
Kemudian cahaya terang bersinar menyilaukan, Sakya menutup matanya. Ketika dia sudah merasa aman, Sakya membuka matanya dan menemukan bahwa dirinya berada di tempat yang asing.
Di depannya terdapat bangunan yang megah. Dengan pilar-pilar yang besar dan tinggi. Semuanya terbuat dari batu putih yang halus, Sakya bahkan bisa melihat pantulan sinar matahari darinya. Ini merupakan bangunan terbesar dan termegah yang pernah dia lihat. Bahkan, istana Nikala yang pernah dia lihat di dalam ilusi saat belajar bermain pedang, tampak bagai gubuk di bandingnya.
Hal lain yang membuatnya terkejut adalah menara yang menjulang tinggi di belakang bangunan tersebut. Begitu besar tinggi seolah hendak merobek langit, Sakya menggosok matanya untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi. Tentu saja ini bukan mimpi, ini ilusi.
Tidak lama kemudian, orang-orang mulai bermunculan. berpakaian coklat yang panjang mencapai ke lutut. Berjalan memasuki bangunan tersebut.
“Selamat datang di balai pendidikan Mantra Sadhaka. Perkenalkan aku Bira. Aku ilusi yang diciptakan Varna sebagai pemandu.”
Seorang pria yang seumuran dengan Sakya muncul di hadapannya.
“Varna menciptakanmu?”
“Ya, Varna menganggap bahwa dunia Mantrapada terlalu rumit untukmu. Karenanya dia menciptakanku agar kau bisa cepat beradaptasi. Aku rasa dia benar, melihat mulutmu yang terus menganga karena melihat sebuah bangunan.”
“Ah ….” Sakya tersadar dan menutup mulutnya. Mukanya memerah.
“Ngomong-ngomong, kita harus masuk ke dalam. Tapi sebelum ke dalam sebaiknya kau membawa ini! Ini buku, gunanya untuk menyimpan ilmu yang kau dapatkan. Buku ini dilengkapi dengan sihir pencarian. Kau hanya tinggal mengatakan ilmu apa yang ingin kau cari di dalam buku dan dia akan membuka sendiri langsung ke halaman yang kau cari.”
“Luar biasa,” decak Sakya.
“Ini pensil. Gunanya untuk menuliskan ilmu yang kau dapat ke dalam buku tersebut. Pensil ini dilengkapi sihir perintah, Kau hanya perlu mengucapkan apa yang ingin kau tulis, dan pensil ini akan menuliskannya untukmu.”
“Menakjubkan,” komentar Sakya
“Dan ini penghapus. Gunanya untuk menghapus tulisan di buku apabila kau salah menulis.”
“Ajaib. Ini pasti dilengkapi sihir pembalik waktu, untuk mengulang kembali kesalahan saat menulis. Iya kan?” Sakya tersenyum kepada Bira sambil mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
“Tidak. Ini hanya penghapus, sesuatu yang terbuat dari karet.”
“Ah ….”
“Ayo, kita masuk ke dalam!” Bira merangkul pundak Sakya dan membawanya masuk ke dalam balai pendidikan.
Mereka jalan berdampingan menyusuri lorong balai yang panjang. Tentu saja rentetan pertanyaan terlempar dari mulut Sakya; pertanyaan tentang lantai dan dinding, pakaian yang digunakan, sesuatu yang bercahaya di dinding yang mereka sebut lampu. Semuanya dijawab panjang lebar oleh Bira.
Kemudian mereka masuk ke dalam ruangan kelas dengan susunan tempat duduk bertingkat. Ruangan yang cukup besar yang mampu menampung 200-300 siswa di dalamnya. Tempat duduk paling depan berada di posisi paling rendah dan tepat berhadapan dengan papan tulis.
Ruangan sudah hampir penuh saat Sakya dan Bira masuk ke dalam ruangan. Posisi duduk yang masih tersedia untuk mereka hanyalah tempat duduk di bagian belakang kelas. Untungnya posisi ini paling cocok untuk Sakya. Dengan posisi diatas, dia bisa melihat ke sekeliling ruangan. Tempat sempurna untuk melontarkan pertanyaan tanpa akhir tentang hal-hal yang baru dilihat olehnya.
Ruangan tiba-tiba menjadi hening ketika seorang kakek tua dengan jenggot putih sepanjang dada masuk ke dalam ruangan. Rambutnya yang putih panjang diikat rapi dengan model ekor kuda. Meskipun terlihat berumur cukup tua, cara berjalannya dan posisi tubuhnya yang masih tegap tampak menghianati umurnya yang sesungguhnya.
“Itu mahaguru Vadika. Dia adalah orang yang menemukan tentang matra,” bisik Bira.
“Tanyakan pertanyaan lain! Aku tidak bisa menjawab tentang sihir. Itu pengetahuan yang harus kau dapatkan sendiri.” Kemudian Bira menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Memberi tanda pada Sakya untuk diam.
