SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Yang Mulia, Apakah Anda Menangis?


__ADS_3

Setelah memenggal kepala Kacana, Sakya mengambil ksidra Kacana. Ksidra adalah sesuatu yang lebih berharga daripada daging atau bulu yang ada pada tubuh sattva.


Satu penguasa hutan Vanaya mati. Satu calon sekutu yang kuat hilang. Tapi Sakya harus melakukannya. Dia tidak bisa memaafkan Kacana atas perlakuan pada adiknya. Selain itu, dia tidak bisa mempercayai Kacana. Sakya tidak bisa mengambil resiko jika dikemudian hari Kacana memutuskan balas dendam dengan mengkhianatinya.


Melihat rajanya mati, seluruh anak buah Kacana yang ada dekat di daerah tersebut turun dan mendekat. Bahkan yang semula lari menjauhi angin ****** beliung pun kini kembali. Mereka semua membungkuk pada Sakya.


"Salam yang mulia." Salah satu garuda sattva tahap tri praboditha menyapa Sakya kemudian diikuti oleh yang lainnya.


"Apa mau kalian?" Sakya bertanya, keningnya berkerut.


"Yang mulia sudah membunuh Kacana, artinya yang mulia adalah yang terkuat. Kami sattva hanya tunduk pada yang terkuat. Kami akan setia pada yang mulia sampai ada yang mengalahkan yang mulia. Apa perintah yang mulia?" jawab si garuda.


Sakya tersenyum, tradisi ini menguntungkan dirinya. "Namaku Sakya dari Paraka. Bagaimana aku memanggilmu?"


"Yang mulia bisa memanggilku, Jatarupa."


"Dengarkan perintahku! Aku tidak bisa tinggal disini jadi aku menunjukmu untuk menjadi wakilku di sini. Kau tahap tri praboditha yang terkuat disinikan?"


"Benar yang mulia, tapi jika yang mulia pergi, aku takutkan kami hanya jadi buruan sang penguasa lainnya," jawab Jatarupa.


Kehidupan disekitar hutan Vanaya sangatlah keras. Yang kuat selalu yang berkuasa.  Untuk melindungi dirinya sendiri, mereka akan mencari yang terkuat dan berjanji untuk setia. Jika tidak ada yang melindungi, maka mereka hanya akan menjadi buruan.


"Apakah ada api bumi di daerah ini?" tanya Sakya.


Api bumi adalah api yang keluar dari langsung dari dalam tanah. Api yang ada secara alami bukan buatan seseorang.


"Eh ... Ada yang mulia, hanya membutuhkan waktu satu jam perjalanan dengan terbang."  Jatarupa menjawab, keningnya berkerut karena Sakya mengalihkan pembicaraan yang menyangkut keamanan mereka.


"Bagus, aku akan membantumu membuka titik chakra Anahatamu. Kau akan menjadi catur praboditha dan melindungi sattva di sini."


"Tapi yang mulia Sakya, hamba masih jauh dalam membuka titik chakra anahata," sanggah Jatapura.


Jatapura berusaha mengelak perintah Sakya karena dia tahu prananya belum cukup untuk membuka titik anahata dan memutar chakranya.

__ADS_1


Seperti genangan air, setelah genangannya penuh dengan air dan berlebihan maka dia akan mengalir dengan sendirinya ke tempat pemberhentian berikutnya.  Di Tempat pemberhentian ada kincir air, aliran air tersebut harus cukup kuat untuk memutar kincir air tersebut.


Bagi Jatapura, jangankan untuk memutarkan chakra, prana untuk dialirkan ke titik anahata pun tidak cukup. Masalah yang lebih serius adalah persyaratan untuk membuka titik chakra anahata maka dia harus semedi dalam api bumi dan memutar chakra anahata secepatnya sebelum api membakar hangus tubuhnya.


"Tidak masalah, makan ini! kalau sudah kau cerna, kita pergi ke tempat api bumi!" titah Sakya, kemudian dia memberikan sebuah pil keemasan kepada Jatapura pergi ke tempat Karka.


