
"Maafkan aku!" Durta mulai memohon untuk nyawanya.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya. Kami disini untuk mengambil ksidramu bukan untuk memaafkanmu." Sakya sudah berjalan ke depan Durta. Tangannya memegang ksidra Durta, dengan kaki kanan di hidung Durta sebagai penahan, Sakya mencabut ksidra Durta mengakhiri terornya di hutan Vanaya.
Sakya memasukkan ksidra Durta ke dalam kantong visitranya. Kantong visitra merupakan kantong yang diberikan oleh Varna saat dia meninggalkan balai Vanuya. Keajaiban kantong tersebut adalah mampu menyimpan banyak barang di dalamnya. Kantong Visitra merupakan salah satu peninggalan lainnya dari bangsa Ajada.
Pada dasarnya kantong visitra memiliki sihir yang mampu merubah ukuran sebuah benda menjadi kecil. Sihir ini hanya berlaku untuk benda mati, Sakya tidak bisa mengecilkan benda hidup seperti Karka atau makhluk lainnya. Kecuali apabila mereka sudah mati.
"Kami mengucapkan terima kasih pada kalian." Tiga ekor resana yang telah diselamatkan berjalan mendekati Karka dan Sakya.
"Tidak apa-apa, kami menyelamatkan kalian agar kalian bisa mengantar kami bertemu rajamu." Saya tidak ingin membuang waktu lagi. Sekarang saatnya bertemu dengan penguasa kedua hutan Vanaya.
"Baiklah, kami kabari yang mulia terlebih dahulu." Ketiga resana berpaling dan hendak pergi dan kemudian berhenti saat terdengar suara.
"Tidak perlu, aku sudah disini." Tidak lama kemudian muncullah Bhati diikuti beberapa resana lainnya.
"Salam yang Mulia. Aku Sakya dari Paraka bersama temanku Karka merasa terhormat dapat bertemu." Sakya dan Karka membungkukkan badannya.
"Anakku kau masih hidup?" Sana hadir di tempat itu dan terkejut melihat anaknya masih hidup dan sehat. Sana tidak pernah bisa melupakan bau anaknya dan saat dia meninggalkannya sendiri, begitu kecil dan lemah, mendekati kematian. Sekarang dia bertemu anaknya dalam keadaan sehat bahkan lebih kuat dari anak-anaknya yang lain. Takdir bekerja dengan caranya sendiri, tidak ada yang bisa meramalkannya.
"Iya Ibu, aku masih hidup." Karka menjawab singkat. Karka tahu bahwa Sana adalah induknya. Dia tidak marah pada induknya karena meninggalkannya untuk mati di hutan. Karka sudah menerima jalan hidup yang dipilihkan takdir padanya. Dia tidak akan berontak atau berusaha merubahnya, dia hanya akan menjalaninya sebaik mungkin.
Sejak diselamatkan oleh Sakya, dia sudah tahu takdir yang harus dijalani. Sedikit berlebihan saat Sakya mengatakan dia temannya, karena bagi Karka, Sakya adalah tuannya. Hanya untuk Sakya saja dia akan berusaha dengan jiwa raganya agar takdir tuannya menjadi lebih baik.
"Jadi kau masih Hidup... Ha ha ha. Luar biasa, kini anakku menjadi resana yang kuat. Tinggallah bersama kawananmu, di masa depan kau akan menjadi salah satu penguasa hutan Vanaya menggantikanku!" Bhati sangat senang sekali mendapatkan keturunan yang kuat. Di masa depan dia bisa tenang meninggalkan kawanannya di tangan Karka.
"Kau bapakku?" Karka kaget mendengarnya. Dia tidak mengira bahwa Bhati sang penguasa hutan bagian Barat adalah ayahnya. Sejak lahir Karka tidak pernah melihat ayahnya, jadi dia berpikir mungkin ayahnya telah mati.
"Tentu saja, kau lihat betapa cantik ibumu? Semua resana cantik adalah milikku."
__ADS_1
"..."
Sakya yang mendengarkan percakapan mereka mengernyitkan keningnya saat Bhati berkata seperti itu. Apakah berarti semua istri resana jantan disini istrinya jelek? Bhati memang seorang raja sejati, tanpa peduli apa yang orang lain pikirkan, dia mengatakannya dengan jelas.
"Jadi bagaimana? Kau mau tinggal disini bersama kawananmu dan jadi penerusku? Semua resana cantik akan menjadi milikmu." Bhati kembali bertanya kepada Karka.
"Yang Mulia, hamba belum punya istri, apakah aku bisa mendapatkan satu resana cantik untuk menjadi istriku?" Seekor resana coklat bertanya pada Bhati. Dia masih muda dan belum mempunyai istri.