“Selamat datang di kelas Pengantar Sihir Untuk Pemula.” Suara mahaguru Vadika mengalun di seluruh ruangan. Bahkan suaranya terdengar tidak sesuai dengan umurnya. Begitu kuat dan penuh semangat.
“Di kelas ini aku akan menjelaskan apa itu sihir?” lanjut mahaguru Vadika.
Mahaguru Vadika kemudian menjelaskan panjang lebar mengenai sihir. Mendengarkan bukanlah kehebatan Sakya, tapi dia bisa mengambil beberapa poin penting.
Sihir bukanlah keajaiban. Dalam melakukan sihir ada 3 syarat yang harus ada. Pertama adalah keinginan dari penyihir, kedua adalah prana, dan terakhir elemen yang ada.
Prosesnya sendiri sangat mudah. Penyihir menyampaikan keinginannya dengan mantra dan prana. Prana akan merubah elemen di sekitarnya sesuai dengan keinginan penyihir.
Agar terlaksana, ketersediaan prana dan elemen yang ada disekitar harus sesuai dengan keinginan. Contoh sederhana; penyihir tidak bisa membuat kelinci hidup dari udara. Karena tidak ada elemen-elemen pembuat kelinci di udara.
__ADS_1
Sihir adalah pengetahuan. Bisa dipelajari dan dapat dimengerti oleh akal pikiran. Sihir terikat pada hukum alam yang berlaku, karenanya penyihir tidak bisa membuat api dari elemen air. Tapi dia bisa membuat es dari air. Semakin dia mengerti tentang karakteristik elemen-elemen tersebut, semakin banyak perubahan-perubahan elemen yang bisa dia lakukan.
Selama 8 tahun di dunia ilusi Mantrapada Sakya mempelajari karakteristik dan perubahan-perubahan elemen tersebut. Dia sudah menyerap semua pengetahuan yang diberikan di balai pendidikan Mantra Sadhaka. Waktu terasa berlalu begitu cepat.
8 Tahun hidup dalam kedamaian; tanpa perang, tanpa rakshasa, tanpa kelaparan, membuatnya merasa bahwa ini adalah dunia ideal baginya. Tidak ada dingin saat malam dan musim salju. Makanan hangat selalu tersedia di meja makan. Segala yang dia perlukan tersedia, segala yang dia inginkan terpenuhi. Segalanya terasa sempurna. Tidak menjadi masalah apabila ini hanya ilusi, dengan kehidupan seperti ini, dia bisa hidup sampai akhir hayatnya di dalam ilusi. Sakya mulai melupakan benua Pangea dan segala masalah di dalamnya; tanggung jawabnya dan hari Pralaya yang akan segera datang. Sampai suatu hari ….
“Selamat datang kembali di balai Vanuya.”
Suara Varna mengejutkan Sakya. Jalan menuju balai pengetahuan Mantra Sadhaka tiba-tiba menghilang dan berganti dengan ruangan di balai Vanuya.
“Uh, apakah ilusinya selesai?” tanya Sakya. Nada kekecewaan terdengar di dalam suaranya.
“Tidak. Ilusinya belum berakhir. Aku hanya mengevaluasi ilusinya, apakah memberikan hasil yang maksimal atau tidak untuk perkembanganmu.” jawab Varna.
“Terus …?”
“Berdasarkan performa teman-temanmu yang sudah lulus di balai pendidikan Mantra Sadhaka dalam waktu 5 tahun, sementara kau belum lulus setelah 8 tahun membuktikan bahwa ilusi tidak memberikan hasil yang maksimal.”
“Uh …. Kau tahu bahwa sihir merupakan hal yang baru untukku. Aku sudah berusaha sebaik mungkin,” keluh Sakya.
“Kau tidak perlu merasa bersalah, atau gagal dalam hal ini. Seperti yang aku katakan, bahwa aku mengevaluasi ilusinya bukan dirimu. Jadi aku memutuskan untuk melakukan sedikit perubahan dengan ilusinya,” jawab Varna.
“Baik, bisa mulai ilusinya?” pinta Sakya tidak sabar.
“Satu hal lagi, Sakya. Tolong ingat bahwa Mantrapada adalah dunia ilusi sementara ini adalah dunia sesungguhnya. Pada akhirnya nanti kau akan berakhir di benua Pangea. Aku akan mulai ilusinya, semoga berhasil.”
Sakya hanya diam dan menarik napas panjang. Dia tahu itu, tapi saat ini dia belum bisa meninggalkan Mantrapada. Lebih tepatnya, dia tidak ingin meninggalkan Mantrapada.
Tidak lama kemudian pemandangan di sekitarnya mulai berubah. Dia kembali ke Mantrapada, di pinggir jalan selebar 4 meter yang mengarah ke balai pendidikan Mantra Sadhaka. Tapi sesuatu telah berubah. Sebuah menara baru berdiri di samping menara utama balai pelatihan Mantra Sadhaka.
__ADS_1