Kening Jatarupa mulai berkeringat. Raja barunya mengatakan tidak masalah. Bagaimana tidak masalah? Nyawaku taruhannya. Dewajika kau ada, tolong berbelas kasihlah!


Jatapura menerima pil keemasan yang diberikan oleh Sakya. Dia pasrah pada perintah Sakya, dia seorang sattva yang tahu akan kesetiaan. Dia akan mematuhinya meskipun harus mati. Dia mulai menelan pilnya dengan air mata mulai menetes di pipinya.


Pil terasa manis saat masuk ke mulutnya. Kemudian masuk ke tenggorokan seperti meleleh. Jatapura merasakan hangat di tenggorokan sampai ke dadanya. Rasanya sangat nyaman sampai berubah menjadi  panas membakar.


Jatapura kaget, dia menyadari bahwa pil tersebut mengandung prana yang besar. Jika dia tidak menyerapnya, tubuhnya mungkin akan meledak. Jatapura langsung semedi mengatur jalan napasnya untuk menyerap prana dalam tubuhnya. Dengan prana sebanyak ini, Jatapura yakin dia bisa membuka titik chakra anahata.


Pil yang Sakya berikan adalah pil dari ramuan bunga Kalvaraksa. Di balai Vanuya, Varna mengajarkannya cara meramu pil. Sakya berhasil membuat pil dengan bahan bunga Kalvaraksa yang masih tersisa. Pil bunga Kalvaraksa merupakan salah satu jenis dari beberapa pil yang berhasil dia ramu.


✤✤✤


Sementara Jatapura menyerap prana yang terdapat dalam pil Kalvaraksa, Sakya berjalan ke tempat Karka dan Shrie yang memperhatikannya bertarung dengan Kacana di tempat yang cukup aman. Shrie langsung berlari ke arahnya.


"Shrie ... Aku juga berpikir kau sudah mati. Bagaimana nasib yang lain?Ayah, ibu, kakek dan penduduk desa yang lain?" tanya Sakya, sambil memeluk Shrie.


Tangis Shrie meledak usai Sakya bertanya keluarganya. Sakya sudah bisa menduga jawaban Shrie. Kakek Jagad Atma tidak berdusta.


Setelah cukup tenang akhirnya Shrie menceritakan kejadian seluruhnya. Dimulai kematian keluarganya sampai pertemuannya dengan Sagara. Dia  menceritakan bagaimana Sagara mengurusnya dan membuka tiga titik chakranya.


Sampai beberapa hari yang lalu, Kacana menemukannya ketika dia dan Arda sedang berjalan-jalan di hutan. Kacana berhasil menculiknya.  Kejadian selanjutnya sudah diketahui oleh Sakya.


Tidak terlalu lama setelah pertemuan Sakya dan Shrie, Sagara datang disusul oleh pasukannya.


Sagara  melihat pertempuran dari jauh. Dia melihat terciptanya angin ****** beliung hasil sihir dari Kacana. Sagara tahu dahsyatnya kekuatan sihir Kacana, terlebih lagi dia melihat sambaran petir. Sagara tidak mengira bahwa sihir Kacana terus berkembang. Sagara tidak yakin bisa mengalahkan Kacana, akan tetapi  dia tetap memutuskan untuk tetap tiba secepatnya agar bisa membantu. Walakin, sebelum tiba pertempuran berakhir, langit menjadi cerah kembali.


Ketika Sagara tiba, Sagara melihat Shrie bersama Sakya. Dia sangat terkejut. Apakah manusia ini yang memenangkan pertarungan? Bagaimana mungkin? Tapi kenyataan ada di depan matanya.

__ADS_1


"Dimana Kacana?" tanya Sagara.


Sakya melemparkan ksidra Kacana ke depan Sagara.


"Ini.. Ssstt," desis Sagara. Dia tahu itu ksidra Kacana. Artinya Kacana sudah mati. Dia benar-benar tidak menyangka seorang manusia mempunyai kekuatan yang yang bisa mengalahkan seorang penguasa Vanaya.


