SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS

SAKYA PARAKA: SANG PEMBEBAS
Ujian di Menara Pembuktian Mantra Sadhaka


__ADS_3

Setelah mendengar jawaban Mahaguru Wira, Sakya dengan yakin melangkah masuk ke dalam menara.


Sebuah ruangan berbentuk lingkaran dengan diameter 250 m2 menyambut Sakya. Beralas lantai marmer putih dengan atapnya setinggi 5 m. 


Pada dinding menara, mantra-mantra yang bercahaya dalam bentuk lingkaran sebesar 1 meter melayang dan bergerak dengan lambat. Di tengah-tengah mantra tersebut terlihat tanda simbol-simbol elemen yang ada di Mantrapada; Api, air, tanah, kayu, dan angin. 


Ujian di lantai pertama adalah untuk mengetes kemampuan siswa dalam mengubah elemen-elemen dasar. Sederhananya, siswa hanya perlu untuk membuat api dan melemparkannya ke tengah lingkaran mantra yang terdapat simbol api. Kemudian membuat air dan melemparnya ke tengah lingkaran mantra yang ada simbol air dan seterusnya.


Mengingat bahwa siswa mempelajari hal tersebut selama 5 tahun, cukup masuk akal jika mereka diharapkan memiliki kemampuan dasar untuk melakukannya. Jika siswa tidak bisa melakukan hal tersebut, mereka bisa berhenti bermimpi menjadi seorang pemantra, pulang ke kampung halaman dan menjadi petani selamanya.


Bagi Sakya ujian ini terhitung mudah. Dia mampu melakukan semua yang diharapkan di tes pertama ini. Melihat betapa mudahnya tes ini, muncul keraguan dalam hati Sakya. Apakah ini benar-benar tes Varna atau balai Mantra Sadhaka? Apakah Varna mulai baik hati padanya sehingga mengatur tes yang mudah baginya? Mengingat dia hanya ciptaan dari ras Ajada, Varna tidak memiliki perasaan.


Ketika dia sudah menyelesaikan tantangan di lantai pertama, ruangan ujian menjadi terang benderang dan ketika redup, sebuah tangga sudah ada di dinding menara. 


Sakya dengan penuh percaya diri berjalan menaiki tangga dan tiba di lantai 2. 


Ruangan di lantai 2 hampir sama dengan ruangan di lantai 1. Lantai dan dinding dilapisi dengan marmer putih serta mantra-mantra berbentuk lingkaran. 


Tidak mungkin bentuk ujiannya sama, pikir Sakya. Dia hanya terdiam dan mengamati lingkaran lingkaran mantra yang melayang-layang di dalam ruangan. Tidak lama kemudian semua lingkaran mantra bersinar menyusul kemudian semburan api keluar dari lingkaran mantra yang didalamnya terdapat simbol api.

__ADS_1


Sial…. Sakya melompat ke samping menghindari semburan api. Ketika dia mulai menyiapkan mantra api untuk ditembakkan ke lingkaran mantra api yang terus melayang ke arah kirinya, sebuah semburan air menghantam punggung Sakya hingga dia terlempar. 


Belum sampai tubuh Sakya menghantam lantai. Lantai yang sebelumnya datar terbuat dari marmer berubah menjadi tanah dan sebuah tonjolan batu berbentuk pilar muncul menghantam perut Sakya.


BLURGH 


Cairan isi perutnya yang bercampur dengan segumpal darah tersembur dari mulutnya.


Sakya ingin cepat berdiri kembali tapi otaknya masih memproses rasa sakit di punggung dan perutnya. Pada saat tangan Sakya sudah siap menopang tubuhnya untuk berdiri, dia melihat semburan api menerjang tubuhnya. 


AKHHH


"Selamat datang kembali di balai Vanuya."


Sakya hanya berbaring menenangkan dirinya. Mati terbakar merupakan pengalaman pertama bagi Sakya. Jika bisa memilih, Sakya lebih memilih mati oleh pedang. Tapi dia menarik pikirannya kembali. Mati terbakar atau oleh pedang, keduanya seharusnya tidak menjadi pilihan.


“Jalankan lagi ilusinya, Varna.”


“Bersiaplah!” jawab Varna.

__ADS_1


-----


"Selamat datang kembali di balai Vanuya."


“....”


"Selamat datang kembali di balai Vanuya."


“....”


"Selamat datang kembali di balai Vanuya."


Sakya berbaring di lantai balai Vanuya. Dia sudah mendengar kata sambutan Varna puluhan kali sampai lupa hitungan berapa kali dia mati. Mati terbakar, tenggelam atau tercekik akar. Kematian yang menyakitkan karena dia harus menahan sakit lebih dari 20 hitungan napas. Dia mulai merindukan kematian oleh pedang di perang Gabbala. Tebasan cepat ke leher yang terasa bagai gigitan semut sebelum kesadarannya memudar.


“Varna, bisakah aku langsung dibangkitkan di dalam ilusi?”


“Mengapa? Di balai Vanuya ini kau bisa menenangkan pikiranmu terlebih dahulu sebelum memulai lagi ilusinya. Jika dibangkitkan langsung di dalam ilusinya,  menurut perhitunganku tubuhmu belum siap untuk melanjutkan ilusinya.”


“Tidak apa-apa. Semakin berat tantangannya semakin cepat aku berkembang dan bertambah kuat.” jawab Sakya. Dia tidak mengatakan kalau sesungguhnya dia    tidak ingin bertemu Varna lagi.

__ADS_1


Bertemu dengan Varna mengingatkan dirinya akan kenyataan bahwa di dunia ini dia kini seorang diri. Keluarganya telah mati. Bertemu Varna mengingatkan akan tanggung jawabnya yang berat untuk menghentikan hari pralaya. Bertemu Varna mengingatkan betapa pengecutnya dia yang lari dari kenyataan dan terikat dengan dunia yang hanya ilusi.


"Baiklah jika itu harapanmu. Bersiaplah.” Varna mengabulkan permintaan Sakya.


__ADS_2