SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Perayaan Dewi Daru


__ADS_3

Di komplek perumahan adipati Sena tempat Sakya dan Shrie beristirahat, Shinta sudah tiba untuk mengantar Sakya ke perayaan dewi Daru.


Sakya dan Shrie ternyata sudah siap menunggunya berdiri di jalan setapak komplek adipati Sena.


"Bratha Sakya, apakah kau sudah siap?"  Shinta tersenyum padanya. Shinta tampak berbeda hari ini. Di wajahnya terdapat dua garis merah lurus dari bawah kedua matanya sampai ke pipinya.


"Ya, Aku sudah siap," jawab Sakya.


"Kakak Shinta, kenapa kau menghias wajahmu?" tanya Shrie.


"Oh, ini untuk upacara perayaan dewi Daru. Aku akan menari untuk Bratha Sakya dan peserta  lainnya," jawab Shinta, "Ayo, kurasa mereka semua sudah menunggu."


Shinta berjalan menuju kereta kuda. Kali ini dia langsung naik tanpa menunggu Sakya menawarkan bantuannya. Shinta pikir hal itu tidak akan pernah terjadi.


Hanya  keheningan yang ada di sepanjang perjalanan. Sesekali terdengar bunyi roda kereta saat jalanan tidak rata. Untungnya bukan perjalanan yang panjang. Tidak lama kemudian mereka tiba di gerbang utama kota Lokapatti.


Jalan sepanjang gerbang sudah penuh dengan penduduk. Di balik gerbang pandita Sava sudah berdiri. Dihadapannya berbaris para peserta yang mengikuti perayaan sekitar lima puluh orang. Diikuti dengan para prajurit dengan jumlah yang sama.  Barisan terakhir adalah penduduk yang hanya akan melepas kepergian peserta.


Sakya masuk ke dalam barisan peserta sementara Shinta berdiri di samping pandita Sava.


"Salam calon penduduk kota Lokapatti. Hari ini hari yang bersejarah untuk kalian. Bagi kalian yang ingin hidup tenang dan damai di kota Lokapatti di bawah naungan dewi Daru, inilah jalan yang harus kalian tempuh.


"Kalian harus berjalan menuju padang Varsani. Di sana ada bukit dewi Daru. Letakkan persembahan terbaik kalian di bawah patung dewi Daru di puncak bukit, dan berdoalah sungguh-sungguh mendapatkan anugerah-Nya. Prajurit-prajurit terbaik kota Lokapatti akan mengikuti untuk menjaga keselamatan kalian. Kami juga sudah menyiapkan gerobak kuda yang bisa kalian gunakan untuk menyimpan persembahan kalian agar tidak membebani saat perjalanan."

__ADS_1


Pandita Sava menunjuk pada beberapa gerobak kuda yang ada pinggir jalan. Tidak terlalu lama menunggu, para calon sudah selesai menaikkan persembahan mereka kecuali Sakya. Entah mengapa perbuatan Sakya mendapatkan perhatian dari pandita Sava. Matanya melotot dan bibirnya berkedut. Akan tetapi Sakya seolah tidak peduli.


"Karena semuanya sudah siap, maka upacara pelepasan peserta perayaan dewi Daru ditutup oleh tarian persembahan atika Shinta."


Pandita Sava menyelesaikan pidatonya dan mempersilahkan Shinta maju. Musik mengalun pelan dan syahdu, tidak seperti tarian sebelumnya yang mengalun kencang seolah mengajak penontonnya untuk ikut menari. Tarian Shinta seolah hanya untuk disaksikan dan dinikmati penontonnya.


Shinta menari dengan gemulai. Rambutnya berkibar tertiup angin memperlihatkan leher jenjangnya yang putih dan parasnya yang cantik. Kain yang menempel pas di tubuhnya  memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sempurna, tinggi semampai. Tangannya begitu gemulai saat bergerak mengikuti irama. Tidak salah bila Shinta disebut wanita tercantik di kota Lokapatti.


Para lelaki hanya bisa menahan napas. Mereka berusaha membuka matanya selama mungkin karena takut kehilangan momen yang ada. Seolah takut Jika mereka menutup mata, maka kesempatan untuk melukiskan keindahan Shinta di pelupuk mata mereka akan hilang. Mereka ingin mengingat saat ini untuk selamanya.


Shinta bergerak dengan lambat mengiringi alunan musik. Tidak ada senyuman di wajahnya. Terkadang sinar matahari memperlihatkan kilauan air matanya yang menetes di pipinya. Wanita yang menangis membuat lelaki berhasrat untuk memeluknya. Tapi karena mereka tidak bisa, mereka hanya bisa menelan air liurnya untuk memadamkan hasratnya.


