
Jarum jam belum genap menunjukkan pukul enam pagi. Sekolah masih sangat sepi di jam seperti ini. Apa lagi, cuaca pagi ini mendung, lengkap dengan hawa dingin yang menusuk kulit. Hanya ada satu dua siswa yang berjalan di koridor utama. Biasanya, siswa yang datang di pagi buta seperti ini adalah siswa yang bertugas untuk piket atau siswa yang sedang mencari contekan PR.
Di koridor sekolah yang masih sepi itu, derap kaki Mika menggema. Memantul dari dinding-dinding kelas, memecah kesunyian yang ada. Dengan langkah lebar, ia menyusuri koridor kelas dua belas. Napasnya memburu bersamaan dengan giginya yang saling beradu satu sama lain. Di sampingnya, Anggita dan Raya sedikit kewalahan untuk mengikuti langkahnya yang terlalu cepat.
"Ka, nggak ada anjing yang ngejar kita. Kenapa lo jalan cepet banget, sih?" komentar Anggita kesal. Baru saja ia tiba di sekolah—bahkan belum sempat meletakkan tas di bangkunya—Mika sudah mengajaknya untuk pergi menemui seseorang.
"Nggak ada waktu. Mumpung masih sepi." Mika sama sekali tidak berniat menurunkan kecepatan langkahnya.
Mika menghentikan langkah di samping pintu ruang kelas Raga, diikuti Raya dan Anggita di belakangnya. Matanya menyusuri setiap sudut ruang kelas itu, dan berhenti pada seorang cowok yang duduk di bangku tengah. Ia menoleh ke belakang sesaat. Meminta dukungan pada Raya dan Anggita bahwa yang akan ia lakukan setelah ini memang sesuatu yang benar.
Setelah mendapat persetujuan dan dorongan semangat dari dua sahabatnya, Mika memasuki ruang kelas Raga. Ruangan itu masih sepi. Hanya ada Raga yang duduk di kursi dengan menelungkupkan kepala di atas meja. Cowok itu tidak menyadari kehadirannya. Baru ketika ia menyentuh pelan lengan cowok itu, Raga mendongakkan kepala.
Raga memaksakan seulas senyum. Mencoba untuk bersikap biasa, meski ada sorot terkejut di sepasang matanya. “Eh, Ka. Ada apa?”
Mika nyengir. Berusaha untuk bersikap setenang mungkin, meski bara api dalam dadanya sudah kembali memerah. “Nggak ada sih. Cuma mau nanyain, kamu kemana aja dua hari ini?”
“Nggak kemana-mana." Raga menjaga raut wajahnya tetap tenang. "Memangnya kenapa?"
Mika menghela napas. Berpura-pura memasang ekspresi kecewa, yang sudah ia latih semalaman. “Kenapa nggak ngehubungin aku?”
Raga menghela napas. Tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Raut wajahnya tetap sedatar dinding kelas. Tetapi, ada sorot yang berbeda di matanya. Sorot yang tidak bisa Mika terjemahkan. Kemudian, cowok itu menundukkan kepala. Menyibukkan diri dengan mencari sesuatu di dalam tas. “Kamu ada perlu apa? Aku mau belajar. Ada ulangan di jam pertama.”
Mika memutar bola matanya diam-diam. Kesal. Raga selalu memiliki alasan untuk menghindar setiap kali berada di situasi tidak menguntungkan cowok itu, seperti sekarang.
“Kalau gitu, aku tanya sekarang aja, ya." Mika mengempaskan diri ke kursi, tepat di depan Raga. "Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau Alana itu adik kamu? Kenapa kamu menyembunyikan itu?"
Raga mendongakkan kepala. Sepasang matanya melebar. Terkejut. Mika diam-diam tersenyum melihat hal itu. Kali ini, ia tidak akan membiarkan Raga lolos sekali lagi.
Beberapa detik kemudian, Raga kembali menundukkan kepala. Cowok itu belum mengucapkan satu kalimat pun untuk menanggapi pertanyaan Mika. Tanpa sadar, Raga mengepalkan tangannya di bawah meja. Rahangnya mengatup rapat, menggertakkan gigi-gigi di dalam mulutnya. "Dari mana kamu tahu soal itu?"
Mika tertawa mendengkus. "Nggak penting aku tahu dari mana. Yang aku tanyakan, kenapa kamu nggak pernah jujur ke aku soal Alana?"
