
5 tahun telah berlalu di kuil Vanuya. Kini Sakya berusia dua puluh satu tahun. Badannya semakin tinggi dan besar. Sementara Karka sudah setinggi 3 meter sekarang. Dia bahkan sudah lebih tinggi dari Sakya.
Hari-hari di kuil Vanuya telah berakhir. Sakya sudah mendapatkan pengetahuan yang ditinggalkan bangsa Ajada. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang akan datang.
Hari ini, dia akan mengunjungi Mahan sang penguasa hutan Vanaya bagian selatan. Sakya berharap semua berjalan dengan baik. Berbicara dengan sattva dan meyakinkan dia untuk menjadi sekutu merupakan hal yang belum pernah dilakukan oleh seorang manusia dimanapun.
"Apakah kau bisa mencium bau Mahan?" tanya Sakya pada Karka.
"Jika dia berada seribu kaki dariku maka aku bisa mencium baunya," jawab Karka.
Karka dan Sakya sudah bisa berkomunikasi dengan menggunakan prana. Mereka berdua berbicara dengan bahasa masing-masing, namun pesan yang didapat dari prana yang mengalir dapat dimengerti oleh keduanya. Varna yang mengajari mereka berdua di balai Vanuya.
"Apakah kau bisa mengalahkannya?" tanya Sakya.
"Tidak saat ini... Menurut sattva yang ada di sini Mahan adalah sattva terpintar di bagian hutan Vanaya bagian selatan ini. Kau yakin bisa membujuknya jadi sekutu?"
"Akan lebih mudah jika aku bisa menunjukkan ramalan masa depan seperti kakek Jagad Atma."
"Mungkin kau bisa menunjukkan ilusi?"
"Ilusi hanyalah ilusi. Dia bukan kenyataan."
"Mungkin kita bisa membuat dia babak belur terlebih dahulu?" Karka menawarkan ide baru.
"Mereka yang sudah berada di puncak kekuasaan akan lebih memilih mati daripada berlutut dan mendengarkan perintah orang lain," sanggah Sakya.
"Terus apa rencananya?"
"Baik, coba tangkap sattva yang cukup besar yang kita temui," ujar Sakya.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kita tidak ada waktu untuk mencari jejak Mahan dan menuntunnya ke sarangnya." Sakya tahu penguasa itu lebih senang duduk di singgasananya daripada berkeliling melihat daerah kekuasaannya.
Tidak terlalu lama mereka berhasil menangkap karagos sattva. Sattva bertubuh kelinci yang kebetulan tahu dimana sarang Mahan. Dengan sedikit kata dari Karka, karagos sattva mengantar mereka ke tempat Mahan sang Penguasa hutan Vanaya Selatan.
Mahan tinggal di sebuah pohon Ulin yang tumbuh di bagian selatan hutan Vanaya. Pohon dengan batang terbesar di hutan. Saking besarnya perlu dua puluh orang untuk melingkari batang pohonnya. Cabang-cabangnya menyebar ke segala arah tertutup dengan dedaunan yang rimbun.
"Sakya dari Paraka dan resana Karka meminta izin untuk bertemu Mahan Sang Penguasa Hutan Vanuya Selatan." Suara Sakya menggema di sekitar pohon Ulin.
Tidak lama terdengar suara Mahan di benak Sakya dan Karka, "Pergilah, hari ini aku tidak ingin makan manusia dan resana."
"Kami kesini tidak untuk dimakan tapi untuk mengajakmu jadi sekutu."
Bumm... terdengar suara sesuatu yang besar jatuh. Seekor Markata sattva setinggi 6 meter terlentang di tanah. Kemudian dia tertawa, "uh uh uh uh seorang manusia ingin menjadi sekutu...uh uh uh..." Kemudian dia mengamati Sakya dari dekat. "Hmmm menarik, apa mungkin karena ukuran otak yang kecil membuat pikirannya jadi sempit juga... Uh uh uh... " Mahan tertawa lagi sambil berguling guling dan sesekali memukul dadanya dengan kedua tangannya yang besar.
"Otak kecil membuat pikiran sempit... Oh ini pengetahuan yang sangat baik untuk diwariskan pada keturunanku. Uh uh uh..." Mahan berkata sambil memanjat ke cabang terdekat. Di atas cabang dia bertanya, "apa keuntungan aku jika bersekutu denganmu?"
"Pertama kau akan mendapatkan pengetahuan. Kami yakin apa yang kami lakukan dengan otak kami yang kecil akan menjadi pengetahuan yang bisa mengisi otak besar yang mulia."
