
Lima belas menit sebelum Anggita meminta maaf pada Mika...
“Lo ngapain di sini?” Kai menepuk bahu Abi yang sedang melihat ke dalam kelasnya dari ambang pintu. Sehingga, sukses membuat Abi terkejut.
“Eh, Kai. Ngapain lo?” Abi sedikit gugup saat mengetahui Kai berdiri di sampingnya.
Kai menaikkan satu alisnya. “Ini emang kelas gue, Bi. Harusnya, gue yang tanya itu ke lo.”
Abi tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sejurus kemudian, tawa itu menghilang dari bibirnya. Ia menatap Kai dengan penuh keseriusan. “Gue mau ngomong sesuatu dulu sama lo." Kemudian, ia menarik Kai untuk melipir agak jauh dari koridor.
*"*Ternyata, bukan Mika penyebab Nagra meninggal," kata Abi, setelah mereka tiba di taman yang tidak jauh dari koridor utama.
Kai tertawa pelan mendengar hal itu. “Berita lama, Bi. Gue udah tahu dari dulu. Kalau lo mau tanya, gue tahu darimana? Itu nggak penting.”
Abi mendesah. “Oke. Kemarin Raga ngasih tahu gue, kalau pembunuhnya itu bisa jadi orang yang pernah dekat sama Nagra. Nah setahu gue, selama sekolah di sini Nagra cuma dekat sama dua orang, yaitu Anggita dan Samuel. Dan, perkiraan gue jatuh ke Samuel.”
Anggita yang kebetulan berada di koridor dan hendak pergi ke kelas, tidak sengaja mendengar namanya disebut. Ia segera mengambil jarak lebih dekat pada Kai dan Abi. Bersembunyi di balik batang pohon akasia berhasil menyembunyikan tubuhnya sepenuhnya.
__ADS_1
“Kenapa lo nuduh Samuel? Kenapa *bukan Anggita?”
“Soalnya nggak mungkin kalau Anggita yang bunuh Nagra. Dia aja nggak pernah tahu, dimana rumah Nagra apalagi apartemen cowok itu.”*
“Darimana lo tahu kalau dia nggak tahu rumah sama apartemen Nagra? Bisa jadi, dia diam-diam ngikuti Nagra, ‘kan?” Kai masih belum memahami, mengapa Abi justru menjatuhkan tuduhan pada Samuel hanya karena alasan seperti itu.
Abi mendesah, sekali lagi. “Gue kakak kelas Anggita sejak SMP. Gue pernah satu organisasi sama Nagra. Gue juga pernah satu kelas sama Nagra. Nagra sama Anggita memang pernah pacaran, sejak SMP. Tapi setahu gue, mereka cuma ketemu di sekolah. Gimana nggak? Nagra nggak dibolehin pacaran sama orangtuanya. Anggita juga. Setiap pulang sekolah mereka selalu dijemput orangtua masing-masing. Apalagi, sampai sekarang si Anggita masih diantar jemput sama mamanya. Heran gue, kenapa dia dimanja banget, ya? Nah coba lo pikir, gimana caranya Anggita bisa tahu rumah Nagra? Apalagi katanya, Nagra ditemukan meninggal di apartemen. Dan dari analisis gue juga, cuma ada dua orang yang kemungkinan besar tahu tentang apartemen Nagra; Mika dan Samuel.”
“Tapi, Anggita itu teman Mika. Bisa aja dia pernah kebetulan main atau kerja kelompok di rumah Mika?” Kai masih merasa jika dugaan Abi sama sekali tidak masuk akal. Siapa yang tahu jika Anggita diam-diam mengikuti Nagra ke apartemen?
“Itu, kan, di rumah. Nagra meninggal di apartemen, Kai. Lagian, nggak mungkin juga Anggita ke rumah Mika sebelum Nagra meninggal. Mereka belum pernah saling kenal. Mereka aja baru dekat tiga minggu setelah MOS selesai. Sedangkan, Nagra meninggal satu minggu setelah MOS selesai. Masuk akal nggak kalau Anggita yang membunuh Nagra, apalagi kejadiannya di apartemen?”