Tanpa memandang ke arah Mika, Raga kembali bertanya. Kali ini, dengan nada yang jauh lebih dingin dari sebelumnya. "Kenapa aku harus ngasih tahu kamu?”
Mika tidak tersinggung atas pertanyaan itu. Ia justru merasa menang. Orang yang tersudut biasanya akan membalas pertanyaan dengan pertanyaan juga. “Kamu udah tahu dari dulu kalau aku mencari keberadaan Alana. Tapi, kenapa kamu selalu bilang nggak tahu, setiap kali aku tanya tentang Alana? Kamu bahkan pura-pura nggak kenal sama dia."
Raga berdecak. Tangannya menggebrak meja di depannya, hingga membuat Mika memekik. “Kamu bisa berhenti tanya nggak, sih, Ka? Aku lagi pusing sekarang.”
Mika kembali mendengkus. "Kalau gitu, pertanyaan terakhir. Dimana Alana sekarang?”
Raga bungkam. Sepasang matanya menatap Mika dengan teramat tajam. Selama ini, Raga tidak pernah memandang Mika dengan tatapan seperti itu. Namun, Mika sudah menebalkan dinding dalam hatinya. Ia tidak akan gentar, meski seandainya tatapan Raga bisa berubah menjadi pisau yang siap untuk menyayatnya.
“Dimana.Alana.sekarang?” Mika mengulang pertanyaannya, dengan penuh penekanan. Ia menatap sepasang mata Raga tidak kalah tajam.
“Nggak ada gunanya juga kamu tahu keberadaan dia sekarang.”
__ADS_1
"Ada. Aku harus tahu, sebenarnya dia hamil anak siapa?” Nada suara Mika meninggi. Kedua tangannya terkepal erat. Menahan diri untuk tidak memukul meja di depannya.
Kelopak mata Raga kembali membulat. Raut wajahnya yang semula tegang, kini jauh lebih kaku. Tidak ada satu pun kata yang terlontar dari bibirnya, setelah itu. Raga hanya menatap Mika dengan sorot tidak percaya.
“Aku udah tahu semuanya, Ga. Kamu nggak perlu nutupin apa pun lagi. Ternyata, kamu licik banget ya. Aku salah udah percaya sama kamu!” Susah payah Mika menekan kemarahan, tetapi dorongan itu akhirnya membuatnya kalah. Sebutir air mata meluruh di pipinya. Air mata yang mewakili segenap kekecewaan di hatinya.
Raga masih membisu. Ia tetap berada di tempatnya. Tidak menunjukkan pergerakan apa pun. Hanya sepasang matanya yang berbicara. Menyorotkan sesuatu yang tidak bisa dimengerti oleh siapa pun, kecuali dirinya sendiri.
Beberapa detik berlalu. Setelah memastikan Mika tidak akan mengatakan apa pun lagi yang bisa merugikan dirinya, Raga akhirnya membuka mulut. “Aku nggak pernah nyuruh kamu buat percaya. Tapi, aku senang kalau akhirnya kamu bisa percaya sama aku. Kamu terlalu polos, Ka. Atau jangan-jangan, selama ini kamu juga berpikir kalau aku beneran cinta sama kamu?” Raga tertawa lebar. Kemudian, menggeleng tegas. “Sedikit pun, aku nggak pernah cinta sama kamu. Tapi, aku sangat berterima kasih. Berkat kamu, aku bisa membalas rasa sakit hati ke Nagra.”
“Berengsek kamu, Ga!” Mika berteriak. Tangannya bergerak untuk mendaratkan tamparan di pipi Raga dengan keras. “Aku punya salah apa sama kamu? Jangan-jangan kamu juga yang nempel foto itu di mading sekolah?”
Raga tertawa penuh kemenangan, seraya bertepuk tangan. “Hebat! Tebakan kamu jitu juga ya. Kenapa nggak dari dulu aja kamu berpikir kayak gitu? Ternyata, otak kamu baru bekerja kalau udah kepepet ya.”
Mika sudah berdiri dari kursinya. Kalap, ia menendang bangku di depannya. Sorot matanya dipenuhi dengan kemarahan. Ia sudah siap menerjang Raga dengan segala macam makian dan serangan fisik. Namun, Anggita dan Raya segera berlari untuk menghentikannya. Dua sahabatnya itu mencekal lengannya, sebelum sempat memberikan tamparan kedua untuk Raga.
