SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Aku Menyelamatkan Mereka Bukan Kalian


__ADS_3

Di pagi hari, Sakya dan Shrie sudah siap membuka meja pengobatan di alun-alun Lokapatti.


Seorang kakek tua sudah menunggu sambil menggendong cucunya yang sedang sakit. Penduduk Lokapatti yang memerlukan pengobatan baru mulai berdatangan, sedangkan yang lain, mereka datang hanya untuk menonton saja.


"Kumohon selamatkan cucuku Vaidya. Hanya dia yang kumiliki." Si Kakek berlutut di hadapan Shrie sambil bercucuran air mata. "Aku sudah tidak punya apa-apa sebagai bayarannya akan aku serahkan jiwa dan ragaku." Kemudian dia memeluk kaki Shrie.


"Bangun kek! Kau tidak perlu membayar. Dengan kuasa Ekadeva, aku akan berusaha menyembuhkan cucumu." Shrie menjawab seraya mencoba mendirikan si Kakek.


"Apakah kalian kesini untuk berobat juga?" tanya Shrie pada penduduk yang datang.


"Ya, Vaidya." Mereka menjawab. Sementara yang hanya ingin melihat keajaiban Shrie mulai mundur ke belakang.


"Vaidya Shrie, kau bisa menyembuhkan mereka sekaligus. Waktu kita tidak banyak." Tiba-tiba Sakya berbicara dibelakang Shrie. Shrie menganggukan kepalanya.


"Bratha dan attika yang sedang sakit, mendekatlah. Dengan kuasa Ekadeva aku akan menyembuhkan kalian semua," ujar Shrie pada penduduk Lokapatti.


Mereka yang sakit mulai merapat sementara yang ingin melihat semakin mundur sambil berbisik-bisik, "Menyembuhkan sekaligus? seberapa hebatnya Ekadeva ini." Beberapa ragu, sementara yang lain diam, penuh dengan rasa penasaran.


“Oh ... Ekadeva,” 'bush' Shrie melepaskan prananya menyerupai angin berhembus kemudian prananya mulai menyelimuti penduduk yang sakit.


“Dewa segala dewa


Penguasa seluruh makhluk bernyawa


Yang mengatur hidup dan mati


Dengarkanlah permintaan sepenuh hati


Oh ... ekadeva


Berikanlah aku kekuatan


Memperpanjang kehidupan


Seorang hamba-Mu yang penuh kelemahan.”

__ADS_1


 


Pada saat Shrie selesai menyanyikan doa, penduduk yang tidak terlalu parah seperti sakit gigi, kepala, dan luka sudah sembuh. Sementara mereka yang sakit berat seperti organ dalam yang terluka membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Mereka merasa sedikit gatal-gatal bagian yang terasa sakit, namun mereka tetap diam karena semakin lama, rasa sakitnya semakin berkurang dan hilang.


Ketika mereka merasa sehat seperti sedia kala sebagian dari mereka menangis tersedu. Hanya dewa yang tahu penderitaan mereka. Bagaimana rasanya  hidup dengan rasa sakit di setiap tarikan napasnya. Sekarang mereka terbebas, bebas untuk tidur nyenyak, beraktivitas dan  hidup lebih lama bersama keluarganya.


"Terima kasih Vaidya Shrie." Mereka berlutut dan bersyukur atas karunia ini.  Mereka tahu tidak ada pemberian mereka yang sepadan untuk Shrie. Barang apa yang sepadan dengan nyawa mereka? Bahkan tidak dengan sebongkah batu permata sekalipun. Pada akhirnya, hanya terima kasih tulus yang bisa mereka berikan.


Sayangnya perayaan atas kehidupan baru mereka harus berakhir. Ratusan prajurit datang dari segala penjuru, dan balapati Mara berada di barisan paling belakang. Duduk di atas kuda putih dengan sombongnya.


Para prajurit Lokapatti mengepung Shrie dan Sakya. Semua penduduk langsung mundur dan menghilang di balik prajurit yang datang.


"Kalian berdua ditangkap atas nama balapati Mara karena melanggar hukum kota Lokapatti. Oleh karena, itu kalian akan dihukum gantung siang ini di depan gerbang kota." Prajurit yang bernama Yasa berucap dengan lantang.


"Kalian tidak belajar dari kejadian kemarin? Seberapapun jumlah kalian, Ekadeva akan melindungi kami. Pergilah!" Sakya memperingatkan prajurit yang ada.


"Prajurit tangkap mereka, jika melawan kalian bisa membunuh mereka langsung!" Yasa yang berada di sebelah balapati Mara memberi perintah.


Prajurit dengan tombak dan tameng mulai maju serempak dengan barisan yang rapi ke arah Shrie dan Sakya.


Shrie kemudian menyanyikan doa.


