
Di bagian hutan Vanaya yang tidak di ketahui. Di gua tempat Sakya tinggal. Suara gonggongan resana membangunkan Sakya dari tidurnya.
Di mulut gua, anak resana melompat-lompat sambil menggonggong. Melihat Sakya sudah terbangun, dia mendekat kemudian melompat-lompat lagi sambil menggonggong.
"Oh kau sudah bangun... Ya, aku tahu apa yang kau rasakan." Sakya pernah mengalaminya. Rasa panas yang membakar seluruh tubuh.
Tidak membuang waktu Sakya memakan secuil batang bunga Kalvaraksa dan memasukkan sisanya ke dalam bajunya. Dia tahu bahwa dia akan diserang rasa panas yang membakar. Tapi, dia tidak punya pilihan lain, karena saat ini Sakya tidak mempunyai makanan. Rasa hangat mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Kau punya nama?" Tanya Sakya sambil mengelus kepala anak resana.
"Gruk... Gruk" Anak resana hanya menggonggong dan mengangkat kedua kaki depannya.
"Tidak...?" Sakya tidak mengerti arti gonggongannya tapi dia bisa menebaknya. "Mulai hari ini namamu Karka. Ayo Karka kita berolah raga." Sakya langsung keluar gua dan memanjat ngarai. Karka mengikutinya dari belakang sambil menggonggong.
Mereka berlari ke arah selatan hutan Vanaya. Daerah hutan Vanaya bagian selatan merupakan daerah pegunungan, penuh lembah dan bukit. Di ujung hutan Vanaya, gunung Suda menjulang tinggi dengan puncak putih tertutup salju. Gunung Suda merupakan perbatasan antara hutan Vanaya bagian selatan dan samudra Panthalassa.
__ADS_1
Sakya sengaja berlari ke tempat yang belum dia jelajahi. Tujuannya, selain agar tetap bergerak, tujuan lainnya adalah untuk menandai tempat yang aman maupun yang berbahaya, sekaligus untuk melihat dimana posisi dia berada.
Keringat mulai menetes di wajah Sakya setelah dia melewati dua buah bukit. Pepohonan yang rimbun menghambat lari mereka. Namun, tidak terlalu berpengaruh pada tujuan mereka, karena mereka tidak mengejar kecepatan.
Setelah menuruni bukit, Sakya mendengar sesuatu. Teriakan minta tolong. Sakya berhenti berlari sementara Karka tidak berhenti menggonggong.
"Karka dia manusia atau bukan?" tanya Sakya pada Karka. Sakya tahu meskipun mereka tidak bisa berkomunikasi, dia merasa bahwa Karka mengerti maksudnya. Selain itu karena Karka adalah resana yang memiliki penciuman yang lebih baik. Sakya perlu berhati-hati karena di hutan, bahaya datang dari segala sisi.
"Gruk... Gruk." Karka langsung berlari ke arah sumber suara. Sakya mengikutinya dari belakang. Setelah tiba di sumber suara, Sakya melihat seorang kakek tua di dalam lubang sedalam 4 meter.
"Iya nak, he he he. Aku agak ceroboh. Apakah kau bisa membantuku?... Hati-hati, Nak! Ada resana sattva disampingmu." Si Kakek menunjuk pada Karka.
"Jangan khawatir Kek, dia temanku. Dia akan menjagamu sementara aku mencari akar," jawab Sakya sambil beranjak pergi. Si Kakek tersenyum ke arah Karka dan melambaikan tangannya.
Tidak lama Sakya kembali membawa akar yang cukup panjang dan langsung menarik si Kakek.
__ADS_1
"Dimana desamu kek? Biar aku antar." Setelah berhasil menyelamatkan si Kakek, Sakya bertanya dengan harapan dia juga bisa ikut keluar dari hutan Vanaya ini.
"Oh aku tinggal di sekitar sini Nak. Kau mau ikut? Tapi tampaknya kakiku patah. Kalau tidak keberatan, maukah kau menggendongku?"
Sakya merasa aneh bagaimana seorang kakek tinggal di dalam hutan. Akan tetapi, karena Karka hanya diam, dia terpaksa percaya.
"Tentu saja. Jangan khawatir, Kek. Aku masih kuat menggendongmu," jawab Sakya.
Sambil digendong si Kakek memberi arahan pada Sakya. Mereka semakin masuk ke dalam hutan Vanaya bagian selatan.
Setelah cukup lama mereka sampai di depan sebuah tebing yang cukup tinggi.
"Tempat tinggalku ada di ujung celah itu. Jangan khawatir celahnya cukup besar untuk kita berdua," Si Kakek menunjuk pada celah kecil yang ada di tebing tersebut.
Mereka memasuki celah berliku yang cukup panjang. Keadaan di celah cukup gelap karena tebing cukup tinggi sehingga menahan sinar matahari masuk.
Akhirnya mereka tiba di ujung celah tebing. Di balik celah tebing, matahari bersinar cukup terang sampai menyilaukan mata Sakya. Ketika mata Sakya sudah terbiasa, semuanya menjadi lebih jelas. Sakya terkejut dengan apa yang dilihatnya di balik celah.
__ADS_1