Red Thread

Red Thread
Selamat Ulang Tahun, Mika


__ADS_3

Mika terbangun ketika hidungnya menghirup aroma manis dari sesuatu. Ia mengerjapkan mata perlahan, hingga menjadi lebih jelas. Pandangannya beralih dari langit-langit kamar menuju nakas di samping ranjangnya. Sepasang matanya terbuka lebar saat menemukan sebuah kue ulang tahun di sana. Benda itu sontak membuatnya bangkit dari ranjang.


Matanya mengamati setiap sisi kue itu. Tidak ada surat atau pesan apa pun yang terselip di sana. Parutan cokelat yang melingkar di sisi luar permukaan kue berbentuk lingkaran itu, seakan memagari susunan huruf bertuliskan 'Selamat Ulang Tahun, Mika'. Senyum lebar terukir di bibirnya, ketika kepalanya menebak bahwa kue itu adalah buatan mamanya. Biasanya, wanita itu yang membuatkan kue di hari ulang tahunnya.


“Mika, kamu sudah bangun?” Ketukan pintu dan suara papanya, membuat Mika mengalihkan perhatian dari kue itu.


“Sudah, Pa,” jawab Mika cepat. Ia sempat mencolek krim vanila di kue itu, dan memasukkannya ke mulut. Lantas, ia segera berlari ke kamar mandi untuk bersiap-siap.


Tidak sampai dua puluh menit, Mika sudah keluar dari kamar dengan seragam dan tas ransel di bahu. Matanya tertuju pada aneka makanan yang dihidangkan di atas meja makan. Papanya tampak sibuk mondar-mandir dari dapur ke ruang tengah, seraya membawa piring-piring. Namun, ada satu hal yang seketika membuat Mika merasa kosong. Mamanya tidak ada di sana. Ruang tengah itu terkesan sepi, walau pun cukup banyak makanan yang dihidangkan di atas meja.


“Papa kapan datang? Mama kemana?” tanya Mika. Sepengetahuannya, Papanya baru akan pulang dua hari lagi.


“Semalam. Pekerjaan Papa selesai lebih cepat. Mama kamu ada di kamar. Kamu panggil mama kamu, ya. Makanannya sudah siap.”


Mika mengangguk bersemangat. Kemudian, melangkah menuju kamar mamanya. Namun, ketika ia berdiri di depan pintu kokoh kamar mamanya, keraguan mulai menyelimuti hatinya. Pelan, ia mengetuk pintu kamar itu. Dalam hati, ia berharap Mamanya akan menyambutnya dari balik pintu itu dengan wajah cerah dan senyum hangat. Namun, hingga beberapa detik berlalu, pintu itu tetap tidak bergerak. Mika memutuskan untuk mengintip ke dalam kamar melalui celah kecil yang tercipta. Kamar itu gelap. Meski begitu, ia masih bisa melihat mamanya yang duduk di depan meja rias.


“Ngapain kamu?” suara dingin Yulia membuat Mika tersentak. Mika membuka pintu sedikit lebih lebar, seraya tersenyum kikuk. Setelah nyaris satu tahun, ini adalah pertama kalinya ia masuk ke kamar mamanya.


“Makanannya udah siap, Ma. Mama mau makan di meja makan atau Mika bawakan ke—”


“Nggak usah sok baik! Saya bisa ke ruang tengah sendiri. Sekarang, kamu keluar!”


Mika menelan ludah. Ia pikir, mamanya akan bersikap sedikit lebih manis padanya hari ini. Bukankah, biasanya mamanya akan memanjakannya setiap kali ia berulang tahun? Kakinya melangkah mundur, tanpa menunggu lebih lama lagi. Lantas ia menutup kembali pintu itu, perlahan.


Mika menghela napas panjang. Ada sesak yang tiba-tiba melingkupi dadanya. Sepertinya ia memang harus menyadari, jika hidupnya sudah tidak lagi sama.


“Bagaimana kue ulang tahunnya? Kamu suka?” tanya Martin, saat Mika mendaratkan tubuh di atas kursi makan.


Mika mengulas senyum. Diam-diam, ia berharap Papanya tidak akan menyadari senyum terpaksanya itu. Kemudian, ia mengangguk pelan. “Papa yang buat? Terima kasih, Pa.”


Martin tersenyum kecil. Lantas, mendekati Mika dan mendaratkan kecupan singkat di kening Mika. “Selamat ulang tahun, Sayang.”