Mika memberontak. Napasnya sudah tidak beraturan. Jejak air mata membasahi pipinya yang memerah, akibat amarah. Tetapi cekalan Raya dan Anggita terlalu kuat, hingga membuatnya harus menyerah.
“Kamu menjijikkan, Ga!” tandas Mika. Sementara, Raga hanya menaikkan satu alisnya. Tidak ada gurat bersalah di wajahnya. Cowok itu justru tersenyum merendahkan.
Raga maju satu langkah. Ibu jarinya mengusap jejak air mata di pipi Mika. Mika membuang muka. Menahan diri untuk tidak meludahi wajah cowok itu.
“Kamu boleh marah ke aku, Ka. Tapi seharusnya, kamu lebih marah ke Nagra. Aku nggak akan seperti ini, kalau dia nggak memulai lebih dulu.” Raga mengulas senyum yang membuat Mika benar-benar muak. Bagaimana bisa ia memercayai cowok itu selama ini? Bagaimana bisa ia berpikir jika Raga benar-benar tulus membantunya? Ternyata, bukan Kai serigala berbulu domba itu, melainkan Raga.
Raga mundur satu langkah. Senyuman di wajahnya seketika menghilang. Sorot matanya yang datar dan tajam terarah pada Mika. “Kalau kamu pintar, harusnya kamu tahu bahwa di sini kita hanyalah korban. Korban dari sikap berengsek Nagra yang enggan bertanggung jawab, dan justru lebih memilih untuk mati. Bayangkan, gimana perasaan seorang kakak ketika tahu adiknya dihamili tanpa pertanggungjawaban?”
“Kamu mati-matian membela kakak kamu yang berengsek itu, tanpa berusaha untuk memahami bahwa ternyata dia adalah tokoh antagonis di sini.”
“Kak Nagra bukan cowok berengsek!” Mika beteriak.
Raga tertawa mendengkus. “Aku nggak meminta kamu untuk menilai Nagra. Aku cuma ngasih tahu, kalau orang yang lo bela selama ini nggak lebih dari sampah!”
“Sialan! Jaga omongan lo ya, Ga!” Tidak hanya Mika, Anggita juga merasa tidak terima dengan pernyataan Raga. Bagaimanapun juga, Nagra adalah seseorang yang hingga kini masih mengisi hatinya.
Tawa merendahkan kembali terdengar. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. “Jadi sekarang, gue berhadapan sama dua cewek yang membela Nagra? Hebat sekali.” Kemudian, telunjuk Nagra mengacung dan tertuju pada Anggita. “Harusnya lo sadar, Git. Kalau Nagra benar-benar sayang sama lo, dia nggak akan jalan sama Alana. Tapi, buktinya apa? Dia ngebuang lo, kan? Jadi, buat apa lo masih ngebela seseorang yang udah jelas-jelas nggak menganggap lo ada?”
Cekalan Anggita di lengan Mika mengeras. Giginya bergemeletuk, menahan amarah yang sudah tiba di ubun-ubun. Di matanya, Raga terlihat seperti iblis yang menjelma malaikat. Jika begini akhirnya, ia tidak akan pernah membiarkan Mika masuk ke lingkaran cowok itu.
Perseteruan itu baru berakhir, ketika Raya memberitahukan bahwa sudah ada beberapa siswa di sekitar mereka. Para penghuni kelas Raga menyaksikan kejadian itu dengan sorot bertanya-tanya. Tidak ingin lebih lama menjadi pusat perhatian. Raya menarik dua temannya untuk meninggalkan kelas Raga. Keadaan koridor yang sudah mulai ramai, membuat Raya dan Anggita harus susah payah menyembunyikan Mika yang masih menangis.
♥
"Hue henger, iha adi ngelabuak aga, ya?" Abi membuka percakapan, dengan mulutnya yang penuh oleh pentol bakso.
"Lo ngomong apaan? Nggak ngerti gue," sahut Satya.
__ADS_1
Abi menelan makanannya dengan terburu-buru. Matanya bahkan nyaris melotot, karena ia melakukannya dengan susah payah.
"Gue denger, Mika tadi ngelabrak Raga." Abi mengulangi pertanyaannya dengan pernyataan.
Kai menghentikan makannya seketika. "Serius lo?"
"Serius, gue. Anak-anak di kelas pada ngomongin mereka. Kayaknya, sih, berantemnya parah banget. Mika sampek nangis gitu." Abi menjelaskan dengan berapi-api.
