
Nalurinya menyelamatkan dirinya, lagi dan lagi. Terasah karena ratusan pertempuran yang telah dia lalui di balai Vanuya, kini telah menjadi bagian dalam dirinya. Menjadi kekuatan tempur yang bisa dia andalkan. Sakya lebih mempercayainya dibandingkan dengan otaknya, dan nalurinya tidak pernah mengecewakannya.
Jadi, di dalam sarang ‘yang terlupakan’ ini, Sakya berusaha menghindar dari serangan tiga ekor ‘yang terlupakan’ yang memiliki kekuatan setara tri praboditha. Sambil bergerak, pedangnya mengayun dengan cepat. Membabat mereka yang lemah dan menggeliat karena berusaha menahan panasnya lautan api. Tapi, terhadap mereka yang memiliki level tri praboditha, pedang ksidranya hanya bisa menggores kulit mereka. Tidak mampu mengeluarkan darah setitik pun.
Melawan 3 level tri praboditha bukan hal yang mustahil bagi Sakya. Sulit, namun bisa dicapai. Dia hanya perlu mengenal mereka lebih jauh. Tahu akan kekuatan mereka, apa yang mereka bisa lakukan dan apa yang tidak bisa mereka lakukan. Dan yang terpenting adalah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Sakya harus mempelajari pola serangan mereka. Karenanya, untuk mengenal mereka lebih dalam, Sakya memberi mereka nama; ‘si bodoh’, ‘si bloon’ dan ‘si idiot’. Ketika dia sudah mengetahui semuanya, maka tiba waktunya untuk menyerang balik.
Dan saat ini, waktunya telah tiba untuk melakukan serangan balik. Sakya melesat mendekati ketiganya. Berdiri diantara mereka bertiga. Berniat melakukan pertempuran jarak dekat.
Pola serangan pertama, mereka akan melepaskan durinya ketika Sakya melompat. Di tengah mereka bertiga Sakya melompat pendek. Tidak lama kemudian duri-duri tajam 'si bodoh' melesat ke arah tubuhnya.
TING! TING!
__ADS_1
Pedang ksidra menepis duri-duri yang melesat, mengakibatkan arah duri-duri sedikit melenceng, melewati tubuh Sakya dan langsung menancap di tubuh ‘si bloon dan si idiot’ yang ada di belakang Sakya.
JLEB! JLEB! JLEB!
Mereka menjerit, duri yang melesat mampu menembus kulit keras mereka.
Pola serangan kedua. Ketika menyerang dari belakang, mereka berusaha menggigit. “Yang terlupakan 2’ yang sebelumnya ada di belakang Sakya maju menerjang, meskipun badannya penuh luka dan duri yang menempel. Sakya berlari ke depan mendekati 'si bodoh'sementara 'si bloon' masih mengejar dibelakangnya.
Pola serangan ketiga. Ketika saling berhadapan, mereka akan mengibaskan ekornya. Ketika Sakya dan 'si bodoh' sudah saling berhadapan, 'si bodoh' mulai mengibaskan ekornya. Sakya menghindarinya dengan melompat ke kanan, tapi 'si bloon' yang ada di belakangnya tidak bisa menghindar.
BRAK!
Ketika Sakya di udara, kesempatan itu tidak disia-siakan oleh 'si idiot'.
__ADS_1
SHING! SHING!
Duri-duri ‘si idiot’ melesat menerjang Sakya―pola serangan pertama. Sakya menepis duri-duri yang datang, dan seperti yang sebelumnya, kali ini duri-duri melewati dirinya dan menancap di ‘si bodoh’. 'Si bodoh' menjerit tapi tidak lama, karena ketika dia melihat punggung Sakya, dia langsung menerjang mencoba menggigitnya dengan gigi-giginya yang tajam―pola serangan kedua.
Buruan yang ada di depannya mencoba berlari, tapi dia tidak berniat melepaskannya dan terus mengejarnya. Ketika jarak sudah dekat, ketika dia yakin bahwa gigi-giginya sudah akan merobek tubuh buruannya, buruannya tiba-tiba loncat dan menghilang. Terakhir yang dia lihat adalah ekor dari temannya menghantam keras kepalanya.
BRAK!
Dan pandangan ‘si bodoh’ tiba-tiba menjadi gelap. Dia mati dengan kepala yang hancur.
Kini yang tersisa tinggal 'si idiot' . Dia terlihat terkejut melihat teman-temannya mati. Ketika dia merasakan makhluk yang membuatnya membunuh temannya mendekat. Dia merayap mundur.
Sakya tersenyum melihat 'si idiot' . Makhluk ini tahu ketika bahaya mendekat. Haruskah dia mengganti namanya menjadi ‘si sedikit pintar’? Sakya kembali fokus ke pertempuran yang berlangsung dan memutuskan untuk mengakhirinya dengan cepat.
__ADS_1
Sakya menyimpan pedang ksidranya dan mengambil ksidra Kacana yang merupakan ksidra level catur praboditha di dalam kantong visitranya. Dia menerjang 'si idiot'. Sakya melompat ketika 'si idiot' mengibaskan ekornya, kemudian menancapkan ksidra Kacana di kepalanya. Kali ini ksidra Kacana berhasil menembus kerasnya kulit kepala ‘si idiot’. Pertempuran pun berakhir.
Sisa-sisa dari mereka yang masih hidup merupakan makhluk ‘yang terlupakan’ lemah. Sakya kembali tersenyum. Sebentar lagi, mereka akan segera mati terbakar dan harta yang tersimpan di sarang ini akan menjadi miliknya. Tapi tidak lama kemudian senyumnya berhenti ketika dia merasakan sesuatu yang besar dan berbahaya datang mendekat dari arah belakangnya.