Mika kembali memaksakan seulas senyum. Ia pikir, Mamanya yang membuatkan kue itu. Ia pikir, Mamanya sudah kembali menerimanya. Ia pikir, hidupnya sudah sedikit lebih baik. Namun, ternyata ia salah. Kebahagiaan yang semula tumbuh dalam dadanya, seketika lenyap. Ada kekecewaan yang menggumpal di sudut hatinya. Ada air mata dan kesedihan yang harus kembali ia telan sendiri.



Raga Angkasa


Happy birthday.


Nanti sore, kita ketemu di taman ya.


Mika tersenyum kecil saat membaca pesan itu. Ini adalah pertama kalinya ia merayakan ulang tahun bersama cowok itu. Tidak ada kejutan atau pesan selamat ulang tahun di tengah malam. Raga justru mengiriminya pesan ketika bel sekolah nyaris berbunyi, tanpa menemuinya. Untungnya, ia sudah tahu sejak awal. Raga memang bukan tipe cowok romantis.


Mika hendak memasukkan ponselnya ke saku, ketika tiba-tiba Anggita menjatuhkan tubuh di samping kursinya. Gadis itu tidak menyapanya. Anggita hanya meletakkan tas di atas meja, yang kemudian digunakan sebagai bantal.


Mika memandang Anggita dengan alis terangkat. Bingung dan tidak mengerti atas kedatangan gadis itu di kursi sebelahnya. Mengapa tiba-tiba Anggita ada di sampingnya? Kemana Raya?


“Git?” Mika memberanikan diri untuk berbicara. Namun, hanya dibalas desisan oleh Anggita. Akhirnya, Mika memilih untuk kembali tutup mulut, dan tidak bertindak lebih jauh.

__ADS_1


“Lo nggak mau tanya, gue kenapa?” terdengar nada kesal dalam suara Anggita.


“Eh?” Mika terkejut. Mengapa Anggita bisa tiba-tiba berubah? Gadis itu bahkan bersikap seperti sebelum mereka terlibat pertengkaran di kamar mandi hari itu.


“Ke—kenapa? Lo kenapa?” Mika tergagap. Sorot mata Anggita yang menatap lurus padanya, membuatnya gugup setengah mati.


Anggita yang beberapa detik lalu terlihat menahan tawa, kini benar-benar tertawa. Mika semakin tidak mengerti. Sebenarnya, apa yang terjadi pada Anggita? Bukankah beberapa hari lalu, mereka seperti tidak pernah saling mengenal? Bukankah hari itu Anggita terlihat sangat membencinya?


“Lo lucu, tahu nggak? Gue jadi kangen bareng sama lo.” Tanpa menunggu jawaban, Anggita menarik Mika ke dalam pelukan. Hal itu berhasil membuat tubuh Mika menegang. Keterkejutan tidak bisa lagi ia tutupi.


“Maafin gue ya, Ka. Harusnya, hari itu gue nggak kasar sama lo. Gue bahkan langsung nuduh lo tanpa mencari tahu kebenarannya lebih dulu,” kata Anggita. Suaranya terdengar lirih dan berat. Suara khas yang sarat akan sebuah penyesalan.


“Apa yang terjadi?” tanya Mika. Dalam hati, ia merutuki diri sendiri. Ia yang terlalu bodoh untuk mengartikan, atau Anggita yang memang membingungkan? Anggita mendesis, kemudian melepaskan rangkuman tangannya. Matanya menatap kesal pada Mika. “Lo belum paham juga? Gue minta maaf sama lo.”


“Bukan itu. Kenapa tiba-tiba lo minta maaf?”


Anggita menundukkan kepala dalam-dalam. Menekuri ujung sepatunya sendiri. “Harusnya gue tahu, kalau ternyata bukan lo penyebab Nagra meninggal. Ada orang lain yang memang sengaja buat jebak lo, demi menghilangkan jejak dia. Gue dengar itu dari seseorang hari ini.”


“Siapa?” Mika tidak bisa menutupi kebingungan di wajahnya.


Anggita menggelengkan kepala. "Gue juga nggak tahu, siapa yang udah berusaha buat jebak lo. Tapi, gue tadi nggak sengaja dengar obrolan tentang Nagra waktu mau ke kelas. Maafin gue ya, Ka. Gue benar-benar menyesal udah nuduh lo sembarangan. Gue mau ngelakuin apa pun, asal lo maafin gue. Gue mau jadi pembantu lo selama di sekolah. Bahkan kalau lo nyuruh gue minta maaf di depan yang lain, gue juga akan lakuin.”


"Lo dengar itu dari siapa?" Mika masih belum mengerti, mengapa ada seseorang yang berniat untuk menjebaknya. Selama ini, ia bahkan tidak pernah terlibat perselisihan dengan siapa pun. Lantas, siapa?