"Yang mulia Sagara, ini Kakak kandungku Sakya. Aku membuat nisannya di tempat yang mulia. Namun siapa sangka ternyata dia masih hidup." Shrie menjelaskan Sakya pada Sagara.


"Takdir memiliki jalannya sendiri ... Baiklah, yang mulia ini akan kembali pulang. Shrie kau boleh mengikuti dari belakang." titah Sagara.


"Yang mulia, aku akan membawa adikku," kata Sakya, menatap mata Sagara yang bulat sebesar kepala.


"Ssssttt ... Yang mulia ini tidak pernah takut dan  tidak ada yang bisa mengambil apa yang sudah jadi milikku. Dia adalah calon santapanku." Sagara mendesis seraya melingkari Shrie. "Akan tetapi, santapan yang enak memang harus banyak bergerak agar dagingnya empuk, yang mulia ini akan meminjamkannya padamu untuk kau ajak bermain. Kembalikan padaku setelah dagingnya empuk ..." lanjut Sagara.


Sakya terenyuh dalam hati setelah mendengar jawaban Sagara. Walaupun ucapan Sagara terkesan kejam dan mengancam, Sakya tidak merasakan niat membunuh dalam diri Sagara. Ada rasa dalam hati Sagara terhadap Shrie. Namun dia tidak mau mengakuinya.


Dan memang benar, keheningan, kesepian, kesendirian, keberanian dan cinta Shrie terhadap keluarganya telah menggerakkan hati Sagara sang penguasa Vanaya bagian timur. Hati seorang penguasa yang biasanya dingin mulai luluh oleh Shrie yang tidak pernah menganggapnya sebagai penguasa. Cinta pun mulai tumbuh. Bukan cinta terhadap lawan jenisnya, lebih pada cinta seorang ayah pada anaknya.


Shrie memeluk Sagara, matanya kembali menetes di pipinya "Terima kasih yang ..."


Sebelum Shrie menyelesaikan ucapannya Sagara sudah memotongnya, "Ssstt, kau pikir yang mulia ini begitu miskin sehingga membutuhkan ucapan terima kasih ... Ssssttt yang mulia ini ingin pulang sekarang."


Sebelum Sagara pergi, Sakya berkata, "Hamba sangat bersyukur yang mulia begitu murah hati pada hamba. Terimalah persembahan dari hamba untuk yang mulia." Sakya membungkuk dan melayangkan pil Kalvaraksa pada Sagara.


Sagara memperhatikan pil yang mengarah ke dirinya. Terlihat  pil yang berkilau  keemasan itu tampak seperti pil biasa.  Tapi Sagara bisa merasakan prana yang begitu banyak  terkandung di dalamnya.


Dia menelan pil tersebut dan merasakan prana yang langsung mengalir keseluruh tubuhnya dan mengisi cadangan prana di tubuh astralnya.


Sebelumnya, cadangan prana Sagara hanya tinggal seperempat lagi karena dia menggunakannya untuk membuka tiga titik chakra Shrie. Sekarang kolam prananya sudah penuh kembali. Pil yang luar biasa.


"Yang mulia ini menerima persembahanmu. Mengenai permintaan untuk sekutumu menghadapi hari  Pralaya, yang mulia ini mengabulkannya. Kita akan mencegah hari Pralaya bersama-sama. Yang mulia ini sudah memberikan tandanya  pada Shrie. Kau boleh memanggil yang mulia ini ketika diperlukan. Kalian boleh pergi." Kemudian Sagara berbalik dan bergegas pergi ke tempatnya.


Ketika Sagara berpapasan dengan Arda, Arda bertanya pada Sagara, "Yang mulia, apakah yang mulia menangis?"

__ADS_1


"Brengsek kau, kau tidak melihat kalau gurun ini penuh pasir. Mata yang mulia ini perih karenanya,” jawab Sagara meninggalkan Arda dan pasukannya.


 ✤✤✤


__ADS_2