SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Sagara Sang Penguasa Hutan Vanaya Timur


__ADS_3

Di pinggiran hutan Vanaya bagian timur, Shrie bersama penduduk desa Paraka sudah berjalan selama 2 hari ke arah utara dengan tangan yang saling terikat dengan penduduk lainnya.


 


Para rakshasa memperlakukan mereka dengan baik. Mereka berhenti saat lelah dan makan dua kali sehari. Para Rakshasa meperlakukan mereka dengan baik seolah-olah mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada manusia tangkapannya.


 


Saat ini, mereka tiba di pinggir tebing yang membatasi antara daratan benua Pangea dan lautan samudra Panthalassa. Untuk tiba di daratan Utara mereka harus memutar masuk ke dalam hutan Vanaya bagian timur. Hutan Vanaya bagian timur memiliki vegetasi hutan hujan tropis. Pepohonan tumbuh dengan rapat dan menjulang tinggi dengan daun yang lebar menutupi sinar matahari masuk. Saat menjelang malam, kabut turun menyelimuti hutan bagian Timur.


 


Mereka mulai memasuki hutan dengan formasi empat rakshasa berjalan di depan untuk membuka jalan, sisanya empat rakshasa berada di barisan belakang. Setelah seperempat hari berjalan, para rakshasa mulai berbelok ke arah utara dan tiba-tiba berhenti. Bau pesing semerbak memenuhi area di tempat mereka berada. Kabut yang entah darimana datangnya mulai menyelimuti mereka.


 


Para rakshasa mulai bicara satu sama lainnya. Rakshasa yang di belakang barisan bergabung dengan rakshasa bagian depan. Salah satu rakshasa melepas ikatan penduduk desa. Kedelapan rakshasa menunjukkan roman muka yang sama. Takut.


 


Ketika sekelebat bayangan muncul dari arah timur, salah satu rakshasa menjerit dan lari ke arah utara. Suara langkah kakinya yang berdentum dibalik rimbun pepohonan terdengar keras. Dalam sekejap berubah menjadi jeritan kemudian senyap.


 


Tidak lama setelah itu dari arah utara muncul sesosok bayangan hitam di balik rerimbunan pepohonan. Semakin dekat, semakin jelas wujudnya. Seekor ular besar dengan kepala selebar 2 meter dengan ksidra dikeningnya. Kulitnya hitam gemerlap seperti bercahaya. Panjangnya sekitar 12 meter.


 


Penduduk desa mulai menjerit ketika melihat ular tersebut. Untuk beberapa orang yang tahu ular tersebut adalah ayata sattva. Melihat ukurannya, dia bukan ayata sattva biasa. Beberapa dari mereka mulai lari dan yang lain hanya mundur karena terlalu takut untuk bergerak. Hanya para raksasa yang tetap bersatu. Salah satu dari raksasa memberi aba-aba dan 6 yang lainnya mulai melingkari ular tersebut.


 


Secara bersamaan mereka memukulkan gadanya arah ayata sattva dan sisanya menyerang badannya. Tapi semua sia-sia karena saat gada memukul kepala dan badan ayata, gada tersebut hancur berkeping-keping.


Mengetahui bahwa serangannya tidak berhasil, para raksasa mundur. Ayata sattva hanya mendesis. Dengan satu gerakan yang cepat, seorang rakshasa di depannya langsung masuk ke dalam mulutnya sementara tiga raksasa lainnya terhempas oleh kibasan ekornya sejauh 10 langkah. Dua orang raksasa langsung meninggal saat berbenturan dengan batang pohon yang besar. Mulutnya mengeluarkan darah kental.


Melihat betapa mudahnya teman-temannya mati, tiga raksasa lainnya akhirnya memutuskan untuk balik badan dan lari. Sang ayata langsung memuntahkan racunnya dan tepat ke arah tiga orang raksasa tersebut. Mereka menjerit, kulit mereka meleleh kemudian terkapar tidak bergerak.


 


Setelah sang ayata melahap dan menelan raksasa yang ada di mulutnya. Sang ayata langsung menatap kerumunan penduduk desa yang masih terdiam. Sontak saja sisa dari penduduk langsung berlari berhamburan dan yang tersisa hanyalah Shrie.


 


Shrie hanya terdiam dan mematung memandangi ayata tersebut. Sang ayata balik memandang Shrie.

__ADS_1


"Larilah perempuan! kau terlalu kurus untuk yang mulia ini makan!" Entah kenapa Shrie dapat memahami perkataan sang ular.


 


Di luar perkiraan ayata, ternyata Shrie tidak lari. Dia memungut sebatang ranting pohon yang ada di dekatnya, kemudian memukulkannya ke hidung si ayata. Bukan memukul, lebih tepatnya menepuk hidung si ular karena ranting tersebut tidak sampai patah.


 


"..."


 


Sang ayata bingung, haruskah dia harus marah atau tertawa? jangankan hanya ranting, gada besarpun hancur saat berbenturan dengan kulitnya yang keras. Tapi, anak perempuan ini memukulnya dengan ranting, apakah dia masih waras?