"Ka, lo dengar gue?" Anggita menggerakkan tangan di depan wajah Mika. "Ck! Malah ngelamun."


Mika tersenyum kecil. Ia menggerakkan tangannya untuk menepuk bahu Anggita dengan pelan. “Lo nggak perlu ngelakuin itu. Gue udah maafin lo. Gue juga salah, karena nggak pernah tahu kalau ternyata lo pernah pacaran sama Kak Nagra. Sahabat macam apa gue ini?”


Setidaknya, masih ada empat hal baik yang bisa ia syukuri di hari ulang tahunnya; kesempatan untuk membuka mata, perayaan kecil dari Papanya, kembalinya Anggita, dan ucapan dari Raga. Untuk kali ini, biarkan ia menganggap hal terakhir itu sebagai sesuatu yang bisa ia syukuri.



Anggitaaa_


Ka, ke atap sekarang!


Mika membaca pesan itu, tepat ketika bel pulang berbunyi. Anggita memang sudah meninggalkan kelas sejak satu jam sebelum pembelajaran hari ini berakhir. Ia sempat curiga. Sebab, melihat Anggita membolos salah satu mata pelajaran adalah hal yang sangat langka. Biasanya gadis itu akan memaksakan diri untuk masuk meski sakit, hanya agar tidak tertinggal materi.


Ia mengerutkan dahi. Barang-barang gadis itu masih ada di kelas. Lalu, apa yang dilakukan Anggita di atap? Mika mengalihkan pandangan pada kursi Raya. Gadis itu juga tidak ada di sana. Raya meminta izin ke kamar mandi sejak sepuluh menit lalu, tetapi belum juga kembali hingga detik ini. Sebenarnya, kemana mereka? Karena tidak juga menemukan jawaban atas pertanyaannya, Mika akhirnya menuruti perintah Anggita. Dengan penuh keraguan, ia meninggalkan kelas yang sudah setengah kosong.


“Selamat ulang tahun!” teriakan itu menyambut Mika, saat ia menginjakkan kaki di lantai beton atap sekolah.


Ia masih terdiam. Pandangannya jatuh pada Anggita, Raya, dan Kai yang berdiri di depannya, sambil mengenakan topi kerucut dari kertas. Ada kue ulang tahun sederhana di dalam kotak yang dibawa Kai. Sebuah meja yang dulu pernah digunakan Mika untuk bersembunyi saat berganti pakaian, sudah berpindah posisi ke tengah atap. Dan, di atasnya terdapat dua kotak kecil yang ditumpuk.


“Selamat ulang tahun, Mika.” Anggita memasangkan topi kerucut di kepala Mika. Lantas, menarik Mika ke tengah atap. Raya memainkan lagu selamat ulang tahun dari ponselnya, lantas ikut bernyanyi bersama Anggita dan Kai.


“Tiup dulu lilinnya. Jangan lupa, buat permintaan.” Kai menghampiri Mika dan menyodorkan kue di tangannya, setelah lagu itu berakhir.


Mika memandang cowok itu sejenak, kemudian beralih pada kue di dalam kotak yang terbuka. Kue itu tidak besar. Hanya berdiameter 16 sentimeter dan tidak bertingkat. Tidak ada hiasan di permukaan atas kue itu selain dua buah lilin. Terlihat sangat polos dan biasa. Namun, ada sesuatu yang membuat kue itu spesial. Jauh lebih spesial daripada kue mewah yang ia temukan di kamar hari ini. Mungkin, karena kali ini ia menemukan kehangatan yang sesungguhnya. Tanpa luka dan kebohongan yang ditutupi.

__ADS_1


Sepasang mata Mika berkaca-kaca. Ia segera memejamkan mata, sebelum air matanya menetes. Bukan harapan yang ia sampaikan, melainkan sebuah pertanyaan sederhana yang tidak akan pernah terjawab.


“Hari ini aku ulang tahun. Kak Nagra nggak mau ngucapin sesuatu kayak dulu lagi?”


Setetes air mata meluruh di pipinya, setelah ia meniup dua lilin yang tertancap di kue itu. Ada kehangatan dan suatu gejolak dalam dadanya. Gejolak kebahagiaan yang tidak bisa diutarakan dengan kata.


Tanpa sadar, ia menghambur untuk memeluk Kai, Anggita, dan Raya yang berdiri di depannya. Memeluk tiga orang itu dengan sangat erat. Berterima kasih untuk kejutan yang telah mereka berikan. Dan, berterima kasih pada Tuhan untuk segala hal yang telah ia terima hari ini. Meski kebahagiaan ini tidak sesempurna dalam mimpinya, setidaknya cukup sebanding dengan rasa sakit yang selama ini ia terima.


