung terdengar dari seberang sana. Tanpa sapaan. Suara itu terdengar khawatir dan sedikit kalut.


“Ada apa, Pa?” tanya Mika, lirih.


“Kamu dimana? Kamu pulang ya.” Suara Martin terdengar tegas, tetapi sarat dengan permohonan.


Mika menghela napas panjang. Bukan ia tidak ingin pulang. Hanya saja, hatinya masih belum kuat untuk menerima semua yang telah terjadi. “Ma—maaf, Pa. Mika belum bisa—”


“Papa mohon, kamu pulang sekarang ya. Biar pak Rudi yang jemput kamu. Kamu tinggal bilang posisi kamu sekarang.”


“A—ada apa, Pa?” Mika mengerutkan dahi. Tidak biasanya Papanya memohon seperti itu.

__ADS_1


“Mama kamu sakit. Dia nggak mau makan selama dua hari. Dia nyariin kamu.”


Mika tertawa dalam hati mendengar hal itu. Mama mencarinya? Lelucon apa lagi yang sedang disiapkan kedua orangtuanya? Bukankah wanita itu yang telah mengusirnya? Bukankah ia hanya anak pungut yang dituduh pembunuh dan pembawa sial? Lantas, untuk apa mereka mencarinya?


“Kamu pulang sekarang ya.” Martin kembali memohon. Mika memejamkan mata rapat-rapat, selama beberapa detik. Berusaha untuk menekan rasa sakit dan sesak dalam dada. Tidak. Ia tidak akan kembali sekarang. Ia tidak ingin lagi menjadi pelampiasan Mamanya. Ia tidak ingin lagi menjadi seseorang yang dituduh pembunuh. Sudah cukup ia bersabar selama ini.


“Maaf, Pa. Tapi, Mika nggak bisa pulang sekarang. Bilang sama Mama, nggak usah cari Mika.” Mika memutuskan sambungan telepon begitu saja. Mematikan ponsel, dan melempar benda itu ke ranjang. Lantas, menyembunyikan wajah di balik bantal.


Ia telah memenangkan egonya. Tetapi, mengapa rasanya teramat menyiksa? Jantungnya seperti dihunjam ribuan belati. Rasa sakit ini benar-benar membuat dadanya seakan dihimpit. Mika menangis, tanpa suara.


“Ka, lo beneran nggak mau pulang?” tanya Anggita, setelah Mika mulai tenang. 


Mika menggeleng pelan. Wajahnya pucat dan berantakan. Lengkap dengan mata yang memerah.


“Mending lo pulang aja ya, Ka.” Anggita mengusap punggung tangan Mika. “Gue nggak bermaksud buat maksa lo. Tapi, lo juga nggak boleh egois.”


“Gue egois?” Mika tertawa mendengkus. “Gue capek, Git. Lo nggak tahu rasanya jadi gue.”


Anggita mengembuskan napas berat. “Gue memang nggak tahu rasanya jadi lo. Tapi, gue nyoba untuk ngerti rasanya jadi lo.”


Mika bersikeras menggeleng. Baginya, memang tidak ada yang mengetahui rasanya menjadi dia. Tidak ada yang tahu, seperti apa rasanya dituduh sebagai seorang pembunuh. Tidak ada yang tahu, seperti apa rasanya ketika ia harus menghapi kemarahan mamanya. Tidak ada yang tahu.


“Gue nggak mau bahas itu.” Mika merebahkan diri di atas ranjang. Memposisikan diri memunggungi Anggita yang menatap punggungnya dengan nanar.


Anggita menggigit bibir bawahnya. Setelah terdiam selama beberapa detik. Setelah mengakhiri perang dengan diri sendiri. Akhirnya, ia kembali bersuara. “Kemarin tante Yulia nyari lo ke sini. Hujan-hujanan. Kedinginan.”


Pandangan Anggita tertuju pada punggung Mika yang tetap bergeming.