“Nah, ini dia. Selama ini, cuma dia satu-satunya cowok yang dekat sama Nagra. Gue aja sampai heran, apa mereka benar-benar temenan? Atau, ada perasaan lain.” Abi tertawa kecil, yang langsung dihadiahi jitakan oleh Kai.
“Gue pernah satu kelas sama Samuel di kelas sebelas. Dia pernah cerita, kalau sering kerja kelompok sama Nagra di apartemen. Samuel juga pernah ngajak gue buat gabung. Tapi berhubung hari itu gue ada latihan futsal, jadi gue batal gabung. Karena Mika udah nggak masuk daftar tertuduh, jadi lo udah bisa tahu siapa yang punya kemungkinan paling besar buat jadi penyebab Nagra meninggal.”
*"Nagra udah tinggal di apartemen sejak kelas sebelas, gitu?”
__ADS_1
Abi mengusap tengkuknya. Lantas, bekata, "Nggak juga sih. Cuma kalau pulang sekolah, dia kadang mampir ke apartemen dulu. Dia baru bener-bener pindah ke apartemen sejak pacaran sama Alana. Gue nggak tahu alasannya apa.”*
“Tapi, lo nggak bisa nuduh Samuel semudah itu hanya karena dia pernah pergi ke apartemen Nagra.” Kai sedikit tidak terima. Bagaimanapun juga, Samuel adalah temannya. Cowok itu yang pertama kali menyapanya saat menginjakkan kaki di sekolah ini.
“Dengerin dulu! Gue masih ada satu alasan lagi, kenapa gue bisa nuduh Samuel. Satu minggu sebelum Nagra meninggal, gue pernah lihat mereka berantem. Gue nggak tahu masalahnya apa. Tapi, hari itu gue nggak sengaja denger Samuel menyebut nama Alana. Dia kelihatan marah banget. Gue sempat denger satu kalimat dari Samuel. Dia bilang, dia bakal bunuh Nagra kalau sampai terjadi sesuatu sama Alana. Nah, ini yang bikin gue nggak paham. Memangnya apa yang udah terjadi? Separah apa kesalahan Nagra sampai Samuel ngomong kayak gitu, padahal mereka sahabatan?”
Kai mengusap wajahnya. Terlihat sangat frustrasi. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, seperti tengah mencari jawaban atas kekalutan hatinya saat ini. Hingga tanpa sengaja, tatapan cowok itu jatuh pada Anggita. Anggita berusaha berlari, tetapi Kai dapat dengan mudah menyusul dan menahan pergerakan gadis itu.
“Lo denger semua, kan?” tandas Kai. Tatapan matanya yang tajam, tertuju pada mata sayu Anggita.
Anggita mengusap sudut matanya yang sedikit basah. Kemudian, ia berkata dengan suara parau. “Jadi, benar kalau bukan Mika pembunuhnya?”
“Bukan. Mika nggak bersalah dalam kasus ini. Tapi, gue mohon. Tolong jangan bilang ke siapa pun soal pembahasan gue sama Abi hari ini. Jangan sampai Samuel tahu. Gue nggak mau dia jadi salah paham nantinya. Kita masih belum tahu kepastiannya. Kita masih cari mencoba untuk mencari tahu tentang kasus kematian Nagra.”
*Anggita memaksakan diri untuk mengangguk. Bukan hanya obrolan tentang Nagra yang menusuk hatinya, melainkan juga tentang rasa bersalahnya pada Mika. Ia sudah menuduh gadis itu. Bahkan, ia sudah nyaris membunuh gadis itu di kamar mandi beberapa hari lalu.
"Ah, satu lagi. Gue tahu kalau sekarang lo lagi merasa bersalah sama Mika. Untuk nebus rasa bersalah lo dan karena lo udah berani nguping, nanti siang tolong bantu gue menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Mika. Lo nggak lupa kalau hari ini dia ulang tahun, kan?”
__ADS_1
Anggita kembali mengangguk. Ada secercah rasa tenang yang pelan-pelan merayap dalam hatinya. Setidaknya, ia bisa sedikit menebus kesalahannya pada Mika dengan membantu Kai merayakan ulang tahun gadis itu.*