
Kota Lokapatti.
Sakya berdiri di alun-alun Lokapatti mengawasi renovasi rumah-rumah yang telah hancur akibat perang semenjak 5 hari yang lalu. Bayana sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Berkat pengawasannya, kota Lokapatti sudah hampir seperti awal sebelum berperang.
Setelah berhasil menyelamatkan anak-anak Tivara, Sakya pikir sekarang waktunya untuk mulai melaksanakan rencana selanjutnya. Kebangkitan ras manusia. Membuat mereka lebih kuat dan sejajar dengan ras-ras lainnya yang ada di benua Pangea ini.
Sakya mengundang adipati Sena, Shinta, Abuba dan Bayana untuk berkumpul di pendopo adipati Sena. Setelah mereka berkumpul, Sakya menjelaskan rencananya untuk memperkuat ras manusia, bahkan lebih kuat lagi dengan cara membangun akademi.
"Akademi???"
Kening adipati Sena, Bayana dan Shinta mengernyit. Mereka saling pandang satu dan lainnya. Berharap seseorang menjelaskan lebih detail tentang ucapan Sakya yang tidak mereka pahami.
"Ya, kita akan membangun akademi." Sakya menganggukkan kepalanya.
"Apa yang 'akademi' ini lakukan?" tanya adipati Sena penasaran.
"Akademi akan mengajarkan mereka cara menulis dan membaca," ungkap Sakya.
"???"
Bayana memijat keningnya. Ini adalah waktu dia harus berpikir keras berusaha memahami maksud dari Sakya. Bukan karena dia tidak mempercayai Sakya, tapi dia harus benar-benar mengerti apa yang Sakya inginkan agar apa yang Sakya pinta bisa dia laksanakan dengan baik.
Sementara adipati Sena dan Shinta masih saling berpandangan, seolah berbicara secara telepati. Mereka mendengar sakya ingin membangun tempat untuk memperkuat umat manusia tapi yang hanya akan diajarkan adalah membaca dan menulis. Mereka bingung memikirkan bagaimana hanya dengan membaca bisa membunuh rakshasa? Mungkinkah dengan menuliskan sumpah serapah kemudian membacakannya dengan keras maka rakshasa itu akan terjatuh kemudian mati? Semudah itukah?
Hanya Abuba yang tetap fokus mendengarkan Sakya. Tidak peduli alasan Sakya benar atau salah, masuk akal atau gila. Baginya, jika Sakya bilang ****** bisa membunuh rakshasa, maka dia akan membangun 1000 ****** di Lokapatti. Apa yang Sakya inginkan, Abuba akan mewujudkannya dengan segala usaha. Apa yang Sakya katakan adalah satu-satunya kebenaran di dunia ini. Dia tidak perlu memeras otaknya memikirkan bagaimana cara ****** itu membunuh rakshasa.
“Emmm, Sakya. Mungkin kita bisa mengajarkan mereka bermain pedang, kurasa itu lebih baik daripada membaca dan menulis. Bukankah begitu?”
Adipati Sena memandang Bayana, Shinta dan Abuba seolah-olah meminta dukungan. Yang mengejutkannya, hanya Shinta yang mengangguk.
“Tidak, Latihan pedang hanya akan dilakukan oleh prajurit tempur dan mereka yang akan ikut bergabung menjadi prajurit. Akademi ini untuk semua penduduk Lokapatti, anak-anak, remaja maupun dewasa. Pemburu, prajurit, lelaki dan wanita, bahkan jika memungkinkan semua manusia dari kota lain,” jawab Sakya.
“Jadi kita perlu ruangan tertutup agar yang cukup besar, 25 sampai 50 orang … Aku buat dua ruangan saja. Aku buat dengan banyak jendela agar ruangan lebih terang. Apakah itu cukup?” tanya Bayana.
“Tidak … Jangan terlalu banyak jendela. Aku ingin suasananya lebih gelap daripada di luar ruangan. Cukup beri jendela untuk keluar masuk udara.”