Yang lebih parah lagi, setelah memukul ayata, Shrie bahkan tersenyum. Ada apa dengan gadis ini... Sang ayata merasa penasaran. Setahu dia, jangankan hanya seorang anak perempuan, orang dewasapun jika bertemu dengannya pasti terkencing-kencing di celana mereka atau berlari sambil teriak memanggil ibunya. Tapi gadis kecil ini malah tersenyum.... Pasti ada sesuatu yang salah dengan anak perempuan ini.


 


"Baiklah, jika kau tidak ingin lari berarti kau ingin jadi santapan yang mulia ini. Karena saat ini kau terlalu kurus, yang mulia ini akan membuatmu lebih gemuk, padat dan berisi..." Shrie tiba-tiba melayang dan duduk di leher sang ayata yang langsung melesat ke arah timur hutan Vanaya.


 


Disepanjang perjalanan sang ayata sempat menangkap beberapa ikan dan buah-buahan.


 


Shrie kemudian keluar gua dan tidak lama kemudian kembali membawa beberapa kayu bakar. Ayata dengan sihirnya menyalakan apinya. Shrie memakan buah-buahan sambil menunggu ikannya matang.


 


Setelah kenyang, Shrie berjalan keluar gua. Ayata berpikir bahwa Shrie akan lari, tapi ternyata setelah tiba di muka gua, Shrie hanya duduk melihat bintang-bintang di langit. Shrie melihat bintang-bintang di langit. Berharap menemukan ayah, ibu dan kakeknya di langit.


 


"Ada sesuatu yang salah dengan gadis itu," pikir sang ayata sambil menutup matanya.


----


 


Di pagi hari, ayata terbangun karena tepukan dihidungnya. Ketika dia membuka mata Shrie sudah ada dipinggirnya dan langsung naik ke lehernya.


 


"Gadis kecil...Yang mulia ini adalah raja dari seluruh ayata sattva. Biasa dipanggil Sagara Penguasa hutan Vanaya bagian timur.... Dan kau ingin aku mencarikan makan untukmu? Kau terlalu merendahkan yang mulia ini... Akan kutunjukkan apa yang mulia ini bisa lakukan." Seraya mengumpat, Sagara nama ayata ini keluar dari gua dan mendesis keras.

__ADS_1


 


Tidak lama, ayata sattva yang ada di hutan Vanaya bagian timur mulai berdatangan dari berbagai arah. Mereka semua memiliki ksidra di kening mereka dan menunduk di hadapan Sagara.


 


"Dengarkan perintah dari yang mulia ini... Mulai saat ini kalian punya tugas untuk membuat gemuk perempuan ini, beri makan dia apapun yang dia inginkan dan jika kalian gagal maka kalian yang akan jadi makanan. Ingat! Tidak ada yang boleh memakan dia karena dia berharap menjadi santapan yang mulia ini... Dan yang mulia ini akan mengabulkan harapannya."


 


Sagara memberi perintah yang jelas bagi seluruh ayata sattva. Tidak ada yang berani mengabaikan perintah ini dan tidak akan ada yang berani memakan Shrie, bagaimana mungkin mereka berani merebut makanan sang penguasa Vanaya bagian timur, kecuali kalau mereka sudah bosan hidup.


Satu lagi catatan dari perintah Sagara adalah jaga baik-baik perempuan itu, karena kalau dia mati sebelum disantap Sagara, maka mereka semua akan celaka.


 


Setelah Sagara masuk kembali ke dalam gua, seluruh ayata sattva yang diluar mendesis. Ayata sattva berwarna hijau yang terbesar di tempat itu berkata "Baik, kita bagi tugas. Ayata kecil, kalian bertugas mengumpulkan makanan dan ayata besar bertugas melindunginya. Kalian semua bisa bubar dan langsung bekerja... Cepat kerja!"


 


"Bagaimana denganmu?" Ayata sattva berwarna kuning bertanya karena melihat ayata hijau masih diam tidak bergerak.


 


"Ssssttt...Aku akan menunggu matahari terbit lebih tinggi dulu kemudian mendatangi sattva lain di hutan ini agar tidak memakan gadis kecil itu." Ayata hijau menjulurkan lidahnya terlihat sedikit marah.


 


"Alasan saja, kau pemalas." Ayata kuning mendesis. Ayata yang lain mengangguk seperti setuju.


 


"Kalian yang bodoh-bodoh ini apa yang kalian tahu? Kalian pikir sattva-sattva yang lain bangun sepagi ini... Mereka masih tidur, dan baru bangun saat matahari meninggi... Bodoh... Pergi saja sana, kerja! Kerja! Kerja!" Kemudian dia naik ke atas batu dan merebahkan tubuhnya.


 


"..."


 


Tidak lama kemudian berbagai jenis makanan dari buah-buahan, daging dan ikan terkumpul di depan mulut gua.


 


 

__ADS_1


__ADS_2