"Pergilah cari edaka betina untuk melampiaskan nafsu bejadmu itu! resana cantik hanya untuk resana yang kuat."
"..."
Angin yang bertiup kencang membuat rumput-rumput bergoyang menari-nari. Mereka berlari di antara sela-sela batang rerumputan membuat suara gemerisik memecahkan keheningan yang ada.
"Bagaimana nak? Ini pertanyaanku yang ketiga kalinya." Bhati kembali bertanya pada Karka. Ini pertama kalinya Bhati menawarkan sesuatu lebih dari dua kali. Sebagai seorang penguasa, ucapannya adalah perintah, dan selalu dilaksanakan dengan cepat. Belum pernah ada yang pernah menghiraukannya apalagi menolaknya.
"Baiklah jika itu keputusanmu." Mengetahui bahwa Karka sudah menentukan pilihan, Bhati berhenti meminta. Kemudian Bhati bertanya pada Sakya. "Sekarang bicaralah apa keperluanmu menemuiku."
"Aku meminta bantuanmu untuk berperang bersamaku saat hari Pralaya tiba,” jawab Sakya.
"Ah, Kau bicara tentang hari Pralaya. Pantas ada bau Jagad Atma di tubuhmu. Kau orang yang terpilih olehnya?"
"Kau tahu kakek Jagad Atma? Siapakah dia?" Mendengar jawaban Bhati, Sakya semakin penasaran dengan kakek Jagad Atma. Seorang kakek yang dia tolong dan membawanya ke kuil Vanuya dan kemudian menghilang di depan matanya.
"Pertanyaannya yang tepat bukan 'siapa', tapi 'apa', ada banyak nama untuk 'dia', leluhur sattva, leluhur ras Nara, roh hutan Vanaya, penguasa sejati hutan Vanaya dan banyak lagi. Tidak ada yang tahu sebenarnya. Namun dia selalu datang memperingatkan tentang hari Pralaya."
"Dia sudah ada sejak jaman dulu, sejak leluhur sattva mulai ada. Kami ras sattva tidak mencatat apapun. Cerita tentang dia hanya diturunkan secara turun temurun melalui omongan."
"Hanya ras Nara yang mungkin menyimpan catatan tentang Jagad Atma." Bhati menjelaskan secara panjang lebar.
__ADS_1
"Ras Nara, kau tahu di mana mereka?" tanya Sakya. Dia sudah mendengar Ras Nara dua kali. Pertama oleh Mahan dan kedua oleh Bhati.
"Ha ha, jika kau berniat mencegah hari Pralaya, suatu hari kau akan bertemu mereka. Kau membutuhkan mereka sebagai sekutumu." Bhati tidak menjawab secara jelas pertanyaan Sakya. Sakya bertekad untuk mengunjungi mereka suatu saat.
"Apakah kau akan membantuku saat hari Pralaya nanti?"
"Nak, calon penerusku sudah ikut denganmu dan bertekad membantumu walaupun harus kehilangan nyawanya dia bahkan menolak semua resana-resana cantik yang bisa dia dapatkan. Kami resana sattva bersama sattva lainnya di hutan Vanaya barat akan bersamamu saat perang besar,” jawab Bhati.
Bhati mengerakkan ksidranya. Selarik cahaya putih menyinari dada Sakya. Sakya diam tidak bergerak rasa hangat terasa di dada sebelah kirinya. Rasa hangat hilang bersamaan dengan hilangnya sinar yang memancar.
"Terimalah tandaku. Ketika waktunya tiba, alirkan pranamu ke tanda tersebut, kau bisa menghubungiku dan aku akan datang secepatnya."
Sakya melihat ke balik pakaiannya, ada tanda hitam bergambar muka resana di dada atas sebelah kirinya. Tanda tersebut merupakan hasil yang tercipta dari sihir yang dapat digunakan untuk berkomunikasi.
"Terima kasih yang mulia. Aku pamit." Sakya berbalik dan pergi bersama Karka meninggalkan tempat tersebut.
"Sana, kita memiliki anak yang hebat," kata Bhati.
Bhati sangat bangga melihat karakter dari Karka. Tidak diragukan bahwa Karka adalah resana sejati. Resana sejati pantang menyerah, tidak peduli seratus cobaan, seribu godaan atau bahkan jika seluruh dunia menghalanginya, dia akan terus mencoba mencapai tujuannya. Membela apa yang dianggap benar walaupun nyawa taruhannya.
"Ya, tapi aku malu karena bukan kita yang membesarkannya."
"Huh, kehebatan semacam itu sudah ada dalam darahnya dan darahnya berasal dari darahku."
"Huh, ..."
__ADS_1