Aku hanyalah hamba-Mu yang lemah


Tolonglah aku dari mereka yang pongah


Tunjukkan kuasa-Mu yang maha gagah


Berlututlah!”


 


 


Barisan prajurit yang maju tiba-tiba jatuh berlutut. Para prajurit merasakan tekanan berat di pundaknya, seperti ditimpa batu besar. Mereka menggertakan giginya, mencoba mengangkat tapi, mereka tidak bisa mengangkat apa yang mereka tidak bisa lihat, hanya bisa menggunakan kedua tangannya untuk membantu menahan tubuhnya. Keringat mulai mengucur, tangan mulai bergetar karena kelelahan.

__ADS_1


Sementara mereka masih menahan dengan sekuat tenaga, Shrie mendekat. "Menyingkirlah!" ucapnya.


Kemudian para prajurit merasakan sesuatu menghantam mereka, tidak terlihat namun nyata, mereka terpental ke belakang dan berguling. Rasa takut mulai terlihat di wajah prajurit yang mulai mencoba bangkit. Darah mulai menetes di hidung mereka. Apa yang terjadi? Apa yang baru memukul wajahku?


Shrie berdiri di alun-alun dengan tenang. Dia tahu yang terjadi. Sakya di belakangnya sudah menyebarkan prananya melingkupi alun-alun kota. Dengan prana tersebut Sakya bisa melakukan apa saja.


Bagi orang yang belum membuka titik chakranya, mereka tidak bisa merasakan prana yang ada di sekelilingnya seperti halnya para prajurit. Hal tersebut membuat mereka sangat takut. Bagaimana caranya melawan sesuatu yang kita tidak tahu bentuknya?


Sayangnya tidak semua prajurit merasakan rasa takutnya. "Pasukan panah siap!" Perintah Yasa bergema di alun-alun Lokapatti. Barisan pemanah maju satu langkah kemudian menyiapkan busur dan anak panahnya. "Tembak!"


‘Set’ Puluhan anak panah melesat. Namun sebelum mencapai Shrie dan Sakya, puluhan anak panah berhenti seperti menghantam dinding yang tidak terlihat. Kemudian luruh satu persatu jatuh di atas tanah.


"Tembak lagi!" Yasa memberi perintah lagi saat usaha pertamanya gagal.


Saat pemanah mulai memasang anak panah ke busurnya, terdengar suara, "Hentikan! Adipati Sena tiba."


Sekelompok prajurit tiba. Mereka berbaris dalam dua barisan. Di tengah mereka berjalan dengan tenang seorang pria berumur empat puluh tahunan. Rambutnya panjang sebahu dengan ikat kepala terbuat dari kulit. Ada jubah setengah badan yang menghiasi pakaian di tubuhnya.


"Hentikan semua! Balapati, kau bisa membawa pulang seluruh prajuritmu,"  ucap pria tersebut.


"Adipati Sena, mereka berbahaya. Biarkan aku membunuhnya," jawab balapati Mara, pada pria tersebut yang ternyata Adipati Sena.


"Jika mereka berbahaya, sudah pasti banyak mayat tergeletak di sini. Aku tidak melihat mayat disini. Pergilah! Laksanakan perintahku," ujar Adipati Sena.


"Mereka menyakiti anakku dan  pandita Sava. Mereka harus membayarnya. Apa alasanmu merebut mereka dariku?" Balapati Mara enggan untuk mundur.


"Jangan lupa kau bicara dengan siapa! Apakah aku perlu alasan untuk mengambil mereka? Aida bisa menyembuhkan anakmu. Pergilah!" teriak adipati Sena.


"Huh, Baiklah Yasa tarik pasukan!" Balapati Mara memalingkan mukanya, kemudian memberi perintah pada Yasa. Tidak lama kemudian, suara Yasa bergema di alun-alun Lokapatti, "pasukan mundur!"


Serentak para pasukan mulai mundur, sebagian membopong kawannya yang masih terbaring di tanah.


Setelah alun-alun kosong dari prajurit balapati Mara, Adipati Sena berkata pada Shrie dan Sakya, "Sudilah kalian  memenuhi undangan orang tua ini. Aku janji tidak akan ada bahaya menimpa kalian berdua." Dia membungkuk sedikit, kemudian mempersilahkan Shrie dan Sakya ke arah yang ditunjuknya. Ada gerobak kereta yang menunggu mereka di ujung alun-alun.


"Mengapa kau menyelamatkan kami?" Sakya bertanya pada Adipati sebelum melangkah maju.

__ADS_1


"Kau salah. Justru aku menyelamatkan mereka bukan kalian, ha ha ha" sanggah adipati Sena.


"Tapi sudahlah, kita bicara di balai kota tempat peristirahatanku, mari …," ajak Adipati Sena, sekaligus mengantarkan mereka ke kereta kuda. Sementara dia naik kudanya sendiri.


__ADS_2