
25 hari telah berlalu di balai Vanuya. Sakya pelan-pelan membuka matanya. Dia merasa segar meskipun belum makan dan minum selama dia semedi. Dia bisa merasakan bahwa prana mengalir dari chakra ke seluruh tubuhnya memberinya tenaga. Dia membuka matanya kembali dan merasakan tubuh dan ototnya semakin kuat.
Dia menutup matanya dan melihat tubuh astralnya. Di titik chakra Muladhara dia melihat kelopak bunga teratai putih yang mekar di atas genangan prana. Bunga teratai itu berputar dan secara terus menerus mengalirkan prana ke seluruh tubuhnya. Ibaratnya jika prana itu seperti air maka bunga teratai ibarat kincir air. Kincir air berputar memindahkan air ke tempat yang dibutuhkan.
Karka menggonggong tidak berhenti seolah gembira melihat Sakya kembali dari meditasinya.
"Selamat atas keberhasilanmu membuka titik chakra Muladhara dalam 25 hari. Kau lebih cepat dari perkiraan. Kini kau adalah seorang praboditha." Suara Varna mulai menggema di benak Sakya.
"Praboditha? Maksudnya?" Sakya baru mendengarnya saat ini.
"Praboditha adalah seseorang yang sudah berhasil membuka titik chakra. Arti dari praboditha adalah mereka yang tercerahkan. Saat ini kau berhasil membuka titik Muladhara maka kau disebut Eka praboditha." Varna menjelaskan dengan panjang lebar. Varna melanjutkan, "Saat ini Prana yang kau ambil dari alam sekitarmu akan memberi tenaga padamu. Artinya kau bukan manusia biasa lagi. Kau berada di atas mereka dalam hal segalanya."
"Terima kasih Varna. Aku siap membuka titik Chakra selanjutnya." Sakya mulai percaya diri untuk menghadapi tantangan berikutnya. Semakin cepat dia kuat semakin baik. Ada dunia yang harus dia selamatkan.
"Sangat disarankan jika kau berdaptasi terlebih dulu dengan kekuatan barumu. Akan sangat berbahaya jika kau tidak bisa menguasai kekuatan barumu."
"Apa saranmu Varna?" Sakya memahami maksud Varna. Bayangkan jika seorang bayi mempunyai kekuatan seperti orang dewasa, kekuatan tersebut tidak akan berguna karena dia tidak tahu cara menggunakannya. Hal tersebut hanya akan membawa keburukan bagi lingkungan sekitarnya
"Kau bisa mempelajari cara menggunakan senjata terlebih dahulu. Kau bisa menyiapkan keperluanmu dan bermain dulu dengan Karka diluar sementara aku menyiapkan rencana pembelajarannya. Selama 25 hari dia selalu menunggumu. Dia hanya meninggalkanmu saat waktu berburu." Cahaya kristal Varna menyala bersamaan kristal-kristal didinding balai Vanuya.
Setelah Sakya puas memeluk dan mengelus Karka, mereka berlari sambil berburu di sekitar kuil. Karka tubuh lebih besar. Gerakannya semakin cepat dan lincah akan tetapi Sakya mampu mengimbangi kecepatannya. Ketika dia menambah prana pada kedua kakinya Sakya mampu bergerak lebih cepat lagi.
__ADS_1
Mereka berhasil mendapatkan **** hutan dewasa. Karka bertugas menggiring **** hutan ke arah Sakya setelah **** hutan mendekat Sakya memukulnya dengan tangan kosong.... Bumm... **** hutanpun tersungkur. Karena Sakya sudah tidak memerlukan makan, Karka menghabiskan **** itu sendiri.
Setelah puas menghabiskan waktu denga Karka, Sakya mengunjungi nisan keluarganya dan berdoa pada Bumi agar jasad mereka diterima.
Sakya kembali ke kuil Vanuya dan mengambil kotak bunga Kalvaraksa. Dia tidak membutuhkan makan namun dia ingin mencoba keajaiban bunga Kalvaraksa.
Pertama dia mencoba secuil daging batang bunga Kalvaraksa kemudian duduk semedi. Prana bunga Kalvaraksa masuk perlahan kedalam tubuhnya langsung ke titik chakra Muladhara. Bunga teratai yang semula putih berubah menjadi warna pink. Badannya terasa hangat sekejap kemudian menghilang.
Khasiat bunga Kalvaraksa mulai memudar. Kali ini hanya memberinya sedikit manfaat. Sakya kemudian memakannya lagi, kali ini dia gigit langsung dari batangnya.
Aliran Prana yang lebih besar masuk ke chakra Muladharanya. Di tubuh astralnya, bunga teratai berubah menjadi merah, lebih besar dan berputar lebih cepat mengalirkan prana ke seluruh tubuh. Genangan prana di bawah kelopak teratai semakin melebar. Sakya mulai merasa panas, aliran prana yang telah mengalir keseluruh tubuh kembali lagi ke titik chakra Muladhara dan dialirkan kembali keseluruh tubuhnya sampai dua puluh lima kali putaran. Kini genangan prananya berubah menjadi kolam kecil dan bunga teratai yang warnanya semakin merah.
Setelah selesai dengan semedinya Sakya kembali ke balai Vanuya.
"Kau sudah siap." Tanya Varna.
"Kau bisa mulai Varna."
Pemandangan disekitarnya mulai berubah. Dia berada di halaman sebuah istana dikelilingi dinding setinggi 2 meter. Hanya tanah berdebu di bawah kakinya. Matahari bersinar terik dan angin berhembus terasa sejuk dikulitnya.
"Varna... Apakah ada yang salah? Kenapa aku tidak melihat bayanganku sedang memainkan senjata? Aku bahkan bisa merasakan panas mentari serta sejuknya angin?" Sakya terkejut dengan perubahan ilusi Varna.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah Sakya. Aku memberikan ilusi tingkat tinggi pada seluruh panca inderamu sehingga kau merasakan bahwa ini nyata." Varna menjelaskan perbedaan ilusi kali ini.
" Mengapa?"
"Ketika mempelajari keterampilan seperti memainkan senjata, akan lebih efektif apabila kau mengalaminya sendiri. Aku menyebutnya belajar dari pengalaman. Pengetahuan yang kau dapatkan akan diingat oleh seluruh anggota tubuhmu dan akan dikeluarkan tanpa sadar apabila kau memerlukannya," terang Varna.
Sakya mencoba memahami perkataan Varna dia bertanya, "Terus apa yang harus aku lakukan?"
"Kau hanya tinggal menikmati ilusinya. Ilusi akan hilang jika kau berhasil membunuh seorang jenderal musuh atau apabila kau mati dalam ilusi ini. Semoga berhasil."
"Tunggu... Aku bisa mati dalam ilusi ini? Maksudmu mati betulan mati?" Sakya benar-benar ketakutan kali ini.
"Tidak. Kau hanya merasakan sakit seperti mati, tapi ketika ilusi berakhir, kau tetap hidup disini." Kemudian Varna melanjutkan ucapannya, "Untuk mendapatkan kekuatan yang lebih dari ..."
"Ya...aku siap." Sebelum Varna selesai bicara, Sakya memotongnya karena dia pernah mendengar sebelumnya.
"Baik bersiaplah dan ingat kali ini setelah aku memulai ilusinya, aku tidak bisa berkomunikasi denganmu jadi segalanya kau harus selesaikan sendiri. Atau, kau bisa membunuh dirimu sendiri jika kau menyerah."
"Mulai saja ilusinya!"
Kemudian di kanan dan kiri Sakya mulai bermunculan prajurit berseragam biru berbaris dengan rapih.
__ADS_1
...