SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Alun-Alun Lokapatti


__ADS_3

Ketika gerbang mulai terbuka seluruhnya maka terlihat jalan tanah selebar 2 meter. Terbentuk karena bangunan rumah kayu yang berdiri di kanan kirinya. Ketika hujan, jalanan akan penuh lumpur dan ketika panas, debu penuh berterbangan. Membentang sampai tengah kota Lokapatti.


"Ikuti jalan ini sampai alun-alun kota, kemudian belok ke kanan. Tidak jauh dari situ ada balai penampungan. Kalian bisa istirahat di situ, kebutuhan kalian akan terpenuhi ... Makan, minum, dan tempat tidur sampai kalian bisa mandiri sendiri. Maaf, aku tidak bisa mengantar kalian, aku ada tugas lagi." Nayaka berkata pada Sakya sambil mengarahkan tangan memberi petunjuk.


"Tidak apa-apa kami bisa sendiri dan terima kasih," jawab Sakya, membungkukkan badannya.


Sakya dan Shrie mengikuti jalan setapak yang berdebu sampai tiba di alun-alun kota. Shrie cukup terkejut sampai ternganga. Dia tidak mengira alun-alun kota akan seramai ini.


Di pinggir alun-alun,  berjejer meja-meja yang penuh dengan berbagai jenis barang dagangan. Dari mulai makanan sampai barang-barang yang terbuat dari kayu dan batu.


Shrie mendekati meja yang menjual makanan ringan dan bertanya pada si penjual, "Pak, kalau aku mau makanan ini, apa yang harus aku lakukan?"


"Kau baru sampai di kota ya? Jika kau inginkan sesuatu kau bisa menukarnya dengan sesuatu yang sama nilainya. Kau punya sesuatu untuk ditukarkan?" jawab si pedagang.


Shrie baru keluar dari hutan, dia baru tersadar bahwa ternyata dia tidak memiliki apa-apa selain pakaian di tubuhnya. Dia melihat pada Sakya ... Wajahnya memelas.


Sayangnya, kondisi Sakya tidak jauh berbeda dengan Shrie. Di dalam kantong vicitranya hanya ada pil Kalvaraksa, pil-pil ramuan lainnya dan ksidra Kacana. Barang-barang yang dimiliki Sakya memiliki nilai tukar yang jauh lebih mahal dari kota ini beserta isinya.


"Pak, aku lihat kau sedikit pucat, apakah kau sakit?" tanya Sakya.


"Perutku sedikit sakit tapi aku masih cukup kuat, ha ha sakit segini tidak akan membuat aku tumbang dan terkapar ... Bagaimana apakah kau punya sesuatu untuk ditukarkan?"


"Pak, bagaimana kalau aku bisa menyembuhkanmu? Maukah kau memberi kami dua porsi makananmu?" Sakya mencoba bernegosiasi.


"Hmmm … kau seorang Vaidya? Baiklah kau boleh coba," jawab si Bapak.


Vaidya merupakan panggilan untuk seseorang yang mempunyai bakat untuk menyembuhkan seseorang dengan doa-doa atau ramuan yang dia buat.


Vaidya ras manusia sangatlah sedikit bahkan bisa dihitung dengan jari. Satu desa biasanya hanya memiliki seorang penyembuh. Mereka hanya belajar dari pengalaman atau warisan dari orang tuanya. Jika orang tuanya mati sebelum mengajarkan pada anaknya, maka ilmu penyembuhnya akan terkubur bersama tubuh orang tuanya.


Ras manusia belum mengenal tulisan yang bisa digunakan sebagai perekam pengetahuan yang bisa diteruskan sebagai sebuah warisan. Hal inilah yang menyebabkan ras manusia sangat tertinggal dibandingkan dengan ras lainnya yang hidup di benua Pangea. Sistem penulisan harus ada agar pengetahuan yang sudah ada bisa diperbaiki terus berkembang.