“Tante Yulia memohon sama gue untuk bawa lo pulang. Gue udah nawarin buat masuk, tapi tante Yulia nggak mau. Katanya, dia mau cari lo sampai ketemu. Gue nggak tahu lagi, kemana setelah itu beliau pergi.”


Mika tetap pada posisinya. Berpura-pura tidur. Meski Anggita tahu, beberapa kali gadis itu menarik napas panjang.


“Lo nggak kasihan sama Tante Yulia? Kayaknya, beliau ngerasa bersalah banget.” Anggita menyentuh bahu Mika, dan membuat gadis itu tersentak. “Lo pulang ya, Ka. Kasihan Tante Yulia sama Om Martin.”


“Kenapa? Kenapa mama harus nyari gue?” Mika bertanya dengan suara bergetar.


Anggita tersenyum kecil begitu mendengar sahutan dari Mika. “Karena, Tante Yulia sayang sama lo. Beliau mungkin nggak tahu cara mengungkapkan perasaan itu. Kesedihan dan rasa kehilangan atas kepergian Nagra, membuat Tante Yulia nggak bisa menafsirkan perasaannya sendiri.”


“Mama nggak pernah sayang sama gue.” Mika masih mencoba untuk mengelak dari penjelasan Anggita dan dari suara dalam hati kecilnya sendiri.


“Ka, semua orang pasti punya kesalahan. Kalau lo bisa maafin gue, kenapa lo nggak bisa maafin orangtua lo?”


“Karena, mereka udah bohongin gue. Mereka nyembunyiin kenyataan selama bertahun-tahun kalau ternyata gue cuma anak pungut. Mereka jadiin gue sebagai kambing hitam atas kematian Nagra!” Mika nyaris berteriak. Frustrasi. Ia bahkan sudah bangkit dari posisinya.


Anggita menghela napas panjang. Menahan diri untuk tetap tenang. “Mereka nggak bermaksud kayak gitu. Coba lo pikir. Kalau mereka nggak sayang sama lo, kenapa mereka mau ngerawat lo sampai sebesar ini?”


“Karena, dulu Nagra yang minta supaya gue jadi bagian dari keluarga itu.” Mika nyaris putus asa. Suara dalam hatinya masih enggan berhenti memintanya untuk pulang.


“Kalaupun dulu Nagra masih ada, dia tetap nggak akan bisa apa-apa kalau tante Yulia sama om Martin nolak buat ngerawat lo. Tapi, buktinya mereka mau ngadopsi lo dari panti asuhan. Mau ngerawat lo, masukin lo ke sekolah. Lo masih mau bilang kalau mereka nggak sayang?”


Mika benar-benar putus asa. Egonya masih meledak-ledak, enggan untuk mereda. Sedang, suara di hati terus memaksanya untuk mengalah dan segera menemui mamanya. Ada satu sisi hatinya yang menyetujui setiap pernyataan Anggita. Namun, ada sisi lain yang terus berusaha untuk mengelak. Pergulatan itu membuatnya lelah. Hingga tidak ada yang bisa lakukan, selain menangis.


Beberapa detik kemudian, Mika beranjak dari posisinya. Bergerak cepat menuju nakas, dan mengambil ponselnya. Ia menekan tombol power selama beberapa detik. Untuk pertama kalinya, ia merasa proses booting di ponselnya terasa sangat lama.


Lima detik setelah ponselnya benar-benar siap digunakan. Benda itu bergetar. Sebuah pesan masuk dari papanya membuat sepasang mata Mika melebar. Ia menahan napas, selagi jarinya bergerak untuk membuka pesan itu.


Papa


Mama masuk rumah sakit.


Hanya satu detik setelah ia membaca pesan itu, Mika seperti tidak lagi berpijak di bumi yang sama. Penyesalan dan rasa bersalah yang pekat menyelimutinya. Tanpa menghiraukan keberadaan Anggita ia berlari meninggalkan kamar itu.

__ADS_1


__ADS_2