“Baiklah, mungkin 4 jendela. Aku akan bicara dengan para tukang. Ada yang lain lagi, balapati Sakya?”
“Cukup untuk saat ini.”
“Baiklah aku pamit. Aku akan langsung berkoordinasi dengan para tukang.”
“Aku juga pamit, balapati Sakya, adipati Sena dan attika Shinta. Aku akan mengatur pembagian para prajurit yang akan diperbantukan untuk membangun sekolah.” ujar Abuba membungkukkan badannya.
__ADS_1
Adipati Sena menganggukan kepalanya. Sedikit heran dengan Bayana dan Abuba yang sepakat tanpa banyak pertanyaan. Apakah mereka mengetahui apa yang dia tidak ketahui? Benarkah dengan menulis dan membaca membunuh rakshasa?
Setelah Bayana dan Abuba pergi, hanya tinggal adipati Sena dan Shinta di pendopo.
"Sakya, maafkan aku. Aku tidak mengerti bagaimana dengan menulis dan membaca bisa menguatkan manusia? Tidak mungkin hanya dengan menulis kita bisa memenangkan perang kan?" ujar adipati Sena.
"Kita bisa. Aku akan tunjukkan padamu besok pagi. Percayalah! Akademi akan mengantarkan manusia mencapai kejayaannya."
"Baiklah … Aku rasa, aku harus melihat besok pagi."
“Sampai besok Adipati Sena dan Attika Shinta.” Sakya pamit hendak bergegas menuju kamarnya. Berniat semedi setelah menghabiskan waktu 5 hari dalam perjalanan bersama Tivara.
“Bratha Sakya.” Langkah Sakya terhenti ketika Shinta memanggilnya.
“Ya, attika Shinta. Ada yang bisa aku bantu?”
“Emmm ... Setelah melakukan perjalanan panjang mungkin bratha Sakya ingin makan terlebih dahulu sebelum istirahat. Aku akan membawakan makanan untukmu.” ujar Shinta.
“Oh, terima kasih attika Shinta, tapi itu tidak perlu.”
“Mungkin minum? Aku akan membawakan teh.”
“Tidak perlu repot-repot atika Shinta. Aku tidak apa-apa. Aku pamit untuk istirahat.” Sakya menolak tawaran Shinta karena baginya, makanan dan minuman tidak lebih penting dari semedi.
“Batu permata? Apakah seperti yang aku pakai ini?” Shinta memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya.
“Iya seperti batu itu.”
“Kau bisa memilikinya jika kau mau.” Shinta melepas cincin di jari manisnya.
“Bukan yang itu. Aku memerlukan batu permata yang lebih besar dari itu.”
“Lebih besar … Aku rasa tidak ada batu permata yang lebih besar dari ini di kota Lokapati. Kecuali, jika kau pergi ke kerajaan Turangga. Tapi, kurasa itu tidak mungkin, mengingat kita harus memiliki barang yang sama berharganya sebagai alat tukar,” ungkap Shinta dengan nada khawatir.
“Aku mengerti. Kalau begitu aku akan mencari cara lain untuk mendapatkannya,” jawab Sakya datar. Dia tidak berharap banyak dengan keadaan Lokapatti.
“Sebenarnya ada cara yang lain untuk mendapatkan batu permata. Kau bisa langsung mencari di sumbernya.” Adipati Sena menyela pembicaraan Shinta dan Sakya.
“Ayah … Kau tidak menyarankan tambang yang mematikan itu kan?” sungut Shinta keningnya berkerut.
“Aku hanya memberitahu saja, Aku tidak menyuruhnya pergi,” sanggah adipati Sena.
“Bisakah Adipati menjelaskan lebih lanjut?” pinta Sakya.
__ADS_1
“Jadi begini ... Sekitar 10 tahun yang lalu, ras rakshasa membawa aku ke sebuah tambang. Mereka bilang itu adalah tambang permata tua yang ditinggalkan oleh ras Vamana. Mereka meminta aku menggerakkan penduduk Lokapatti untuk menambangnya. Singkatnya, puluhan penduduk lokapatti mulai masuk ke tambang tersebut dan hanya 1 orang yang kembali dengan kondisi penuh luka ….”