Sakya mengalirkan prananya ke tubuh si bapak penjual. Dari situ Sakya mengetahui si bapak sudah bekerja terlalu keras. Sangat miris ketika seorang penjual makanan sakit akibat dari makan yang tidak teratur dan istirahat yang cukup. Organ dalamnya terluka  karena tidak cukup makanan untuk dicerna.

__ADS_1


Jika terus berlanjut, organ dalamnya akan rusak dan akhirnya dia akan tumbang dan terkapar. Sakya menyalurkan prananya untuk dijadikan energi sebagai pengganti makanan sehingga organ dalamnya bisa beristirahat, kemudian sedikit prana untuk menyembuhkan luka  organ dalamnya.


Si bapak penjual merasakan hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Perutnya yang semula sakit dan rasa mual yang dia rasakan mulai menghilang. Dia merasa segar kembali.


"Anak muda, doa-doamu manjur sekali. Ini untuk kalian 3 porsi ... Ha ha ha," puji Si bapak sambil tertawa. Dia menyodorkan 3 porsi makanan yang terbungkus daun pisang.


"Tunggu ... Siapa namamu? Nak jika kemampuan menyembuhkanmu begitu luar biasa, kau bisa mendapatkan apapun di kota ini." kata si bapak sambil memegang tangan Sakya.


"Aku Sakya dan ini adikku, Shrie. Apakah tidak ada seorang Vaidya di kota ini?"


"Ada, Vaidya Aida. Tapi, dia bekerja pada balapati Mara. Untuk mendapat pertolongannya kita harus mampu membayar balapati Mara" Si bapak menghela napasnya, "kebanyakan dari kami tidak sanggup membayarnya."


Sakya mengajukan beberapa pertanyaan mengenai kota Lokapatti. Dari keterangan si Bapak, Sakya mengetahui bahwa kota Lokapatti dipimpin oleh seorang Adipati Sena dibantu oleh seorang pandita Sava dan balapati Mara.


Adipati Sena mengatur segala aturan hukum di Lokapatti sekaligus sebagai hakimnya. Pandita Sava bertugas sebagai penghubung antara penduduk kota Lokapatti dengan Dewi Daru. Sedangkan balapati Mara bertugas menjaga keamanan baik di dalam kota maupun di luar kota.


Ketiga orang ini merupakan orang yang berkuasa di kota Lokapatti. Mereka adalah otak, hati dan tubuh Lokapatti. "Kau tidak ingin membuat masalah dengan mereka!" Si bapak memberikan nasihat terakhirnya.


Setelah mengucapkan terima kasih, Sakya dan Shrie kembali melanjutkan perjalanan ke balai penampungan.


Tapi tidak ada yang mendengarkan, kebanyakan menghiraukan si Kakek dan melewatinya sementara sebagian kecil berhenti hanya untuk menghardik, "Pulanglah orang tua, kau bicara terlalu banyak!" Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya.


Shrie berniat untuk menghampiri si Kakek namun Sakya menarik tangannya dan melanjutkan perjalanannya.


Shrie mengikuti Sakya tanpa berkomentar. Shrie percaya bahwa Sakya tentu memiliki alasan tersendiri. Ada hal lain yang menarik perhatiannya saat ini.


"Kakak, bisakah aku belajar sihir penyembuhan?" tanya Shrie.


"Tentu saja. Sihir penyembuhan sama saja dengan sihir lainnya. Sama seperti caranya menumbuhkan bunga-bunga dengan cepat, kau hanya tinggal memberikan perintah dalam prana untuk mempercepat proses penyembuhan bagian tubuh yang terluka." ungkap Sakya.


"Semudah itu?" Shrie penasaran.


"Ya, semudah itu. Untuk seorang tri praboditha, kau bisa menyembuhkan hampir semua luka  dalam atau luar tubuh. Untuk penyakit yang disebabkan hal lain seperti racun, kau perlu membutuhkan tambahan ramuan untuk membunuh racunnya. Aku akan ajarkan nanti." Sakya mengiyakan.