“Ka, gue nggak bisa napas.” Kai berbisik. Suaranya seperti tercekik.


Mika memekik, lantas segera melepaskan lingkaran tangannya di leher cowok itu. Kai yang lebih tinggi lima belas sentimeter darinya, memaksa cowok itu merunduk, sehingga lengannya menekan leher cowok itu.


“Maaf, Kak. Aku nggak—”


“Kai aja.” Kai memutuskan ucapan Mika.


“Ma—maaf, Kai. Aku nggak sengaja.” Mika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasanya aneh ketika harus memanggil cowok itu hanya dengan nama.


“Oh iya, Ka. Katanya hari ini Kak Kai mau ngomong sesuatu sama kamu. Aku sama Raya ke sana dulu ya.” Anggita menunjuk sisi lain atap, yang berjarak sedikit jauh dari Kai dan Mika.


Mika berusaha mencegah kepergian dua sahabatnya itu. Namun, mereka sudah lebih dulu berlari menjauh.


“Mika Arestya.” Suara Kai membuat Mika seperti tersihir. Gadis itu segera menoleh pada Kai. Dan, seketika ia terjebak dalam sorot mata lembut cowok itu.


“Gue nggak tahu, ini waktu yang tepat atau bukan. Gue tahu, lo masih pacaran sama Raga. Tapi, perasaan gue sama sekali nggak bisa dibohongi.” Kai menjeda kalimatnya sejenak. Tatapan Mika, membuat suaranya tercekat. “Gue nggak nyuruh lo untuk jawab sekarang. Lo bisa jawab kapan pun lo mau. Tapi, pastikan lo ngasih gue jawaban iya atau nggak.” Kai kemudian tertawa kecil. “Gue terlalu banyak ngomong ya.”


Kai mengulurkan tangannya, mengurung jemari Mika dalam genggamannya. Mika seperti tersengat. Hangat genggaman cowok itu membuatnya tidak bisa berpikir. Ia bahkan tidak tahu, sudah semerah apa wajahnya kali ini.


“Gue suka sama lo. Gue sayang sama lo. Gue nggak bisa lagi membohongi perasaan ini. Sejak pertama kali kita ketemu di kantin hari itu, perasaan ini semakin hebat.”


“Ta—tapi, Kai—”


Kai segera membekap mulut Mika dengan tangannya. “Gue belum selesai ngomong. Kalau misalnya nanti lo nggak bisa nerima gue, izinkan gue untuk tetap menjaga lo dari jauh. Izinkan gue untuk tetap melindungi lo, karena itu janji gue. Dan, gue harus menepatinya. Jangan heran kalau suatu hari nanti, gue tiba-tiba datang hanya buat bukain lo tutup air mineral, benerin tali sepatu lo kalau terlepas, atau ngasih tisu setiap kali lo nangis. Setidaknya, dengan begitu gue tetap bisa ada di dekat lo tanpa buat siapapun yang jadi pasangan lo sakit hati.”


“Aku pikir selama ini kamu cuma main-main.”


Kai tertawa pelan. “Gue nggak pernah main-main sama perasaan gue ke lo, Ka. Kemarin, gue memang nggak terkesan serius waktu bilang ini. Tapi hari ini dan hari-hari kemarin, gue serius. Lo aja yang nggak nyoba buat ngertiin ucapan gue.”


“Tapi, anak perempuan yang kamu ceritakan kemarin?”


“Anak perempuan itu sebenarnya—”


Belum sempat Kai menyelesaikan kalimatnya, suara pintu yang dibuka paksa mengagetkan mereka. Raga berdiri di ambang pintu. Tidak ada raut marah. Wajah cowok itu justru pucat pasi, seperti ketakutan.


Mika tersentak. Refleks, ia memutar tubuh menghadap Raga. Lantas, mengambil beberapa langkah ke belakang. Melihat Raga yang sepucat itu, membuat Mika seketika gugup dan sedikit takut. Ia ingin bersembunyi di belakang punggung Kai, tetapi Raga lebih sigap mencekal sikunya. Menariknya untuk pergi dari atap, sebelum tiga orang yang lain tersadar dari keterkejutan.


“Gue nggak akan biarin lo ngerebut Mika dari gue!” ujar Raga pada Kai dengan penuh penekanan. Tepat sebelum ia menutup kembali pintu itu dengan bantingan keras.


Anggita mencoba mengejar Raga dan Mika, tetapi Kai lebih dulu menahannya.

__ADS_1


"Jangan." Hanya itu yang diucapkan oleh Kai, tanpa berniat untuk memberikan penjelasan lebih panjang.


__ADS_2