
Tivara dan peserta yang berhasil meloloskan diri terus berlari ke perbatasan bukit Varsani. Mereka tahu ada prajurit Lokapatti di sana. Mereka berlari sampai melihat rombongan prajurit yang masih berkumpul di bawah pohon beringin.
"Tolong kami! Ada rakshasa," teriak para peserta persembahan pada prajurit Lokapatti sambil menunjuk ke arah bukit Varsani.
Para prajurit berlari semakin mendekat ke arah mereka. Ketika sudah berdekatan 'BUK' terdengar suara benturan yang cukup keras.
"Apa yang kau lakukan?" teriak seorang peserta persembahan ketika salah satu prajurit Lokapatti memukulnya sampai jatuh. Dia bukan satu-satunya, semua peserta mendapat perlakuan yang hampir sama. Ada yang ditendang dan dipukul batang tombak dsb.
"Berhenti, tolong ...."
"Tolong ... Ada rakshasa di sana, biarkan aku pergi!"
"Kalian seharusnya tidak lari! Seharusnya kalian ikut bersama rakshasa-rakshasa tersebut!" ujar seorang prajurit Lokapatti yang murka. Dia terus memukuli peserta yang ada di depannya.
Setelah para peserta persembahan dipukuli, mereka ditarik dan digiring kembali ke bukit Varsani.
Tivara mencoba bangkit dan melawan, tapi pukulan di kepala membuat keseimbangannya goyah. Satu tendangan mendarat di tubuhnya membuatnya jatuh kembali.
"Tolong ... Biarkan aku pergi! Aku punya anak ...." Tivara memohon pada prajurit Lokapatti.
"Aku juga punya anak. Jika kau berhasil lolos maka anakku yang mati," prajurit Lokapatti memotong ucapan Tivara dan menariknya menuju bukit Varsani.
Ketika mereka hampir tiba di bukit Varsani, mereka berpapasan dengan Sakya yang membawa dua puluh orang peserta yang dia selamatkan.
"Lari Sakya! Lari!" Tivara berteriak memperingatkan Sakya. Akan tetapi Sakya hanya diam menatapnya tanpa ekspresi.
"Kalian pikir mau kemana? Kembali ke bukit atau kalian rasakan akibatnya!" seru Abuba pada kelompok yang dipimpin Sakya.
__ADS_1
"Sudah tidak ada rakshasa di bukit. Mereka sudah kembali ke kotanya. Jangan khawatir, mereka bilang akan datang lagi langsung ke Lokapatti," jawab Sakya datar.
Sakya tidak mengatakan bahwa dia sudah membunuh hampir semua rakshasa. Tapi, informasi bahwa mereka akan datang lagi memang ditambahkan oleh Sakya. Tidak mungkin rakshasa membiarkan sebuah kota lepas dari tangannya.
"A—apa kau bilang? A—apa yang kalian sudah lakukan?" Abuba murka. Dia tidak bisa membayangkan jika rakshasa mulai menyerang kota Lokapatti. "Prajurit tangkap mereka semua!"
Para prajurit mulai bergerak untuk menangkap para peserta. Sakya mengeluarkan aura prabodithanya yang membuat takut para prajurit Lokapatti. Seperti melihat seekor sattva yang siap menerkam mereka. Mereka tidak dapat bernapas sehingga berhenti bergerak.
"Jangan takut! Dia hanya satu orang. Kita serang bersama-sama!" teriakan Abuba langsung menyadarkan prajurit lain. Mereka menggenggam erat tombaknya.
Sakya tersenyum, dia mengakui kemampuan Abuba sebagai seorang kapten. Abuba mampu merespon dengan cepat perubahan situasi yang ada di lapangan. Respon yang terus diasah oleh pengalaman bertarung yang cukup.
"Berlutut!" Sakya menggunakan prananya untuk menekan para prajurit Lokapatti.
Satu persatu prajurit Lokapatti mulai berlutut. Mereka sudah pernah mengalami hal serupa di alun-alun Lokapatti oleh Shrie. Siapa yang menyangka kalau kakaknya ternyata mampu melakukan hal yang sama. Wajah ketakutan mulai muncul lagi di wajah mereka.
"Kau pemimpin merekakan? Aku tahu kau tidak takut mati, tapi aku pastikan jika kau tidak menjawab pertanyaanku, hanya kau satu-satunya prajurit yang hidup untuk melapor ke balapati Mara. Jawab pertanyaanku! Apa yang terjadi disini?" tanya Sakya.