“Tambang itu berbahaya. Mematikan karena sudah dihuni mereka ‘yang terlupakan’. Sebaiknya tidak perlu dibicarakan lagi,” gerutu Shinta dengan ekspresi marah pada adipati Sena.
Adipati Sena menunduk sambil mengurut keningnya.
“Apa itu ‘yang terlupakan’?” tanya Sakya
“Mereka makhluk purba yang kita lupakan keberadaannya. Kita tidak tahu seperti apa bentuknya, tapi yang pasti mereka berbahaya, bahkan Vamana dan Rakshasa pun takut pada mereka. Lupakan saja rencana tentang tambang tersebut. Terlalu berbahaya,” saran Shinta.
“Bolehkah aku tahu letaknya dimana?”
“? … Bratha Sakya serius? Kau tidak mendengar ucapanku tadi?” keluh Shinta.
“Tambangnya terletak di arah barat daya kota Lokapatti sekitar 1 hari perjalanan. Jika kau berniat melihatnya aku akan meminta Nayaka untuk mengantarmu. Kapan rencana untuk pergi?”
“Ayah …,” protes Shinta. Kemudian menghempaskan dirinya di kursi sebelah adipati Sena.
“Besok pagi. Jika memungkinkan,” jawab Sakya.
“Baiklah, nanti aku akan bicara pada Nayaka.”
Setelah Sakya kembali ke kamarnya. Hanya Adipati Sena dan Shinta yang tinggal di ruang pendopo.
“Mengapa Ayah melakukan itu. Dia bisa terbunuh di sana.” Shinta meminta penjelasan.
“Shinta, jika kau bertindak seperti ini kau tidak akan mendapatkan perhatiannya. Apalagi cintanya”
“Cinta? Huh … Aku hanya tidak ingin dia celaka, itu saja … Tu-tunggu kenapa ayah bilang aku tidak bisa mendapatkan cintanya? Mengapa?”
“Kau tidak bisa menyamakan Sakya seperti pemuda lainnya. Di pikirannya hanya ada masalah hari Pralaya dan dia akan berusaha menghentikannya dengan segala upaya. Caramu dengan melarang dia hanya menambah masalah di pikirannya. Kau pikir dia menyukai masalah? Tidak … Dia akan menyingkirkannya. Jika kau tidak berubah, kau bisa lupakan pemuda itu.”
“Tapi bagaimana jika dia mati?” gerutu Shinta, masih belum menerima penjelasan adipati Sena
“Lelaki melakukan apa yang harus dia lakukan, bahkan jika harus mati dalam usahanya. Apakah kau pikir ayah tidak peduli padanya? Ayah takut dia akan gila, dia terlalu tegang. Kau mengerti? Seluruh pemikirannya hanya pada satu hal, Ayah khawatir suatu hari nanti dia tidak sanggup menanggung semuanya dan pikirannya meledak. Kau tahu tidak ada seorang yang sanggup menanggung masalah hari Pralaya sendirian, makanya Ayah berusaha meringankan bebannya walaupun hanya sedikit. Ayah ingin dia tahu kalau dia tidak sendiri. Jika kau menginginkan cintanya, jadilah alas di kakinya! Dukung dia tanpa menjadi masalah tambahan.” Adipati Sena bangkit dari kursinya.
“Ayah pergi menemui Nayaka terlebih dahulu.”
“Ayah … menurutmu apa yang harus aku lakukan?”
“Kau lihat bulan itu? Jadilah seperti bulan.”
Shinta terdiam memandang bulan yang bersinar. Tidak peduli apa yang dilakukan makhluk hidup yang ada di bawahnya, sang bulan akan terus menemani langkahnya, bersinar menerangi jalan mereka seterang yang dia mampu. Tanpa pernah meminta balasan. Bisakah aku menjadi bulan? Yang selalu menerangi jalan disetiap langkah Sakya. Shinta mendesah lirih.
__ADS_1