"Tentu tidak... Mana mungkin makhluk yang memiliki otak yang besar adalah makhluk bodoh. Kami hanya bilang otak yang mulia terlalu besar karenanya banyak ruang kosong untuk diisi pengetahuan."
"Ah kau benar uh uh uh. Kau tahu aku cinta dengan ilmu pengetahuan. Kau mau tahu pengetahuan apa yang aku dapatkan baru-baru ini dengan otakku yang besar ini?"
"Tolong ajari kami yang Mulia!"
"Baik... Kau tahu mengapa sesuatu seperti buah atau daun kalau jatuh selalu ke bawah?"
"Tolong beri kami pencerahan yang Mulia!"
"Karena dia disebut ‘jatuh` maka dia ke bawah, kalau disebut ‘terbang’ maka dia pasti ke atas... Uh uh uh..."
"..." Sakya dan Karka saling menatap.
__ADS_1
"Yang Mulia memang pintar... Otak kami yang kecil sepertinya menjadi sedikit lebih besar, terbukti kepala kami agak sakit memikirkan kenyataan tadi," jawab Sakya sambil memijat kening dengan jarinya.
"Aku harap kepalamu tidak meledak mendengar kenyataan tersebut... Itu kelemahan setiap makhluk yang memiliki otak kecil. Baiklah selain pengetahuan apa yang kau tawarkan?"
"Kehidupan... Sebentar lagi hari Pralaya akan datang. Berperang bersamaku, bersama kita menghentikan hari Pralaya. Jika kita menang maka tersedia kehidupan untukmu dan keturunanmu di masa depan."
"Oh, kau bicara tentang hari Pralaya. Apa hubunganmu dengan Jagad Atma? Atau kau yang terpilih oleh Jagad Atma... Hmmm."
"Kakek Jagad Atma yang memberi tahuku. Yang Mulia kau mengenal Kakek Jagad Atma?"
"Mengenal? tidak ada yang tahu siapa dia, Dia sudah ada sebelum aku ada. Konon kabarnya dia adalah roh hutan Vanaya ini... Kenyataan yang belum aku ketahui, aku hanya bertemu dengannya sekali. Dia datang padaku dan mengabarkan tentang hari Pralaya dan memintaku untuk mencegahnya. Tentu saja aku menolak, siapa aku? Kemudian dia meminta aku membantu orang yang dia pilih... Aku menyangka orang yang terpilih mungkin dari ras Nara... atau ras Vamana. Tapi ternyata dari ras Manusia...uh uh uh." Mahan tertawa lagi.
"Kau menjanjikan hidup, apakah kau punya kekuatan untuk mewujudkannya?" lanjut Mahan.
"Kenapa kita tidak taruhan saja?" tawar Sakya tersenyum.
"Untuk mengetahui apakah kau punya kemampuan aku sudah memikirkan kalau kita bisa taruhan, kau agak lebih lambat memikirkan itu... Mungkin karena otakmu lebih kecil. Uh uh uh, Kita bertaruh antara kau lawan aku?"
"Ow... Yang Mulia, aku tidak ingin menurunkan derajat yang mulia, tapi sungguh akan sangat memalukan apabila orang tahu kalau yang mulia yang berotak besar ini bertarung melawan seorang manusia berotak kecil."
"Tentu saja itu sangat memalukan... Uh uh uh bahkan walaupun aku menang itu bukan sesuatu hal yang membanggakan. Baiklah, bagaimana kalau kau bunuh Durta untukku! Dia dari vaghra sattva. Kalau kau berhasil membunuhnya artinya kau mempunyai kekuatan. Kita mungkin ada kesempatan untuk menghentikan hari Pralaya."
"Boleh aku tahu alasannya?"
"Aku rasa pertarungan akan adil karena kalian memiliki otak yang sama kecil. Kami sattva-sattva yang bijak, biasa membunuh untuk makan secukupnya, tapi Durta membunuh karena dia senang membunuh. Begitu banyak korban keganasannya. Dia merusak hukum alam di hutan Vanaya ini. Bunuh dia maka aku ada bersamamu di hari Pralaya."
"Baiklah. Kami pergi yang Mulia. Tunggu kabar dari kami."
__ADS_1
Mahan melihat kepergian mereka berdua. Dia tidak mengerti mengapa Jagat Atma memilih ras manusia sebagai orang yang terpilih. Dia penasaran dengan kekuatan Sakya sebagai orang yang terpilih oleh Jagad Atma.