__ADS_1


"Bisakah aku membantu mereka yang sakit di kota ini?" Shrie bertanya lagi.


"Ha ha ha, tentu saja bisa. Tapi ada syaratnya." Sakya menjawab sambil tersenyum.


"Kakak ...Apa syaratnya?" Shrie tampak kecewa, bibirnya cemberut.


"Nanti saja, kita sudah tiba."


Mereka berdua akhirnya tiba di balai penampungan.


Balai penampungan merupakan rumah kayu berukuran dengan lebar sepanjang 6 meter dan panjang 10 meter beratapkan jerami. Terdapat 25 tempat tidur yang berbaris ada saling berhadapan. Suasananya agak gelap karena diterangi dengan empat buah obor yang menempel di empat sisi dinding rumah.


Saat Sakya masuk sudah ada belasan orang di dalam balai. Mereka sudah menempati tempat tidur masing-masing. Yang lelaki menempati barisan ranjang berlawanan arah pintu sementara yang perempuan ranjang sejajar dengan pintu.


"Salam ... Aku Tivara dari Alpaka. Kau pendatang baru?" Seorang pria berbadan kekar mendekati Sakya.


"Salam  ... Iya kami baru datang sore. Aku Sakya dan ini adikku Shrie, kami dari Paraka. Apakah ini balai penampungan?"


"Ya, kau dan adikmu bisa tidur di ranjang yang kosong." Tivara menunjukkan beberapa ranjang kayu yang kosong. "Aku seorang pemburu. Apa keahlianmu?"


"Aku juga seorang pemburu dan adikku seorang Vaidya." jawab Sakya, setelah dia menempati sebuah ranjang kosong.


"Wow ... adikmu luar biasa, kurasa kalian akan cepat mendapatkan tanah di sini ...  Kau tahu? untuk mendapatkan tanah disini, seseorang harus memiliki keahlian yang diperlukan oleh kota ini. Karena Vaidya sangat langka aku sangat yakin Adipati Sena akan memberikan dia sebidang tanah," ungkap Tivara.


"Bagaimana jika seseorang tidak memiliki keahlian?" tanya Shrie penasaran.


"Ah, kau bisa meminta dewi Daru. Kau memberi persembahan pada dewi Daru, apabila sang Dewi puas, kau diajak mengikuti perayaan dewi Daru. Setelah selesai pandita Sava akan membawamu ke kuil dewi Daru untuk mengabdi pada-Nya."


"Dan kalau dewi Daru tidak puas? Apa yang akan terjadi?" Shrie bertanya kembali.


"Maka kau harus keluar dari kota. Aku sarankan agar kau berusahalah sekeras mungkin. Kota ini adalah kota impian setiap manusia. Damai dan aman dari rakshasa. Kau lihat itu?" Tivara menunjuk setumpuk barang barang diujung ruangan."Itu adalah hasil usahaku selama tujuh hari. Aku akan menyerahkannya pada dewi Daru jika adipati Sena tidak memberiku tanah."


Percakapan dengan Tivara berlanjut tentang bagaimana desanya hancur oleh para rakshasa. Dia dan beberapa orang yang ada di balai penampungan hanyalah segelintir orang yang selamat. Percakapan berakhir saat Sakya dan Shrie memutuskan untuk beristirahat.

__ADS_1


Sebenarnya Sakya dan Shrie tidak tidur malam itu. Sebagai seorang praboditha, tidak tidur beberapa malam tidak akan menjadi masalah. Prananya akan mengalir secara mandiri untuk menyegarkan tubuhnya.


Malam itu Sakya mengajarkan Shrie bagaimana caranya melakukan sihir penyembuhan. Dia juga memberitahukan syarat yang harus dipenuhi oleh Shrie saat menyembuhkan seseorang. Shrie sudah tak sabar menunggu esok tiba.


__ADS_2