
Di depan Sakya terdapat sebuah panggung kecil setinggi setengah kaki. Seorang pria setengah baya menaiki panggung tersebut dan berhenti di tengahnya. Kumisnya tebal dengan bekas luka di pipinya. Badannya tinggi tegap dengan pedang panjang sebetis di pinggangnya.
"Prajurit Nilaka... Dengarkan Aku! Dalam tujuh hari nanti kalian semua akan mati... Ya, kau akan jadi mayat kecuali kau mendengarkan kata-kataku sekarang. Namaku instruktur Zasit dan aku akan melatih mu bagaimana cara-cara memainkan sebuah pedang. Jadi buang kebodohan kalian dan mulai perhatikan apa saja yang akan aku ajarkan pada kalian."
Suara instruktur Zasit bergema ke seluruh lapangan. Dia berdiri tegap di atas panggung penuh dengan wibawa. Rasa percaya dirinya terpancar dari roman wajahnya. Terlihat bahwa dia merupakan instruktur pedang yang sudah berpengalaman puluhan tahun.
Di atas panggung dia mengajarkan dan mempraktekkan teknik dasar main pedang. Mulai dari cara menggenggam pedang, kuda-kuda, menyerang empat titik mematikan, menangkis dan menghindar.
Setelah instruktur Zasit selesai memberikan pengarahan, para prajurit mulai mempraktekkan materi menggenggam pedang, kuda-kuda dan teknik menyerang. Sebuah manekin yang terbuat dari jerami muncul di depan setiap prajurit.
Prajurit Nilaka begitu antusias dan penuh motivasi saat menyerang manekin yang ada di depannya. Sakya mengakui bahwa instruktur Zasit merupakan seorang motivator handal. Melalui serangkaian kata-kata, instruktur Zasit mampu membakar semangat dalam diri prajurit Nilaka.
"Mengapa kau begitu bodoh sekali... Lebih bodoh dari ada seekor keledai. Lebih baik kau bunuh diri sekarang daripada menghabiskan seminggu jatah makanan kerajaan. Dasar keledai!"
"..."
"Kamu... Ya kamu *****... Kau mengayun pedangmu seperti perempuan... Kenapa tidak pulang saja dan suruh istrimu ke sini menggantikanmu. Aku yakin dia bisa mengayun pedang lebih baik darimu..."
"..."
Sugesti instruktur Zasit meresap dalam sanubari setiap prajurit. Semakin lama, mereka menyerang manekin semakin keras. Seperti halnya Sakya, di matanya, manekin di depannya mulai menyerupai instruktur Zasit.
__ADS_1
Setelah berlatih manekin, instruktur Zasit memerintahkan mereka berpasangan berlatih duel dalam rangka melatih teknik menangkis dan menghindar.
Setelah mendapatkan pasangan dan saling berhadapan, suara instruktur Zasit terdengar,"kalau kalian pikir hanya karena seragam kalian sama menjadikan kalian seorang teman maka kalian salah. Yang ada di depanmu adalah pencuri daging dan telur jatah makanmu hari ini. Bagi yang kalah kalian hanya bisa makan roti dan menghabiskan sesi motivasi bersamaku sepanjang sore."
"******* ...." Semua mengutuk dalam hati. Makan hanya dengan roti tidak masalah, mereka kalah dan layak menerima konsekuensinya. Tapi, menghabiskan sepanjang sore untuk sesi motivasi dengan instruktur Zasit sangatlah tidak bisa diterima. Mereka mungkin tidak akan selamat keluar lengkap dengan harga dirinya.
Beberapa prajurit merasa ‘pintar’ mulai bernegosiasi dengan lawan tandingnya. Ada yang menawarkan saling bergantian mengalah, bahkan ada yang menawarkan beberapa koin untuk sebuah kemenangan, akan tetapi jawaban lawannya semua sama, "bergantian/kalah kepalamu... Apa kau pikir hanya kau yang sanggup membayar? Aku bahkan sanggup memberikan istriku padamu... Tapi kau pasti menolaknya khan?"
"..."
Akhirnya mereka mulai bertarung. Rasa benci yang mendalam terpancar pada mata mereka, maaf kawan tapi hari ini kau yang harus kalah.
Sesi duel berakhir, instruktur Zasit menepati janjinya. Beberapa prajurit masih berusaha menghapus air matanya saat keluar dari ruangan sesi motivasi bersama instruktur Zasit, sementara sebagian masih menunjukkan wajah sanggar. Mereka langsung pulang ke barak dan masuk ke dalam selimut. Tidak diketahui apa yang mereka lakukan di balik selimut. Samar-samar, Sakya bisa mendengar suara isak tangis.
Seperti itulah keadaan di halaman istana selama tujuh hari ini. Setiap hari mereka berlatih lebih kuat dan bertarung lebih buas lagi dibanding hari sebelumnya. Semua hanya karena mereka tidak sanggup menerima konsekuensinya.
Hari ini adalah hari ketujuh yang mereka habiskan di halaman istana. Hari ini, mereka akan di kirim ke medan perang, termasuk Sakya. Mereka dibariskan lengkap dengan zirah, tameng dan pedang di tangan mereka.
Tidak lama kemudian instruktur Zasit naik ke atas panggung.
"Prajurit Nilaka... Selama tujuh hari ini kalian berlatih dengan keras. Tujuh hari hanyalah waktu yang singkat mempelajari ilmu pedang, karenanya aku mengajarkan kalian lebih keras dari yang lainnya, dan aku minta maaf." Instruktur Zasit menarik napas dalam dan melanjutkan pidatonya. "Aku tidak membenci kalian, istrimu, nenekmu atau keluargamu yang lain. Aku hanya ingin kau bertarung lebih buas untuk hari ini. Aku tidak ingin kalian bertarung untuk kerajaan. Persetan dengan kerajaan! Aku hanya ingin kalian bertarung untuk keselamatan keluargamu. Karena jika kalian kalah maka anak-anak, istri dan keluargamu yang akan menanggung akibatnya. Musuh tidak akan membiarkan keluargamu hidup tenang. Tapi, walaupun kalian mati hari ini pastikan kalian membawa dua orang musuh ke liang kuburmu..."
__ADS_1
"Instruktur Zasit... Bolehkah aku membawa tiga orang ke liang kuburku?" Salah satu prajurit berteriak dengan lantang.
"Bodoh... Kenapa harus tiga kalau bisa bawa empat!"
"Aku akan membawa enam!"
"Aku bawa tujuh!" Dan seterusnya…
Semuanya hening saat Instruktur Zasit menarik pedangnya dan mengacungkannya ke atas dan berteriak, "Kita akan bertempur untuk anak-anak kita."
"Untuk anak-anak kita." Seluruh prajurit mengikuti instruktur Zasit.
"Untuk keluarga kita."
"Untuk keluarga kita."
"Kita akan memenangkan perang ini."
"Menang"
Kemudian terompet perang mulai berbunyi dan genderang mulai ditabuh.
__ADS_1
Para prajurit Nilaka mulai berjalan menuju medan perang.