Para prajurit tersebut lebih dari seorang bawahannya, mereka saudara seperjuangannya. Dia tahu keluarganya satu-persatu. Jika mereka mati dan dia hidup, apa yang akan dia katakan pada keluarga mereka, dia mungkin tidak akan berani menunjukkan mukanya ke hadapan mereka.
"Baiklah, aku ceritakan. Jangan sakiti mereka! Kami ...." Abuba langsung mengungkapkan apa yang mereka lakukan pada para peserta persembahan di bukit Varsani. Hal yang sama dengan yang diceritakan rakshasa pada Sakya.
Mendengar pengakuan Abuba, para peserta hanya bisa menahan napas. Mereka bahkan merasa sesak untuk bernapas. Bagaimana tidak, persembahan dewi Daru adalah harapan mereka satu-satunya untuk bisa bertahan hidup di benua ini. Sekarang harapan, impian dan kesempatan mereka hancur lebur. Apakah kalian masih manusia?
"Apa yang kalian lihat? Pilihannya hanya keluargaku yang hidup atau kalian. Dan aku memilih keluargaku." Seolah tahu apa yang dipikirkan oleh para peserta, Abuba menghardik mereka.
"Cukup! Tivara, ajak yang lain mengambil tombak mereka. Setelah itu lepaskan mereka!" ujar Sakya.
"Melepaskan mereka? Bagaimana mungkin? mereka sudah mencoba membunuh kita," teriak salah satu peserta persembahan.
"Bukan saatnya mereka mati. Aku memerlukan mereka untuk menceritakan kejadian yang terjadi disini. Lepaskan mereka!"
__ADS_1
Peserta tersebut kemudian diam. Sakya kembali meminta Tivara untuk melucuti senjata mereka.
"Kalian boleh pergi!" perintah Sakya pada prajurit Lokapatti.
Abuba merasakan beban yang menekannya mulai hilang. Dia berdiri dan mulai pergi ke arah kota Lokapatti.
Setelah para prajurit Lokapatti pergi, seorang peserta persembahan bergumam dengan lirih, "apa yang akan kita lakukan sekarang?" Dia menjatuhkan tombaknya, terduduk dengan kedua tangan di rambutnya. Tidak ada hal yang paling menyakitkan hati selain dikhianati, ditikam dari belakang terutama saat kita menggantungkan harapan setinggi langit.
"Apalagi yang bisa dilakukan? Kembali kota Lokapatti? Mati. Ke kota lain pun pasti mengalami nasib yang sama ... Mati. Hidup di alam liar? Mati," ujar Sakya menghentak keheningan.
Tidak ada yang salah dari ucapan Sakya. Sedikit perih, tapi itulah kenyataannya.
"Apa yang akan kau lakukan Sakya?" tanya Tivara lirih.
"Membuat pilihan dimana dan bagaimana aku akan mati. Hidup di alam liar ... Mungkin bisa bertahan hidup lebih lama dan mempunyai keturunan. Tapi pada akhirnya aku akan mati dan mewariskan ketakutan pada penerusku seumur hidupnya. Atau kembali ke Lokapatti ... Aku akan mengubah takdirku. Ada harapan di sana. Aku mungkin akan mati tapi akan kupastikan aku akan membawa satu orang Lokapatti ke alam kematian dan setidaknya aku tidak akan membebani keturunanku di masa depan."
Apa yang Sakya ucapkan bagaikan setitik cahaya kunang-kunang dalam malam tanpa bulan. Setitik harapan dalam gelapnya hati mereka. Mereka sudah tidak memiliki ikatan apapun dengan dunia ini, terinjak oleh kerasnya kehidupan dan dikhianati oleh sesamanya. Mereka sudah tidak memiliki apa-apa.
Dalam keputusasaan, jika ada tebing di situ, mereka tidak akan ragu untuk melompat langsung. Tapi, Sakya memberikan mereka 'tujuan'. Kesempatan merubah takdir demi anak-anak mereka. Mereka mungkin gagal dan mati, tapi itu jauh lebih baik daripada terjun bunuh diri ke jurang dan mati tanpa tujuan.
"Ikutlah denganku! Berjuanglah bersamaku demi masa depan yang lebih baik," ajak Sakya.
"Aku ikut denganmu," sahut Tivara.
"Aku juga, ayo kita rubah nasib kita!"
"Aku sudah tua, aku sudah tidak bisa bertempur lagi," ujar kakek Vatsa lirih.
"Kakek, bertempur bukanlah satu-satunya cara untuk merubah takdir kita. Kau akan menemukan tempatmu di perjuangan ini," jawab Sakya.
"Ayo kita kembali ke Lokapatti!" Sakya berjalan diikuti lima puluh mantan peserta persembahan dewi Daru kembali menuju kota Lokapatti.
__ADS_1