Sakya menatap Shinta tanpa berkedip. Detak jantungnya berdetak kencang, napasnya berderu kencang. Untuk alasan yang tidak jelas, tiba-tiba ada keinginan untuk mendekat dan memeluk Shinta. Dia menelan ludahnya mencoba menahan keinginannya.


"Kalian boleh jalan." Teriakan pandita Sava seolah menyadarkan semuanya. Para peserta mulai berjalan melewati gerbang kota diikuti para prajurit kota Lokapatti.


Sakya, selamat untuk adikmu. Aku turut gembira." Tivara datang menghampirinya. Tivara adalah seorang pemburu yang sangat antusias untuk menjadi penduduk kota Lokapatti.


"Terima kasih, Bratha Tivara. Apa kabarmu?"


"Oh,  aku tidak sabar ... Oh aku lihat kau tidak membawa persembahan. Ambil beberapa milikku! Agar mempunyai kesempatan lebih besar berkumpul kembali dengan adikmu," tawar Tivara kepada Sakya.


"Terima kasih, Bratha Tivara. Aku hanya akan berdoa sepenuh hati pada dewi Daru." Sakya tersenyum pada Tivara.

__ADS_1


"Kalau kau berubah pikiran beritahu aku! Percayalah, hidup di luar kota sangatlah berbahaya. Tidak ada tempat yang aman, binatang, rakshasa dan sattva  bisa membunuhmu setiap saat" ucap Tivara lirih.


Mendengar ucapan Tivara, Sakya bisa merasakan kesedihan yang dia rasakan. "Apa yang terjadi dengan desa Bratha Tivara?" tanya Sakya.


Tivara menarik napas panjang. Kemudian dia berkata, "Aku hidup di desa kecil Alpaka. Desa yang terletak di sebelah barat benua Pangea  di pinggir sungai Nada ...."


Tidak kuasa menahan kesedihan, air mata Tivara jatuh menetes. Tivara bercerita ketika suatu hari sekelompok rakshasa tiba di desanya. Dia berusaha menyelamatkan istrinya dan ketiga orang anaknya, sayangnya pukulan rakshasa membuatnya   tidak sadarkan diri terpental ke sungai  Nada. Ketika sadar, Tivara  kembali ke desanya akan tetapi, desanya telah menjadi puing-puing. Istri dan anaknya telah hilang.


Selama beberapa hari, Tivara terus mengikuti jejak rakshasa. Pada hari ketiga dia menemukan tumpukan mayat-mayat yang tidak utuh dan istrinya ada di antara mayat tersebut. Tivara tenggelam dalam kesedihan mendalam ketika menguburkan istrinya. Jika dia tidak ingat bahwa ketiga anaknya masih hidup, Tivara mungkin akan menemani istrinya. Untuk menyelamatkan ketiga anaknya, Tivara terus mengikuti jejak rakshasa karena sampai akhirnya dia bertemu dengan patroli kota Lokapatti.


Di kota Lokapatti, dia berusaha mengumpulkan persembahan untuk Dewi Daru dengan tujuan agar dia mempunyai tempat tinggal yang aman, setelah itu dia akan melacak keberadaan ketiga anaknya, menyelamatkan anaknya dan membawanya ke kota Lokapatti.


"Aku telah mengecewakan seluruh keluargaku. Aku harap aku tidak terlambat menyelamatkan anak-anakku. Aku menunggu prajurit Lokapatti, mereka berjanji akan membantuku apabila aku menjadi seorang warga Lokapatti. Jadi, disinilah aku sekarang." Tivara mengusap air matanya.


"Kita sudah tiba di padang Varsani. Bawa persembahan kalian dari gerobak dan berjalan terus ke arah timur ke sebuah bukit. Di puncak bukit terdapat patung dewi Daru. Letakkan persembahan kalian di sana dan berdoa lah."


Prajurit Lokapatti menghentikan perjalanan. Sebagian membantu para peserta persembahan. Mereka yang sudah siap terus berjalan ke timur. Sementara para prajurit Lokapatti hanya diam di tempat.


Sakya dan Tivara melanjutkan perjalanan ke arah timur. Tidak lama kemudian mereka tiba di kaki sebuah bukit. Di puncak bukit dewi Daru terdapat patung besar berbentuk seorang perempuan dengan kedua tangan seolah akan memeluk anaknya. Sementara hampir seluruh peserta persembahan penuh semangat naik ke puncak bukit bersama persembahan mereka, Sakya tetap diam tidak bergerak.


"Rakshasa! Lari ..."


Tiba-tiba terdengar teriakan para peserta persembahan yang sudah tiba di puncak bukit.

__ADS_1


__ADS_2