"Palingan juga urusan rumah tangga," celetuk Satya, yang lantas disetujui oleh Abi.
Kai tiba-tiba kehilangan selera makan. Pikirannya sedang menebak-nebak, apa yang telah terjadi pada Raga dan Mika. Tadi pagi, ia memang mendengar kabar itu sesekali. Namun, ia memilih tidak ambil pusing. Sebab ia pikir, itu hanya perselisihan biasa. Namun, kemudian ia sadar. Mika baru saja mengetahui, jika Alana adalah adik kandung Raga.
Baru saja Kai hendak menemui Mika di kelas, matanya menangkap Samuel yang berjalan ke arahnya. Pandangan cowok itu tertuju padanya. Kai mengerutkan dahi. Tatapan mata Samuel tidak bisa ia terjemahkan.
"Lo udah baikkan?" tanya Samuel begitu tiba di depan Kai. Kai hanya mengangguk untuk menanggapi pertanyaan itu.
"Maafin gue. Gue kalap hari itu. Gue nggak berpikir panjang. Gue pikir lo emang udah—" ucapan Samuel segera dipotong oleh Kai.
"Nggak usah dibahas. Udah sembuh gue. Kalau lo bahas lagi, gue malah nggak mau maafin lo."
Samuel mengulas senyum simpul. Tangannya menepuk bahu Kai beberapa kali. Lantas, pandangannya beralih pada Abi. "Temen lo lagi suntuk tuh. Lo nggak ngehibur dia?"
Abi nyengir. "Ntar aja di kelas. Gue bosen ketemu dia mulu. Biar Ronald yang ngehibur. Lagian, itu anak ngapain pakai berantem segala. Setahu gue, selama ini mereka baik-baik aja."
♥
Mika menghantamkan buku-buku jarinya ke dinding berulang kali. Isakan dan umpatan masih sesekali terdengar dari bibirnya. Umpatan itu ia tujukan pada kebodohannya sendiri. Ia benar-benar kecewa kali ini.
Tidak hanya Mika, Anggita dan Raya juga masih tampak syok. Mereka bertiga sengaja membolos pelajaran untuk menenangkan diri di atap. Pikiran mereka teramat kusut untuk mengolah materi yang disampaikan oleh guru.
Desah angin, isakan, serta umpatan Mika menjadi pemecah keheningan di antara mereka. Raya dan Anggita hanya berdiam diri, menyaksikan Mika yang perlahan mulai kelelahan. Gadis itu akhirnya meluruhkan tubuh di lantai, setelah nyaris lima belas menit menghantamkan tinju pada dinding tidak bersalah.
Tidak tahan dengan keheningan yang mencekik, Anggita akhirnya memutuskan untuk memberitahu rencananya pada dua sahabatnya. Dan, suatu kebetulan, hari ini adalah hari Kamis. “Hari ini, kita ikuti Raga. Kita harus tahu, kemana perginya cowok itu setiap hari Kamis.”
Mika mendongakkan kepala dari celah kedua lututnya. “Lo yakin? Kalau dia tahu gimana?”
Anggita menggelang. “Dia nggak akan sadar kalau kita ikuti. Gue akan nyuruh sopir gue untuk bawa mobil bokap. Kebetulan, hari ini bokap gue cuti.”
“Kalau ternyata dia benar-benar bantuin bokapnya di kantor, gimana?” Mika merasa tidak terlalu yakin dengan ide Anggita itu.
“Paling nggak, kita tahu apa yang dia kerjakan. Kalau ternyata dia benar, kita harus cari rencana lain lagi. Sialan! Dongkol banget gue sama dia!” Anggita memukulkan tangan kanannya yang mengepal pada telapak tangan kirinya.
“Paling nggak sekarang kita tahu, kalau Raga nggak sebaik yang kita pikir,” ujar Raya, mengakhiri obrolan singkat mereka.
Anggita benar-benar menjalankan rencananya. Tepat setelah Raga meninggalkan sekolah, gadis itu meminta sopirnya untuk mengikuti motor Raga. Jalanan yang tidak terlalu ramai, membuat mereka mudah mengamati setiap pergerakan motor Raga.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian, seluruh rasa penasaran tentang kepergian Raga setiap hari Kamis akhirnya berakhir. Rasa penasaran itu akhirnya terjawab oleh sebaris tulisan di sebuah bangunan besar dan kokoh, di depan mereka.
Rumah Sakit Jiwa.